Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pulang Kampung


__ADS_3

"sudah siap Bu..?" ucap Hadi lembut.


Mala mengganggukkan kepalanya." sudah sayang.. ayo.. antarkan ibu." ucap Mala. sebenarnya Ia juga kasihan meninggalkan Hadi sendirian, tetapi Ia merasa ini adalah jalan yang terbaik yang harus dilakukannya.


peristiwa tempo hari, membuatnya sangat trauma. apalagi Reza sudah terang-terangan untuk berbuat asusila padanya.


"mengapa mas Reza sampai berbuat seperti itu..? selama didesa waktu, dia tidak pernah tampak ada gelagat yang aneh?" Mala berguman lirih dalam hatinya.


Mala menenteng tas koper berisi pakaian yang akan dibawanya pulang. melihat itu, Hadi segera meraihnya. "sini bu, biar Hadi yang bawa.." ucapnya lembut, sembari menentengnya, memasukkannya kedalam jok mobil tengah.


Mala bwtanjak keluar, mengunci pintu rumah. lalu menaiki badan mobil, duduk disebelah kemudi.


 


Satria bergegas menuruni anak tangga. Ia mengambil Handphonenya di counter. karena hari telah selsai diperbaiki.


Ia menyetir mobilnya dengan fokus. sembari celingukan mencari conuter Hp tempatnya servis tempo hari.


setelah menemukannya. Ia turun dari mobil menuju counter.


mobil Hadi melintas dengan kecepatan sedang. Hadi tidak berani menyetir dengan kecepatan tinggi, karena jika sampai Ia melakukannya, maka Mala akan menghadiahinya cubitan beruntun dan omelan yang panjang, sepanjang jalan kenangan.


ujung ekor mata Mala, tanpa senganja melihat Satria uang melangkah masuk kedalam counter. seperti kurang puas, karena sekilas saja, Mala menoleh kebelakang, melihat terus kearah pemuda itu, hingga tubuh pemudanyang dilihatnya mengjilang dibalik toko.


Hadi yang memperhatikan ibunya seperti mekihat sesuatu yang menarik hatinya menjadi penasaran. "Ibu liatin apaan sih bu..? koq sepertinya serius banget.." ucap Hadi dengan sangat penasaran.


Mala kembali membenahi posisi duduknya. "emm.. anu, tidak apa-apa sayang.." ucap Mala, sembari menarik nafasnya, lalu menghelanya.


Mala larut dalam fikirannya. "pemuda itu sangat baik. pastilah orangtuanya sangat beruntung memiliki anak sepertinya." Mala berguman lirih dalam hatinya.


Setelah menempuh 20 menit perjalanan. akhirnya. mereka sampai di terminal bus.


Hadi sudah memesan tiket secara online. Ia turun menenteng tas ibunya, yang diikuti oleh Mala.


Hadi bertanya kepada petugas yang berjaga disana, dimana bus auang akan berangkat pagi ini untuk menuju ke desanya.


setelah mendapat arahan dari petugas, Hadi dan Mala mencari bus yang ditunjuk. lalu Hadi mengantarkan ibunya mencari kursi penumpang, tepat di belakang supir.


Hadi menemani ibunya, hingga kondektur bus mengumumkan jika bus akan segera berangkat.


Hadi berpamitan kepada Ibunya, mengecup pipinya. "hati-hati ya bu..?" ucap Hadi dengan tulus dan rasa berat hati berpisah dengan ibunya.

__ADS_1


setelah perpisahan, Hadi turun dari dalam bus, lalu menatap kepergian ibunya dengan sedih.


Mala memberikan senyum manisnya, melaui kaca jendela bus, menatap lekat mata Hadi yang terlihat sedih karena Ia lebih cepat pulang, dari waktu yang dijanjikan.


saat mata Mala menatap Hadi, [deeegh..]


Ia teringat akan pemuda yang menolongnya tempo hari, uang Mana Ia tidak mengetahui siapa namanya. bahkan lupa menannyakannya.


mata itu.. mengapa Ia memiliki bentuk mata uang sama dengan Hadi..? bahkan mereka terkesan mirip." Mala berguman dalam hatinya.


desiran-desiran dihatinya mengalir kepembuluh darahnya. entah mengapa Ia memiliki keinginan kuat untuk melihat pemuda itu lagi. "mengapa aku memiliki perasaan yang begitu kuat dengannya.?"


