
"Sayang.. Ini sepertinya ada sabotase terhadap perusahaan Bram yang diwariskan kepada Satria.." ucap Rakesh, sembari menunjukkan layar laptopnya.
Ayunda mendekati Suaminya,Ia mencoba memperhatikan apa yang tertera didalam layar laptop tersebut.
"Presedir perusahaan atas nama Hadi...?" ucap Ayunda, membaca nama depan pemimpin utama perusahaan almarhum anaknya.
"Apakah mereka sedang memainkan suatu peran..? Dan hingga kini kita juga tidak tahu dimana keberadaan Satria.." Ucap Rakesh, semakin curiga.
"Siapa Satria sebenarnya.? Benarkah Ia anak kandung Bram dan Jayanti..? Atau hanya anak adopsi semata..?" Rakesh terus ingin mengulik kebenarannya.
Ayunda seakan merasakan kepalanya sangat sakit, Ia tidak dapat membayangkan jika kenyataannya nanti Satria benar bukanlah darah mereka.
"Bagaimana ini Sayang..? Apa yang harua kita lakukan..?" tanya Ayunda dengan hati yang sangat risau.
"Aku akan mencari tau kebenarannya, Jika terbukti, maka Aku akan menuntut kepengadilan atas pemalsuan identitas dan akan aku batalkan semua hak waris." ucap Rakesh berapi-api.
Rasa kesal yang sangat mendalam membuatnya begitu ingin segera menemukan Satria, dan mengungkap kebenarannya.
*******
Jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Satria sudah mengemasi barang-barangnya. Hanya pakaian yang seadanya saja. Ia ingin segera berangkat ke kota. Ia tidak tega melihat Hadi jika harus menerima imbas dari semua permasalahan yang ada.
Setelah selesai dengan semuanya, Satria mengetuk pintu kamar Mala. "Bu.. Satria berangkat sebelum subuh.." ucapnya, membangunkan Mala.
Mala mengusap kedua bola matanya, masih mengantuk. Namun tersentak karena panggilan Puteranya.
Begitu halnya dengan Mirna, gadis yang kini tinggal dirumah itu, untuk sementara waktu tidur bersama Mala, sedangkan Bayu tidak pulang kerumah malam ini.
Mala berjalan dengan sangat sempoyongan, dan membuka pintu kamar. "Mengapa begitu pagi sayang." Ucap Mala parau, karena baru bangun tidur.
__ADS_1
"Biar cepat sampai Bu, kasihan Hadi.." jawabnya dengan cepat.
"Ibu ikut.. " Ucap Mala, lalu mengambil tas berisi pakaian yang sudah disiapkannya juga.
Satria tertegun. Lalu bagaimana dengan gadis itu..?" tanya Satria bingung, sembari menggerakkan kepalanya menunjuk kearah Mirna yang juga terbangun.
Mala menoleh kearah sang gadis. "Bawa saja.." jawab Mala dengan cepat, lalu meminta Mirna untuk segera membersihkan dirinya.
Gadis itu pun mematuhi perintah Mala. Lalu Mala beranjak ke kamar mandi dapur untuk membersihkan diri.
Satria tak mampu menolak Ibunya. Saat menunggu dua wanita itu membersihkan diri. Satria duduk di sofa, meraih phonselnya yang sudah sangat lama tidak disentuhnya.
Ia membuka aplikasi hijau. Ada ribuan notif dari nomor seorang gadis. "Syafiyah.." ucapnya lirih, lalu dengan cepat membuka notif tersebut.
Ribuan kata 'Apa Kabar' dan juga kata 'Rindu' memenuhi notifikasi pesan tersebut.
Satria dengan cepat membalasnya. "Assallammualaikum Syafiyah.. Maaf, baru buka phonsel.. Apa kabarmu..? Semoga Kamu baik-baik saja.." balas Satria. Namun sepertinya gadis itu lagi off.
"Maaf sekali lagi untukmu, sepertinya Aku membuatmu terlalu lama, namun setelah Aku menyelesaikan masalahku, Aku janji akan menemuimu.. Dan Janji seorang laki-laki itu harus ditepati.." lalu Satria mengirimkan pesan itu kembali, dan menon-aktifkan phonselnya. Ia menyimpannya didalam tasnya.
Saat bersamaan, kedua wanita itu sudsh selesai membersihkan diri. Mala memberikan pakaiannya kepada Mirna, dan membantu gadis itu mengenakan hijab.
