
Rumi tampak membungkusi pakaiannya dan akan pulang kerumah orang tuanya dikampung sebelah.
sejak mengalami peristiwa pertemuannya dengan makhluk iblis menyeramkan itu, Ia tidak lagi merasa betah tknggal dirumah majikannya. Ia merasa jika rumah ini ada sesuatu hal yang sangat menyeramkan.
Rumi meyakini jika majikannya menyimpan sebuah rahasia yang sangat besar. Rumi yakin jika Bayu sang majikan bersekutu dengan iblis betina tersebut.
Ditambah kejadian saat mata ayam cemani membeliakkan mata padanya, hal ini justru membuatnya sangat ketakutan.
Ruminyakin jika ayam-ayam berwarna hitam legam itu akan dijadikan sesaji untuk ritual pemujaan.
Nia yang baru saja selesai mandi menatap heran memihat Rumi yang sedang bersiap-siap hendak seperti pulang kampung.
"mbak mau pulang kampung? Kenapa tiba-tiba sekali.?"tanya Nia penasaran.
"emm..anu.. Ibunya mbak lagi gak sehat, jadi disuruh pulang buat merawat ibu." jawab Rumi berbobong.
Nia manggut-manggut mencoba memahami alasan Rumi.
Rumi sudah selesai mengemasi kopernya, Ia menarik koper tersebut dan keluar dari kamar.
Rumi tidak berniat permisi kepada Bayu, karena Ia akan pulang secara diam-diam.
Rumi bergegas mempercepat langkahnya. Saat Ia akan mencapai ambang pintu keluar, Ia mendengar seseorang..
"eheeem..ehemm.."
Rumi menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kearah orang yang berdehem.
Ia mendengar derap langkah seseorang menuruni anak tangga..
Rumi merasa gemetar, Ia seperti orang yang sedang tertangkap basah sedang mencuri.
Sesaat derqp langkah itu telah hampir mencapainya. Kini tepat berada disisi kanannya, diambang pintu.
"pagi-pagi sekali bawa koper mau kemana..?" tanya Bayu santai.
Rumi berdiri mematung, tak mampu berkata sepatah katapun.
"ingin mencoba melarikan diri.? Kamu lupa dengan vedeo mesummu bersama Danang? Atau perlu saya upload di akun Y*utube..? Agar seluruh dunia menontonmu..?" ucap Bayu Santai namun penuh penekanan.
Rumi seketika gemetar, ancaman Bayu sepertinya tidak main-main, Ia tidak ingin menanggung aib tersebut.
"apakah kamu masih ingin lari..? Atau mematuhi perintah saya..?" ucap Bayu dengan nada dingin dan ancaman.
Rumi menganggukkan kepalanya, pertanda menyerah.
__ADS_1
"bagus.. Kembalilah kekamarmu, lalu bekerja seperti biasa." ucap Bayu, lalu memakai kaca mata hitamnya.
Rumi memutar tubuhnya, lalu kembali kekamarnya dengan langkah gontai.
Ia menuju bagasi, mengeluarkan mobilnya. Sesaat sampai dihalaman rumah, Ia teringat akan sesaji yang belum dibersihkannya. Ia memukul stir mobil.
"siaaaal..!!" ucap Bayu mengumpat.
Ia turun dari mobil, lalu mencari cara untuk membuang sesaji yang diobrak abrik oleh Nini Maru.
Bayu memanggil Danang yang tampak sibuk dikebun belakang.
"kang Danang.. Tolong kemari.." ucap Bayu sedikit berteriak.
Danang datang dengan tergopoh-tergopoh. Ia menghampiri
"ada apa Tuan..? Ada yang bisa saya bantu..?" tanya Danang dengan merendah.
"carikan saya karung goni yang rada besaran ya.." ucap Bayu sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"iblisnitu sungguh merepotkan sekali.." gerutu Bayu dalam hatinya.
"Baik Tuan.." jawab Danang, sembari berlalu mencari karung goni yang dipinta Bayu.
🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍🐍
"karung goni buat apaan ya diminta Tuan.? Dah keq orang mau mulung saja." gerutu Danang, sembari mencari karung goni bekas beras yang biasanya dikumpulkan oleh Danang. Karung itu akan dijualnya kembali kepada tukang rongsokan.
Danang telah menemukan 1 karung beras yang memuat 20 kg beras. Ia membawanya kepada Bayu.
"ini Tuan, karung goninya."ucap Danang, sembari menyerahkannya kepada Bayu.
