
Mala memasuki rumahnya dengan terburu-buru. Ia melihat Roni yang sedang terikat, dan seorang pemuda tengah berusaha menenangkannya.
Saat mata Mala dan Satria bertemu.. Mereka saling terkejut..
"ka...kamu..? Mengapa bisa sampai disini..?" tanya Mala heran dan juga tidak percaya.
Satria orang yang paling terkejut dengan semua ini. Matanya seolah tak percaya melihat apa yang ada dihadapannya. "ibu mengapa bisa berada disini juga.? Bukankah waktu itu ada dikota..?" tanya Satria bingung.
"ini rumah saya, kemarin ke kota karena ada urusan untuk menjenguk anak saya.." jawab Mala dengan lembut. Ada debaran aneh dihatinya.
Satria merasakan degup dijantungnya berdetak lebih kencang. Ia seperti ingin mendekap wanita dihadapannya. Rasa cinta terhadap wanita itu tiba-tiba saja hadir. Ingin rasanya Ia memanggil wanita itu dengan sebutan kata 'mama'. Namun lidahnya seperti keluh.
Desiran yang menjalar didarahnya semakin besar dan tak terkendali saat menatap mata indah yang dimiliki oleh wanita berusia 40-an tahun itu.
"Mata itu.. Mata yang selalu hadir dalam mimpiku.. Mengapa kami dipertemukan disini. Satria mencoba mencari jawaban atas pertanyaan dirinya sendiri.
Hal yang sama dialami Mala, Ia merasakan debaran dihatinya kian membesar. Ia tak tahu dengan perasaannya.
Saat keduanya larut dalam alam fikirannya masing-masing, seketika Roni berhasil meloloskan ikatan ditubuhnya, lalu berteriak dengan kencang, dan beranjak ingin menyerang Satria.
"Sudah tiba Waktunya.. Aku akan melenyapkan kalian semuaaa.. Sehingga tidak lagi ada keturunan yang tersisa..hahahhaaha.." teriak Roni sembari tertawa parau.
Mala dan Satria saling pandang melihat reaksi Roni yang tiba-tjba saja berubah menjadi bringas.
Sorot mata Roni mentap tajam, lalu berjalan dengan cepat dan menghampiri Satria. sorot matanya bagaikan belati yang menikam jantung.
"lenyapalah kalian semua.." ucap Roni sembari menyerang Satria dengan liar.
Satria mencoba menghindari serangan Roni dengan memiringakn tubuhnya.
Mala berteriak histeris melihat perubahan Roni.
"abang..jangan bang.. Apa yang kamu lakukan.?" teriak Mala dengan panik.
Teriakan Mala mengundang warga berkerumun. Mereka penasaran dengan apa yang sedang terjadi dirumah Mala.
Mereka melihat Roni sedang dalam kondisi yang penuh amarah hendak mencekik Satria.
Mala mencoba memegangi pergelangan tangan Roni, agar tidak sampai mencekik Satria.
Namun Roni berbalik mencekik Mala dengan tangan kanannya.
Melihat hal itu, Satria mencoba menghalanginya. Warga yang sedang berada disitu beramai-ramai membantu menolong keduanya.
__ADS_1
Roni meronta untuk melawan. Ia mengeluarkan segala kekuatannya untuk memberontak.
Dengan satu kali hentakan, warga yang sedang mencengkramnya terpental.
Warga ketakutakan dengan tatapan Roni. Roni berteriak marah.."haaaaaaaaa..!!" teriakan geram keluar dari mulutnya.
"pergiiilaah...kalian.. jangan mencampuri urusanku..!! Atau kalian ingin aku mendatangkan kampung ini sebuah bencana..!!" teriak Roni dengan berang.
---------*****------
mbak Ratna memasuki ruangan Hadi yang sedang melakukan pemeriksaan kepada pasien dengan terburu-buru.
Nafas mbak Ratna masih tersengal dan Ia berusaha mengatur nafasnya.
"nak Hadi.. Buaran pulang. Ada masalah besar dirumah.. buruan nak.." titah Mbak Ratna, dengan suara yang masih terasa sesak.
Hadi membulatkan matanya mendengar ucapan Mbak Ratna. Ia dapat menduga jika ini pasti ayahnya yang kambuh lagi.
"baik buk Ratna, terima kasih informasinya, saya ijin dulu kepada bu Sri.." ucap Hadi dengan perasaan galau.
Hadi menoleh kepada Shinta. "Shin.. Kamu tangani dulu disini ya.?! Setelah urusanku selesai, aku akan kembali lagi kemari." titah Hadi, sembari beranjak meninggalkan ruangannya.
Hadi menghadap Bidan Sri untuk meminta ijin pulang kerumah, karena ada utusan yang akan diselesaikannya.
