
Sudah 2 hari lamanya Satria menghilang, Mala semakin kebingungan. Puskesmas kini dipegang oleh wakilnya, Karena tidak ada yang mengendalikan.
Bagaimana mungkin Mala tidak bingung, didepan matanya Ia melihat Satria terserap kedalam cahaya tersebut.
"Andai saja aku tidak membangunkannya malam itu, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Aku pernah kehilangannya saat dalam kandungan, dan kini aku harus kehilangannya untuk yang kedua kali, setelah Ia hadir dan memberikan semangat dalam hidupku.." Mala terisak dalam pilu. Ia merutuki kejadian malam itu, dan menyesali semuanya.
Kini bebannya bertambah lagi, dimana, Orang-orang bertanya tentang kemana menghilangnya Satria, karena tidak ditemukan dipuskesmas.
Peralatan medis yang dipesannya sudah tiba. Dimana itu semua atas uang pribadi Satria. Dan hal inintentunya membuat pihak puskesmas kelimpungan dan bingung harus merogoh kocek yang sangat besar dan fantastis.
Dimana semua itu tidak ada dalam agenda kas keluar dalam pengadaan alat-alat medis tersebut.
Pihak puskesmas telah meminta bantuan APBD dari pihak Bupati, namun belum terealisasi karena jumlah yang terlalu besar dan sangat mendadak.
Sedangkan pendapatan daerah juga tidak begitu besar. Dimana kabupaten itu hanya sebuah daerah yang belum begitu berkembang.
Ditengah kepanikan pihak puskesmas, mereka mencoba berkoordinasi kepada Mala, menanyakan dimana keberadaan Satria yang menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba saja.
Hal ini tentu membuat kepanikan bagi Mala. Bagaimana mungkin Ia menjelaskan kepada pihak puskesmas, jika sesungguhnya Satria menghilang terserap oleh cahaya dari dalam balik pintu.
Jika Ia menjelaskan itu, mungkin saja Ia akan dianggap kurang waras dan mengikuti jejak Roni suaminya. Ia mencoba mencari jawaban yang mungkin bisa diterima oleh akal dan fikiran oeh orang-orang berpendidikan itu.
Mala menatap satu persatu para petugas yang menantikan jawaban dari Mala.
Mala seperti kelabakan dan gelagapan dalam menghadapi orang-orang itu.
__ADS_1
"Bu.. Tolonglah, jelaskan dimana keberadaan Pak Satria, mengapa setelah memesan begitu banyak alat Medis, apalagi dengan harga uang begitu fantastis dan dialokasikan dananya kepada dana pribadi lalu menghilang begitu saja setelah barangnya datang. Mengapa tiba-tiba Pak Satria menjadi orang yang plinplan seperti ini..?" cecar staf keuangan Puskesmas.
Mala meremas ujung kain pakaiannya, rasa kalut, gundah, dan gelisah juga rasa takut menyelimuyi dirinya.
hatinya kian gugup dan gemetar, saat menghadapi semuanya. Kini Ia harus menaggung beban derita dan fikiran yang bertubi-tubi. Sedangkan merawat Roni saja Ia sudah begitu kerepotan, konon ditambah lagi permasalahan yang kini ditimbulkan oleh Satria, yang tanpa sengaja menghilang terserap cahaya dibalik pintu lemari.
Ditengah kebingungannya, Ia teringat akan Hadi. Ia meminta waktu kepada utusan petugas puskesmas itu untuk berkomunikasi dengan anak yang satunya, agar dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.
"Berikan saya waktu sebentar, saya akan mencoba menghubungi anak saya yang lain, mungkin Ia dapat memberikan solusinya." ujarnya dengan gemetar, laku beranjak mengambil phonselnya dan menghindari menjauh dari ruangan itu. Mala memilih menelefhone Hadi diluar ruangan.
Saat itu Ia mencoba menghubungi Hadi, Ia menceritakan segala apa yang terjadi.
"Baik Bu, Hadi coba selesaikan dulu masalah Ka Satria yang dipuskesmas, setelah itu kita cari solusi tentang keberadaan Kak Satria." Hadi mencoba menenangkan hati Ibunya, meskipun Ia sendiri bingung dan juga panik mendengar penuturan Ibunya. Haruskah Ia menganggap Ibunya halusinasi..? Sedangkan Ia juga dalam kondisi yang juga kalut.
