
Mala berlari menyusul ranjang troli pasien yang membawa tubuh sekarat Roni.
Ia bahkan lupa untuk mengucapkan terimakasih kepada pria yang sudah membawakan Roni kepuskesamas.
Semua orang dibuat sibuk, karena itu adalah ayah dari kepala puskesmas yang masih menghilang bagaikan ditelan bumi.
Kabar itu begitu menggemparkan, hingga seluruh petugas dipuskesmas itu penasaran dan ingin melihatnya, namun tubuh Roni sudah dibawa masuk kedalam UGD untuk dilakukan pemeriksaan dan pemberian pelayanan yang terbaik.
Tubuh Mala tertahan didepan pintu UGD, Ia terduduk lemah didepan sana. Hatinya hancur bak kepingan puing-puing kaca yang jatuh dan pecah berserakan.
Ia teringat akan Hadi, Ia ingin menghubungi Hadi, namun sial, Phonselnya tertinggal dirumah. Ia bingung harus bahaimana. Bahkan Ia tidak lagi perduki dengan pakaiannya yang berlumuran darah.
Syafiyah yang mendengar kabar itu, segera menghampiri Mala yang duduk lemah dilantai granit puskesmas.
"Bu.. Mari kita tunggu dikursi tunggu.. Kita doakan agar Pak Roni dapat terselamatkan.." Ucap Syafiyah mencoba menghibur Mala yang sedang kalut.
Mala yang sudah seperti orang linglung, hanya mengikuti saja apa yang disarankan oleh Syafiyah.
Mereka duduk di kursi tunggu, tanpa sadar, Mala menumpahkan segala sesak yang menghimpit dadanya, dan memeluk Syafiyah, menopangkan dagunya dipundak gadis itu, lalu menangis dengan pilu.
Sungguh berat beban yang dipikulnya, Ia sangat begitu terpukul dengan semua yang terjadi. Air matanya membasahi pakaian Syafiyah, pundaknya terguncang menahan rasa kepedihannya.
sesaat kemudian..
Seorang petugas medis datang memanggil Mala. Ia yang masih larut dalam kesedihan, seketika menyeka air matanya. Lalu menoleh kearah petugas itu.
Mala berjalan gontai menghampiri Dokter tersebut, dan..
"Maaf, Bu.. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Namun luka benturan dibagian kepala membuat Pak Roni banyak kehilangan darah, dan takdir berkata lain, nyawa pak Roni tak dapat diselamatkan." ucap Dokter itu dengan gamblang.
Seketika Mala merasa lemah, Ia bagaikan tak memijak bumi. Langit terasa runtuh, saat Ia mendengar penjelasan sang dokter, Ia hampir saja limbung, namun Ia mencoba bertahan. Jika Ia lemah, lalu siapa yang merawat jenazah Roni, suaminya.
Namun sekuat apapun Ia bertahan, akhirnya Ia tak mampu menahan rasa sesak didadanya.
Mala limbung juga, dan tak sadarkan diri. Lalu dengan cepat Syafiyah menangkapnya.
👻👻👻👻👻
Mala mengerjapkan matanya, Ia mendapati dirinya sudah berada didalam rumah. Para warga sudah berkumpul, dan Roni sudah bersiap untuk dimandikan.
__ADS_1
Mala menatap bingung. "Bang Roni..Ia menghampiri jenazah Roni yang terbaring tepat dihadapannya.
Ia menyingkap kain penutup wajah Roni. Ia menatap nanar. "Baang.. Baang Roni.." suaranya bergetar dengan begitu lirih pilu. Mbak Ratna yang saat itu berada disisinya, mencoba menguatkan Mala. "yang sabar ya Mala, semua ini adalah cobaan yang harus kamu terima dengan lapang dada." ucap Mbak Ratna sembari membelai lembut punggung Mala.
Mala menghamburkan dirinya kepelukan Mbak Ratna, Ia menumpahkan segala kesedihannya.
"Hadi..." seketika Mala teringat akan Hadi, Ia mencari Phonselnya, lalu meminta tolong kepada Mbak Ratna untuk mengambilkan phonselnya didalam kamar.
Mbak Ratna mengangguk dan mencarikan Phonsel mikik Mala yang disimpannyandidalam kamar.
Setelah menemukannya, Mbak Ratna memberikannya kepada Mala.
Seketika Mala meraihnya, lalu menghubungi Hadi.
"Hallo, Assallammualaiku.. Bu, ada apa..??" tanya Hadi dari seberang telefon.
"Waalaikumsalam..Hadi..kamu segera pulang nak, hari ini juga.." ucap Mala, dengan tersedu.
"Bu..coba tenang dulu, ceritakan ada apa..?" tanya Hadi penasaran, dan mencoba menenangkan hati Ibunya.
