Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pindah Rumah


__ADS_3

Hari bahagia itu hampir tiba, hanya menunggu satu hari lagi. Segala sesuatunya telah dipersiapkan secara matang.


"Bu..." ucap Satria kepada Mala, yang saat itu berada dikamarnya.


"Iya.." Sahut Mala, lalu baranjak membuka pintu.


"Boleh masuk...?" tanya Satria meminta ijin.


"Masuklah." jawab Mala, sembari memberi jalan, tampak Bayu sedang bersiap akan berangkat bekerja. Satria belum mengetahui apa pekerjaan Bayu, namun Ia memilih untuk fokus pada Ibunya.


"Ada apa sayang...?" tanya Mala dengan serius.


"Bu... Esok aku akan menikah." ucap Satria dengan nada lirih.


"Iya.. Lalu mengapa..?" tanya Mala dengan penasaran. Ia melihat raut wajah anaknya tampak begitu amat serius.


"Sebaiknya Mirna kita belikan rumah sendiri saja Bu, biar Ia dapat hidup mandiri, Aku takut nanti Syafiyah akan cemburu padanya, dan Dia juga bukan muhrim kita." ucap Satria dengan nada serius.


Mala terdiam sejenak. Sebenarnya apa yang dikatakan puteranya adalah benar. Apalagi Mirna sangat cantik, ditambah lekuk tubuh yang aduhai dengan sejuta pesona yang ada, tentulah hal itu menjadi pertimbangan yang sangat matang.


"Baiklah... Dimana rencana kamu akan membelikannya rumah..?" tanya Mala kepada puteranya.


Diperbatasan hutan, ada rumah yang akan dijual dengam harga murah, namun masih sangat layak dan dinding batu yang kokoh. Dua hari yang lalu sudah negosiasi dan sepakat dijual, hari ini pembayarannya." ucap Satria menjelaskan.


"Apakah kamu sudah berbicara kepada gadis itu...?" Tanya Mala mengingatkan.


"Belum Bu, sebaikanya Ibu saja yang bilang, karena hari ini Satria akan melakukan pembayarannya, dan rumah itu telah dikosongkan. Maka kita tinggal mengisi prabotannya, agar Mirna betah disana, masalah makannya nanti kita tanggung." ucap Satria menjelaskan.


Mala menganggukkan kepalanya, mencoba memahami apa yang sedang difikirkan oleh puteranya.


Sedangkam Bayu hanya sebagai pendengar saja. Ia tidak ingin ikut campur yang bukan urusannya.


Setelah melakukan kesepakatan, Satria keluar dari kamarnya, lalu menuju garasi, untuk mengemudikan mobilnya, melakukan pembayaran rumah tersebut.

__ADS_1


Sementara itu, Bayu berpamitan untuk berangkat bekerja. Ia tampak begitu antusias, karena malam tadi merupakan malam honeymoon pertamanya dengan istri barunya itu, sehingga Ia merasakan seluruh harinya begitu indah.


Setelah kepergian Bayu, Mala mengetuk pintu kamar Mirna, yang Iya tahu saat ini gadis itu sedang berada didalam kamar.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu membuat Mirna membuyarkan lamunannya. Ia melangkah membuka pintu. Ia melihat Mala berdiri diambang pintu dengan senyum yang tak biasa.


Namun Mirna sudah dapat menebak apa yang akan dibicarakan oleh Mala. Ia berusaha berpura-pura tidak tahu.


"Boleh kita berbicara...?" tanya Mala berusaha ramah.


Mirna menganggukkan kepalanya. Lalu mempersilahkan Mala masuk kekamarnya. Wanita paruh baya itu memasuki kamarnya dengan langkah tenang dan duduk ditepian ranjang.


"Satria sudah membelikan rumah untukmu, kamu boleh pindah hari ini, harap kamu memaklumi dengan keputusannya." ucap mala dengan hati-hati, Ia takut menyinggung perasaan gadis itu.


"Namun jika kamu ingin berkunjung kemari itu tidak menjadi masalah..." ucap Mala kembali melanjutkan ucapannya.


"Segala keperluan kamu sudah disiapkan, kamu hanya tinggal pindah saja, dan nanti akan kami antarkan..." ucap Mala mencoba sebisa mungkin menjaga hati gadis itu.


Mirna menganggukkan kepalanya, menyetujui segala apa yang yang diutarakan oleh Mala. Meskipun Ia amat begitu sakit.


Mala memeluk gadis itu, mencoba memberikan keteduhan, agar samg gadis tak berkecil hati. Lalu Ia beranjak keluar dari kamar.


Tak berselang lama, Satria melakukan panggilan masuk kephonsel Mala. "Bu... Beritahukan kepada Mirna agar bersiap, aku akan menjemputnya dalam waktu 30 menit lagi, untuk mengantarkannya pindah kerumah barunya." ucap Satria dalam panggilan telefonnya.


