
Satria dan Hadi, serta Syafiyah, kini duduk bertiga diteras. Ketiganya masih terdiam dalam kebisuan.
Syafiyah tidak lagi berani bertanya apapun. Diamana ucapan Satria barusan sudah membuatnya tak berdaya. Meski Ia akui jika Ia sebenarnya menyukai Satria, namun jika dihadapan Hadi dia menyatakan itu, bukankah itu hanya akan membuatnya merasa kikuk.
"Syafiyah.." Satria membuka keheningan malam, dan kebisuan diantara mereka bertiga.
"Ya.. "Jawab gadis itu dengan lirih, tak mampu memandang wajah tampan pemuda dihadapannya.
"Ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin saya katakan padamu, dan semua ini sudah menjadi pertimbangan yang sangat final." ucap Satria dengan tenang, namun ada penekanan disetiap katanya.
Satria menarik nafasnya dengan berat, ada sesuatu yang sangat begitu menyesak didadanya, seakan ribuan hujaman tombak yang menderanya.
"Saya akan melakukan sebuah perjalanan panjang, dan perjalanan itu tidak bisa saya jelaskan, anggap saja saya melakukan backpaker."ucap Satria dengan lirih.
Syafiyah mengerutkan keningnya, namun masih menunggu kalimat berikutnya dari pemuda itu.
"sebelumnya maaf jika mengganggu waktu istirahatmu, namun ini sebuah keterpaksaan, karena esok saya sudah melakukan perjalanan itu". Satria menatap nanar pada Syafiyah, membuat gadis itu semakin tergagap.
"Saya akan mengundurkan diri dari jabatan saya, dan saya ingin PemerintahPusat mengangkat kamu untuk menggantikan jabatan saya, dan ini sedang diurus oleh Hadi." ucap Satria dengan tenang.
Seketika Syafiyah terperangah, bagaimana mungkin Ia yang dijadikan kepala puskesmas, sedangkan Ia baru saja 2 tahun menjadi ASN dipuskesmas tersebut, dan belum ada pengalaman yang banyak.
"Ta..tapi..?" Syafiyah mencoba memprotesnya, namun tertahan ditenggorokannya.
"Kamu hanya menerima dan mencoba melaksanakannya, perlahan akan menjadi mahir dan terbiasa.." jawab Satria dengan tatapan memohon.
Syafiyah tak mampu menolak apa yang diutarakan oleh Satria, tatapan itu seperti menguncinya. Akhiranya sang gadis menganggukkan kepalanya.
Satria tersenyum lega, kini Ia merasa bebannya sudah berkurang.
"Kalau begitu saya pamit dahulu, dan tolong kunci pintu rumah dengan rapat, jangan biarkan siapapun masuk kerumah setelah kepergian kami." ucap Satria mengingatkan.
Syafiyah menganggukkan kepalanya, lalu memandang pemuda dihadapannya.
Satria dan Hadi berpamitan, lalu beranjak pergi, Syafiyah mengantarnya hingga sampai anak tangga. Hadi sudah terlebih dahulu sampai didalam mobil, namun Satria memperlambat langkahnya, lalu menoleh kepada gadis manis itu.
"Jika kau bersabar.. Tunggu aku kembali.." ucap Satria, lalu meninggalkan sanga gadis yang kini diam terpaku.
Deeeegh..
__ADS_1
Jantung sang gadis seolah terhenti sejenak. Ia tidak mampu menjabarkan apa dari maksud ucapan Satria. Ia harus menunggu dalam hal apa, tak ada penjelasan dari Satria.
Kepergian Satria membuatnya seperti orang terkena tremor. Ia gemetaran atas ucapan Satria yamg masih tidak dapat diartikannya.
Mobil yang ditumpangi oleh Satria sudah menghilang. Syafiyah menatapnya nanar, dan kembali masuk menapaki anak tangga meski dalam kondisi masih lemah.
Ucapan Satria seolah membuatnya mengambang, tak mampu bertapak. Hatinya kini dupenuhi oleh getaran-getaran indah yang tak mampu Ia lukiskan.
"Apakah kamu mencintaiku..? Seperti hatiku yang juga mencintaimu..? Atau ini hanya sebuah ilusi saja..? Dan aku berkhayal pada harapan semu.." Syafiyah melangkah memasuki rumah, lalu mengunci rapat pintu rumahnya.
Sebelum Ia masuk kedalam kamar, Ia menyempatkan memeriksa kondisi Nia.
Ia memastikan jika Nia dalam kondisi baik-baik saja.
Ia memandang kepada Danang yang tampak seperti sudah mengantuk dan lelah, sedangkan Nia sudah terlelap dengan tidurnya.
