Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Belenggu Rindu Terlarang


__ADS_3

Bayu tak sanggup terlalu lama memandang mata indah itu, Ia dengan segera membantu Mala untuk membenahi berdirinya dengan benar.


"Maaf.." ucap Bayu, tak kala Mala sudah berdiri tegak. Ia kemudian mengibaskan pakaiannnya yang terkena sedikit noda kopi.


"Maaf, kopi untukmu malah mengotori pakaianmu.." ucap Mala sembari merundukkan pandangannya.


Sikap Mala seperti itu, membuat hatinya semakin berdenyut sakit, sakit menahan semua perasaan cinta terlarangnya.


"Oh..Cinta..


Aku tersesat dihatimu..


Aku terjebak dalam panah asmara yang kutangkap..


Indah wajahmu terbayang jua..


Sinar matamu bagaikan cahaya..


Bagaikan kilauan bintang yang berpijar.


Cinta..


Tiap deru hela nafas ini..


Kusebut namamu..


Ingin rasanya kuceritakan semua ini..


Agar kau tau, betapa sakitnya merindukanmu..


Cinta..


Dapatkah kau rasakan getarannya diruang hatimu..


Aku terbelenggu rindu dilema cinta..


Rindu ini sungguh terlarang..


Atas sebuah ikatan yang (tak) mungkin terlepas..


Aku merindukanmu dalam diamku..


Hanya itu yang ku mampu..


By..TM


"Emmm.. Kalau begitu Saya pulang dulu.. Ada hal yang harus saya kerjakan dirumah.." ucap Bayu berbohong.


Ia hanya tidak ingin terjebak dalam perasaannya, lalu membawanya pada kesesatan yang semakin jauh.


Mala hanya mencoba tersenyum datar. Ia juga tidak tau harus bersikap apa. Ia hanya ingin mengucapkan terimaksasih kepada Pria yang sudah menolongnya itu dengan secangkir kopi.


Namun, Ia juga tidak bisa menahan pria asing itu, karena Ia adalah wanita bersuami.


Bayu melangkah beranjak pergi, meski sebenarnya Ia merasakan sesak didadanya laksana bongkahan batu menghimpit dadanya.

__ADS_1


Gemuruh didadanya laksana ombak yang menderu, membuatnya begitu teramat sakit.


Bayu telah berada diambang pintu keluar, lalu..


"Tunggu.." ucap Mala sedikit berteriak kecil.


Bayu menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kepada Mala, karena Ia tak sanggup menatap pemilik bola indah mata itu.


"Terima kasih, atas pertolonganmu, dan maaf, kopiku telah memberi noda dipakainmu.." ucap Mala dengan lirih dan tulus.


"Ya.." jawab Bayu singkat. Lalu Ia segera berlalu, menuju mobilnya dan kembali pulang.


Disepanjang menuju pulang kerumah, Bayu terus merutuki hatinya. Merindukan seseorang yang tak mungkin dapat Ia rengkuh, itu sungguh menyakitakan.


Ia lelaki.. Namun ia juga dapat menangis ketika hatinya begitu teramat sakit..


Sakit karena merindukan seseorang yang tak mungkin dapat tersentuh, mencumbu bayang orang tersebut dalam kepiluan.


Bayu tiba dirumahnya, Ia bergegas pergi kekamarnya. Lalu membaringkan tubuhnya di tepian ranjang.


Ia menatap langit-langit kamarnya, lalu memejamkan matanya.


Berulang kali Ia mengusir bayangan Mala, namun semakin lama semakin hadir dan menyesakkan dadanya.


Bayu merapatkan gigi-giginya. Ia mencoba menahan setiap bulir air mata yang siap datang bak air bah..


Berulang kali Ia mencoba menahan rasa sakitnya, namun tak mampu terbendung lagi. Bayu mengerjapkan matanya, membenahi posisi dan duduk bersandar ditepian ranjang.


Buliran bening itu akhirnya jatuh tumpah dipelipis matanya. Isakannya begitu sangat tertahan. Hatinya begitu amat perih, meyesapi rasa rindunya yang kian mendera.


Dalam diam.. Ya, hanya mencintai dan merinduinya dalam diam.. Itu yang Ia mampu.


Mungkin dengan menangis, Ia dapat menghilangkan sedikit rasa beban dihatinya.


🐍🐍🐍🐍🐍🐍


Pecahan gelas kaca berserakan dilantai. Mala membersihkannya, lalu membuangnya ketong sampah.


"Mbak.." suara Bimo dari arah luar. Mala yang baru saja dari arah belakang dapur, segera menghampirinya.


"Ya..ada apa Bim.?"


