Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Misteri Buket lili-2


__ADS_3

Baaaaam...


Mala menutup pintu rumahnya dengan kasar. Ia berjalan masuk kedalam rumah dengan mata yang terus menyapu setiap sudut ruangan.


Setelah memastikan semuanya aman, Mala kemabli memasuki kamarnya lalu menuju ranjangnya dan tidur dalam ketakutan.


Ia mengganti selimutnya dengan selimut yang baru, Ia tidak ingin selimut yang barusan bekas digigit oleh sipocong. Saat Ia mengambil selimut itu, masih tertinggal bauk busuk yang menyengat, dan rasanya ingin muntah.


"Dasar Pocong gak punya kerjakaan, ngapain juga Ia melipir sampai kerumah.." Mala menggerutu dan melemparkan selimut itu keluar rumah, esok Ia berencana akan memberikannya kepada Asisiten rumah tangganya, tentunya tanpa harus mengatakan apa yang terjadi.


Mala kembali keranjang, lalu mencoba memjamkan matanya, membuang segala hal-hal yang telah dialaminya.


Sementara itu, Bayu ingin kembali kerumahnya, lalu mengenderai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Akhir-akhir ini entah apa yang merasuki hatinya, setelah mengegahui jika wanita pujaannya telah hidup sebatang kara, Ia merasakan begitu amat kasihan. Nalurinya selalu ingin mengamati wanita agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi setelah kejadian percobaan senggama paksa oleh genderuwon tersebut.


Saat Bayu sedang asyik menyetir dan hampir memasuki pagar halaman rumahnya, Ia melihat pocong yang tadi sedang berusaha menyerang Mala sudah berdiri tegak dipintu pagar.


Bayu mencoba mengklaksonnya, agar pocong itu menghindar dan tidak menghalangi jalannya. Namun, justru Pocong itu semakin tajam menatapnya. "Tuli atau gimana si pocong ini, sampai tidak mendengar klakson mobil..!" Bayu menggerutu kesal. Lalu dengan perasaan jengkel Ia turun dari mobil.


Bayu berjalan mendekati pocong tersebut. Setelah jarak mereka cukup dekat, bayu berganti menatap tajam pada pocong itu.."Kamu tuli ya..? Gak dengar suara klakson segitu gede..? Atau mau cari mati yang kedua kalinya..?" tanya Bayu kesal sembari mengacakkan pinggang.


Pocong itu menyeringai dengan geram, lalu Ia mencoba menghampiri Bayu, dan tanpa diduga pocong itu mengibaskan kepalanya dan mengenai wajah tampan pria paruh baya itu.


Seketika Bayu terkejut. Bayu segera memgang wajahnya yang terkena kibasan kepala pocong tersebut. Saat Ia memegang bekas kibasan pocong itu, aroma busuk sangat menyengat keluar dari telapak tangan dan wajahnya. Bayu seketika memuntahkan isi perutnya yang baru saja sisa makan malamnya.


Setelah berhasil mengerjain Bayu, pocong itu kembali melompat jauh dengan senyum menyeringai, lalu menuju area pemakaman, dan berteduh dibawah rumpun pisang yang tumbuh subur disana.


Bayu kembali menaiki mobilnya, memasukkan mobil kegarasi. Dengang langkah cepat Ia memasuki rumah dan menuju kamarnya. Didalam kamar Ia bergegas kekamar mandi membuka seluruh pakaiannya, lalu membersihkan wajahnya untuk menghilangkan aroma busuk dari sentuhan si pocong.

__ADS_1


"Dasar pocong sialan.." gerutu Bayu sembari menggosokkan sabun cair kewajahnya.


*******


Disubuh yang masih gelap, terdengar suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan. Terdengar suara adzan subuh yang mendayu-dayu memanjakan telinga. Mala menggeliatkan tubuhnya, mencoba meregangkan segala otot-ototnya agar kembali segar.


Meski tmrasa kantuk menyerangnya, Ia berusaha untuk bangkit, menuju kamar mandi dan bersuci. Lalu Ia menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Setelah Ia selesai menuanikan shalat subuh, Ia neranjak kedapur. Menyeduh kopi dan mengambil sebuah toples berisikan roti kering dan crakers. Ia membawanya keruang keluarga, menghidupkan TV dan menonton acara pengajian yang biasa diadakan sehabis subuh, sembari menikmati secangkir kopi dan camilannya.


Namun acara yang ditunggunya belum tayang. Ia menyandarkan tubuhnya disofa. "Mengapa hidupku selalui diganggu makhluk astral..? Apakah aku memiliki kemampuan melihat makhluk-makhluk itu..? Atau karena ada kaitannya dengan almarhum bapak..? Sungguh tidak enak sekali memiliki mata yang mampu melihat makhluk astral, melelahkan." Mala mengatupkan kedua matanya, lalu mencoba menentramkan hatinya.