"Jika membutuhkan saya, silahkan bangunkan saja.." pesan Syafiyah dengan perasaan yang kini masih terasa gugup.
Danang mencoba menjawab dengan anggukan,
Syafiyah beranjak menuju kamarnya, lalu berbaring ditepian ranjang. Ia menatap nanar pada langit-langit kamarnya.
Saat Syafiyah ingin memejamkan matanya, Ia mendengar suara lolongan anjing didepan rumahnya. Suaranya seperti sebuah rintihan yang begitu memilukan hati.
Syafiyah yang merasa penasaran mencoba mengintainya dari kaca jendela. Ia melihat seekor anjing sedang duduk menghadap pintu utama dan mengaung dengan suara yang memilukan.
Auuuuung...uungg..unggg..
Suaranya terdengar menyayat hati. Disisi lain, Syafiyah merasakan bulu kuduknya meremang, dan suasana meremang.
Sesaat kemudian, terdengar suara ketukan dipintu dan begitu sangat mengganggu.
Syafiyah bangkit dari pembaringannya, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang depan.
Ia melihat Danang yang sedang tertidur lelap. Dalam kondisi yang sedikit mengantuk, Syafiyah ingin membuka pintu pada tamunya yang mengetuk begitu kuatnya.
Namun tiba-tiba saja Ia mengingat pesan Satria untuk tidak membuka pintu kepada siapapun yang datang bertamu.
"sya...fiyah.." suara parau dan menggema memanggil nama Syafiyah.
__ADS_1
Sesaat Syafiyah merasa jika itu adalah tetangganya. "Siapa.?" tanya Syafiyah dengan tenang..
"Mmbaak..Dee..wii.." jawabnya dengan semakin parau.
"Ooo.. Mbak Dee..wi.. Bentar ya.." jawab Syafiyah, lalu beranjak menuju pintu. Ia meyakini jika itu adalah Mbak Dewi tetangganya.
Syafiyah membuka pintu rumahnya. Ia melihat mbak Dewi memakai pakaian putih panjang hingga kelantai. Wajahnya pucat pasi. Namun yang membuat Syafiyah sedikit bingun, mbak Dewi seolah tidak memiliki lekukan diantara hidung dan bibirnya, terlihat rata, rambutnya tergerai begitu saja.
"Emm.. Ada perlu apa ya mbak malam-malam begini.?" tanya Syafiyah ramah.
"Mbak merasa dingin dan menggigil, sepertinya terserang malaria, bisakah kamu mengobati mbak..?" tanya sosok mbak Dewi dengan lirih, namun parau.
Syafiyah memandang wajah Dewi yang sepucat kapas. Ada rasa meremang dibulu kuduknya, namun rasa iba lebih besar dari rasa takutnya.
"Masuklah Mbak.. Tapi mbak disudut sini saja ya, jangan dekat-dekat dengan pasien tersebut." ucap Syafiyah sembari jemari telunjuknya mengarah kepada Nia yang sedang tertidur pulas.
Sosok Mbak Dewi menganggukkan kepalanya.
"Saya mengambil peralatan medis saya dahulu, Mbak tunggu disini dam jangan kemana-mana.." ujar Syafiyah mencoba menekankan.
Gadis berwajah manis itu menguap, namun Ia harus melaksanakan tugasnya.
Syafiyah beranjak kelemari kabinet yang ada disudut ruang sebelah, lalu mengambil peralatan medisnya.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Ia segera kembali keruang tengah. Namun Ia dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.
Syafiyah melihat Sosok mbak Dewi yang merupakan tetangga dibekakang rumahnya itu sedang menyesap darah nifas milik.Nia.
Syafiyah merasakan tubuhnya tak berdarah, saat pertama kali melihat wujud Mbak Sri yang hanya kepalanya saja, serta denga n organ tubuh yang yang menggantung sempurnah. Semuanya tampak mengerikan.
Pruuaaaank...
Seketika Syafiyah tanpa sengaja menjatuhkan wadah stainles stell yang berisi segala peralatan medisnya.
Ia tak bisa menyembunyikan rasa takutnya, apalagi wujud itu tampak sangat mengerikan. Syafiyah mematung, dan tak dapat bergerak, Ia seperti mengalami tulang kaku.
Makhluk itu seketika memalingkan wajahnya dan menatap Syafiyah dengan tajam, sembari memperllihat taringnya yang tampak runcing .
Bersambung...
__ADS_1
~Novel ini sudah mencapai 227 rb kata.. 300 ribu kata maka novel ini tamat... Semoga para Reader masih setia dalam mengikuti perjalanan Nini Maru..🥰🥰~