
Mala mempersiapkan bekal untuk sarapan dan makan siang Hadi beserta Shinta dan Chandra.
Karena saat perjalanan datang kekampung halaman, mereka sangat sulit mendapatkan warung makan, bahkan sempat dikerjai oleh Nini Maru.
Saat Ia sedang sibuk dengan pekerjaannya didapur, Hadi datang menghampirinya. " Bu.. Apakah Ibu tidak ingin mengubah pendirian Ibu..? Hadi tidak tega meninggalkan Ibu sendirian disini.. Apakah tidak lebih baik Ibu ikut dengan Hadi saja kekota..?" Hadi mencoba merayu Ibundanya yang bersikukuh tetap akan berada di kampung halaman.
"Itu sudah keputusan Ibu, dan tidak dapat ditawar-tawar lagi.. Ibu juga menunggu kakakmu kembali dari hutan larangan, membawa misi yang sangat berat, lalu apakah Ibu tega meninggalkannya disini sendirian..?" tanya Mala dengan hati yang terasa pilu.
Tak ingin menyakiti hati Ibunya, Hadi akhirnya menyerah. "Baikalah Bu, Hadi tidak ingin memaksa, namun jika Ibu berubah fikiran, Iabu bisa menghubungi Hadi, dan siap menjemput Ibu kapanpun mau.." ucap Hadi, lalu memeluk erat Mala dengan penuh cinta kasih seorang anak.
Chandra mencuri dengar pembicaraan keduanya, namun Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk terus mendesak Mala.
Sikapnya yang kukuh terhadap pendiriannya, membuat Ia tak mampu merayunya.
Chandra mendengar derap langkah Hadi menuju ruangan tempat Ia menguping. Lalu Ia bergegas menuju sofa dan berpura-pura duduk disana.
Setelah Hadi memasuki kamarnya, Chandra mengambil kesempatan untuk kembali mengintai Mala yang sedang mempersiapkan bekal dalam wadah rantang yang akan diberikan kepada Hadi sebagai bekal perjalanan mereka saat kembali pulang.
Mata indah milik wanita itu tak mampu Ia hilangkan. Rasa cinta yang dulu pernah bersemayam dihatinya kian tumbuh dan tak pernah Ia mampu hilangkan.
Mala beranjak dari dapur dengan menenteng rantang dan 2 wadah makanan yang dibawanya menggunakan tangan satunya, Ia terlihat sangat kerepotan.
Chandra datang mencoba membantu. "Mari saya bantu.." Chandra mencoba menawarkan bantuan.
Mala menoleh ke arah Chandra yang tiba-tiba saja sudah berada disisi kirinya..
"Tidak perlu, saya masih bisa.." jawab Mala dingin, semabri terus melangkah dan menuju pintu utama.
"Seketus itukah dirimu padaku..?" ucap Chandra dengan perasaan yang begitu perih.
Mala terus berjalan, dan menuju mobil lalu memasukkan bekal yang sudah siapkannya, tanpa mengindahkan ucapan Chandra.
__ADS_1
Saat Ia kembali kedalam rumah, Chandra sudah menghadangnya "Katakan padaku, apa yang membuatmu begitu membenciku..?" tanya Chandra dengan melintangkan tamgannya agar Mala tak dapat melewatinya.
Mala mendengus kesal. "Kita adalah besan, dan hargai perasaan Hadi dan Shinta.." jawab Mala dengan setenang mungkin.
"Bohong.. Bukan itu alasan sebenarnya.. Aku yakin kamu memiliki sebuah rahasia yang kamu tutupi. Aku hanya ingin kau tau, saat Mama memisahkan kita disimpang jalan, aku berusaha menjemputmu kembali, namun saat aku kembali, Roni sudah terlebih dahulu memboncengmu pulang" ungkap Chandra tentang peristiwa masa lalu mereka.
"Saat Mama memaksaku berangkat kekota dan tinggal disana, aku ada datang kembali kekampung ini, Namun, kamu sudah menikah dengan Roni.. Lalu, mengapa harus aku yang dipersalahkan sepenuhnya dalam hal ini..?" tanya Chandra dengan sedikit penekanan.
Deeeeeeggh..
Mala merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ia tidak mengerti mengapa Chandra harus mengungkit masa lalu mereka. Lalu, apakah dalam hal ini Ia ingin mencari sebuah pembelaan. Mala menyadari jika itu bukan sepenuhnya salahnya, namun.. Cinta tanpa restu itu sangat berat. Apalagi Lili dengan keras menentang hubungan mereka.
"Hadi..? Apakah ibumu mengetahui Hadi adalah anakku..? Dan apakah Ia juga berniat memisahkan keduanya..? Cukup hal itu Ia perbuat padaku, jangan pada anakku, karena aku tidak akan tinggal diam jika sampai Ibumu mencoba menyakitinya.." tiba-tiba saja sisi gelap muncul begitu saja, dan ucapannya seperti sebuah ancaman.
