Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Kaget-5


__ADS_3

Mala dengan tak sabar meraih pisau cutter yang berada ditempat bumbu. Ia begitu terlihat bersemangat untuk merobek perekat berwarna coklat tersebut.


Saat membukanya, Ia dikejutkan dengan dua buah boks yang terdapat dalam satu kardus besar. Mala semakin tercengang dengan isi didalamnya. Satu set toples ungu yang diributkannya waktu itu, dan yang lebih membuatnya kaget, satu set prasmanan berwarna merah darah transparan yang menjadi impiannya selama ini.


"Haaah..?! Dia benar-benar manis.." ucap Mala keceplosan saat melihat benda impiannya.


"Ciiih.. baru disogok begituan saja bilang pria itu manis.." Cibir Chandra dalam hatinya, sembari tersenyum sinis dan berlalu pergi dri ambang pintu. Telinganya terasa panas saat mendengar Mala mengucapkan kata pujian itu untuk Bayu.


sementara itu, Mala tak henti memandangi paket tersebut. " Ya ampuun.. Setelah sekian lama aku bermimpi untuk mendapatkannya, tidak disangka akhirnya dapat juga.. Bahkan dari sejak sebekum ada Satria.." ucapnya dengan setitis air mata. Mengingat saat pertama kali mbak Ratna yang merupakan seller dari barang tersebut menawarkan padanya.


Namun karena pekerjaan Roni yang hanya seorang mandor gudang semen, tidaklah mungkin Ia meminta untuk membelikan barang semahal itu, dan Ia hanya menyimpannya dalam hati.


Mala kembali menyimpan barang tersebut kedalam kemari kitchen setnya dengan sangat hati-hati. Perasaannya begitu amat bahagia. Ia tidak tahu, hari ini Bayu banyak memberikannya kejutan yang tanpa dibuat-buatnya.


*******


Hari menjelang petang. Shinta baru saja selesai mandi, Ia keluar dari kamarnya. "Bu.. Kak Hadi kemana..? Tanya Shinta ketika tak melihat keberedaan suaminya.


"Mungkin keluar bersama pamannya Hamdan." Jawab Mala, yang sedang meracik menu makan malam mereka.


"Waah.. Ayam goreng kalasan.. Ibu tau saja kalau aku lagi pengen ayam goreng buatan Ibu.." ucap Shinta sembari mengecup pipi kiri Mala.


Mala menjawab dengan sebuah senyuman sumringah. Bagaimana tidak, Ia tak memiliki anak perempuan, dan menantu perempuannya itu begitu amat manja, seolah Ia mendapatkan seorang anak perempuan.


Sedangkan Shinta menganggap sebaliknya, yaitu menemukan seorang Ibu yang sedari lama ditinggal seorang Ibu untuk selamanya saat Ia masih disekolah menengah. Sedangkan Mala menjadikannya seperti seorang anak bukan seperti menantu.


Shinta membantu menyelesaikan masakan Mala, sang Ibu mertua. Tampak olehnya sebuah Wadah prasmanan berwarna merah darah transfaran telah tertata dimeja makan, dan tinggal mengisi masakan saja.


"Wah.. Ibu baru beli prasmanan baru ya..?" tanya Shinta penasaran, karena selama Ia menjadi menantunya, Ia tak pernah melihat barang tersebut.


"Emmm.. Iya.. Anu.. Baru datang tadi.." jawab Mala dengan gugup.


"Oooo.. Cantik banget Bu, ini harganya mahal lho.." ucap Shinta sembari mengangkat wadah tersebut.


Mala menjadi serba salah. Ia takut jika Shinta menganggapnya boros, sebab selama ini Mala hidup dari transferan Hadi. Meskipun perusahaan itu milik Satria, namun yang menjalankannya Hadi, Ia harus bisa menjaga hati menantunua, agar tak dianggap sebagai mertua farasit.

__ADS_1


Saat keduanya, asyik dalam lamunan masing-masing, tiba-tiba Bayu pulang membawa banyak makanan dan camilan. Ia langsung menuju dapur.


Saat itu Ia kaget melihat hadiah yang diberikannya sudah tertata diatas meja makan, itu menandakan Mala menyukainya, Ia pun tersenyum simpul.


"Makasih, Ya.. Kamu menyukai hadiah dariku.." ucap Bayu, sembari meletakkan semua makanan yang dibelinya.


"Bagus, gak..?" tanya Bayu, sembari mengangkat satu wadah prasmanan tersebut.


"I..iya.. Bagus.. Makasih atas hadiahnya" jawab Mala gugup, namun setidaknya Bayu menyelamatkan Ia dari prasangka Shinta, meskipun belum tentu Shinta berprasangka buruk padanya.


Bayu hanya tersenyum, lalu meletakkan wadah tersebut dan beranjak ke ruang tengah, mengambil handuk untuk membersihkan dirinya di kamar mandi dapur.