"Mbak Mala.. Ini jenazah bang Roni bagaimana.? Sudah cukup lama juga, apakah bisa kita mandikan sekarang? Agar segera selesai fardhu kifayahnya.." terdengar suara Pak Danu yang sekarang bertugas menjadi RT menggantikan pak Joko.
Sementara itu, Hadi yang mendengar percakapan tak sengaja itu membuatnya tersentak, hingga tanpa sadar menjatuhkan phonselnya.
"A..a.apa..? Jenazah ayah.?" seketika dadanya dipenuhi rasa sesak yang luar biasa. Ia segera beranjak dari ruang kantornya. Ia kembali dan membatalkan semua agenda yang sudah disusun secara rapih.
Ia meminta kepada sekretarisnya untuk menyusun ulang jadwal yang telah dibatalkan.
Perasaan Hadi bercampur aduk. Ia berusaha mencoba menghubungi Mala, Ibunya. Tidak tersambung. Hadi memastikan jika battrei ibunya sedang lawbet dan kini ibunya sedang dalam kondisi kacau.
Hadi teringat akan Mbak Ratna, tetangganya. Hadi mencoba menghubungi Bu Ratna, dan ternyata tersambung.
"Hallo Bu Ratna, Bisa kita bicara sebentar.?" tanya Hadi dengan perasaan yang kacau, namu berusaha untuk tenang.
"Iya Nak Hadi, apa yang bisa Ibu bantu.?" jawab Mbak Ratna dengan suara pelan dan lirih.
"Se..sebenarnya apa yang terjadi dirumah..?" Tanya Hadi dengan bergetar.
"Nak Hadi.. Sebaiknya segera pulang.. Ayah Nak Hadi meninggal dunia karena kecelakaan." ucap Mbak Ratna dengan hati-hati.
__ADS_1
"A..apaa..?!" Suara Hadi tercekat ditenggorokannya. Ia tidak tau harus mengatakan apa.. Sekuat-kuatnya seorang pria, Ia akan menangis juga saat kehilangan orang terkasih.
Sesaat Hadi terpaku, dunia rasanya bagaikan berputar. Lalu Ia mencoba menguasai kesadarannya. "Bu Ratna.. Tolong jaga Ibu saya ya.. Saya segera kembali, secepatnya."Pinta Hadi. Ia tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa. Sebab Ibunya adalah anak tunggal, dan Ia juga harus menghubungi keluarga pihak ayahnya.
"Om Hamdan.. Ya.. Ia harus saya hubungi, bagaimanapun itu adalah Kakak kandung Ayah." ujar Roni, mencoba mencari nomor Hamdan, dan berusaha untuk menghubungi pria shaleh tersebut.
Namun nomor phonsel Hamdan juga tidak dapat tersambung, Hadi semakin gelisah. Ia memilih untuk segera pulang kerumah.
👻👻👻👻👻👻
Hadi pulang kerumah Chandra mertuanya. Karena sudah seminggu ini Shinta menginap disana.
Shinta sedang hamil muda, masih berusia 2 minggu. kondisinya lemah. Ia butuh istirahat total.
Hadi memasuki pelataran rumah mertuanya. Ia masuk kedalam rumah dengan tergesah-gesah. Ia menapaki anak tangga dengan perasaan yang sangat kacau.
Ia membuka handle pintu dengan gemetar, layaknya seorang terkena tremor.
Saat Ia memasuki kamar, Ia melihat Shinta sedang berbaring ditepian ranjang. Hadi langsung mengecup ujung kepala Shinta. Namun tangannya terasa dingin dan wajahnya memucat.
Hal ini membuat Shinta sangat kaget. Ia merasakan ada hal buruk sedang terjadi pada suaminya.
Tidak seperti biasanya Hadi bersikap demikian.
Shinta merasakan jika suaminya saat ini sedang mendapatkan sebuah pernasalahan hidup yang sangat berat.
Shinta beranjak dari pembaringannya, lalu berusaha untuk duduk bersandar.
Ia melihat Hadi membuka lemari pakaian, dan menyusun beberap lembar pakaian lalu memasukkannya kedalam sebuah tas ransel.
Shinta menatap curiga, lalu berjalan menghampiri Hadi. "Sayang.. Ada hal apa ini..? Mengapa kamu seolah-olah hendak pergi..?" tanya Shinta dengan raut wajah penuh penasaran.
Hadi menoleh kearah Shinta, dengan wajah yang sudah sangat kacau.
"Sayang.. Katakan apa yang sedang terjadi..?!" tanya Shinta dengan nada panik.
"A..Ayah.. Ayah mendadak meninggal dunia." Jawab Hadi dengan terbata dan nada gemetar, dan tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menghamburkan dirinya kedalam pelukan Shinta, menumpahkan segala kesedihannya.
"A.. Apa. ?" Shinta tercengang, dan tak percaya mendengar berita yang disampaikan oleh Hadi, suaminya.
__ADS_1