
Danang masih menggendong Nia yang berlumuran darah. Roknya sudah basah dengan cairan kental darah yang berbau amis tersebut.
seketika aroma amis darah itu mengundang sosok makhluk yang baru saja melintas disamping rumah Bidan Syafiyah. Sosok itu adalah palasik, yaitu setan wanita yang berasal dari dataran tanah minang yang merupakan sosok manusia yang mengabdi ilmu Abadi.
Iblis ini biasanya suka menghisab darah bayi dan darah wanita sehabis melahirkan.
Iblis itu sedang berkeliaran mencari mangsa darah ibu melahirkan ataupun Ibu yang memiliki bayi dan berjalan keluar malam, lalu kepalanya tidak diberi penutup.
Aroma anyir darah milik Nia yang sudah terciumnya sejak tadi menggugahnya untuk mendekati.
Sosok kepala wanita dengan organ tubuh terburai itu sedang terbang diudara tanpa disadari oleh Danang. Ia sibuk mengetuk pintu rumah Syafiyah yang sepertinya sedang tertidur lelap.
Darah yang mengucur dari sela-sela pangkal kakinya itu berceceran dilantai kayu diteras rumah milik Syafiyah.
Makhluk itu tampak sangat begitu buas, Ia menemukan mangsanya dalam sekejab, ibarat pucuk dicinta ulampun tiba, Ia sedang mencari mangsa, dan mangsa itu sendiri berada dihadapannya.
Tok..tok..tok..
Danang mencoba terus mengetuk pintu Syafiyah, berharap bidan itu membuka pintunya. Namun seperti orang yang terkena ilmu sirep, penghuninya tak jua bangun.
Sesaat Danang merasakan tubuhnya merinding dan merasa sesuatu dibelakangnya sedang mengintai.
Danang membenahi gendongan tubuh Nia yang mulai terasa melorot.
Danang mendengar suara cecapan dari samping bawah kakinya. Ia merasa penasaran dengan apa yang didiengarnya.
Danang menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat kearah bawah..
Dan...
Deeeeegggh...
Seketika kakinya gemetaran melihat apa yang disaksikannya. Sosok Makhluk kepala terbang dengan organ tubuh bagian dalam sedang memncecap darah yang bercucuran diatas lantai kayu tersebut.
Mata Danang membola, seakan tak percaya bertemu makhluk yang lebih menyeramkan dari Nini Maru.
Taring yang menyembul diujung bibirnya tampak menyeringai.
Kaki Danang seolah tak menapak di lantai, seolah mengambang dan yak berpijak. Namun Danang berusaha menjaga kesadarannya.
Tak menjelang berapa lama, sebuah lampu mobil tampak memasuki halaman rumah Syafiyah lalu berhenti. Makhluk itu menoleh kearah mobil tersebut, lampu sorot itu menyilaukan pandangannya, membuat Ia menggeram..
Aaaaarrgh...
Geram iblis palasik itu sembari melayang diudara.
Dari dalam mobil, tampak sepasang kaki turun dari dalam mobil, lalu berdiri terpaku menatap iblis tersebut.
Disisi pintu lain, turun seorang pemuda tampan yang dengan pembawaan tenang berjalan menghampiri makhluk itu.
__ADS_1
Ia menggelengkan kepalanya dan menatap tajam pada iblis itu.
"Bertaubatlah, sebelum ajal menjemputmu." ucap pemuda itu yang tak lain adalah Satria.
"Cihhh.. Jangan mencoba menceramahiku.." jawab Makhluk itu dengan sangat geram.
Palasik itu terbang melayang, dan ingin menyerang Satria.
Dengan gerakan cepat, Satria menghindarnya. Palasik itu terbang melayang sembari menyeringai, dan menghilang.
Hadi yang sedang melihatnya seolah mematung dan tak bergerak saat menyaksikan iblis tersebut. Baru kali ini Ia melihat jenis hantu tersebut, sehingga rasanya ingin pingsan saja. Satria segera menyadarkannya, membuat Hadi tersentak.
Sementra itu, Danang sudah tidak sanggup lagi menahan berat badan Nia yang sedari tadi dibopongnya.
Satria bergegas memberi pertolongan kepada Danang.
Satria bergantian membopong tubuh Nia, dan Hadi menggedor pintu rumah Syafiyah.
Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki menuju arah pintu utama. Lalu pintu dibuka.
Kreeeeeek..
Terdengar suara derit pintu yang terbuka, dan tampak seorang gadis yang masih kondisi mengantuk berdiri diambang pintu. Ia mengucek matanya yang masih belum normal.
Sesaat Ia terperangah menatap wajah Satria didepannya." Paak.. Kapan kembali..?" tanyanya dengan wajah sumringah.
Namun mendadak muram saat melihat Satria membopong seorang wanita muda yang berlumuran darah.
