
Para pengawal itu bertampang bengis. Mereka juga merasa geram dengan apa yang diucapkan oleh Hadi dan Shinta.
Kalimat-kalimat suci itu membuat mereka merasa panas dan gerah. Bahkan hampir membakar mereka.
Namun, saat mereka dipaksa keluar, Hadi melihat sekelebat bayangan, Hadi melihat dengan jelas jika itu adalah Satria bersama dengan seseorang berjubah putih sedang melayang diudara melintasi pasar tersebut.
Seketika Hadi berteriak memanggil nama kakaknya.
"Kaaaak..Satria... Pulaaaaaang.." teriaknya dengan kencang, sehingga menggemparkan alam.
Lalu para pengawal itu melemparkan keduanya dengan kasar.
"Kalian terlalu berisik dan mengganggu.." ucap seoarng pengawal berwajah sangar dan kasar.
Buuuuuugh..
Seketika keduanya berada dialam dunia.
Keduanya mengerjapkan mata bersamaan. Memandang kesekelilingnya.
Suasana sangat gelap, ternyata sudah malam hari. Tampak banyak sekali suluh bambu yang terpasang mengenglilingi mereka.
Mereka menyadari, jika mereka berada di tempat awal mereka mengikuti iring-iringan tersebut.
"lalu tampak Hamdan sedang duduk bersila beserta rombongan orang-orang berjubah putih yang sama dengannya, mereka duduk membentuk lingkaran dan berdizikir terus menerus.
Setelah Hadi dan Shinta terlihat dihadapannya, Hamdan dan yang lainnya membuka mata mereka. lalu Hamdan beranjak dari duduknya, dan menghampiri Hadi dan Shinta, yang kini sedang terduduk diatas sebuah kain berwarna putih.
"Apakah perjalanan kalian sangat melelahkan..? Tanya Hamdan kepada keduanya.
Hadi dan Shinta tampak kebingungan, Mereka tidak menduga jika Hamdan mengetahui mereka baru saja berjalan-jalan dari pasar tradisional yang terlihat sangat aneh.
Sebelum keduanya menjawab. Hamdan berdiri tegak dan meminta keduanya untuk berdiri.
"Kita pulang dulu kerumah, nanti kita lanjutkan pertanyaannya." ujar Hamdan. Lalu meminta kepada para murid-muridnya untuk membubarkan diri dan berterima kasih atas segala keikhlasan yang diberikan oleh mereka dalam membawa Hadi dan Shinta kembali.
Tampak disekitarnya orang ramai berkumpul dipinggir jalanan. Mereka memandangi Shinta dan Hadi yang juga tampak seperti linglung karena perjalanan ghaib mereka yang menjadi pengalaman luar biasa dan juga menegangkan.
__ADS_1
Hamdan mengantar keduanya masuk kedalam mobil mereka sendiri, lalu Hamdan menyetirnya, dan memabawa keduanya pulang kerumah Mala.
Sementara para warga mulai membubarkan diri sembari menggosip ria tentang menghilangnya sepasang suami istri yang secara tiba-tiba.
Disisi lain, Mala berjalan mondar mandir sembari mennggit jemari telunjuknya yang sangat lentik.
Rasa cemas dan khawatir tampak sangat begitu kentara.
Bagaimana mungkin Ia tidak cemas dan kalut, sedangkan Ia baru saja kehilangan Satria dan Roni suaminya.
Lalu kali ini, Ia mendengar kabar jika Hadi dan Shinta hilang dengan tiba-tiba.
Jika saja imannya tidak kuat, maka Ia sudah mengalami depresi atau bunuh diri. Dengan terus berdoa, memohon kepada Allah agar Hadi dan Shinta segera ditemukan, begitu juga dengan Satria.
Chandra yang menatap Mala sedari tadi tidak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya Ia mendekap wanita itu, memberikan kenyamanan pada wanita pujaannya, namun apalah daya, karena saat ini yang menghilang itu bukan hanya anaknya, tetapi juga anak perempuan satu-satunya juga ikut menghilang bersama anak lelakinya.
Apa yang dikhayalkan Chandra dari rumah, tidaklah sesuai ekspektasi. Semuanya terasa sangat kacau.
Seharusnya, jika saja kepergian Hadi dan Shinta bukan karena menghilang secara misterius, mungkin malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan baginya, karena dapat berduaan dengan sang pujaan hatinya.
