
Semuanya mengantar sampai didepan halaman rjmah, Mala berulang kali mengecupinya. Air matanya seolah tak merelakan kepergian puteranya. Namun semua ini demi garis keturunan keluarganya, yang mana harus terputus dari segala dendam kesumat Nini Maru.
Hadi dan Hamdan mengantar Satria hanya sampai ditepi hutan, hutan yang tak jauh dari desa.
Diantara seluruh kawasan kabupaten, hanya hutan itu yang tak tersentuh oleh manusia. Dimana mereka menyebutnya hutan terlarang.
Setiap warga desa dilarang memasuki hutan tersebut, karena banyak rumor yang berkembang, jika siapa yang berani memasukinya, maka tidak akan pernah kembali selamanya, karena akan terperangkap didalamnya.
Beberapa warga pernah nekad memasuki hutan itu untuk mencari ikan, karena ada rawa disana yang menghasilkan ikan yang melimpah, namun Ia tak pernah kembali hingga sekarang.
Ada juga para sekelompok pemburu hewan liar memasukinya dengan cara pongah, dan juga tidak pernah kembali, bahkan tim SAR yang yang melakukan pencairan juga raib entah kemana.
Maka hal itulah yang sangat ditakuti Mala. Namun karena tekad Satria yang terlalu besar, Ia akhirnyan merestuinya meski dengan hati yang sangat berat, Ia harus ikhlas.
"Saya berangkat dulu, Paman Hamdan, Hadi." ucap Satria dengan yakin akan keputusannya.
Hadi memeluknya dengan erat. "Cepatlah kembali, kami menantikanmu." ucap Hadi dengan ketegaran hati, lalu Ia memberikan sebuah pisau sangkur. "Bawalah ini Kak, untuk berjaga-jaga, mungkin akan diperlukan saat pengembaraan nanti.." ucap Hadi, sembari menyerahkan sebuah pisau yang mirip dengan bentuk kepala udang, dan bergerigi dibagian atasnya, pisau itu lengkap dengan sarungnya.
"Termakasih, dan ini tentu akan sangat berguna. " ucap Satria, sembari menyelipkan pisau itu dipinggangnya.
Lalu Hamdan juga memeluknya, dan memberikannya sebuah kuffiyah/scraf atau kita menyebutnya sorban.
"Bawalah ini, disaat genting Ia akan dapat berguna sebagai senjata." ucap Hamdan kepada Satria, sembari melilitkan sorban pemberiannya dileher keponakannya hingga menjadi sebuah scraf.
"Saya pamit dulu, titip Ibu kepada kalian semuanya." Ucap Satria, lalu trun dari mobil, dan melambaikan tangannya kepada keduanya yang masih tetap berada didalam mobil.
Saatria memandang hutan lebat didalamnya, tampak begitu sangar dan kejam dalam menyambut.
"Bismillahhirrahmanirrahiim.." Satria mengucapkan basmallah saat akan melangkah memasuki hutan tersebut.
Disaat Ia mulai memasuki bibir hutan, hawa negatif didalam hutan tersebut begitu tampak ketara menyambut kedatangannya.
Satria mulai melakukan tapak tilas pertamanya, dan seumur hidupnya dihutan yang tak terjamah oleh manusia.
__ADS_1
Tas ransel besar berisi pakaian seadanya dan beberapa alat memasak portabel, pemantik api, bahkan tenda juga ada didalamnya.
Setelah tubuh Satria menghilang dari pandangan, Hadi dan Hamdan memilih pulang. Sepanjang perjalanan, Hadi mengiringi perjalanan Satria dengan doa yang terbaik.
Sementara itu, Satria sedah meninggalkan bibir hutan. Ia sudah memasuki kedalm hutan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar yang tinggi menjulang,
Satria menurunkan tas ransel gunungnya, Ia mengambil sebilah golok, lalu kembali memakai tas ranselnya.
Golok itu ia pegang, sebagai alat untuk menyibakkan semak belukar yang menghalangi pandangan dan jalannya.
Kreeeees..kreees..
Suara sabetan golok yang digunakan oleh Satria saat menebas semakan perdu yang Ia lintasi. Tindakan yang dilakukan Satria membentuk jalanan setapak baru yang kini tampak terang.
Sssssshhh... Kwaaaak... kwaaak... kwaaaak..
