
Satria untuk pertama kalinya memasuki ruangan perusahaan milik Bram. Semenjak diwariskan kepadanya, Ia tak pernah sekalipun datang keperusahaan itu.
Saat ingin memasuki ruangan utama, tanpa sengaja Ia melihat Jayanti sedang berjalan bersama Pak Bayu. Satria mengernyitkan keningnya. Tampak wajah Jayanti begitu cerah.
"apa Mama dekat dengan pak Bayu?" Satria berguman lirih. Lalu Ia memilih masuk menuju lift.
Seorang sekretaris yang berpapasan dengan Satria memandang hingga berbalik arah, hingga tanpa sadar menabrak dinding pembatas.
Kehadiran Satria untuk pertama kalinya diperusahaan itu, membuat para karyawan wanitanya terperangah. selama ini mereka tidak pernah mengenal Satria, karena anak Bos perusahaan itu tidak pernah sekalipun datang berkunjung.
Dengan kemunculan Satria hari ini, tentu membuat kehebohan para karyawan wanita. Baik yang jomblo, single parrent, bahkan yang sudah bersuami. Semuanya menatap terpana.
Mereka berkasak kusuk membicarakan Satria. Bak seorang artis yang langsung viral begitu saja.
Satria tidak begitu peduli dengan tatapan para wanita yang begitu intens terhadapnya.
Hanya saja jika bertepatan mereka tersenyum, maka Satria akan membalasnya. justru balasan senyuman itu yang membuat para wanita menjadi kelimpungan.
Satria memasuki ruangan kerja almarhum Bram. Ia melihat ruangan itu begitu mewah, dengan interior yang menawan.
Ia melihat foto Bram, Jayanti dan dirinya sewaktu masih bayi berada diatas meja kerja.
Satria duduk dikursi kebesaran itu.
Ia mulai membuka laptopnya, mencari berkas yang dikirim pak Bayu kepadanya. Ia mulai memeriksanya satu persatu.
Saat itu Ia melihat vedeo Ia dilahirkan. Ia membukanya kembali. Ia melihat semua interior ruangan rumah sakit tersebut. "sepertinya aku mengenali rumah sakit ini.?" ucap Satria dengan lirih.
"mengapa aku masih belum bisa mempercayai jika aku adalah darah daging mereka.? Bukankah sudah jelas jika tanggal ini menunjukkan tanggal tepat aku dilahirkan.?" Satria menatap vedeo itu dengan nanar.
Siluet bayangan wanita cantik bermata indah hadir kembali. Ia akan hadir saat Satria merasakan keraguan pada dirinya.
"mengapa wanita itu mirip dengan wanita yang aku tolong waktu itu? Atau hanya kebetulan saja.?". Satria masih dalam keraguan hatinya.
"kita Makan dimana nyonya?" ucap Bayu dengan sopan.
"terserah Mas bayu saja" jawab Jayanti tersipu malu.
Bayu menyunggingkan senyum termanisnya. Lalu menuju mobil dan mereka masuk secara bersamaan.
Bayu melajukan mobilnya kesebuah restaurant yang bernuansa alam. Sesampainya disana, mereka mencari tempat duduk yang sedikit dipaling ujung, jauh dari pengunjung lainnya.
Setelah memesan pesanannya. Mereka melanjutkan obralannya.
"kapan Nyonya akan melakukan perobatan ke Jepang?" tanya Bayu dengan sopan.
__ADS_1
"Jangan panggil nyonya jika berada dilingkungan luar, kecuali sedang dalam bekerja." ucap Jayanti dengan lirih.
Bayu menatap dengan senyum sumringah. Bagaimana mungkin Ia tak merasa senang, jika Janda dari mantan Bosnya itu memintanya untuk memanggil dengan sebutan nonformal.
"lalu aku harus memanggil dengan sebutan apa..?" tanya Bayu sembari menatap penuh arti kepada Jayanti.
Jayanti merasa kikuk ditatap seperti itu. "panggil saja Yanti" jawab Jayanti dengan lirih sembari tersipu malu.
Bayu tersenyum yang melihat wajah Jayanti bersemu merah.
"baiklah, Yanti.." ucap Bayu dengan lembut.
Pesanan mereka datang, dua porsi steak tenderloin dengan saus lada hitam menjadi menu pilihan mereka.
"jadi kapan kamu akan berobat ke Jepang?" tanya Bayunlagi, sembari memotong daging steaknya.
""mungkin dalam minggu ini." jawab Jayanti sembari menyuapkan potongan kecil daging itu kedalam mulutnya.
"lebih cepat lebih baik, agar kamu kembali pulih seperti semula." ucap Bayu memberi semangat.
Jayanti menganggukkan kepalanya. Ia seperti mendapatkan secercah harapan hidup saat bersama dengan Bayu. Duda tanpa anak itu telah membuat hari-hari Jayanti seperti berbunga.
"lalu kapan rencana kamu memberitahu Satria tentang siapa dirinya?" ucap Bayu mengingatkan.
Seketika wajah Jayanti yang semula cerah, mendadak menjadi mendung. Ia menarik nafasnya dalam, dan menghelanya dengan berat.