Mala tak menyadari, jika sepasang mata berwarna merah sedang mengintainya disudut ruangan. Gigi taring nan tajam, serta kuku-kuku runcing dengan jemarinya yang keriput kini memandangnya dengan sangat tajam.


Mala mencium aroma kembang kenanga menyeruak keseluruh ruangan keluarga. Ia memgenduskan indra penciumannya, merasa ada yang tidak beres, Mala merasakan bulu kuduknya meremang. Ia kembali kekamar, mengambil phonselnya dan menghubungi Asisten rumah tangganya agar segera datang, Ia berjanji membayar double.


********


Mentari bersinar diufuk timur. cahayanya yang lembut menghangatkan semua makhluk hidup.


Asisten rumah tangga itu datang dengan membawa sebuah tas berisikan pakaian. Sepertinya Ia menyetujui untuk tinggal dirumah Mala. Hal itu justru disambut sangat senang oleh Mala. Lalu Mala membawanya kedapur, dimana kamar untuk sang ART.


Mbak Inah, sang wanita berusia 47 tahun itu tentu sangat senang mendapat kamar yang bagus, meskipun terletak dibagian dapur, namun hal ini sudah mengurangi biaya hidupnya untuk mengontrak rumah.


Setelah menunjukkan kamar Inah, Mala kembali kekamarnya. Ia teringat akan rencananya untuk melihat phonselnya dan memeriksa camera sensor mini yang diletakkannya dipohon beringin untuk mengintai siapa pelaku dari buket bunga lili tersebut.


Mala mulai memeriksanya. Ia penasaran dengan kejadian malam tadi, lalu memutar ulang penampakan yang terjadi.

__ADS_1


"Sudah siang, gak mungkin para demit itu berkunjung kerumah, lagian sudah ada mbak Inah, ada temenku.." ujar Mala mencoba memberanikan dirinya menatap layar gawainya.


Setelah mengamati, Ia melihat jika sipocong itu kembali berteduh dibawah rumpun pisang yang terdapat diarea pemakaman. "Jadi disini dia nongkrongnya..? Dasar pocong.." gerutu Mala.


Lalu Ia memulai untuk melihat tayangan untuk pukul pagi ini. Tampak suasana sepi, tidak terjadi hal apapun disana. Mala mulai jengah dan dan ingin menutup layar gawainya.


Namun niatnya terhenti, saat.Ia melihat. Satu sosok pria berbadan kekar serta berpakaian serba hitam sedang turun dari mobilnya tepat diujung pagar pemakaman.


Hati Mala mulai dag dig dug tak menentu. Lalu tampak pria itu mengambil sesuatu dari pintu mobil depan bagian kiri.


Dan...


"Haaah..?" Mala menutup mulutnya dengan satu tangannya. Ia gemetaran dan tak mampu berkata apapun. Ia melihat pria itu berjalan sembari membawa buket bunga lili dan terus melangkah menuju pemakaman. Hingga akhirnya Ia berhenti di makam Roni, suaminya, Ia membelakangi camera, lalu membuka kacamatanya, dan meletakkan buket itu diatas makam.


Terdengar pria itu sedang bercakap-cakap dengan makam Roni. Mala mencoba untuk menguatkan volume gawainya.


"Hai.. Aku masih datang untuk mengunjungimu, hingga hari ke 100 nanti. Kamu baik-baik sajakan disana.? Kamu tau tidak..? Istrimu akhir-akhir ini selalu diganggu makhluk demit. Aku merasa iba padanya.. Bolehkah aku menjaganya untukmu.? Jika kamu mengijinkannya.. Beri aku pertanda dihari ke seratus nanti.. Aku janji tidak akan menyakitinya.. Karena janji seorang lelaki itu harus ditepati." ucap Bayu berbicara seorang diri.


Ia menatap makam itu dengan pandangan nanar. "Apakah kamu tau..? Aku mencintainya saat pertama kali bertemu. Aku memang pernah jatuh cinta, namun saat menatapnya, hatiku tak mampu untuk membohonginya, hingga khilafku untuk melakukan sebuah kesalahan. Namun aku menyesalinya.." Bayu menggantung ucapannya.


"Aku mencintainya.. dan ku harap kamu tidak marah padaku.." lalu Bayu kembali memakai kacamatanya, dan beranjak pergi dari makam tersebut.


Mala yang sedari tadi penasarn dengan wajah dibalik kacamata dan topi itu. Namun karena posisi pria itu membelakanginnya, Ia tak mampu melihatnya.


Mala merasa gemetaran.." Dia..." ucap Mala gemetar..


Bersambung.. Mau masak.

__ADS_1


Setelah


__ADS_2