Setelah mendapat ijin dari Bidan Sri, Hadi menuju mobilnya dengan membawa sejumlah obat-obatan untuk menangani Roni, ayahnya.
"aku ikut..!" ucapnya tanpa melihat wajah Hadi, dan tanpa meminta persetujuan dari Hadi.
"siapa yang menangani pasien?" ucap Hadi..
"Windy dan Tim yang lainnya." jawab Shinta datar.
Lalu Hadi mengendarai mobilnya, berdebat dengan Shinta akan membuang waktunya.
Hadi mendapatkan firasat jika ayahnya sedang berbuat onar dirumah, dan ibunya pasti sedang kewalahan.
-----------******--------
Warga perlahan mundur ketakutan. Lalu kasak kusuk dari mulut mereka jika Roni sedang kerasukan.
Rumah Mala kini penuh dipadati warga. Mereka berkerumun ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Teriakan Roni membuat suasana semakin tidak kondusif.
Satria berhasil melepaskan diri dari cengkraman Roni. Ia mencoba mengunci tangan Roni, namun Roni berhasil lolos. Ia kini berbalik menyerang Mala, menarik Mala dan ingin melukainya.
__ADS_1
Sebagian warga yang terdiri dari ibu-ibu berteriak agar Roni melepaskan Mala.
Namun Roni tak mengindahkan ucapan mereka. Satria berusaha menolong Mala, Ia mencoba melepaskan cengkraman tangan Roni yang sangat kuat dibagian lengan Mala.
Mala meringis menahan sakit. Melihat Satria membantu Mala, sebagian yang lain mencoba memberanikan diri ikut membantu. Meskipun tadi Roni telah mengancam, namun rasa prikemanusiaan telah mendorong mereka untuk menolong Mala.
Sesaat Hadi muncul bersama Shinta. Ia membawa suntikan obat penenang.
Warga semakin banyak yang membantu dan ikut menahan Roni. Lalu Hadi menyuntikkan obat penenang tersebut kepada Roni. Sesaat Roni mengendurkan cengkramannya ditangan Mala. Lalu meracau tak jelas dan limbung.
Warga membantu Roni dan membopongnya kekamar. Entah perasaan dari mana Satria meraih tubuh Mala kedalam pelukannya. Ia merasa sangat khawatir tentang kondisi wanita itu.
"apa ibu baik-baik saja." ucapnya lirih, memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada Mala.
Mala yang sedang terguncang perasaannya menurut saja ketika Satria memeluknya. Ia menangis tersedu dan masih trauma dengan apa yang baru saja terjadi.
Hadi yang sedari tadi sibuk mengurusi ayahnya. Samar-samar mendengar suara yang mirip dengan Satria. Ia menajamkan pendengarannya
"mengapa aku seperti mendengar suara kak Satria berada disini..? Ah.. Mungkin hanya perasaanku saja." Hadi menepis dugaannya.
warga berpamitan keluar dari kamar Mala, lalu Hadi mengucapkan terimakasih kepada warga sudah membantunya.
Lalu mereka membubarkan diri.
Shinta yang sedari tadi melihat Satria, sekeikka terpaku dan terdiam. Ia seolah sedang bermimpi, melihat Satria berada disini.
Satria tidak menyadari kehadiran Shinta, karena Ia sedang sibuk untuk menenangkan Mala.
Hadi keluar dari kamar, setelah memastikan Roni sudah tertidur.
Ia terperangah melihat seorang pria sedang memeluk ibunya. Apalagi Ia melihat wajah Shinta yang seperti terkejut dan terdiam mematung.
Hadi mengira jika ada seorang pria yang sedang mengambil kesempatan atas kejadian ini, dan mencoba mencuri perhatian dari ibunya, yang mana ibunya terkenal diseluruh kampungnya seorang wanita cantik baby face.
"brengsek, sepertinya pria ini mengambil kesempatan untuk mencari perhatian ibuku.! Dan Shinta pasti menduga hal buruk tentang ibuku, mungkin saja Ia mengira jika ibuku murahan" Hadi berguman dengan geram.
Hadi menghampiri pria yang sedang memeluknya ibunya dengan posisi memunggunginya.
Sesampainya didekat pria itu. Ia melihat Shinta tampak gugup dan gemetaran. Sepertinya Ia ingin mengucapkan sesuatu, namun suaranya tertahan ditenggorakannya.
Hadi mencengkram kerah baju pria itu, lalu dengan geram menariknya "heiii..jangan mengambil kesempatan dari peristiwa ini untuk mencuri perhatian ibuku." ucap Hadi dengan geram, dan menarik paksa pria itu untuk melepaskan pelukannya dari ibunya.
Saat mata mereka beradu, keduanya sama terkejutnya, dan saling kebingungan..
__ADS_1
~bersambuung...😴😴😴😴😴~
Setelah