Wanita cantik itu tampak termangu, menatap nanar pada mobil tersebut, yang kini terparkir dihalaman rumahnya. Ia menantikan siapa yang datang dengan harap-harap cemas. Ia tau jika mobil milik Hadi, namun Ia ingin memastikan siapa yang datang.
Mala berjalan menuju teras, begitu juga Cahandra yang mengekori Wanita itu dari arah bekakang.
Tampak sepasang kaki turun dari pintu mobil bagian tengah. Mala mengenali kaki itu. " Hadi.." ucap lirih, dengan hati penuh debaran tak menentu.
Ia masih dapat mengingat sepasang kaki itu meskipun dalam gelap. Dengan bergegas Ia mengahampiri mobil, memastikan jika itu Hadi.
Saat kepala Hadi menyembul dari balik pintu, Ia segera mempercepat langkahnya, dengan tak sabar Ia menciumi dan memeluk erat anak lelakinya. Entah perasaan apa yang Ia kini rasakan. Hampir saja Ia menjadi gila karena harus kehilangan orang-orang yang dicintainya secara beruntun.
Hampir saja Ia mempersalahkan ini semua kepada Tuhan, bahkan Ia sempat merutuki apa yang Tuhan takdirkan untuknya. Ia mengatakan jika Tuhan telah membuatnya sangat menderita. Namun, ketika melihat Hadi dan menantunya kembali, Ia menarik lagi kata-katanya.
Hadi dan Shinta masih tampak sangat lelah. Bahkan mereka masih tampak diam seribu bahasa.
Dimana mereka seolah bisu dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. suara mereka tercekat ditenggorokan.
Mala membimbing Hadi masuk kedalam, sedangkan Chandra merangkul Shinta dan menggendongnya karena tampak lemah sekali.
__ADS_1
Lalu keduanya duduk dan disandarkan didinding. Mata mereka masih tampak sayu.
Sedari pagi mereka menghilang, hingga dini hari baru kembali. Mereka merasa hanya sekian menit saja berada ditempat itu, namun ternyata hampir seharian menghilang.
Hamdan meminta dua gelas air putih, Ia duduk bersila menghadap keduanya. Lalu tak selang beberapa lama, Mala membawa dua buah gelas air minum dan diberikan kepada Hamdan.
Hamdan menerimanya, lalu memejamkan matanya, merafalkan doa, dan berkonsentrasi, sembari menarik satu persatu bulir tasbihnya.
Setelah sekian menit, Ia membuka matanya, lalu mencelupkan tasbih tersebut kedalam gelas berisi air putih tersebut satu persatu.
Hamdan meminta Mala agar memvantu meminumkan kepada keduanya. Lalu Mala menuruti perintah Hamdan dan meminumkan kepada keduanya.
Setelah meminum air Doa tersebut, Hadi menyebutkan satu nama.
"Kak Satria.." ucapnya dengan kencang, matanya nanar menatap lurus kedepan.
seketika semuanya saling bertatapan. Namun Hamdan meminta mereka untuk tenang, dan membiarkan Hadi untuk mengembalikan kesadarannya terlebih dahulu.
Mala yang tampak gelisah mendengar nama Satria disebut, membuatnya semakin penasaran.
Namun karena Hamdan melarangnya, Ia mengurungkan niatnya mencecar Hadi dengan segala pertanyaan.
Setelah Hadi mulai penuh kesadarannya, Ia menatap Shinta disampingnya. Memeluk wanitanya dengan cinta, seolah tak kngin kehilangan sedetikpun.
Lalu Ia memandan kepada Mala, dengan tatapan sendu. Ingin rasanya Ia menceritakan apa yang dilihatnya saat terakhir hendak di tendang keluar oleh warga ghaib itu.
Namun Hadi menyelanya. "Mala.. Ambilkan daun bidara yang siang tadi kuberikan padamu, dan bawa satu ember air beesih, untuk mensucikan Shinta dari pengaruh jahat Nini Maru.
Lalu Mala menganggukkan kepalanya, meski sebenarnya Ia ingin sekali bertanya tentang Satria.
Mala beranjak kedapur, mengambil daun bidara yang disimpannya didalam lemari pendingin. Sedangkan Chandra membantunya mengambil satu ember air dan membawanya kedepan.
Mala menyerahkan daun bidara itu kepada Hamdan. Dan Hamdan menerimanya.. Lalu merafalkan doa-doa dan pengharapan agar Shinta terbebas dari pengaruh jahat Nini Maru.
Bersambung...
Makan siang dulu..
__ADS_1