
setelah selesai shalat subuh, Mala memulai kedapur untuk membuat sarapan Satria.
Ia membuat nasi goreng seadanya, dengan topping telur ceplok.
Satria datang menghampiri. "Bu.. Hari ini bahan-bahan material akan datang, nanti saya berikan bonnya, Ibu tolong awasi ya. mulai besok perenovasian sudah dimulai." Uacap Satria sembari mentaik kursi kosong di meja makan. Ia duduk sembari menanti Ibunya menyajikan sarapan untuknya.
"apakah banyak bahan yang kamu beli.?" tanya Mala, sembari meletakkan sepiring sarapan untuk Satria, serta segelas teh hangat.
"lumayan banyak sih Bu, sialnya sudah saya perkirakan berapa yang harus dibeli." ucap Satria, sembari menyuapkan sarapannya.
Mala menganggukkan kepalanya. "Ia, nanti ibu bantu chekkan." ucap Mala dengan lembut.
"ada yang ingin ibu tanyakan padamu. ibu hatap kamu tidak tersinggung.." ucap Mala hati-hati.
Satria menatap Ibunya penuh penasaran.
"itu kamu, daripada memrenovasi rumah ini, bukannkah lebih baik uangnya dibuat melamar seorang gadis. Apakah kamu tidak ingin menikah..? Ibu belum ada melihatmu memiliki seorang gadispun." ucap nya sembari tersenyum renyah.
Satria menghentikan suapannya. Lalu memandang sendu pada ibunya " semua akan pasti akan indah pada waktunya.." jawab Satria lirih.
Ia sendiri juga tidak mengerti, mengapa hingga kini belum ada juga seorang gadis yang mampu menyentuh hatinya. Apakah Ia terlalu dingin atau memang Ia tidak begitu berminat, dan juga mungkin Ia begitu tidak perduli, hingga lupa melihat begitu banyak hati yang ingin menyentuhnya, namun sulit menggapainya.
"Satria berangkat dulu ya bu.. Jika para toko bangunan ada yang mengantar barang, tolong ibu tunjukkan nota bonnya." ucap Satria dengan lembut.
Mala menganggukkan kepalanya. Ia merasa jika anak lelakinya itu sengaja menghindari pertanyaannya. Ia juga tidak ingin jika sampai Satria harus menjadi jomblo seumur hidupnya.
Satria menyalim tangan ibunya, Lalu Mala memberikan kecupan diujung kepala anaknya.
Satria bergegas keluar, menyalakan mesin mobilnya. Lalu bergerak menuju puskesmas.
Saat diperjalanan antara rumah ibunya dan toko pak Joko, Ia melihat sebuah mobil terparkir dipinggir jalan, Ia sepertinya sedang mengamati sesuatu.
__ADS_1
"siapa pemilik mobil itu..? Mengapa Ia seperti sedang mengamati simpang rumah ibu.?" Satria berguman lirih. Namun karena Ia pagi ini sedang ada Apel pagi, maka Ia segera mengabaikannya.
Satria melajukan mobilnya menuju ke puskesmas.
Setelah sampai dipuskesmas, Ia melihat para staf lainnya sudah datang, sepertinya kepemimpinan Satria memberi semangat baru bagi para staf. Enatah hanya sekedar untuk melihat betapa tampannya pimpinan mereka, atau karena memang Satria memiliki sebuah kewibawaan, yang mana setiap ucapannya harus dipatuhi.
Tidak memandang usia, apakah staf itu lebih muda atau lebih tua darinya, namun semua begitu mematuhinya dan merasa sungkan padanya.
Setelah memberikan kata-kata wejangan pada Apel pagi ini, Satria kembali memasuki ruangan kerjanya. Saat itu Ia tidak sengaja berpapasan dengan bidan muda yang masih honorer di puskesmas itu. Shafiyah merundukkan kepalanya, Ia tidak mampu memandang wajah pimpinannya, Ia sangat berdebar.
Satria merasa heran dengan perubahan gadis itu. Karena Ia tau, jika beberapa minggu bertemu dengannya ditempat kerja, gadis itu sangat ceria dan selalu memberiakan ide brilliant. Namun sejak kemarin Ia seperti menghindari Satria sat berpapasan.
"mengapa aku jadi perhatian padanya.? Ah.. Sudahlah.." guman Satria, menepis segala perasaannya.