"Aku akan berjanji mereka tetap baik-baik saja.. Percayakan itu semua padaku.." ucap Chandra bergetar. Ia tidak menyangka jika Mala meliliki sisi gelap yang jika Ia marah, akan begitu amat menakutkan.
"Baguslah.. Itu tanggung jawabmu sebagai seorang papa.. Dan masalah hubungan kita, jangan pernah memaksanya, biarkan semua mengalir apa adanya. Ikuti saja garis nasib yang akan membawa kita kemana.." ucap Mala dengan berusaha tenang.
Mala berusaha untuk sebaik mungkin memberikan jawaban agar Chandra tidak sakit hati, dikarenakan ada Hadi yang harus tetap berada diposisi aman.
"Untuk sementara ini, kita tetap menjaga hubungan besan diantara kita, namun jika takdir mengatakan lain, itu adalah kehendak-Nya.. Jangan pernah memaksakan apa yang sudah menjadi ketetapannya.. Kita berteman.. Itu mungkin lebih baik.." Jawab Mala dengan setenang mungkin.
"Tetapi aku ingin memilikimu dalam ikatan pernikahan, aku begitu tersiksa dengan perasaanku.. Bayanganmu tak pernah bisa aku singkirkan sedetikpun." Jawab Chandra memelas.
"Jangan memaksa.." ucap Mala, lalu ingin beranjak kedapur untuk menyiapkan sarapan mereka.
Namun Chandra yang sudah tidak dapat menahan perasaannya, manarik tangan Mala, sehingga wanita itu tanpa sadar terhuyung, dan jatuh pada pelukan Chandra. Pria yang sudah gelap mata itu tak mengindahkan lagi tata krama, Ia dengan sekuat tenaganya mempererat dekapannya, lalu mendaratkan kecupannya dibibir Mala dengan luapan kekesalan.
Secara refleks, Mala meloloskan diri, lalu...
Plaaaak..
__ADS_1
Suara tamparan mendarat dipipi Chandra, dengan meninggalkan 5 bekas cap jari dipipi Chandra.
Bersamaan dengan hal itu, Hadi dan Shinta muncul dari balik pintu kamar, dan menyaksikan adegan penamparan Mala ibunya Hadi terhadap Chandra ayahnya Shinta.
Seketika suasana menjadi hening, bagaikan waktu yang terhenti.
Hadi dan Shinta terdiam terhenyak, lalu berdiri mematung ketika melihat semua adegan yang tersaji didepan mata mereka.
Mereka dapat memastikan jika ada sebuah peristiwa yang terlewatkan oleh mereka, sehingga terjadi penamparan itu.
Shinta dapat memastikan jika Papanya nekad melakukan sesuatu yang berada diluar kendalinya. "Sebesar itukah cinta papa pada Ibu mertuaku..? Jika itu benar, lalu aku bisa apa..? Karena itu menyangkut perasaan. Namun Papa memilih waktu yang tidak tepat.. Karena Ibu mertua dalam masa berkabung.
Hadi merasa bingung harus berbuat apa, dan mereka tidak melihat adegan sebelum terjadi penamparan, maka keduanya berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi.
"Bu.. Sarapannya dimana..? Tanya Shinta mencoba mencairkan suasana pagi yang begitu mencekam.
Mala mengjela nafasnya, lalu beranjak kedapur dengan rasa kesal.
Sedangkan Hadi menuju mobil untuk memasukkan perlengkapan mereka yang akan dibawa kembali pulang ke kota.
Chandra diam termangu, namun Ia merasa sedikit puas, karena telah berhasil merengkuh bibir wanita itu meski secara paksa.
Ia tersenyum licik, meski mendapatkan hadiah sebuah tamparan, itu tak membuatnya merasa sakit.
Shinta mengikuti Mala kedapur. Tampak wanita masih kesal dengan pertengkaran terhadap papanya. Shinta datang menghampirinya, lamu memeluk Mala dari arah belakang.
"Atas nama Papa Shinta meminta maaf jika ada perbuatan Papa yang membuat Ibu merasankesal atau tersinggung.. Jangan membenciku, karena ulah Papa.. Mungkin Ia dalam masa labil, sehingga tidak dapat mengendalikan perasaannya." ucap Shinta lirih semabri mengeratkan pelukannya.
"Ini semua tidak ada sangkut pautnya denganmu.. Jangan khawatir, kamu tetaplah menantu ibu yang paling baik dan sudah Ibu anggap sebagai anak perempuan Ibu.." Jawab Mala dengan suara bergetar. Bagaimana mungkin Ia melimpahkan kesalahan itu Shinta, jika itu semua bukan kesalahannya.
Shinta melepaskan pelukannya, lalu mengecup pipi Ibu mertuanya. "Shinta sayang Ibu.." ucap menantu perempuannya, lalu kembali memeluk Mala dengan sebuah rasa ketulusan.
__ADS_1
Mala merasakan sebuah kehangatan dihatinya, Ia tidak ingin rasa itu pergi.. Sebuah cinta kasih yang tulus dari seorang menantu perempuan.