"Ambilkan cairan infus, dan kantong darah. Kita harus segera memberinya pertolongan."titah Satria.
"tapi kita tidak jenis goongan darahnya apa..?" tanya Syafiyah dengan berusaha tenang ditengah kepanikan.
Satria terdiam, dan mencoba berfikir.
"Untuk kondisi darurat, kita gunakan saja golongan darah O untuk membantunya agar tidak kekurangan darah." ujar Satria.
"Kalau begitu saya ambil dipuskesmas terlebih dahulu." jawab Syafiyah.
"Hadi, antar Syafiyah..! Tetapi berikan saya dahulu cairan infus antibiotik.." Satria mulai menangani Nia, dan melakukan yang terbaik.
Syafiyah menganggukkan kepalanya, lalu mengambil semua yang diperlukan oleh Satria.
Setelah itu, Syafiyah segera beranjak keluar untuk pergi kepuskesmas.
"Syafiyah..!" panggil Satria dengan tenang.
Gadis itu menoleh kearahnya."Iya apa..?"
"Jangan katakan tentang saya sudah kembali, setelah ini akan ada yang ingin saya bicarakan kepada kamu." ucap Satria dengan tenang.
Lalu gadis itu mengangguk, dan beranjak pergi, diikuti oleh Hadi.
__ADS_1
Satria mencoba memberikan bantuan semaksimal mungkin, membaringkan gadis yang sedang pendarahan tersebut, dan mulai memasang alat ifusnya.
Setelah selesai, Ia menunggu kedatangan Syafiyah dan Hadi yang kini masih dipuskesmas.
Satria melirik kearah Danang. "Apakah kamu suaminya..?" tanya Satria dengan selidik kepada Danang.
Pemuda itu hanya diam merunduk malu.
Lalu sebuah kalimat yang meluncur dari mulut Satria begitu saja. "Menikahlah.. Jangan kamu merusak seorang wanita yang hanya kamu jadikan sumber kesenanganmu, hingga kamu melupakan apa itu dosa." ucap Satria dengan tenang, namun penuh penekanan.
Danang sangat terkejut mendengar ucapan Satria .Ia meyakini Jika Satria bukan orang sembarangan, buktinya Ia tidak takut menghadapi iblis betina yang tadi mengganggunya.
"Nikahi dia setelah sembuh..! Dan satu korban wanita lainnya bisa kamu tanyakan apakah mau bermadu dengannya.." cecar Satria.
Danang semakin merasa terpojok. Ia tidak menyangka jika Satria dapat membongkar semua tindakan amoralnya selama ini. Danang semakin ketakutan.
"Apakah kamu mendengar apa yang saya Ucapkan..?" tanya Satria kepada Danang, yang sedari tadi hanya merunduk.
Akhirnya Danang menganggukkan kepalanya.
"Bagus.." ucap Satria dengan nada penekanan.
Tak selang beberapa lama, Hadi dan Shinta tiba dirumah, lalu membawa sekantong darah dan peralatan lainnya.
Syafiyah segera memberikannya kepada Satria, lalu gadis itu membantu menyediakan alat-alatnya.
Setelah terpasang, Hadi juga mencoba memeriksa kondisi rahim Nia, dan memastikan tidak ada lagi inveksi lainnya.
Setelah merasa Nia cukup aman, maka Syafiyah mencoba menyalin pakaian Nia dan meminta untuk ketiga pria itu keluar sejenak.
Lalu ketiganya beranjak menunggu diteras rumah.
Setelah selesai, Syafiyah beranjak keluar, dan menemui ketiganya.
"Temani gadismu, jangan biarkan sendirian dlam kondisi nifas.. Karena makhluk iblis sejenisnya banyak yang menyukainya." ucap Satria kepada Danang, lalu pemuda itu mengangguk dan beranjak masuk kedalam rumah syafiyah untuk menemani wanitanya.
Syafiyah baru menyadari jika wanita itu adalah teman pria tersebut, hampir saja Ia jantungan jika Satria lama menghilang ternyata sudah menikah.
Sementara itu, Satria menatap pada Syafiyah, membuat sang gadis tak berkutik.
"Bapak kemana saja selama ini..?" tanya Syafiyah dengan lirih.
"Kenapa.? Apakah merasa kehilangan dengan kepergianku..?" tanya Satria dengan santainya.
Seketika Hadi dan Syafiyah sama terkejutnya mendengar jawaban dari Satria. Membuat keduanya saling pandang dan merasa bingung.
"Apakah kak Satria menyukai gadis ini..?" Hadi mulai menerka-nerka.
Sesaat Satria memandang kepada Hadi, seolah mengetahui apa yang dibicarakan oleh hati Adikknya.
Hadi yang dipandang demikian nyengir dan memalingkan wajahnya dari tatapan sang kakak.
__ADS_1
Bersambung..dah Sore..