Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Draft


__ADS_3

"aaaaaggghh...ssshsss.."


Suara erangan keluar dari mulut Roni. Ia merasakan sakit dikepalanya.


Ia memegangi kepala bagian belakangnya yang terasa seperti berdenyut.


Mala yang baru saja pulang dari berbelanja meletakkan begitu saja keranjang belanjaannya. Suara erangan suaminya dari dalam kamar telah membuatnya begitu khawatir.


Mala menghampiri Roni yang sedang merasa kesakitan. tampak Ia sedang memegangi kepalanya yang terasa begitu sangat nyeri.


Erangan kesakitan Roni ternyata juga didengar oleh Satria. Ia bergegas menghampiri Sang Ayah.


Lalu memeriksanya. Tampak sajg Ayah pucat pasi. Ia segera kembali ke kamarnya mengambil perlengkapan medisnya.


Ia membawa semua alat stetoskop dan pengecek tekanan darah digital.


Ia melihat tekanan darah yang tertulis dialayar monitor 116.5 mmHg (sistolik) 73.5 mmHg (diastolik), merupakan tekanan darah normal untuk usia 41-45 tahun.


Lalu Satria mengecekndetak jantung menggunakan stetoskop, Ia menyatakan normal dengan ukuran 70 bpm, merupakan detak jantung normal untuk usia dewasa atau lebih tua.


Lalu Satria memeriksa lambung sang Ayah dengan meletakkan teleapak tangannya tepat dibawah pusar, lalu mengetuk lembut punggung tanggannya.


Terdengar bunyi nyaring dari dalam perut itu. Lalu Satria menyatakan jika Ayahnya terkena Gerd atau asam lambung.


Satria memandang Mala Ibunya. "Apakah ayah sulit untuk makan bu..?" tanya Satria lembut.


Mala menatap sendu pada Satria ."Iya.. akhir-akhir ini sangat sulit sekali jika disuruh memakan sesuatu. Ia lebih banyak melamun." jawab Mala lirih.


Bahkan tadi Ibu sudah memaskkan bubur untuknya, namun Ayahmu tak juga mau memakannya." ujar Mala merasa bersalah.


"Ya sudah.. Bukan maksud Satria menyalahkan Ibu, tetapi hanya ingin mengetahui untuk memberikan penanganan yang tepat pada Ayah." Ucap Satria lembut. Ia tak ingin Ibunya merasa bersalah atas oertanyaannya.


Karena merawat orang yang mengidap skizoprenia bukanlah hal mudah, harus memiliki mental dan kesabaran tingkat tinggi.


satria kembali kekamarnya, lalu mengambil sebuah botol plastik berisi cairan infus KA-EN, dimana kandungan NaCl 0.5859 g, Kcl, 039 g, Na lactate 056 g, dextrose 20 g per liternya berfungsi sebagai terapi untuk membantu nutrisi Roni yang membutuhkan asupan makanan pengganti.


Satria membaringkan Sang Ayah ditepian ranjang, lalu mulai memamasang jarum infus dan mengatur kecepatannya.

__ADS_1


Setelah selesai, Ia ingin berangkat bekerja "Bu, hari ini jangan memasak, ibu perhatikan saja Ayah, nanti makanan beli saja.jangan sampai Ayah mencabut jarum infusnya. Jika terjadi sesuatu kabari Satria." Ujarnya memberikan pesan kepada Ibunya.


Mala menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui.


Satria berpamitan untuk pergi bekerja.


🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍


Sementara itu, suara tukang yang sedang berkerja menggunakan alat-alat tukangnya terdengar bertalu-talu.


Dentingan palu dan sebagainya memecah kesunyian. renovasi itu diperkirakan satu bulan lagi akan rampung. Mungkin esok akan giliran kamarnya yang direnovasi.


Satria telah membuat satu kamar lagi sebagai kamar tamu jika nanti ada kunjungan dari Hadi. Dijadwalkan hari imi kamar itu rampung 100% dan sementara waktu Roni dan Mala akan pindah kekamar itu esok.


Roni masih tampak anteng, maka Mala berniat kekamar mandi dan akan buang air kecil. Ia sudah tak mampu lagi menahan rasa ingin buang air kecilnya. Dengan terburu-buru, Mala bergegas kekamar mandi yang ada di dapur.


Ia segera menyelesaikan hajatnya, lalu kembali kekamar untuk menjaga Roni.


