Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Goa-5


__ADS_3

Satria memulai tirakat pertamanya, Ia memulai kembali menghafal rafal mantra tersebut. Meskipun Ia merasa kesepian karena Widuri menghindarinya, namun Ia harus fokus dalam menyelesaikan misinya.


Sebelum memasuki waktu subuh, Ia sudah menghafal rafal mantra tersebut. Setelah waktu subuh tiba, Ia menunaikan ibadah shalat subuhnya, lalu melanjutkan dzikir 'Allahu' dalam meningkatkan ketajaman mata bathinnya.


Setelah selesai dengan dzikirnya, Satria kembali mengulangi membaca rafal mantra ajian segoro geni sebanyak 333 kali, lalu meniupkan ke kedua telapak tangannya, dan menyapukan keseluruh tubuhnya, agar hawa ghaib dari kesaktian ajian itu merasuk kedalam tubuhnya.


Setelah Itu, Satria beristirahat sejenak, menyudahi dzikirnya, dan mencoba untuk kembali menyusuri goa, untuk mencari petunjuk berikutnya.


Satria menatap dinding goa, yang mengeluarkan sebuah cahaya berwarna keperakan. Setelah Ia menghampirinya, ada sebuah tulisan dengan beberapa kaimat sebagai petunjuk tentang berbagai hewan yang dihalalkan dimakan, namun tidak untuknya selama melakukan tirakatnya.


Satria mencoba mencerna kembali apa yang menjadi maksud dari kalimat tersebut.


"Hewan-hewan itu halal, tetapi tidak padaku.." ucap Satria dengan mengerutkan keningnya karena rasa penasarannya yang teramat kuat.


Ia mencoba mengingat apa yang baru saja diterimanya sebagai sebuah petunjuk.


Lalu petunjuk lain kembali muncul dihadapannya. Sebuah kalimat yang lumayan panjang untuk dimengerti maknanya. Kalimat itu bertuliskan " dua rukuk dipetengahan malam, 3x kemudahan setelah kesulitan, 3x keikhlasan setelah ibu surah.."


Satria kembali mendapatkan teka-teki yang membuatnya semakin bingung untuk memecahkan apa maksud dari petunjuk yang dimaksud dalam kalimat yang tertulis didinding goa tersebut.


Satria berdiri terpaku, mencari makna yang tersirat dalam tulisan didinding goa tersebut.


Ia mencoba memecahkan satu persatu setiap petunjuknya. "2 rukuk dipertengahan malam.? Apakah itu shalat malam 2 rakaat..? Bertahajjud..? Namun sepertinya waktunya tepat 12 malam." Satria mencoba menerka-nerka dengan sebaik-baiknya, agar Ia tidak salah kaprah dalam melakukan tirakatnya.


"Kemana Widuri..? Aku ingin meminta bantuannya untuk memecahkan teka-teki ini.." Ucap Satria yang celingukan mencari keberadaan sang Peri.


Tak mendapati keberadaan Widuri, Satria mencoba memecahkan teka-teki itu sendiri. "3 kali kemudahan setelah kesulitan,setelah ibu ayat..?" Satria mencoba berfikir keras untuk mencari maknanya. "Bukankah Ibu surah adalah suratul Fatiha..?" Satria berguman lirih.


Kemudian Ia kembali membaca kalimat 3x kemudahan. Sebuah petunjuk yang rumit, yang masih samar untuk dimengerti.

__ADS_1


"Kemudahan ini sebuah perbuatan ataukah surah juga..?" Satria kembali berfikir, mencoba menelusuri maknanya.


Seketika suasana hening.


Satria merasakan sedikit pusing dikepalanya, karena teka-teki yang masih misteri.


"Jika sesudah ibu Surah, bukankah itu merupakan sebuah surah juga..?" ujar Satria seorang diri. "lalu surah apa yang menjelaskan tentang kemudahan..?" Satria kembali berfikir, membuatnya semakin penasaran.


Satria yang tampak gelisah memecahkan petunjuk itu sendirian, Ia mencoba berbaring, memejamkan matanya, berharap menemukan penerangan dalam kegelisahannya.


"Kemudahan setelah kesulitan..? Bukankah itu Surah An Nasr. Dimana Allah menjelaskan dibalik kesulitan ada kemudahan..? Apakah dirakaat pertama aku harus membaca surah An Nasr sebanyak 3x setelah surah al fatiha..?" Satria tampak sumringah setelah berhasil memecahkan satu teka-tekinya.


Kini Ia harus memecahkan teka-teki berikutnya. "3x ikhlas..? Hemm aku bisa menebaknya.. dirakaat kedua aku harus membaca surah Al Ikhlas sebanyak 3x setelah Al fatiha." ujar Satria tampak bersemangat.


Ya.. Ia kini sudah dapat memecahkan teka-teki itu, sehingga akan memudahkannya untuk melakukan tirakat tersebut.