"So sweet, ternyata papa baruku memiliki jiwa romantisme.." goda Shinta, setengah berbisik ditelinga Mala.


Mala melayangkan cubitan lembut dipinggang menantunya, sehingga membuat Shinta merasa geli dan terkekeh. lalu melanjutkan menyalin seluruh makanan yang dibawa Bayu.


Saat sedang asyik menggoreng ayam, Mala melihat Bayu menuju kamar mandi dapur, Mala lalu mencegahnya. "Emmm.. Kamu mandi dikamar mandi saya saja, pakaian kamu juga sudah saya siapkan.." ucap Mala dengan debaran yang tak menentu.


Jauh dilubuk hatinya, sebenarnya Ia sangat malas untuk melakukan hal itu, namun ini kesempatan baginya untuk memanasi Chandra, agar tak lagi mengejarnya.


Namun Ia menuruti saja perintah Mala, daripada berdebat, tak enak dilihat menantunya itu.


Chandra yang mendengar ucapan Mala, serasa telinganya terbakar.. "Sialan.. Berarti benar dugaanku, jika mereka sudah bersenang-senang.." Chandra berguman kesal dalam hatinya. Lalu memandang tak suka kearah Bayu, saat melintasinya.


Bayu merasakan ada gelagat aneh pada Chandra, sepertinya sebuah aroma kecemburuan.


Namun, Bayu merasa semua itu tak penting. Ia pergi kekamar Mala. Ini yang ketiga kalinya Ia memasuki kamar itu, pertama saat menyelamatkan mala dari genderuwo, kedua saat Mala tak sadarkan diri, dan ketiga hari ini untuk mandi.


Selama ini Bayu harus mengalah tidur disofa yang saat ini sedang menjadi tempat tidur Chandra.


Malam telah tiba. Sehabis Isya baru Hadi dan Hamdan kembali. Entah darimana saja keduanya, membuat Shinta merasa kesal.


kedua wanita itu menyiapkan makan malam. Bayu juga sudah keluar dari kamar Mala. Semua memandangnya terpana, Ya.. Dalam kondisi tanpa topinya, ternyata Ia benar-benar sangat tampan, dan mereka mengakui itu.


Lalu semuanya makan malam dengan penuh hikmat. kecuali Chandra yang sangat kesal memandang wadah prasmanan itu.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai makan malam, keempat pria itu menuju ruang tamu, mencoba berbincang mengakrabkan diri. Kecuali Chandra yang hanya bermuka masam.


Malam memasuki pukul 11 malam, Hamdan dan Hadi saling berpandangan, lalu Hamdan menganggukkan kepalanya dengan lembut.


Sesaat Hamdan terdiam, Ia seperti sedang fokus terhadap sesuatu.


Bayu yang semula tenang, mulai merasakan kegelisahan tiba-tiba Ia mersakan nyeri ditubuhnya, perutnya bagaikan tersayat ribuan sembilu, pedih dan perih.


Semakin lama, Bayu merasakan semakin sakit yang sangat luar biasa. Ia tak mampu lagi untuk memyembunyikan rasa sakitnya yang sangat luar biasa.


Tiba-tiba Bayu berteriak histeris..


Aaaaaaaaaarrgh..


Bayu merasakan sakit yang teramat sangat dibagian perutnya.


Melihat semua itu, Hadi menutup pintu depan agar tak menimbulkan kecurigaan warga.


Sementara itu, Chandra terlihat bengong dengan apa yang terjadi didepannya.


Seketika Bayu menggelupur kesakitan, Ia tak mampu lagi menahan rasa yang teramat sakit.


Sesaat tubuhnya terangkat diudara, lalu terlempar kedinding.


Suara kegaduhan itu membuat Mala dan Shinta penasaran, lalu keluar dari kamarnya masing-masing.


Hadi yang melihat Shinta keluar dari kamar, lalu menghampirinya dengan cepat. "Kamu masuk saja sayang, jangan keluar kamar, dan selalu berdzikir." ucap Hadi mengingatkan.


"Emangnya ada apa sayang..?" ucap Shinta penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu sekarang, nanti kakak ceritakan, yang terpenting kamu harus masuk kemamar dahulu.." Titah Hadi kepada Shinta, lalu mendorong lembut tubuh Istrinya agar memasuki kamar.


Shinta tak dapat membantah, lalu memilih masuk, dan Hadi menguncinya dati luar, agar Shinta tak bisa sembarangan kemuar dengan tiba-tiba.


Sementara itu, Mala tercengang melihat kondisi Bayu yang terlihat menggelepar bagaikan ikan kehabisan air. Tiba-tiba rasa iba muncul dihatinya. "Apa yang terjadi padanya.?" guman Mala dqlqm hatinya.

__ADS_1


__ADS_2