Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pov Mala


__ADS_3

"astaghfirullah..." ucap Mala saat terbangun dari tidurnya. Ia lalu meludah ke sisi kiri sebanyak 3 kali.


Mala baru saja bermimpi buruk. Ia melihat Hadi dan Shinta tampak mengadakan pesta atau jamuan makan-makan.


Dimana biasanya mimpi itu diartikan merupakan pertanda buruk.


Mala menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya dengan kasar.


Mala melirik Roni yang masih tertidur pulas. Ingin rasanya Ia bercerita tentang semua yang baru saja Ia alami. Namun pria itu hanya larut dalam dunianya sendiri.


Mala mengecup lembut kening Roni, lalu melihat arah jarum jam didinding kamarnya.


Waktu menunjukkan pukul 04.56 subuh. Adzan berkumandang bersahut-sahutan.


Mala beranjak bangkit dari ranjangnya, lalu berjalan melangkah keluar dari kamar mandi.


Ia membersihkan diri dan berwudhu', lalu menunaikan ibadah shalat subuh.


Ia mendengar suara pintu kamar Satria dibuka, Ia yakin jika Satria yang membukanya. Ia mendengar suara derap langkah kaki menuju kamar mandi.


Lalu Mala mengangkat takbir, dan menyelesaikan shalatnya.


Ia bermunajad kepada Rabb-Nya, agar Ia dan keluarganya diberi perlindungan dari segala kejahatan mata syetan dan manusia.


Ia begitu sangat berharap dan memohon, jika semua mimpinya hanyalah bunga tidur belaka.


Setelah bermunajad kepada Rabb-Nya, Mala berniat membangunkan Roni, agar buang air kecil. Karena selama mengalami skizoprenia, Ia terkadang bersifat latah buang air kecil ditempat tidur.


Mala terkadang mencoba membujuknya agar memakai diapers untuk orang dewasa, namun Roni selalu menolak, jikapun dipaksa, akan menimbulkan keributan. Maka Mala lebih baik mengalah.


"Bang.. Bang Roni, bangunlah bang, kita kekamar kecil dulu yuk? Abang buang air dikamar mandi ya.?" ucap Mala dengan lembut.


Roni mengerjapkan matanya, menatap sendu kepada Mala. Lalu menggelengkan kepalanya.


Mala mencoba menarik nafasnya, dan menghelanya dengan lembut. Ia mencoba sesabar mungkin untuk menghadapi sikap suaminya.


Bagi orang yang merawat penderita skizoprenia, meskipun sudah 80% sembuh, namun harus extra sabar dalam menghadapi setiap kejutan dari sikapnya setiap hari.


"Adik kedapur dulu ya bang, mau buat sarapan." akan membuat sarapan." ucap Mala dengan nada lirih, ada kepiluan disana. Ia selalu memohon keajaiban, kiranya suaminya mendapatkan kesembuhan yang hakiki.


Mala beranjak dari kamarnya menuju dapur. Ia membuat sarapan seadanya. telur sambal orak arik campur tauge.

__ADS_1


Saat memasak, Ia merasakan hatinya tidak sangat tenang. Ia merasa jika ada sesuatu yang sangat meresahkan hatinya.


Perasaan tidak tenang, gelisah, dan hatinya penuh debaran-debaran yang sangat tidak nyaman.


Sembari memasak, Ia terus bertanya-tanya dalam hatinya, tentang perasaannya yang tak menentu.


Seketika seekor lalat hijau yang berukuran besar terbang meraung-raung mengitari Mala. Suara bisingnya membuat Mala merasa risih dan mengibas-ngibaskan serbet untuk mengahalau lalat hijau tersebut.


Lalat itu menghindari kibasan serbet tersebut, lalu lalat itu hinggap di atas tudung saji yang berada diatas meja makan.


Mala melanjutkan masakannya.


Setelah selesai, Mala kemudian memasak air untuk membuat teh panas untuk Roni dan Satria.


Sembari menunggu air panas mendidih, Mala memasuki kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah selesai dengan hajatnya, Ia kembali kedapur dan akan menyeduh teh panas.


Ketika pukul 7 pagi, Mala menyajikan sarapan dan teh panas diatas meja makan.


Satria datang menghampiri dengan pakaian rapi hendak berangkat kerja.


satria menarik kursi kosong dan duduk untuk sarapan. Ia menyendokkan orak-arik tauge dan sedikit nasi putih.


Saat Ia menguyah sarapannya, Ia terdiam, lalu memandang Mala dengan perasaan yang tidak enak. Ia mengeluarkan kembali sarapan yang sedang dikunyahnya. Lalu berkumur-kumur.


