Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Bertemu Dokter Fadly


__ADS_3

Satria menghubungi nomor dokter obgyn yang diberikan oleh petugas administrasi tadi. Ia menghubunginya, dan tersambung.


"Hallo, maaf sebelumnya mengangganggu. apakah saya sedang berbicara dengan dokter Fadly?" ucap Satria Sopan.


"Iya, dengan saya sendiri, dengan siapa saya berbicara dan apakah ada yang saya bisa bantu?" jawab Dokyer Fadly ramah.


"saya Satria, anak dari pasien Ibu Jayanti. Bisakah saya bertemu dengan dokter? Ada hal penting yang ingin saya konsultasikan." ucap Satria penuh harap.


"saya hari ini sedang cuti, jika memang sangat penting mungkin kita bisa membuat janji bertemu" ucap Dokter Fadly.


"baiklah dok, saya akan menemui dokter segera." jawab Satria penuh semangat.


Sebuah pesan masuk, dokter fadly mengirimkan lokasi pertemuan mereka.


Hadi memandang Satria dengan bingung. "Kak..? Kenapa repot amat sih nemuin dokter yang menangani persalinan mama Kakak? Emangnya akte kelahiran kakak belum dicetak ya?" ucap Hadi polos.


Satria memandang Hadi dengan tatapan sendu. Ia merapatkan kedua bibirnya. "ada sesuatu hal yang membuat kakak merasakan sesuatu yang aneh. Kakak seperti tidak yakin jika alm. Papa dan Mama bukan orang tua kandung kakak." ucap Satria dengan lirih.


"haaah..? Masa sih?" jawab Hadi sedikit berteriak.


"sudahlah.. Mau ikut gak ne..?" ucap Satria kepada Hadi.


"let's Go.." ucap Hadi sembari gantian menyeret lengan Satria keluar dari rumah sakit.


sesampainya di parkiran, mereka memasuki mobil Satria. Sedangkan mobil Hadi masih terparkir disana.


Satria melajukan mobilnya menuju lokasi yang disebutkan oleh dokter Fadli.


mereka sampai disebuah taman yang terlihat sangat asri. Ternyata itu sebuah cafe yang bernuansa alam terbuka. Ada gazebo-gazebo kecil yang tersusun rapi.


Mereka menuju sebuah gazebo yang dihuni seorang pria paruh baya. Pria itu tampak sangat berwibawa.


Satria memasuki gazebo yang diikuti oleh Hadi. Satria dan Hadi menjabat tangan sang dokter, sembari memperkenalkan diri.


Setelah mereka saling berkenalan, dokter itu mulai membuka pembicaraan.


"apa yang bisa saya bantu untuk kamu anak muda?" ucapnya ramah.


Satria menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya. "apakah benar Mama saya yang bernama Jayanti pernah menjadi pasien dokter 21 tahun yang lalu?" ucap Satria lirih.


Sedangkan Hadi hanya menjadi penguping yang setia.


Dokter Fadly menatap Satria dengan Sahaja. Ia menghela nafas beratnya. "ada banyak pasien yang saya tangani. Tentu saya tidak mengingatnya yang mana satu." dokter fadly menggantung ucapannya.


"namun kasus mamamu sangatlah unik, sehingga dari ratusan pasien yang saya tangani, kejadian yang Ia alami begitu melekat diingatan saya." ucap Dokter Fadli dengan tenang.


Satria dan Hadi saling pandang, mereka begitu penasaran dengan kelanjutan cerita dokter Fadly.

__ADS_1


"Mamamu mengidap penyakit kanker rahim. Ia di vonis tidak dapat memiliki keturunan. Dan sampai sekarang Ia juga masih sering mengunjungi saya. " ucap Dokter Fadli.


"a..apaa dom? Mama saya mengidap penyakit kanker rahim..?" ucap Satria terbata. Ada iba disana. Bahkan Ia menyesali karena tidak pernah mengetahuinya.


Hadi juga sama terkejutnya. Ia tak menyangka jika mama Satria menderita selama ini. Namun berusaha menutupinya.


"Ya.. Namun yang sangat membingungkan. setelah dua minggu saya memeriksa kandungannya, tiba-tiba saja Ia datang dengan kondisi akan melahirkan.


"Saya yang waktu itu juga membantu proses persalinannya merasa bingung kejadian itu. Karena hal ini tidak dapat dijelaskan dengan ilmu kedokteran." ucap Dokter Fadly dengan raut penasaran.


Hadi yang juga mengambil jurusan kandungan juga merasa bingung dengan cerita dari dokter Fadly.


"jika Ia melakukan proses bayi tabung, tentu akan membutuhkan waktu yang sama, yaitu sembilan bulan mengandung. Namun Ia hanya dalam waktu dua minggu sudah melahirkan seorang anak dengan usia kandungan sembilan bulan." ucap dokter Fadly dengan gamblang.


Satria juga merasakan hal yang janggal dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang dapat mengandung hanya dalam waktu 2 minggu saja. Itu adalah hal yang sangat mustahil.


"lalu apa perkiraan dokter dengan kasus kehamilan mama saya?" Satria bertanya dengan hati yang penuh debaran. Jantungnya berdegub kencang. Ia tak tahu harus apa dengan semua penjelasan dokter yang membingungkannya.