"Anu mbak, kamar sebelah sudah rampung dan bisa ditempati, apa bisa mbak pindahin barang-barang dikamar mbak..? Biar.kami lakukan pembobokan." ucap Bimo menjelaskan.


Mala terdiam sejenak. Lalu kembali menatap Bimo. "Kalau pindahannya besok bisa..? Soalnya Bang Roni masih berinfus.. Dan kamu bisa bantuin mbak pindahin barang-barangnya terlebih dahulu." Ucap Mala kepada Bimo.


"Bisa mbak.. Kita bantu pindahin barang-barang Mbak nanti sama si Paijo.."jawab Bimo sembari mengibaskan debu yang menempel dipakaiannya.


"Kalau begitu kita mulai dengan pemindahan lemari pakaian saja dulu ya.." ujar Mala, sembari melangkah kedalam kamar, lalu diikuti oleh Bimo.


Bimo melihat Roni sedang berbaring dengan jarum infus yang melekat di pergelangan tangannya.


"Bang Roni tadi darimana Mbak..? Trus kenapa pingsan..?" Bimo mencoba bertanya kepada Mala dengan rasa penasaran yang sangat kuat.


"Tadi tiba-tiba keluar dari kamar, lalu Mbak temukan pingsan ditepi jalan.." jawab Mala berbohong dengan kejadian yang sebenarnya.

__ADS_1


Bimo mencoba mengangguk-anggukan kepalanya.


"Terus.. Pria tadi siapa Mbak.?" Bimo kembali bertanya, sembari menghampiri Mala yang sedang mengosongkan lemari pakaiannya.


"Mbak juga gak kenal, kebetulan dia lewat dan liat mbak kesusahan ngangkat abangmu, lalu Ia menawarkan diri menolong." jawab Mala sekenanya.


"terus.. Mbak.. Dia sepertinya ganteng.." ucap Bimo keceplosan.


"Ya mana Mbak tau, gak sempat memeperhatikan orang.." jawab Mala mulai sedikit ketus dengan Bimo yang terlalu banyak berbicara.


"Terus Mbak.."


"Kebanyakan terus kamunya.. Udah, sana panggilin Paijo, angkat itu meja rias, jangan terus..terus saja." ucap Mala semakin kesal.


"hehehe.. Ya janganlah marah mbak.. Makin cantik tau..!" jawab Bimo menggoda kakak sepupunya itu.


Mala yang kesal melihat Bimo, segera meraih botol plastik bedak baby kearah Bimo, lalu dengan cepat Bimo menghindarinya, dan bergegas keluar sembari memanyunkan bibirnya meledek Mala, karena lemparannya tidak mengenai sasaran.


Mala mendengus kesal, lalu kembali mengosongkan pakaiannya.


Saat sedang mengosongkan pakaian dalam lemarinya, Ia mendengar suara bergetak didalam lemari. Seperti sesuatu benda yang berguncang.


Krataak..tak..tak..


Suaranya terdengar sangat keras.


Mala merasa penasaran, lalu mencoba memeriksa pintu lemari sebelah yang masih tertutup.


kreeeeeek..


Suara tarikan pintu lemari yang ditarik cepat oleh Mala.


Ia mencoba memeriksan pakaian yang digantung pada hunger. Ia menyibakkan setengah pakain itu, Ia mencari sumber suaranya.


Ia tidak melihat apapun disana. Namun Ia meyakini, suaranya sangat jelas.


Mala kembali menutup pintu lemari, lalu melanjutkan pekerjaanya..


Ssssshhhhhsss...


Suara desisan terdengar dari dalam lemari. Mala merasakn bergidik disekujur tubuhnya. Ia menyapu tengkuknya yang serasa berdiri bulu romanya.


Mala mencoba mengabaikanya. Lalu kembali berbenah.


Mala melirik Roni yang masih terdiam dalam tidurnya.


Tak lama kemudian, Bimo dan Paijo datang menghampirinya. "Mana yang diangkat lemarinya Mbak.." ucap Bimo


"Lemari rias itu.. Bawakan saja keruang kamar yang baru ya, dekat dengan dinding sebelah sudut kiri.."Titah Mala.


"Siap Mbak.." jawab Bimo dengan gerakan orang sedang menghormat.


Mala hanya menggelengkan kepalanya, melihat ulah Bimo yang sedikit konyol.


Lalu Bimo dan Paijo segera menggeser dan mengangkat lemari tersebut untuk dipindahkan.

__ADS_1


Ssssshhhhsss...


Suara itu kembali lagi terdengar, dan semakin membuat bulu kuduknya meremang..


__ADS_2