Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Perjalanan ke hutan Larangan-7


__ADS_3

"Lihatlah.. Itu mulut Goa yang kita cari.!" Seru Satria dengan wajah sumringah. Matanya tampak berbinar saat melihat goa yang Ia cari sudwh berada didepan matanya.


Satri tampak tak sabar untuk segera memasukinya. Namun Widuri segera menghalanginya.


"Tunggu.. Jangan gegabah, bisa saja itu hanya tipuan belaka.." ujar Widuri dengan merentangkan kedua tangannya menghalangi langkah Satria yang tampak sedang tergesah-gesah.


Pemuda itu lalu menghentikan langkahnya, mencoba mendengarkan saran dari sang peri cantik jelita.


Lalu Sang Peri itu melentikan jemarinya, mencabut sebatang pohon yang berukuran besar dan mengangkatnya menggunakan sihirnya. Lalu Sang Peri melemparkan batang pohon tersebut kedal mulut goa tersebut.


Dan hal yang mencengangkan,saat sebatang pohon itu masuk kedalam mulut goa yang tampak terbuka lebar. Tanpa diduga, mulut goa itu langung mengatup dan tiba-tiba saja bergerak, lalu menggeliat. Seketika Satria membeliakkan matanya saat melihat peristiwa mengerikan itu.


Lalu, sesuatu yang Ia kira mulut goa itu bergerak dan menggeliat, ternyata sesuatu itu ada ular raksasa yang sedang bertapa dan menunggu korbannya masuk sendiri kedalam mulutnya.


Seekor ular hitam yang sangat besar itu mengerjapkan matanya yang memancar cahaya berwarna merah, lalu memandang kepada Satria dan Widuri dengan sangat marah.


Sebatang pohon yang masuk kedalam rongga mulutnya telah ditelannya dengan sangat mudah.


Ular itu tampak marah, lalu berusaha menyemburkan sebuah jilatan api kepada Satria dan Widuri, dengan sigap Widuri membawa Satria terbang menghindari semburan api tersebut, sehingga membakar sesemakan.


Ular itu bangkit berdiri tegak, ternyata Ia berbadan Manusia dengan kepala ular, tubuh manusianya sudah bagaikan batu yang sudah ribuan tahun menjadi fosil, namun masih dapat bergerak.


Dengan rasa penuh amarah, Siluman Ular itu ingin meraih tubuh Satria yang bersembunyi dibalik semak. Satria lalu berusaha berlari sekuat tenaganya untuk menghindari tangkapan siluman tersebut. Namun kecepatan larinya sangat kalah telak oleh panjang tangan siluman manusia berkepala ular tersebut.


Saat nafasnya mulai tersengal, Ia mencari cara untuk mengalahkan manusia jadi-jadian tersebut. Ia mengambil tasbih milik Chakra Mahkota yang dihadiakan saat perjalanan ghaib waktu itu.


Lalu Ia meminta kepada Widuri untuk membantu terbang dan menuju kepala manusia jadi-jadian tersebut.


Widuri mengerti maksud dari Satria, dengan segenap kesaktiannya, Ia membawa Satria menuju kepala Manusia raksasa itu, dan berulang kali menghindari tangkapan tangan yang begitu amat besar.


Widuri mengecoh makhluk itu dengan berputar-putar hingga memecah konsentrasi sang siluman. Lalu Satria merafalkan doa, memohon pertolongan kepada Sang Khalik, lalu memasukkan tasbih tersebut kekepala makhluk itu dan, atas ijin Sang Khalik, tasbih itu membesar dan mengeluarkan sebuah cahaya perak, lalu mengikat leher makhluk itu.

__ADS_1


Suara pekik kesakitan menggema keseluruh alam. Makhluk itu menggeliat dan meronta-ronta menahan sakit, lalu berusaha untuk melepaskan tasbih yang kini berkalung dihernya


Seketika pendaran cahaya tersebut semakin lalama semakin membesar, lalu terdengar suara deru yang semakin kencang.. Dan..


Duuuuuuuuuaaar....


Suara ledakan yang keras terdengar sangat kuat dan memekakkan telinga. Widuri dan Satria sampai terlempar kesemakan.


Pemuda itu berusaha untuk bangkit, meski disekujur tubuhnya terasa ngilu. Satria memegenagi lengannya yang terluka, terkena goresan tumbuhan berduri yang terdapat disekitar semak.


Ia melihat Widuri yang terlempar tak jauh dari posisinya dan tampak biasa saja, berbeda jauh dengannya. Peri itu langsung bangkit, dan menghampiri Satria, mencoba memberi pertolongan pada luka dilengan Sang Pemuda.


