Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pertemuan-3


__ADS_3

Rey mengikuti kemana arah Genderuwo membawanya. Hingga sampai akhirnya mereka berada disebuah rumpun bambu yang sangat lebat.


"Duduklah dibawah rumpun bambu itu.. Dan bersiaplah untuk menerima penyatuan tubuh kita. Kau akan menjadi kuat dan perkasa serta akan mendapatkan gadis incaranmu."Ucap Genderuwo memberikan iming-iming kepada Rey.


Rey mengangguk dan mematuhi perintah Genderuwo. Lalu Ia duduk bersila dan menunggu perintah dari ayah jin-nya itu.


seketika Genderuwo mengubah dirinya menjadi angin yang sangat dingin diiringi aroma kabel terbakar atau ubi hangus.


Seketika Genderuwo yang merubah dirinya menjadi angin mencoba merasuki Rey melalui ubun-ubun kepalanya.


Seketika Rey bergetar hebat saat proses penyatuan terjadi. Lalu Ia mengerang kesakitan dan meronta hingga tersengkur ditanah dan seperti kejang.


setelah beberapa lamanya, proses penyatuan telah terjadi, dan sempurnah.


Rey mengerjapkan matanya, lalu tersenyum menyeringai. Ia merasakan energi yang sangat luar biasa dan rasa sakit disenjatanya berangsur menghilang.


Rey tampak sangat sumringah. Ia kemudian beranjak bangkit. Lalu kembali duduk bersila dan melakukan penyempurnaan penyatuan mereka.


Sementara itu, Mirna telah sampai di goa. Ia tampak begitu bahagia. Ia membaringkan tubuhnya ditepian ranjang, memandang langit-langit goa dengan tatapan nanar. Angannya jauh melayang membayangkan wajah pemuda yang telah menolongnya saat disungai tadi.


"Siapakah kamu hai pemuda tampan..? Mengapa aku begitu sangat merindukanmu.. Pertemuan kita seakan memberi warna dihidupku." Mirna berguman lirih dalam hatinya.


Gadis terus menghayalkan sang pemuda yang tak mau lepas dari ingatannya.


"Hadirlah wahai pemuda.. Aku merindukanmu.. Ku harapkan kehadiranmu dengan penuh kerinduan.. Kau kah sosok yang selalu ku senandungkan dalam kerinduanku..?" Mirna terus berkhayal dalam harapan yang terus menggema.


Gadis itu bahkan berharap dapat bertemu lagi dengan sang pemuda.


Namun senyumnya tiba-tiba menghilang, saat Ia teringat akan seorang pemuda bertampang seram yang mencoba menggumulinya. Ia begitu amat kesal dengan pemuda tersebut dan berjanji ingin memberikan perhitungan jika bertemu dengannya lagi.


Disisi lain, Nini Maru sedang melakukan pertapaannya. Ia harus menyelesaikannya sebelum gerhana bulan total itu berakhir.


Jika saja Nini Maru dapat meneyelesaikan pertapaannya, maka Ia akan mencapai titik kesempurnaan untuk menjadi kuntilanak merah dan menjadi penguasa diantara kuntilanak putih.


Nini Maru sudah melewati tahap demi tahap untuk mencapai kesempurnaannya, Ia terus berusaha untuk sampai kepenghujungnya.


Para demit lainnya akan patuh padanya jika Ia mencapai kesempurnaan. Ia akan menjadi penguasa yang dapat memerintahkan apa saja kepada para demit yang diinginkannya.

__ADS_1


******


Satria telah mencapai perjalan yang cukup jauh dan melelahkan, Ia meilih untuk mengambil tempat beristirahat, dan melanjutkan perjalanannya esok hari.


Satria memilih untuk mencari tempat berlindung di atas sebuah pohon, agar terhindar dari hewan buas.


Ia menemukan sebatang pohon yang dianggapnya dapat menjadi tempat bermalamnya .


Namun, saat akan memanjat pohon tersebut, Ia merasakan jika indra penciumannya mencium aroma kabel terbakar atau singkong bakar.


"Sepertinya aku mengenal aroma ini.. " Satria berguman lirih, lalu mencoba menelisik setiap pepohonan yang tumbuh rimbun di hutan tersebut.


Sesaat matanya menangkap sehuah bayangan berwarna hitam sedang duduk bersila tak jauh dihadapannya.


Sosok itu duduk didekat rimbunan pohon bambu dengan sikap seperti sedang bersemedi.


"Rey.. Apa yang sedang dilakukannya disana..?" Satria berguman lirih sembari terus memperhatikan sosok didepannya.


Alangkah terkejutnya Ia,saat mengetahui jika Rey bukanlah dirinya lagi seutuhnya, namun ada sosok lain yang bersemayam didalam tubuhnya.