"siapa kamu hai anak muda..? mengapa aku merasakan hatiku begitu dekat denganmu..?Mala berguman lirih.


Ia merasakan perasaan yang sangat begitu kuat, entah perasaan apa yang Ia tidak memahaminya. "siapapun kamu, semoga Allah memberikan keberkahan dalam hidupmu.." ucap Mala dalam doanya.


saat bus melintasi jalanan, Ia melihat Reza baru saja keluar di sebuah apotik. Mala langsung menutupkan wajahnya dengn menggunak hijab hijabnya yang sangat lebar.


Mala merasa bergidik melihat sosok Reza. "ternyata manusia yang bersikap dingin dan pendiam lebuh berbahaya dibanding manusia arogan." Mala berguman lirih dalam hatinya.


setelah memastikan bus menjauh dari posisi Reza, Mala kembali menarik hijabnya.


dari arah samping, sang kondektur terus memperhatikan Mala. meskipun hijab menutupi auratnya. namun tak menutupi kecantikan Mala yang sesungguhnya. sang kondektur memastikan jika umur Mala masih sekitar 40 tahun, meski sesungguhnya Mala sudah mencapai 50-an tahun.


jika orang melihatnya dari atah belakang, maka mereka akan mengira Ia hanyalah seorang puteri remaja. ditambah wajahnya yang cantik rupawan membuat kesempurnaa karunia itu.


namun siapa menyangka, jika semua itu membawa bencana baginya. sampai Ia tidak menyadari jika bayinya yang hilang adalah sumber dari segala kecantikannya, yang membuat orang lain terobsesi.


bahkan kecantikannya juga yang membuat seorang wanita melakukan pujon terhadap kehamilannya. ya.. terkadang kecantikan tak selamanya indah.


Bus terus melaju dengan cepat. perjalanan Mala membutuhkan waktu 8 jam perjalanan. masih ada banyak waktu yangbakan dilalui Mala.


 


setelah mengaktifkan handphonenya. Satria menghubungi Hadi. Ia ingin menanyakan dimana Hadi sekarang tinggal.


[kriiiiing...] suara handphone berdering.


satu panggilan masuk dari Satria. Hadi terlonjak senang. sudah lama Ia menunggu kabar dari Salltria.


"hallo kak.." ucap Hadi dengan penuh semangat. Ia sudah lama menatikan kabar dari orang yang dikaguminya itu.

__ADS_1


"Hallo..Di. apa kabarmu..?" jawab Satria dengan lembut.


lalu mereka membuat kesepakatan untuk bertemu.


 


Satria menunggu Hadi disebuah cafe. mobil Satria terlihat tampak memasuki parkiran.


Satria keluar dari mobil dan memasuki cafe. Hadi berdiri dan melambaikan tangan Satria.


Satria menghampiri Hadi. "bagaimana kabarmu..?" ucap Satria dengan tulus.


"baik kak.." jawab Hadi.


"kakak kenapa tidak menjengukku waktu itu..?" ucap Hadi manyun.


Satria menatap lekat pada Hadi. "maaf.."hanya itu yang keluar dari mulut Satria.


Hadi melihat ada bekas luka dikening Satria. "kening kakak kenapa..?" ucap Hadi penasaran.


"oh.. ini. gak apa-apa koq." ucapnya berbohong.


seorang pramusaji datang menghampiri. "mau pesan apa mas..?" ucapnya ramah.


"pesan menu ayam goreng kalasan ada..?" ucap Hadi.


"oh. ada mas.. mau pesan berapa porsi..?" ucapnya sembari tersenyum.


"dua.. " jawab Satria. sepertinya Ia menyukai menu itu.


Pramusaji itu menatap heran dengan kedua pemuda tampan tersebut.


" kakak adik ya mas?" ucap pramusaji itu penasaran.


"emangnya kenapa mbak..?" ucap Satria penasaran.


"ya habis, wajahnya mirip, matanya itu terlihat mirip sekali. dan juga dengan selera yang sama." ucap pramusaji itu meluncur begitu saja.


"saya permisi dulu ya mas.." ucapnya sembari berlalu.


Hadi dan Satria saling tatap. mereka juga tidak mengerti mengapa hati mereka juga terpaut begitu erat.

__ADS_1


pernyataan pramusaji itu telah mengusik hati Satria. bukan hanya wajah, dan selera yang sama, tetapi juga darah mereka sama."siapa aku sebenarnya..?" Satria berguman lirih dalam hatinya.


__ADS_2