Saat keduanya keluar dari kamar , Satria sampai terperangah melihat keanggunan sang gadis dengan balutan hijab tersebut.
Lalu Ia segera memalingkan wajahnya, dan beranjak dari duduknya, sembari memungut tas dan berjalan keluar rumah, menuju garasi mobil.
"Bu.. Tolong sekalian kunci pintu rumah, Satria mau ke garasi mobil." ucapnya sembari menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya. setelah memanaskan mesin mobilnya, Ia meminta kedua wanita agar segera menaiki mobil, dan mereka segera berangkat.
Mirna yang tak pernah menaiki kendaraan itu seakan merasa bingung, namun Ia berusaha untuk tenang.
__ADS_1
Saat mobil melintasi rumah Syafiyah, Pemuda melirikkan matanya, menatap rumah panggung yang terbuat dari kayu itu, dan melihat kamar tempat sang gadis tertidur. "Dia masih tertidur.." ucapnya lirih, lalu melajukan mobilnya.
Sedangkan Mala terdiam sedari tadi, Ia masih memikirkan apa hubungan Bayu dengan semuanya. Mengapa Hadi memaksa untuk Bayu agar membantu mereka, sedangkan saat ini Bayu menghilang.
******
Hadi kian gelisah, Ia tak dapat tidur hingga saat ini. Banyak pekerjaan yang dibatalkan tiba-tiba. Bahkan proyek besar yang sudah ditanda tangani harus tertunda karena permasalahan yang ditimbulkan oeh Rakesh. Pria senja itu melayangkan surat gugatan kepada Hadi, dan menuduhnya sebagai sabotase perusahaan.
Rakesh menemukan beberapa informasi jika Hadi sebagai pemilik setengah saham dari perusahaan, dan ini sangat mencurigakan sekali. Sehingga Rakesh berkesimpulan jika Hadi telah melakukan kelicikan.
Sebenarnya Hadi bisa saja membalas dengan menunjukkan bukti pembelian saham, karena saat penyerahan saham oleh Satria kepada dirinya, Kakaknya itu membuat jual beli saham, bukan hibah saham.
Namun, Rakesh saat ini sedang mencari tau tentang DNA Satria, dan akan melakukan tindakan pembatalan warisan jika terbukti Satria bukan gen dari Bram dan Jayanti. Hal ini yang membuat Hadi masih tanpa tindakan apapun.
Hadi memandang Shinta yang masih terlelap tidur. Wanita itulah yang menguatkan hatinya dan membuatnya masih tetap untuk bersemangat.
"Jangan takut sayang.. Aku pewaris tunggal perusahaan dan aset-aset papa, dan kamu juga seorang dokter kandungan genius.. Maka kita dapat mendirikan rumah sakit terbesar dikota ini.. Jangan pernah takut melepaskan apa yang harus dilepaskan.." ucap Shinta siang tadi, saat meluhat surat layangan gugatan dari Rakesh.
Hadi merasa sangat beruntung bertemu dengan Shinta, dimana wanita itu memberikannya kekuatan disaat Ia sedang terpuruk, dan selalu mendukungnya, bukan sebaliknya, berlari meninggalkannya.
Namun, semua itu, karena Shinta juga tau dari awal seperti apa kehidupannya, bukan berasal dari kalangan keluarga orang berduit.
Hadi menghela nafasnya, mengecup lembut kening Shinta, lalu pergi kekamar mandi, berniat untuk bersuci, dan melakukan shalat sunah, untuk mengadukan segala permasalahan hidupnya.
Dilain sisi, Chandra diam-diam telah merencanakan sesuatu, jikapun Hadi sampai ditendang dari perusahaan milik Satria yang kini sedang kisruh, maka Ia sudah menyiapkan mengangkat Hadi sebagai presedir baru diperusahaannya, karena Ia berniat ingin pensiun dari perusahaannya, dan ingin membangun usaha yang terbilang santai untuknya.
Ternyata saat ini Chandra sudah membuka hati umtuk seorang wanita yang pernah menjadi masa lalunya saat dikampus dulu, dan kini sedang merintis usaha kuliner.
Chandra berniat akan membantu wanita itu untuk membangun dan mengembangkan usahanya dalam membuka satu cabang lain untuk memeperluas usahanya.
__ADS_1
~Berani membuka hati untuk hati yang lain, agar tidak terpuruk pada masa lalu, adalah tindakan yang tepat untuk membangun mental yang sehat..!~