Sementara itu, Widuri yang kini berada diluar goa, tampak sedang mengobati lukanya yang tampak robek dan lebam.


Ia tidak membayangkan jika saja cakaran Nini Maru mengenai Satria, mungkin luka lebih parah akan dialami oleh Satria.


"Mengapa Iblis betina itu semakin kuat..? Apakah Ia juga melakukan pertapaan..?" Widuri mencoba menerka-nerka apa yang kini menjadi kekhawatirannya.


Peri itu mengingat kembali kejadian malam tadi, saat Ia mencoba mengawasi kondisi Satria yang masih terlelap tertidur. Ia merasakan jika sebuah hawa jahat terasa begitu sangat dekat mengitari sekitar goa.


setelah Widuri memeriksanya, ternyata Nini Maru sedang berputar-putar diluar goa hendak masuk kedalamnya. Sementara sekitaran goa telah diberi pagar ghaib oleh Chakra Mahkota dan Widuri yang merangkap menjadi satu.


Iblis itu merasa marah, karena tidak dapat menembus pagar ghaib tersebut. Lalu dengan rasa kesal, Ia mencoba menyerang Widuri yang saat itu sedang berada diluar pintu masuk goa.


Widuri yang melindungi dirinya dengan menggunakan sayapnya, maka sayap itu yang mendapat luka cakaran dan kekuatan tenaga dalam milik Nini Maru, sehingga menimbulkan luka robek dan lebam.

__ADS_1


Mendapati Widuri terluka, Chakra Mahkota menampakkan wujudnya, lalu memberikan serangan balasan kepada Nini Maru dengan menyemburkan api berwarna jingga kepada Iblis betina tersebut.


Mendapati lawan yang tidak seimbang, Nini Maru memilih untuk pergi dan meningalkan tempat itu. Ia ingin menuntaskan tumbalnya satu janin lagi untuk menyempurnakan kekuatannya.


Kini Widuri harus lebih berhati-hati lagi dalam menjaga keamanan Satria yang sedang melakukan misinya.


Bahaya bisa saja datang dari manapun, karena ilmu segoro geni dapat memusnahkan makhluk halus karena hawa panas yang ditimbulkannya.


Oleh sebab itu, ajian segoro geni sangat ditakuti oleh para makhluk ghaib yang bersifat pembangkang. Sehingga para demit nakal berusaha sedaya upaya untuk menggagalkan tirakat Satria.


Widuri merasakan hawa jahat telah mengelilingi sekitaran goa. Ia tau ini akan sangat mengangganggu konsentrasi Satria.


Dan tampaknya hawa jahat itu berasal dari tempat lain yang menuju ke goa.


Hawa jahat yang laksana deru asap hitam menggumpal dilangit yang tampak cerah. Sepertinya mereka sedang mencari kesempatan untuk dapat menyerang goa kapan saja.


Widuri merasakan kekuatan besar yang datang dari arah lain itu sedang mengatur siasat.


Sang Peri tampak sangat waspada. "Apa ini..? Siapa yang mengirim mereka kemari..? " Widuri merasakan sebuah kecemasan sekaligus kewaspadaan. "Chakra Mahkota.. Datanglah.. Aku merasakan sebuah hawa jahat sedang mengincar goa.." Widuri berguman lirih dengam perasaan was-was.


Chakra Mahkota menampakkan wujudnya " Tenanglah.. Aku bersamamu, dan tidak akan aku biarkan kamu menanggung semua ini sendirian.." ujar naga itu dengan wajah garangnya. "Tetapi tampaknya mereka tidak akan menyerang saat ini, mereka menunggu waktu gelap, kita biarkan saja sejenak." ucap Chakra Mahkota dengan yakin.


Lalu Naga itu menggeliatkan tubuhnya, sorot matanya tajam menatap gumpalan asap hitam yang menggatung diawan dengan siap siaga melakukan kekacauan untuk merusak konsentrasi Satria dalam menyelesaikan misinya.


"Lalu, apakah kita hanya diam saja menunggu hingga musuh menyerang..?" tanya Widuri penasaran.


"Tidak.. jika kita yang menyerang terlebih dahulu, itu akan memicu lebih banyak lawan yang datang, karena menganggap kita menyerang tanpa alasan. Bisa saja mereka mengatakan hanya bersantai disana.." jawab Chakra Mahkota dengan santai.


Widuri menoleh kepada Chakra Mahkota " terserah kamu sajalah.." jawab Widuri pasrah, lalu Ia mengepakkan sayapnya, mencari tempat bersantai sembari mengawasi setiap bahaya yang datang.

__ADS_1


Sedangkan Chakra Mahkota memandang kepergian Widuri dengan menggelengkan kepalanya, lalu menghilang begitu saja.


__ADS_2