Ia memasuki ruangan kerjanya. Sayup-sayup Ia mendengar kembali senandung tersebut. Ia menajamkan indra pendengarannya, mencoba meresapi setiap lirik yang lantunkan. "siapa pemilik senandung itu..? Mengapa aku ingin bertemu dengannya..? Ada misteri apa dihutan sana..?" Satria berguman lirih dalam hatinya.
Perkampungan ini sudah melalui tahap perkembangan, banyak bangunan-bangunan mewah sudah berdiri kokoh. Namu berjarak satu kilometer dari puskesmas ini, ada sebuah hutan lindung yang tak tersentuh oleh manusia. Disana nuga ada sebuah bukit kecil yang konon katanya sangat mengerikan.
Rumor itu menghasilkan sebuah pertanyaan-pertanyaan yang terus berkembang. Dimana para warga tidak ada yang berani memasuki hutan tersebut.
Satria menyingkap tirai, dan menatap lurus ke Utara. Setiap pagi, Ia akan disuguhi oleh senandung yang penuh dengan sentuhan kalbu. Rasa penasaran Satria semakin hari semakin kuta, untuk mencari tahu apa yang menjadi misteri dibalik hutan tersebut.
"Aku akan mencari tahu apa yang menjadi misteri dibalik hutan itu. Jika hari libur nanti, aku akan pergi kesana, untuk mengungkapnya." Satria berguman lirih.
Sesaat..
Wuuuusssshhh...
Hembusan angin menerpa kulitnya, membangkitkan bulu kuduknya yang kian meremang. Ia merasakan kehadiran sosok makhluk astral.
Satria menyapu tengkuknya. Lalu kemudian duduk dikursi kerjanya.
__ADS_1
Kriiiiiing...
Satu panggilan masuk. Satu nama Hadi. Ia mengangkatnya.
"Hallo.. Assallammualaikum dik.." ucap Satria tenang.
"waalaikum salam.. Apak kabar kak.?" ucap Hadi dari seberang telefon.
"Alhamdulillah baik. Bagaimana kondisi disana ?" tanya Satria dengan tenang.
Hadi terdiam sesaat, tak ada jawaban. Satria mulai was-was.
Lalu terdengar suara helaan nafas berat Hadi. Sepertinya adik lelakinya itu sedang mengalami masalah, hingga pagi-pagi Ia sudah menelefonnya.
"kak.." ucap Hadi lirih..
"Ya.. Ada apa? Ada yang bisa kakak bantu..?" tanya Satria.
"Makhluk itu.. Ia meneror Shinta dan menginginkan janinnya.." jawabHadi sedikit bergetar di ucapannya.
"Astaghfirullah.. Coba kamu yang tenang ya.. Untuk sementara ini, coba kamu cari daun bidara, remas daunnya dan campurkan pada air bilasan terakhir. Mandikan Shinta dengan air itu, bacakan ayat-ayat ruqiyah yang seperti kakak ajarkan padamu. Jangan doa makan yang kamu baca, kamu kan suka latah.." ucap Satria, mencoba menenangkan Hadi.
Hadi sedikit terkekeh mendengar lelucon kakaknya, meskipun tidak begitu kucunya baginya, karena Ia sedang panik.
"baiklah kak, terimakasih sarannya, aku akan segera mencari daun bidara tersebut." ucap Hadi dengan sedikit mendapat pencerahan.
"baikalah, jika nanti ada kendala, hubungi kakak ya." ucap Satria memberiakn semangat kepada adiknya yang terkadang suka latah.
Hadi mengakhiri telefonnya. Satria menggelengkan kepalanya. "kebiasaan banget ne anak, main matiin telefon sembarangan." Satria berguman lirih dalam hatinya.
"sepertinya makhluk ini sangat mencari masalah. Namun apa yang membuatnya begitu sangat mendendam pada garis keturunan ibu..? Apakah ada kaitannya dengan masa lalu.? Apakah aku harus mencari tahu melalui ibu, tentang asal usul keluargaku, termasuk kakek nenekku.?" Satria berguman lirih. Ia berniat akan mencari tahu tentang kebenarannya. Ia merasa jika ibunya menyimpan sebuah rahasia besar tentang garis keturunannya.
__ADS_1
🐛🐛🐛🐛👻👻👻👻🐛🐛