Namun Hadi mencoba berfikir jernih dan tidak panik dihadapan Ibunya, agar Ibunya tidak tertekan dengan semua permasalahan hidupnya.
"Iya.." jawab Mala lirih. Ia juga tidak tau harus menjawab apa.
Mala bergegas masuk kembali kedalm rumah, lalu menghampiri petugas staf keuangan Puskesmas tersebut.
"Maaf pak, ini anak saya ada yang ingin dibicarakannya." ucap Mala dengan gemetar.
"Apakah Pak Satria..?" tanya petugas itu menyelidik, disertai tatapan yang penuh intimidasi.
Mala semakin menciut hatinya. Ia bingung harus menjawab apa. Namun mencoba mengatur detak jantungnya yang kian tak beraturan.
__ADS_1
"Bukan.. Itu anak saya Hadi.. Ingin bicara kepada Bapak.." ucap Mala dengan gemetar. Ingin rasanya Ia berteriak dan menangis dengan semua cobaan yang pikul saat ini.
Semuanya begitu sangat mendadak dan begitu cepat. Sehingga Ia sendiri tidak memahaminya.
Staf tersebut yang merupakan seorang Aparatur Sipil Negara, mengernyitkan keningnya. Ia meeasa heran dengan apa yang diucapkan Mala.
Mereka menanyakan keberadaan Satria, tetapi yang dihubunginya orang yang tidak ada sangkut pautnya sedikitpun tentang hal ini.
"Maaf Bu, kami butuh Pak Satria, Dia harus menjelaskan semua kekacauan ini. selain itu juga, kondisi puskesmas juga dalam penataan alokasi dana. Maka Pak Satria harus menjelaskan ini semua." ucap Staf itu dengan nada yang mulai kesal.
Mala semakin bergetar, bagaimana mungkin Ia mengatakan kejadian yang sebenarnya, hal ini tidak mungkin dapat diterima dengan akal dan logika.
"Angkat saja dulu Pak, mungkin anak saya Hadi dapat memberikan jawaban dan solusinya." ujar Mala dengan deguban jantung yang kian memburu.
Akhirnya staf itu menerima panggilan telephone dari Hadumi dengan sedikit kesal.
"Hallo, ya bicara dengan siapa dimana..?" cecar Staf itu. Lalu Ia mencoba meloudspeaker pembicaraan mereka, sehingga Mala dapat mendengarkan pembicaraan mereka.
"Perkenalkan Pak, saya Hadi, anak kedua dari Ibu Mala, dan tepatnya dari adik Pak Satria. Disini saya ingin mencoba meluruskan permasalahan yang sedang terjadi. Jika masalah dana pembelian alat medis tersebut, itu tetap akan dilanjutkan, maka kirimkan saja nomor rekening instansi tempat Pa Satria bekerja. Lalu masalah Pak Satria, Ia mengambil cuti tiba-tiba dikarenakan ada hal mendadak yang sangat urgent, dan tidak dapat dihindari."
Hadi menggantung ucapannya, mengambil nafas untuk dapat setenang mungkin dalam menyampaikan sebuah kebohongan yang Ia sendiri juga tidak ingin melakukannya. Namun semua karena hanyalah keterpaksaan.
"Pak Satria mendapat berita buruk tentang keluarga yang berada di Osaka, Jepang. Maka beliau mengajukan cuti sekitar satu bulan. Mengenai siapa yang akan memegang kendali dipuskesmas saat ini dan sampai Pak Satria kembai, itu akan diserahkan kepada wakilnya agar semua tetap berjalan dengan baik.." ujaranya dengan nada menjelaskan.
Seketika wajah Staf itu memerah menahan perasaan sungkan. "Ma..maksudnya semua dana pembelian alat medis itu akan bapak tanggung jawabin..?" tanya Staf itu dengan gugup. kali ini Ia tak mampu lagi untuk banyak berbicara.
__ADS_1
"Ya..akan saya tanggung seluruhnya, dan tolong dikondisikan situasi disana saat Pak Satria tidak ada dan Pastikan semuannya baik-baik saja..!" Titah Hadi dengan sedikit tegas. Ia sengaja membungkam mulut petugas itu, agar tidak lagi betanya.
Hadi sudah berhasil mencoba menyelesaikan permasalahan itu, agar Ibunya tidak lagi frustasi.