"Maaf, Bu.. Maaf. Tapi lauk ini terasa basi." ucap Satria lirih.


Mala mengernyitkan keningnya, bagaimana mungkin lauk yang baru saja dimasaknya dapat basi. Itu adalah hal yang sangat mustahil


Mala merasa penasaran, lalu mencoba mencicipinya, dan benar saja, Mala segera memuntahkannya. Ia melihat kebelanga tempat Ia memasak lauk tersebut. Tampak olehnya, masakan itu mengeluarkan buih seperti makanan basi yang sudah terjadi 2 hari yang lalu.


seketika wajah Mala memucat, Ia teringat akan mimpinya dan juga lalat hijau yang terbang mengelilinginya, serta masakan yang baru dimasaknya tiba-tiba menjadi basi.


"ini pertanda buruk Nak.. Akan ada kabar buruk yang kita terima." ucap Mala bergetar.


Suaranya terbata, Ia merasakan firasatnya tidak salah.


Saat Ia masih larut dalam alam fikirannya, tiba-tiba saja phonsel Satria berdering.


Satria mengambil phonselnya, satu panggilan masuk dari Hadi.


"Hallo.. Assalammualaikum, Hadi.." ucap Satria lirih.

__ADS_1


"waalaikumsalam, Kak.. Ada Ibu kak..?" tanya Hadi, dengan suara bergetar. Sepertinya ada sesuatu hal yang sangat penting ingin disampaikannya.


"Ada.. Bentar Ya.." jawab Satria sembari memberikan Phonselnya kepada Mala.


"Ini Bu, Hadi ingin berbicara." ucap Satria.


Mala berdebar tak menentu. Firasatnya semakin kuat dengan telefon dari Hadi. Ia merasakan nika Hadi ingin menyampaikan kabar yang tidak baik.


Ia meraih phonsel tersebut dengan perasaan yang sangat kacau.


"Hallo.. Assalammualaikum sayang.." ucap Mala terbata.


"Waalaikunsalam ibu.." jawab Hadi dari seberang telefon.


"Bu.. Shin...ta keguguran.." ucap Hadi lirih. suaranya terdengar lirih, menahan isakannya yang tertahan.


Deeeeeegh..


Jantung Mala seolah terhenti. Ia sangat terpukul mendengar kabar tersebut, dan firasatnya terbukti.


"a..aapa..?.." suara Mala tercekat sembari menutup mulutnya. Bulir bening itu mengalir deras membasahi pipinya.


"mengapa bisa terjadi..?" ucap Mala dengan sangat pilu.


"tidak tahu bu.., mungkin karena belum rezeki Hadi saja." ucap Hadi menahan gejolak kesedihan didadanya.


Mala menarik nafasnya dengan berat. "semoga Allah memberikan gantinyang lebih baik ya sayang.. Kamu bersabar dan ikhlas.." ucap Mala memberikan kekuatan kepada Hadi.


Setelah berbicara panjang lebar, Hadi mengakhiri panggilannya.


Mala menyerahkan phonsel tersebut kepada Satria dengan isakan yang tertahan. Satria menyambutnya, lalu beranjak bangkit dari duduknya. Ia meraih tubuh ibunya, membawa dalam dekapannya. Mala menumpahkan segala isak tangisnya dengan lapang.


"menangislah bu.. Jika itu membuatmu lebih baik."ucap Satri sembari memberikan ketenangan kepada Ibunya.


Akhirnya Mala melepaskan tangisnya dengan kencang, melepaskan semua bebannya. "Mengapa kutukan itu harus dirasakan Hadi juga.? Mengapa kutukan itu tidak juga berakhir..haruskah kesalahan orang dimasa lalu, anak cucunya yang menanggungnya.?" ucap Mala dengan terbata.


Seketika Satria memejamkan matanya, tampak sebuah silute terpampang jelas dkmayanya. Dimana makhluk iblis betina itu mengambil janin Shinta.


"Siaaalan..!! Apakah Hadi lupa untuk memandikan Shinta dengan remasan daun bidara..?" Satria berguman dalam hatinya. Ia merasa sangat geram dan kesal sekali dengan makhluk itu. Ingin rasanya Ia menghancurkan makhluk itu selamanya.


"mengapa.. Mengapa Ini harus terulang lagi, dan terjadi lagi?" ucap Mala sembari tergugu menahan segala kepiluannya.

__ADS_1


"bersabarlah bu.. Aku akan berusaha mencari cara untuk menghancurkan makhluk laknat tersebut." ucap Satria memberikan harapan.


__ADS_2