
Seminggu berlalu. Satria menghampiri laboratorium mininya. Ia memeriksa hasil uji coba tes DNA nya.
Alangkah terkejutnya Ia, jika hasil menunjukkan jika tidak ada satupun sample yang menunjukkan jika gen Satria cocok dengan gen Bram dan Jayanti.
Satria terduduk lemah. "bagaimana mungkin ini terjadi..? Lalu siapa aku sebenarnya..?" Satria meremas rambutnya.
Ingin rasanya Ia segera terbang Jepang dan mempertanyakannya kepada Jayanti untuk meminta klatifikasi yang akurat. Namun Ia tau, jika saat ini Jayanti masih dalam perobatan.
Satria teringat akan sample yang dikirimnya kerumah sakit. Satria melakukannya untuk memastikan jika hasil yang diujinya dengan hasil dirumah sakit memiliki hasil yang berbeda.
Satria mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Lalu Ia menelefon dokter yang melakukan pengujian.
Setelah mendapatkan hasilnya, Ia buru-buru membuka lembaran kertas dalam amplop berwarna putih tersebut.
Matanya terperangah membaca hasil yang menunjukkan jika Ia juga bukan Gen dari Jayanti maupun Bram.
Satria merasakan kepalanya semakin berat. "siapa aku..?!" matanya nanar menatap dinding ruangan rumah sakit.
"waktu papa kecelakaan..? Mengapa hasil test menyatakan cocok..? Aku harus menemui dokter dari pihak maskapai waktu itu." Satria berguman lirih. Ia segera beranjak dari rumah sakit.
Satria menelefon dokter yang kemarin pernah menyerahkan hasil test DNA untuk pengambilan jenazah Bram.
"Hallo, dok. Bisa minta waktunya sebentar?" tanya Satria dengan sopan.
"oh.. Boleh, ada yang bisa bantu..?" tanyanya dengan ramah.
"kalau dokter ada waktu, bisakah kita bertemu sebentar dok..?" pinta Satria.
"kalau begitu datang saja langsung ketempat dinas saya. Nanti saya kabari lokasinya." ucap dokter tersebut.
"Ok. dok. Saya segera kesana." jawab Satria, lalu mengakhiri telefonnya.
Satria memarkirkan mobilnya di sebuah kantor dinas milik seorang dokter. Ia menelefon kembali dokter itu, untuk memastikan keberadaannya.
Setelah mendapat ijin masuk kedalam ruangannya, Satria bergegas menuju ruangan tersebut.
Tok..tok..tok..
"masuk.." ucap dokter Kim dari dalam ruangan.
Satria masuk sembari menganggukkan kepala, memberi penghormatan kepada dokter itu.
"silahkan duduk." dokter Kim mempersilahkan.
__ADS_1
"terimakasih dok." ucap Satria dengan sopan.
Dokter Kim tersenyum. "ada yang bisa saya bantu..?" ucap Dokter Kim kepada Satria.
Satria menatap dokter Kim penuh arti. Ada banyak pertanyaan dan beban yang kini dipikul oleh Satria.
"bisakah dokter jelaskan ini kepada saya..?" ucap Satria sembari menyidorkan 3 lembar kertas berisi informasi tentang hasil test DNA. Dua hasil yang sama, sedangkan hasil test dari dokter Kim berbeda.
Dokter Kim meraihnya, lalu membacanya. Ia terperangah membaca ketiga surat keterangan tersebut.
Lalu menatap Satria dengan perasaan serba salah.
"tolong jelaskan dok.." pinta Satria menghiba.
Dokter Kim menarik nafasnya dengan berat, dan menghelanya.
"aku janji akan merahasiakan semua ini, dan menjaga nama baik dokter, jika saja dojter buka mulut. Namun jika dokter bungkam, aku akan merusak refutasi dokter." ancam Satria.
Dokter Kim mengira jika anak Jayanti adalah orang biasa-biasa saja, sehingga kini Ia menyadari jika Satria adalah orang yang sangat cerdas.
"maafkan saya.. Saya terpaksa melakukannya, karena mama anda yang meminta dan memaksa saya. Bahkan Ia mengancam ingin mencelakai saya jika tidak menuruti keiinginannya." dokter Kim menggantung ucapannya.
"Jayanti adalah teman saya semasa kuliah. Namun Ia tidak menamatkan kuliahnya, karena buru-buru menikah."
Satria mendengarkan ucapan dokter Kim dengan seksama.
"a..apa..? Maksudnya itu pemalsuan?!" ucap Satria dengan heran.
