Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Terjebak diIstana Siluman-2


__ADS_3

"Akhirnya kau kembali lagi hai anak muda..." jawab Seekor ular Kobra raksasa yang berdiri tegak taknjauh darinya.


Satria secepatnya meraih tas ranselnya, lalu memakainya. Ia berjalan mundur untuk menghindari ular raksasa tersebut.


Ssssssht...


"Jangan terlalu terburu-terburu anak muda, tinggallah beberapa waktu disini.. Kau akan menjadi menantuku.." ucap ular kobra raksasa tersebut, dengan mata merah menyala.


"Maafkan saya.. Saya memiliki urusan lain dialam dunia, maka biarkan saya pergi.. Saya tidak mengusik anda, maka jangan mengusik saya.." jawab Satria mengulur waktu.


"Tetapi puteriku menyukaimu, Ia ingin menjadikanmu suaminya, maka aku tidak dapat menolak keinginan puteriku.." jawab ular kobra raksasa tersebut, sembari terus merayap mengikuti pergerakan Satria.


Satria merogo pisau sangkurnya, bersiap jika saja ular itu mencoba untuk menyerangnya. "Tapi jika dia siluman apakah pisau ini akan berguna untuk mekukainya..?" Satria masih bingung dengan senjata apa yang harus digunakannya untuk melawan ular Kobra siluman itu.


Belum sempat Satria menemukan jawabannya, ular itu menyerang Satria secara mendadak. Namun Satria berhasil menghindarinya dengan cara melompat kesisi lainnya.


Semburan bisa tersebut mengenai seorang pengawal yang kebetulan saja baru masuk untuk melaporkan sesuatu hal.


Seketika pengawal itu meleleh bagaikan lilin yang dipanaskan. Satria terperangah dan yidak menyangka sebegitu dahsyatnya bisa ular siluman tersebut.


"Mengapa kau tak ingin tinggal disini hai anak muda..? Bukankah puteriku cukup cantik..? Lalu mengapa kau menolaknya..?" tanya Ular Kobra tersebut sembari menatap Satria dengan penuh amarah.


"Karena ada yang lebih baik untuknya, dan orang itu bukan aku.." jawab Satria dengan begitu jujurnya.


"Tetapi dia hanya menginginkanmu.." ujar siluman itu sembari terus mengikuti arah langkah Satria.


Pemuda itu mencari cara bagaimana agar Ia bisa kembali meloloskan diri. Ia melihat tiang penyanggah yang terdapat diruangan Istana. kemudian memancing ular tersebut untuk untuk mengelillingi tiang itu, sembari terus mencari kesempatan kabur.


Ular tersebut tanpa sadar sudah membelitkan tubuhnya ke tiang, lalu Satria mencoba melarikan diri dengan menyusuri lorong yang terasa amat panjang.


Satria sudah berlari cukup jauh, namun Ia merasa sepertinya hanya berada disitu-situ juga. Ia bingung dengan dirinya. Lalu Ia menghentikan langkahnya, mencoba mengatur nafasnya yang tersengal. Ia melihat lorong yang sedari tadi Ia berlari namun tak jua menemukan ujungnya.


"Astaghfirullahalladzim.." Satria menarik nafasnya dengan dalam lalu menghelanya.


Seketika ruangan berguncang, tampak langit-langit lorong seakan hendak runtuh. Bebatuan kecil berjatuhan dari langit-langit lorong tersebut.

__ADS_1


Ruangan lorong bergetar seakan terjadi gempa, hal ini membuat Satria harus segera keluar dari lorong tersebut.


Sementara itu, ular kobra yang membelitkan tubuhnya di tiang ruangan Istana berusaha melepaskan dirinya yang terjebak dengan sendirinya dibelitan tubuhnya yang melingkari tiang tersebut.


Gerakannya membuat tiang itu semakin kuat bergetar dan semakin kuat goncangannya.


Ssssshhts..


Ular itu medesis dengan penuh amarah. Seketika Ia menggeliatkan tubuhnya dan membuat goncangan yang lebih besar.


Langit-langis istana bergetar dan puing-puing bangunan berguguran akibat getaran yang semakin kuat.


Dengan kekuatannya, Ular kobra siluman itu menarik tubuhnya hingga merobohkan tiang, dan merusak bagian yang lainnya.


disisi lain, Chakra Mahkota telah berhasil melumpuhkan sang puteri siluman. Kini siluman betina itu telah membeku dan tertutup cahaya violet yang membuatnya tak memiliki energi untuk bergerak.