Sesampainya dikamar, Ia terperangah, karena Ia tak menemukan Roni dikamarnya. Seketika jantungnya terasa berhenti berdetak.


Jarum infus yang terpasang sudah dicabutnya, tampak berantakan sekali. Nafas Mala terasa sesak.


Ia melihat disana tampak bekas jejak kaki Roni yang ditinggalkannya tanpa alas kaki. Jejak itu mengarah kearah semak yang dulu pernah menjadi jalanan setapak yang selalu digunakan oleh Reza.


Mala hendak mengambil phonselnya untuk menghubungi Satria, namun naasnya, pbonsel itu lawbett.


Ia tak memiliki banyak waktu untuk mencharger phonsel. Ia memilih untuk mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh Roni.


Mala membuka pintu dapur, lalu berjalan menyusuri semak yang dijadikan oleh Roni untuk menuju kesuatu tempat.


Setelah jauh membelah semak belukar, akhirnya Mala sampai disebuah perbatasan, tampak olehnya rumah bekas Reza yang kini sudah dihuni oleh seseorang. Sudah kelihatan bersih. Namun Mala tidak mengetahui siapa penghuni barunya.


Sasaat Mala terperangah, melihat sosok Roni yang diam termangu di lubang bekas galian yang dulu pernah dijadikannya untuk mengubur jasad Reza.


Entah siapa yang menuntunnya sampai kesitu. Perasaan Mala bercampur aduk, rasa gemetar, takut, gelisah menjadi satu.


Roni menatap diam pada lubang itu, lalu Mala mencoba mengendap-endap untuk menarik Roni agar kembali pulang, sebelum ada yang melihatnya dan mencurigainya. Ia tidak ingin orang mengetahui jika Roni depresi karena rasa takutnya setelah menghabisi nyawa Reza.

__ADS_1


Mala menghampiri Roni dengan perlahan, lalu Ia menyentuh lembut pundak Roni. "Bang.. " ucap Mala lembut.


Roni terkejut, lalu menoleh ke arah Mala. Seketika pandangannya menjadi kabur..lalu..


Bruuuuughh.. Baaam..


Seketika tubuh Roni limbung dan jatuh terjerembab ke tanah.


"Baang..!" teriak Mala tanpa sadar.


Suara teriakan Mala terdengar mendayu sampai kelantai dua kamar Bayu.


Ia yang baru saja memgalami mimpi buruk bertemu dengan Nini Maru. Lalu suara teriakan yang baru saja terdengar itu membuatnya merasa penasaran.


Bayu menyibakkan tirai jendela kamarnya yang menghadap pada belakang rumahnya. Ia mengintai dari kamarnya yang berada dilantai dua.


Alangkah terkejutnya Ia saat melihat Wanita pujaannya berada diantara semak belukar dan sedang berusaha untuk membopong tubuh seorang pria.


"siapa pria itu..? Apakah suaminya? Lalu mengapa mereka berada disitu..?" Bayu semakin penasaran.


Ia melihat Mala yang tampak kesusahan saat akan membangkitkan tubuh pria itu.


Bayu berifikir ragu untuk menolongnya. Namun Ia juga tak tega.


Bayu mencari cara untuk membantu wanita pujaannya, namun tidak sampai diketahui oleh Mala.


Bayu memakai kaca mata hitam, memakai topi dan dan Masker. Ia bergegas turun untuk menuju semak tersebut, Ia merasa tak tega saat melihat wanita itu kesusahan.


Dengan sedikit berlari Ia menuju kearah pintu samping yang menghubungkan ke rah taman belakang.


Bayu segera menghampiri keduanya.


Mala yang melihat seseorang berjalan kearahnya semakin gemetar. Ia sangat ketakutan jika sampai orang itu mencurigainya.


Degub jantung Mala semakin tak beraturan, saat orang tersebut semakin dekat jaraknya.


"Sedang apa Mbak..?.apakah ada yang bisa saya bantu..??" tanya Pria asing yang kini sudah berada didekatnya.

__ADS_1


Mala diam terpaku, lidahnya seakan keluh, Ia tak sanggup untuk mengatakan apapun.


"Emmmm.. Saya.. Saya.. Hanya mencari suami saya yang tersesat sampai kemari.." ujarnya dengan nada bergetar..ada ketakutakan disana.


__ADS_2