Mala hanya menjawab dengan kata 'Iya' dan segera memberitahu kepada Mirna agar bersiap-siap untuk kepindahannya hari ini.


Setelah menunggu waktu yang ditentukan, Satria datang menjemput Mirna yang sudah menunggunya dengan perasaan kecewa.


"Maaf, ini terpaksa Aku lakukan, semua demi kebaikan Kita bersama." ucap Satria kepada gadis itu, saat membantunua membawa beberapa tas yang berisi pakaian.


Mirna tak menjawab sepatah katapun, Ia begitu terluka, namun tak ada pilihan lain. Ia sanggup membelot dari Nini Maru, hanya demi mendapatkan cinta pemuda itu, namun Ia harus menerima kenyataan, jika Satria memilih meninggalkannya.

__ADS_1


Mala ikut mengantarkan Gadis itu kerumah barunya. Ia juga merasa sedih, jika berpisah dengan gadis itu, namun semua demi keutuhan rumah tangga puteranya.


Tak berselang lama, akhirnya mereka sampai dirumah baru untuk Mirna. Sebuah rumah minimalis yang cocok untuk Mirna seorang diri.


"Ini rumah baru untukmu... Semua fasilitasnya sudah lengkap, dan sembako juga sudah aku penuhi untuk 3 bulan kedepan. Kamu jangan takut kelaparan, karena aku akan memenuhi semua kebutuhanmu." ucap Satria menjelaskan.


Mirna hanya tersenyum miris, nyatanya emang Ia dicampakkan. Namun Ia dapat berbuat apa? Hanya menerima saja.


Setelah beberapa lama menemani dirumah Mirna, Mala dan Satria berpamitan, karena akan mempersiapkan pernikahan Satria esok hari. Ia meminta Mirna menghadiri pernikahannya.


Gadis itu hanya tersenyum simpul, tanpa ekspresi apapun. Hingga akhirnya mobil Satria meninggalkan perkarangan rumahnya.


******


Malam kelam merangkak semakin pekat. Mirna yang kini sendirian semakin merasakan kehampaan. "Satria... Kamu milikku.." ucap Mirna dengan hato pilu. Ia memeluk gulingnya dengan erat. Ia tak rela jika pemuda itu mencampakkannya. Ia siap jika menjadi yang kedua, tak masalah baginya, asalkan pemuda itu tetap dimilikinya.


Saat kesendiriannya, Ia mendengar suara langkah kaki mengendap-ngendap dibelakang dapurnya. Ia menajamkan mata bathinya. Ia melihat seorang pemuda yang siang tadi telah mencolek bokongnya.


"Heeeemm... Ternyata Dia...? Esok malam adalah malam pertama untuk Satria dan Istrinya. Sepertinya aku harus membalaskan dendamku pada pemuda nakal ini. Bahkan seluruh pria didesa ini" Mirna tersenyum misterius, sorot matanya penuh dendam dan ambisi.


Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang terkesan menggoda. Ia mengetahui jika pemuda itu kini sudah berada tepat dipintu belakang dapurnya.


Mirna berjalan menuju pintu dapur, lalu membukanya. Tampak Anang, pemuda yang sudah sangat berhasrat itu berdiri tegak diambang pintu.


Ia diam terpaku memandang gadis yang berdiri dihadapannya.


Anang mendapat kabar dari para tetangga jika rumah yang bersebelahan dengan hutan itu kini dihuni oleh gadis cantik nan mempesona tersebut. Maka Anang berniat untuk menyantroni rumah gadis itu.


Melihat Mirna yang tampak menggoda, pemuda itu tak mampu menahan gejolak didalam dirinya. Ia masuk kerumah Mirna dengan sangat tak sabar, dan mendapati gadis itu seperti sengaja memberikan kesempatan untuknya.


Anang segera menutup pintu dapur, dan menggiring sang gadis kedalam kamarnya.


Tanpa perlawanan, Anang berhasil melucuti pakaian gadis itu, Ia melahab habis tubuh molek tersebut dengan sangat rakus. Hingga Ia mencapai puncak suragwinya yang tak dapat Ia bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Namun Mirna tersenyum menyeringai. Ia meraih pemuda itu, kini Ia yang membaringkan tubuh pemuda yang baru mencapai puncak surgawinya. Tanpa disadari Anang, ternyata Mirna berbalik mengerjai sang pemuda tanpa ampun, hingga sampai kesubuh, pemuda itu dipaksa melayani Mirna yang tak pernah merasa puas. pemuda akhirnya menyerah, dan lunglai tak berdaya. Wajahnya memucat karena kehabisan tenaga.


__ADS_2