"Sepertinya ada sebuah konspirasi yang sedang mereka rencanakan.." Satria berguman lirih dalam hatinya.


"Siaaaal..!! Mengapa harus bertemunya lagi disini..!" Rey berguman dalam hatinya.


Sesaat Ia beranjak bangkit dengan gerakan salto yang sangat ringan. Bersemyamnya Genderuwo didalam tubuhnya membuatnya bertambah percaya diri dan ingin menantang Satria.


Namun Rey tidak pernah mengetahui jika Genderuwo itu baru saja dikalahkan oleh Satria dan bersemayam ditubuhnya karena ingin mencari wadah untuk melindungi dirinya dari fisiknya yang kini sudah tak sempurnah.


Satria yang menyadari jika lawannya sudah menambah kekuatan, maka Ia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi.


Seketika mata Rey berubah menjadi merah, Ia tampak marah karena peristiwa siang tadi, dimana Satria telah menggagalkan keinginannya untuk bersenang-senang.


Rasa lelah dan ingin beristirahat akhirnya tertunda karena pertemuan tak sengaja dengan Rey, si pemuda brengsek yang selalu mencari masalah.


Rey memberi serangan tak terduga kepada Satria, dengan gerakan salto yang tiba-tiba saja sudah berada dekat dengan Satria.


Dengan cepat Satria menghindarinya. Lalu memberikan serangan balik dan ingin melumpuhkan Rey.

__ADS_1


Namun, kini Rey bukanlah dirinya seutuhnya, ada kekuatan lain yang bersemayam ditubuhnya. maka dari iru, Satria harus lebih waspada dan tidak bisa menganggap remeh lawannya.


Satria terus memberikan serangan balasan pada Setiap serangan yang diberikan kleh Rey.


Sesaat Rey mengatupkan kedua tangannya didada, Ia membaca sebuah mantra yang tidak begitu jelas.


Sesaat datang sebuah gulungan asap hitam yang bergulung-gulung dihadapan Rey, dan bersiap untuk mendapat perintah dari Rey.


Ternyata asap hitam yang tampak bergulung-gulung itu bukanlah asap hitam biasa, melainkan ratusan makhluk halus yang mendapat perintah dari Genderuwo untuk menyerang Satria.


Mendapati kenyataan jika lawannya sudah menggunakan kekuatan ghaib. Maka dengan cepat Satria menggunakan ajian segoro geni yang baru saja dipelajarinya.


Ia kemudian merafalkan mantra ajian tersebut, lalu menginjakkan tumit kakinya kebumi dengan tekanan uang sangat kuat, disertai ujung lidah yang menekqn langit-langit mulut, sembari mengucapkan kata "Hancurlah kalian para makhluk laknat..!!" ucap Satria sembari dengan hentakan tumit kakinya yang kuat.


Seketika suasana yang semula dingin, berubah menjadi panas dan perlahan sangat panas.


Menghadapi kenyataan yang sangat berbahaya, Genderuwo memerintahkan Rey untuk segera menghindar, namun sedikit terlambat, karena hawa panas itu sempat menghantam wajah Rey dan membuat wajah itu terbakarq.


Seketika Rey berlari sekencangnya menghindari serangan Satria yang tak pernah diduganya sama sekali.


Luka bakar diwajahnya semakin menambah kengerian yang tak terhingga bagi yang memandangnya.


Erangan kesakitan mengiringi langkah Rey yang semakin cepat sembari memegangi wajahnya yang seabgian hangus.


Kelopak mata sebelah kanannya yang terbakar tampak hendak keluar dan meneteskan darah segar.


"Dasar sialan Kau Satria..!! Aaaaaaakh.." Erang Rey dengan sangat kesal.


Bagaimana mungkin Ia dapat bertemu dengan Mirna sang gadis pujaannya dalam kondisi wajah yang sebagian melepuh, ditambah bola matanya yang mencuat keluar.


"Ini semua salahmu, sudah Ku kayakan agar segera pergi, tetapi Kau malah tetap Menatangnya.." Ucap Genderuwo kesal.


"Diaaamlah..!!" jawab Rey dengan ketus, karena Genderuwo itu menyalahkannya.


Sementara itu, ratusan demit yang membentuk asap hitam itu berteriak dan terpekik dengan suara erangan kesakitan.


Dimana tampak mereka yang hangus terbakar dan berhamburan dari formasinya dan berpencar untuk menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


Namun semua itu gagal, karena kini mereka telah hangus dan membentuk serpihan jingga dan menghilang.


Satria menarik nafasnya, dan menyadari jika Rey telah melarikan diri. Ia memilih untuk beristirahat, dan kembali untuk memanjat pohon.


__ADS_2