"jika secara keilmuan logika tidak bisa dijelaskan, maka hal metafisika dapat menjelaskannya." ucap Dokter Fadly.


Satria dan Hadi bertambah bingung dengan penjelasan dokter Fadly.


"maksudnya dok..?" ucap Hadi dan Satria bersamaan.


"mungkin ada unsur ghaib yang menyertainya.." ucap Dokter Fadly.


"apakah ilmu pujon?" ucap Hadi menimpali.


Dokter fadli dan Satria melihat kearah Hadi secara bersamaan dengan pandangan selidik.


"apa itu 'Pujon'.."? tanya Satria dengan bingung.


"Ilmu kanuragan yang dapat mentransfer janin ibu yang sedang memgandung kepada wanita yang tidak mengandung" jawab Hadi dengan serius.


Satria terperangah mendengarkan jawaban dari Hadi. Baginya hal itu adalah mustahil dan tidak masuk akal.


"dari mana kamu mengetahuinya?" tanya Satria penasaran.


"dari Almarhum si mbah ku. Dia yang mengatakannya." jawab Hadi.


Satria memandang dokter Fadly, ada tatapan ingin meminta penjelasan kepada dokter itu.


"cobalah cari tahu, mungkin saja ada benarnya." ucap Dokter Fadli.


Satria merasakan kegundahan yang luar biasa. Hatinya begitu sangat penasaran dengan apa yang baru saja didengarnya.


"maaf, saya ada keperluan lain. Mungkin hanya sebatas ini informasi yang dapat saya berikan." Dokter Fadly berpamitan. Lalu beranjak dari tempat itu, tanpa menyentuh hidangan yang sedari tadi sudah berada diatas meja.

__ADS_1


Satria menganggukkan kepalanya. " terima kasih atas segala informasinya dok." jawab Satria.


Dokter itu tersenyum sahaja, dan berlalu pergi, menuju parkiran mobilnya.


Satria menatap Hadi. "apakah kamu percaya dengan ilju 'Pujon' itu..?" ucap Satria kepada Hadi.


"percaya.. Karena.." ucapan Hadi menggantung, karena handphone Satria berdering.


Satria mengangkat panggilan masuk dari Jayanti mamanya. Mengetahui mamanya menderita kanker rahim membuatnya merasa iba. Namun rasa penasaran untuk mengetahui siapa jati dirinya semakin kuat.


"hallo.. Ada apa Ma..?" ucap Satria mencoba tenang, meski didalam hatinya bergejolak.


"Mama mau berangkat ke jepang hari ini, apakah kamu mau mengantarkan ke bandara..?" pinta Jayanti dengan penuh harap.


Satria menghela nafasnya dengan berat.


"baik Ma.. Satria segera pulang.." Jawab Satria dengan sopan. Meskipun hatinya penuh dengan beribu pertanyaan, namun Ia tidak ingin berdebat untuk saat ini. Ia akan mencari tau dan mengumpulkan bukti-buktinya terlebih dahulu. Setelah itu Ia akan mempertanyakannya kepada Jayanti.


"kita balik dulu Di, Mama minta dianterin ke bandara." ucap Satria kepada Hadi.


"baiklah, sebaiknya kakak jangan terlalu memikirkan tentang hal ini." saran Hadi kepada Satria.


Satria hanya tersenyum datar. Namun didalam hatinya, Ia akan mencari tahu kebenarannya.


Satria dan Hadi beranjak dari gazebo, mereka melangkah pergi, seorang gadis mengejarnya. Ia berjalan dengan sedikit berlari. Hadi dan Satria saling pandang. "mengapa Ia mengejar kita..?" ucap Satria bingung.


"mungkin meminta tanda tangan kali..?" ucap Hadi seenaknya.


"tanda tangan apa..?" tanya Satria bingung.


"ya tanda tangan fans, karena ketampananku atau kakak..?:" jawab Hadi seenaknya.


Satria menggelengkan kepalanya. Lalu sang gadis telah berada dengan jarak yang cukup dekat. Nafasnya terengah-engah.


"ada apa say.. Koq segitunya ngejar kita? Apakah kita terlalu tampan, sehingga membuatmu begitu terpesona." ucap Hadi sembari mengedipkan matanya, dengan tingkat Pede yang luar biasa.


Satria terperangah dengan ucapan Hadi, rasanya Ia pengen segera menghilang dari hadapan gadis itu, karena rasa malu sampai ke ubun-ubun.


"anu..mas.. Pesanan dan sewa gazebonya belum bayar.." ucap gadis itu dengan terbata, karena nafasnya yang masih tersengal, sembari menyodorkan nota bonnya.


"haah..?!" ucap Satria dan Hadi saling pandang. Lalu Satria mengeluarkan dompetnya, dan segera membayarnya.


"kembaliannya bentar ya mas." ucap gadis itu.


"sudah, ambil saja.." jawab Satria.


Gadis itu hendak berlalu, namun Ia menghentikan langkahnya, dan berbalik arah. "mas.. Kalian tampan." ucap sang gadis sembari mengedipkan matanya. Membuat Satria dan Hadi saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2