Chakra Mahkota segera merayap menuju lorong, dimana lorong sudang hampir roboh seluruhnya dan mengikuti langkah kaki Satria yang terus berlari dengan diikuti robohnya lorong bangunan itu.


Dari arah belakang, tampak Chakra Mahkota meliuk-liukkan tubuhnya menghindari runtuhan bangunan lorong, lalu dengan cepat menyambar tubuh Satria dan meletakkannya dipunggungnya.


Chakra Mahkota meliukkan tubuhnya diudara dan terus menerobos lorong agar segera keluar dari sana.


"Maaf.. Aku hanya mengambil tas ranselku.." jawab Satria dengan merasa bersalah.


"Tas ransel butut saja kau fikirkan.. Bukankah aku sudah bilang agar segera pergi.." Chakra Mahota masih terus mengomel.


"Ini tas ransel mahal tau.. Kamu mana tau tentang merk.." jawab Satria ketus, sembari mengeratkan pegangan tangannya ditubuh Chakra Mahkota.


Lalu Chakra Mahkota berhasil keluar dari lorong bersamaan hancurnya lorong dan istana tersebut.



Visual Chakra Mahkota, semoga reader bisa mengkhayalkan dulu wujudnya.. Kalau kurang ganteng, silahkan berkhayal sendiri secara bebas hehehe..


Chakra Mahkota lalu mendarat disebuah hutan belukar, dan meminta Satria untuk turun segera.

__ADS_1


"Sampai disini saja..? Anterin napa sampai keatas.." pinta Satria, sembari membenarkan letak tas ranselnya.


"Eh.. Enak bener ni anak.. Ya usahalah sendiri.. Sudah syukur aku anterin sampai sini.." jawab Chakra Mahkota dengan sinis.


"Yaelah.. Gitu saja sewot lu.." jawab Satria kesal, sembari beranjak dari punggung Chakra Mahkota, lalu berdiri dan pandangannya mengitari seluruh hutan.


Chakra Mahkota beranjak bangkit, lalu mengibasakan tubuhnya, seolah merasa pegal dan ingin meregangkan otot-ototnya.


"Mau kemana..?" tanya Satria kepada Chakra Mahkota yang saat ini tampak akan pergi..


"Mau tau aja atau mau tau banget..?" Jawab Chakra Mahkota dengan cibiran.


Satria menggelengkan kepalanya.. "terserah lu aja lah.." jawab Satria pasrah.


Lalu Chakra Mahkota tersenyum geli dan terbang menghilang tanpa jejak.


"Iih.. Gak permisi lagi.. Main ngilang saja.." ujar Satria sembari memandang tempat menghilangnya Chakra Mahkota.


Lalu Ia berjalan menyusuri hutan dan menyibakkan semak belukar yang menghalangi jalannya.


"Sepertinya golokku tertinggal dibawah sana saat tertangkap siluman ular kobra itu." satria menggerutu sendiri.


Lalu Ia mengambil pisau sangkur yang masih terselip dipinggangnya, dan dengan menggunakan pisau itu Ia menyibakkan semakan belukar.


Mentari masih kokoh bersinar diatas bayang tegak. sesaat cacing diperutnya bernyanyi meminta untuk diisi sesuatu karena sudah waktunya untuk makan.


"aku harus makan apa siang ini..? perutku terasa lapar.." Satria berguman lirih, sembari memegang perutnya.


Matanya nanar melihat sekelilingnya, mencari makanan yang bisa untuk dimakannya.


Saat sedang bingung, sesaa kawanan kera menjatuhkan beberapa butir pisang matang dari dahan pohon. Kawanan kera itu tampak bergelantungan didahan pohon, dan berteriak seperti sedang bercengkrama.


Satria memungut pisang matang tersebut, dan menengadahkan kepalanya kepada kera-kera itu. Lalu disambut dengan gelak tawa kera.


"Makasih buat pisangnya.." ucap Satria sembari tersenyum. Lalu Ia duduk dibawah pohon dan menikmati pisang tersebut untuk sekedar mengganjal perutnya yang keroncongan.

__ADS_1


Setelah memakan beberapa buah pisang, kini Satria merasakan haus yang kian menderanya. Ia mencoba mencari sumber air bersih dan juga untuk membersihkan dirinya dari rasa gerah, karena sudah beberpa hari tidak mandi.


__ADS_2