Saat pendaran cahaya mulai meredup, tampak didepan mereka sesosok manusia kerdil sedang berdiri dan memandang kepada Satria dengan wajah memelas. Lalu Satria mengambil tasbih miliknya yang terkalung dileher manusia jadi-jadian yang sudah berubah kerdil itu tanpa perlawanan sedikitpun.


Setelah berhasil mendapatkan tasbihnya, manusia kerdil berkepala ular itu berlari kesemak belukar dan hilang entah kemana.


Setelah kepergian makhluk itu, Satria merasa lega. Kini Ia memperhatikan sekitar lokasi hutan. Kali ini Ia tidak ingin ceroboh. Saat itu Ia melihat kembali sebuah lubang mulut goa menganga yang ternyata tadi ditutupi oleh makhluk jadi-jadian tersebut.


Mulut goa itu tampak lengang, dan tidak terjadi pergerakan apapun.


Widuri menoleh kepada Satria, lalu menegerjapkan kedua matanya, memberi isyarat jika goa itu aman untuk dimasukin.


Lalu Satria menganggukkan kepalanya, dan mempercepat langkahnya untuk segera mencapai mulut goa.


Saat berada diambang mulut Goa, Satria merasakan hawa mistik yang begitu kental. Suasana tampak gelap dan begitu lembab.


Satria mendengar suara gemericik air yang begitu membuatnya sangat bahagia. Ia yang sudah sangat kehausan segera mempercepat langkahnya untuk masuk lebih dalam.


Widuri mengikutinya, dengan mensejajarkan dirinya yang terus terbang melayang mengikuti Satria kemanapun.


Saat berada di sebuah lorong yang dalam, Satria tercengang saat menyaksikan penampakan isi dalam goa yang sangat menakjubkan.

__ADS_1


Sebuah lubang sebesar bola kaki berada dilangiit-langit goa, sehingga memberi kesempatan cahaya mentari masuk menyinari ruangan goa, sehingga membuat tuangan goa itu itu tampak terang.


Tempat yang begitu indah. Ada sebuah ceruk dengan kolam yang airnya begitu sangat jernih dan berwarna biru.



Rasa haus yang sudah lama ditahannya, kini bagaikan mendapat oasis ditengah padang tandus.


Satria melemparkan tas ranselnya begitu saja, lalu menceburkan dirinya kedalam kolam alam didalam goa tersebut. Ia mengapung dengan gaya punggung, menikmati kesegaran airnya yang memanjakan tubuhnya. Rasa lelah seketika menghilang begitu saja. Lalu Satria meminum air itu sepuasnya. Ia tidak lagi memperdulikan Widuri yang sedari tadi terus menatapnya penuh arti.


setelah merasakan cukup lama berendam, Satria kembali naik kepermukaan dengan tubuh basah kuyup.


Ia duduk ditepian kolan dan memejamkan matanya, merasakan betapa air tersebut begitu sangat menyegarkan tubuhnya.


Widuri masih terus menatap Satria, tanpa berkedip sedikitpun. Entah apa yang sedang difikirkan makhluk peri tersebut.


Setelah merasakan tubuhnya mulai kedinginan, Satria menhalin pakaiannya dengan pakain kering yang terdapat didalam tas ranselnya.


Saat Satria melepaskan pakaiannya, Widuri tak lepas menatap pemuda tersebut. Tanpa diduga, Peri itu terbang melayang menghampiri Satria, memberikan pelukan terhangatnya dengan tiba-tiba dari arah belakang.


Perlakuan tanpa aba-aba tersebut, membuat Satria tersentak, dan Ia baru menyadari, jika Ia tidak sendiri didalam goa tersebut.


Satria mematung, dengan kedua bola matanya yang membola. Ia bingung dengan semua perasaannya. Semakin lama, peri itu semakin mengeratkan pelukannya, membuat Satria seakan sesak nafas karena gemuruh didadanya.


Saat emosinya kelakiannya mulai tidak stabil, dengan tiba-tiba Chakra Mahkota muncul dihadapannya, lalu mendehem dengan suara yang sangat parau.


Seketika Widuri menyadari kehadiran sang Khadam, lalu dengan segera melepaskan pelukannya, dan terbang melayang kedinding goa, lalu duduk dibebatuan tanpa menoleh sedikitpun, sepertinya Ia sedang merasakan malu karena aksinya ketahuan oleh sang Khadam.


Lalu Chakra Mahkota memperlihatkan wajah intimidasi, dan sesaat menghilang.


Satria mendenguskan nafasnya, lalu melirik kepada Widuri yang tampak diqm membisu disudut diinding goa.

__ADS_1


Pemuda itu segera mempercepat menyalin pakaiannya. Dan duduk untuk beristirahat sekejap, sembari menunggu waktu yang tepat untuk menyusuri goa.


__ADS_2