Bayu meraihnya. "kamu tunggu disini saja, nanti ada pekerjaan yang akan saya beri kekamu." ucap Bayu, sembari masuk kedalam rumah.
Bayu menaiki anak tangga dengan tergesah-gesah.
Ia membuka kunci pintu, lalu menutupnya dengan cepat.
Ia memasukkan ketiga ekor ayam pangang cemani tersebut kedalam karung. Lalu memunguti sisa kembang dan sesaji lainnya kedalm kantong kresek bekas belanjanya diwarung Pak Joko tempo sore semalam.
Setelah membersihkan semua yang berserakan, Ia keluar kembali dari kamar. Lalu kembali turun kelantai dasar, dan menuju halaman depan.
Saat Ia sampai dihalaman depan, Ia tidak melihat Danang ada disana.
"sialaan ne Orang..!! disuruh tunghu disini malah menghilang.!!". Bayu menggerutu geram.
__ADS_1
Ia terpaksa berjalan kearah taman belakang, lalu menemukan Danang sedang bercumbu rayu denngan Nia. Gadis itu sudah sangat berantakan sekali pakaiannya.
"kang Danang..!!" Hardik Bayu dengan geram.
Kedua insan yang kepergok sedang bercumbu rayu itu mendadak berhenti dengan aktifitasnya.
Lalu dengan rasa kikuk menjauhkan tubuhnya masing-masing.
Nia segera masuk kedalam dapur sembari merundukkan kepalanya.
"Kang Danang bagaimana siah.? saya suruh tunggu didepan, malah enak-enakkan disini.." ucap Bayu kesal.
"emm.. Anu.. Maaf, Tuan.. Saya kira tadi Tuan ketiduran, ya makanya saya balik kebelakang." jawab Danang beralibi.
"hallaah.. Alasan kamu saja..!" ucap Bayu kesal.
"kemari kang Danang..!" ucap Bayu dengan wajah datar.
Bayu menghampiri Bayu dengan merundukkan kepalanya.
Setelah jarak mereka cukup, Bayu menyodorkan karung goni tersebut, namun tidak dengan kantong kreseknya. Ia tidak ingin para pekerjanya mengetahui tentang kembang setaman tersebut.
"ini tolong buangkan, ditempat yang jauh. Jangan sampai ada yang melihatnya..fahaam..!!" ucap Bayu dengan geram.
Danang menganggukkan kepalanya, meskipun Ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya isi dalam karung tersebut.
Bayu berbalik dan beranjak berjalan menuju bagasi, lalu menghilang dari pandangan Danang.
Bayu menaiki mobilnya, menuju warung pak Joko. Saat menemukan tempat pembuangan sampah dipinggir jalan, Ia membuang kantong kresek itu begitu saja, setelah memastikan kondisi sepi, agar tidak ada yang melihatnya.
Bayu kembali melajukan mobilnya, menuju warung sembako Pak Joko untuk membeli beberapa kebutuhan bahan pokok.
Namun baru saja Ia sampai diseberang jalan, hatinya ingin sekali melihat wanita pujaannya itu.
Ia kembali melajukan mobilnya, lalu berhenti tak jauh dari simpang ruamah Mala.
Lama Ia menunggu, namun wanita itu tak jua muncul. Ia tau, biasanya jam segini Mala akan keluar untuk berbelanja. Namun sepertinya wanita itu tidak ada tanda-tanda akan berbelanja.
Bayu sedikit melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Ia ingin melihat depan rumah Mala. Lalu Ia melintasi rumah itu, semabri pandangannya tertuju pada pintu rumah tersebut.
samar-samar Ia mendengar suara isakan tangis wanita tersebut. Sepertinya Ia sedang menerima telefon dari seseorang.
Suara Mala terdengar jelas, karena jarak jalan utama dengan rumahnya sangat dekat, hanya berjarak sekitar 15 meter saja, Sehingga Ia dapat mendengar samar-samar suara Mala sedang menangis terisak.
"berita apa yang didengarnya sehingga Ia menangis sepagi Ini..?" namun Bayu tak berani untuk bertanya. Jangamkan bertanya, untuk menampakkan wajahnya saja Ia tak sanggup.
__ADS_1
Akhirnya Bayu memilih pergi meninggalkan rumah Mala, debgan perasaan penasaran. Ia begitu amat penasaran dengan apa yang terjadi pada wanita pujaannya.