"ya.. Ia yang menginginkannya." jawab Dokter Kim.
"ta..tap mengapa mama sampai segitunya..?" ucap Satria bingung.
"karena Ia tidak ingin kehilanganmu." ucap dokter Kim.
"ta..pi....?" suara Satria tercekat ditenggorakannya.
"selesaikanlah urusan ini dengan mama anda, saya hanya mengatakan keberannya saja.
Duuuuuuaaar....
Hati dan perasaan Satria bagai disambar petir mendengar pernyataan dari dokter Kim.
Ia melangkah keluar ruangan, berjalan dengan gontai. "siapa aku..? Siapa orang tuaku..?" Satria berjalan tatapan nanar.
Sesampainya diluar gedung dinas, Ia bersandar dibadan mobilnya. Memejamkan matanya penuh dengan luka.
__ADS_1
Mengingat Jayanti Ia menjadi dilema. Ia masih mengingat bagaimana wanita itu menimangnya dengan cinta kasih, merawatnya dengan telaten dan penuh ketulusan. Bahkan Ia pernah bersemayam dirahim wanita itu meski beberapa saat.
"dengan alasan apa aku harus membencimu Mama..?" Satria berguman lirih.
Ia membuka pintu mobilnya, lalu mengendarai mobilnya menuju sebuah danau.
Disana Ia memandang danau tersebut, berharap menemukan kedamaian.
Satria membaringkan tubuhnya diatas rerumputan yang berada dibawah sebuah pohon rindang ditepi danau, sembari Memejamkan matanya. Sebuah siluet bayangan wanita cantik dengan rambut lurus bergerai, hadir dengan senyum terindah. Wanita itu seperti menghampirinya, merentangkan tangannya ke depan, seolah ingin menyambut kehadirannya.
"haah..!!" Satria terperanjat. Lalu beranjak bangkit dari tidurnya, mencoba duduk dan menyandar dibatang pohon tersebut, lalu menekuk kaki kananya keatas.
"jika dilihat dari matanya, Ia mirip dengan wanita yang aku tolong waktu itu. Dan..Ia juga katanya pernah menolongku, memberikan donor darah untukku.?" apa mungkin..?" Satria menggantung ucapannya.
"ah.. Mungkin hanya harapanku saja." Satria mencoba menepisnya.
Satria teringat akan ucapan Hadi. " ilmu pujon? Apakah aku cari tau saja informasi itu g*ogle?" satria berguman lirih.
Lalu Satria berselancar didunia maya, Ia menemukan banyak ulasan tentang ilmu kuno tersebut.
Satria terperangah membacanya. Bahkan ada seorang paranormal yang terang-terangan menawarkan jasa untuk melakukan praktek ilmu tersebut.
"gila.. Ternyata ilmu ini memang ada? Apakah benar aku salah satu korban dari ilmu tersebut.? Bahkan paranormal ini menawarkan harga yang sangat fantastis.." Satria berguman lirih.
"jika semua ini benar, maka aku harus bertanya kepada Mama, siapa kedua orangtuaku." ucap Satria menggebu.
Bagi dirinya, Ilmu pujon adalah hal yang aneh, karena tidak masuk akal bagi dunia kedokteran.
- - - - - -
Sebuah panggilan masuk dari kode negara +81, yaitu Jepang. Satria mengangkatnya. "hallo ma." ucap Satria berusaha menekan emosinya.
"apakah ini dengan saudara Satria..?" ucap seseorang dari seberang telefon. Sepertinya Ia seorang penerjemah.
"i..iya. Dengan saya sendiri." jawab Satria gugup. Ia merasakan ada firasat tidak baik yang sedang terjadi dalam pembicaraan ini.
"apakah saudara dapat terbang sekarang juga ke rumah sakit kami.? Karena kami sedang menangani pasien bernama Jayanti, dan kami membutuhkan anda." ucap penerjemah tersebut.
Satria tertegun. "ba..baiklah.. Saya akan melakukan penerbangan hari ini." ucap Satria.
Satria bergegas beranjak dari pinggir danau. Ia memesan penerbangan secara online. Lalu menuju rumah.
---------
Setelah mempersiapkan segalanya. Satria melakukan penerbangan menuju jepang.
__ADS_1
Sebuah rumah sakit ternama dengan segala kecanggihan alatnya. Satria memasukinya dengan perasaan berdebar. Ada rasa ingin mencecar Jayanti saat itu juga. Namun Ia harus melihat situasinya terlebih dahulu.