Suara burung gagak menyambut kedatangannya dengan teriakkan yang begitu amat menyeramkan.
Buru gagak itu berbeda dengan burung gagak lainnya, Ia memiliki mata merah, Ia memperhatikan kehadiran Satria dengan pandangan tak suka.
Ia mengikuti segala gerak gerik yang dilakukan oleh Satria. Mata tajamnya terus saja menatap tajam, dan melompat dari satu dahan kedahan lainnya untuk mengikuti pergerakan pemuda itu.
Satria merasakan jika dirinya dalam pengawasan mata jahat para penunggu hutan terlarang.
Jauh Ia sudah menyusuri hutan tersebut, namun sepertinya Ia merasakan hal yang sangat janggal. Dimana Ia merasakan hanya seperti berputar- putar saja ditempat itu. Setiap kali Ia sudah merasa jauh berjalan, namun Ia akan kembali lagi ketempat yang sama.
Satria tersenyum kesal, lalu Ia menghentikan langkahnya, pemuda itu merasa jika Ia sudah dipermainkan para penunggu hutan terlarang. Mereka seolah bekerjasama untuk mengerjainya agar tidak sampai ke lokasi yang ditujunya.
"Hemmm.. Ternyata seperti ini sambutan para penunggu hutan terhadapku, sungguh- sungguh terlalu sekali kalian.." gerutu Satria dengan mencoba tetap tenang.
Satria duduk disebuah batang pohon yang sudah melapuk. perutnya terasa lapar. Ia berniat hendak memasak mie instan. Lalu menurunkan tas ranselnya, mengambil peralatan memasak, kompor portable yang biasa digunakan para pendaki gunung juga tak luput dari perlengkapan yang Ia bawa.
Satria merebus air untuk menyeduh mie instan, dan segelas kopi.
__ADS_1
Semabri menunggu airnya mendidih, Satria mengamati sekitarnya, banyak sekali hewan-hewan liar yang bertengger disekitarnya. Satria harus bersikap awas dan waspada setiap saat, karena bahaya bisa saja datang menyerang dengan tiba-tiba.
Setelah airnya mendidih, Satria segera mematikan kompornya, demi menghemat gasnya. Lalu Ia menyeduh kopi dalam wadah cup dan juga mie instan.
Aroma kopi tersebut membangkitkan gairahnya yang hampir kelelahan.
Ia menikmati kopi tersebut, dan menyeruputnya dengan dalam.
Saat Ini, Ia merasakan ribuan tatapan mata tak suka sedang memandanginya dari berbagai arah mata angin.
Setiap penjuru merasakan kehadiran Satria adalah sebuah malapetaka bagi mereka. mereka harus menghentikan langkah Satria untuk mencapai tujuannya mengambil kita 'Segoro Geni' yang tersimpan didalam sebuah goa dihutan terlarang ini.
Ribuan tatapan mata tak suka itu memandang dengan penuh dendam dan amarah. Mereka mengamggap Satria telah lancang memasuki area kekuasaan mereka. Maka dari itu, Satria harus menerima konsekuensinya.
Satria mulai melahab mie instannya, Ia memakannya sembari terus tetap waspada, jika tiba-tiba ada hewan liar dan buas yang akan memangsanya.
Saat itu, Ia mendengar suara ranting kayu patah, terinjak sesuatu.
Kreeeeeek...taaak...
Satria menghentikan suapan terakhirnya, lalu mengambil golok yang diletakkan disisi kanannya. Satria menyempatkan meneguk air putih, karena tenggorokannya terasa serat oleh mie instan yang meluncur ketenggorakannya.
Sesaat Ia menajamkan pendengarannya, lalu mengawasi setiap gerak gerik apa saja yang mencurigakan baginya.
Wuuuush..kraaaak..
Wweeoong...
Suara anakan macan akar keluarbdari balik semak. Melihat ada seorang anak manusia dihadapannya, anakan macan akar itu riuh menjerit dengan lengkingan yang menakutkan dan mengundang induknya untuk segera datang.
Merasa terancam, Satria segera memasukkan semua perlengkapannya, lalu menghindari tempat dimana anakan macan akar itu mengeluarkan suara lengkingan.
Satria beranjak pergi meninggalkan lokasi itu, lalu melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1