Jayanti memghentikan suapannya. Ia menyeka air mata yang jatuh tanpa Mampu Ia tahan.
Bayu meraih jemari tangan Jayanti " Satria anak yang baik, Dia pasti akan mempertimbangkan segala keputusannya. Jikapun Ia kembali kepada orangtua kandungnya, namun saya yakin Ia akan tetap menjalin hubungan silaturahmi kepada kamu. Karena Ia pernah singgah dirahim kamu, meski hanya sebentar." jawab Bayu, Ia merasa bersalah atas ucapannya barusan.
Jayanti menatap Bayu penuh harapan."Benarkah yanh kamu ucapkan? Apakah kamu yakin jika Satria tidak akan membenci dan meninggalkanku..?" Ucap Jayanti dengan harapan yang tinggi.
Bayu menganggukan kepalanya. "aku yakin itu, percayalah padaku." ucap Bayu, sembari mengusap punggung tangan Jayanti dengan lembut.
Perasaan Jayanti sedikit lega setelah mendengar ucapan Bayu. Ia berjanji akan mengatakan ini semua kepada Satria saat Ia kembali dari Jepang setelah pasca perobatan.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Satria berniat mampir kerumah sakit dimana gempat Ia dulu dilahirkan. Ia begitu amat penasaran dengan kisah 21 tahun yang lalu.
Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesampainya dirumah sakit tersebut, Ia segera memarkirkan mobilnya. Saat Itu tanpa sengaja Ia melihat Hadi juga sedang berada di parkiran. Ia bergegas menghampirinya.
"Hai.." sapa Satria sembari menepuk pundak Hadi dengan lembut.
Hadi menoleh kearah suara tersebut. "heei.. Kak Satria, lama tidak bertemu" ucapnya sembari memeluk Satria.
Satria membalas pelukan itu. "apa kabar kamu..?" tanya Satria dengan tulus.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik kak" Jawab Hadi sembari melepaskan pelukannya.
Ia menatap Satria dengan penasaran " kakak sedang apa disini" tanya Hadi penuh selidik.
"ada urusan sedikit. Kamu sendiri sedang apa?" Satria bertanya balik.
"aku kan calon dokter kandungan, jadi sedang melakukan penelitian dirumah sakit ini." jawab Hadi jujur.
Satria menatap Hadi penuh arti. "kamu bisa ikut kakak sebentar?" pinta Satria.
Hadi mengernyitkan keningnya. "kemana kak..?" tanya Hadi penasaran.
"Kepantai" jawab Satria singkat.
Hadi melongo.."haah..?! Pantai? Sekarang?" ucap Hadi polos.
Satria menepuk jidatnya sendiri. "ya kerumah sakit inilah Hadi, masa iya kepantai." jawab Satria, sembari menarik lengan Hadi. Meskipun Hadi belum menyetujuinya.
Akhirnya Hadi manut saja mengikuti langkah Satria.
Sesampainya di ruang administrasi, Satria menemui petugas tersebut. "ada yang bisa saya bantu mas..?" ucap petugas wanita itu. Ia merasa kikuk menatap mata Satria, yang dirasanya sangat memesona.
"emmm.. Boleh saya meminta informasi tentang identitas pasien wanita bernama Jayanti yang melahirkan pada 21 tahun yang lalu dirumah sakit ini?" ucap Satria dengan sopan.
"Maaf mas, kami tidak bisa sembarangan memberikan informasi tersebut, kecuali untuk kepentingan penyidikan." jawab Petugas itu dengan gugup. Ia tak sanggup menatap mata Satria.
Satria akhirnya menyuap petugas itu dengan sejumlah uang, dan dengan sedkit kedipan mata, membuat petugas itu meleleh hatinya.
Dengan cepat Ia berseluncur dikomputernya, mencari data tentang informasi yang disebutkan oleh Satria.
"Ini ketemu, kalau begitu masnya temui dokter yang menangani persalinan ibu Jayanti. Dan beliau juga selalu melakukan chek up keoada dokter kandungan yang ada dirumah sakit ini." jawab Petugas itu kepada Satria.
Petugas itu memberikan nama dokter yang menangani persalinan dan chek up rutin Jayanti selama ini.
Hadi menatap bingung kepada Satria. Sebenarnya mengapa Satria sampai repot-repot ingin mencari dokter yang menangani kelahirannya 21 tahun yang lalu? Apakah kak Satria belum membuat dokumen akta kelahiran?" Hadi berguman dalam hatinya.
"terima kasih atas informasinya." ucap Satria, sembari tersenyum manis. Kali ini senyum Satria hampir saja membuatnya jatuh pingsan.
Hadi menggelengkan kepalanya. "kebangetan kamu kak, segitunya kamu kak, gak pakai tebar pesona jugalah" ucap Hadi lirih sembari menyikut lengan Satria.
"Resiko.." jawab Satria singkat.
"Resiko apa..?" tanya Hadi penasaran.
"Resiko jadi orang jelek.😜" jawab Satria sembari terkekeh.
Hadi melongo, lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"huuuh..dasar..!" ucapnya sembari mengekori Satria menyusuri koridor rumah sakit.