
para pelayat mendatangi rumah duka Danu dan Midah. kabar duka meninggalnya Mira tersebar dengan cepat. para pelayat dayang memberikan bela sungkawa.
meninggal seorang gadis belia tentulah hal yang sangat begitu fenomenal. apalagi gadis cantik nan polos itu terkenal sangatlah pendiam.
para sahabatnya semasa sekolah juga tidak menyangka jika Mira secepat itu pergi meninggalkan mereka.
terlebih lagi pak Danu dan Mida. merekalah orang yang sangat terpukul dalam hal ini. Mida bahkan pingsan berilang kali. anak semata wayangnya pergi meninggalkan mereka.
Danu yang berduka masih menatap dengan nanar. segala kata nasehat yang diberikan para pelayat untuk menghiburnya, tak mampu mengobati hatinya yang sedang berduka.
mobil milik Reza menepi dihalaman rumah Danu. ternyata kabar meninggalnya Mira sampai juga ketelinganya.
orang terkaya didesa itu menjadi pusat perhatian warga. karena mereka mengetahui jika Mira bekerja dirumahnya. Ia membawa banyak sekali sembako, sebagai cara untuk mengungkapkan rasa bela sungkawanya terhadap Danu dan Mida.
warga yang melihatnya, menganggap Reza sebagai tuan yang dermawan.
tanpa merasa berdosa, Ia melangkah menemui Danu. lalu menyerahkan berbagai sembako yang sangat banyak. Ia begitu mampu bermuka dua dalam menutupi kesalahannya.
bahkan Ia memberikan sejumlah uang dalam amplop tertutup berwarna coklat. amplop tebal itu Ia berikan sebagai kompensasi untuk kematian Mira. Ia mengatakan kalau Ia sangatlah bersedih atas kepergian Mira.
****
ketika jenazah dimandikan, darah masih terus mengalir dari organ intimnya. para pemandi jenzah mengira itu dalah darah menstruasi. wajah pucat pasi penuh dengan duka.
Sri yang ikut memandikan jenazah merasa sangat berduka. karena baru saja kemarin Ia bertemu dengan Mira. namun hari ini mendapati gadis itu sudah tiada.
"tapi mengapa Mira bisa keguguran..? dia sendiri yang menggugurkannya atau ada orang lain..? atau si duda itu tidak mau bertanggungjawab atas pernbuatannya, sehingga memaksa Mira menggugurkannya..? jika benar itu terjadi, maka duda itu benar-benar brengsek." ucap Sri penuh tanda tanya
"aku akan mencari cara untuk membalaskan sakit hati dan derita Mira. sepertinya duda itu harus diberi pelajaran." Sri berjanji dalam hatinya.
setelah proses fardhu kifayah selesai. Sri berpamitan untuk pulang. saat pergi tadi Ia dibonceng oleh pak Danu, namun tidak mungkin Ia memimta antarkan pulang, karena pak Dalam kondisi berduka.
Sri berjalan menyusuri jalanan berbatu. Ia sangat lelah. sesaat sebuah mobil berhenti disisi kirinya. lalu Ia melihat Reza yang berada didalamnya. "mau tumpangan..?" Reza menawarkan.
__ADS_1
"sebaiknya aku baikin saja dulu dia, sembari mencari cara untuk menjebaknya." Sri mengangguk mengiyakan.
lalu Reza membuka pintu mobilnya, dan Sri masuk kedalam mobil.
setalah Sri berada didalam mobil, Reza melajukan mobilnya. Sri meliriknya. Ia sepert manusia tak memiliki rasa bersalah. begitu mampu bersandiwara.
biasanya, jika manusia sudah terbiasa melakukan tindak kejahatan, maka Ia akan mampu mengatur ritme jantungnya agar terlihat tenang dan santai, seolah-olah tidak terjadi seuatu.
"tadi dik Sri yang memeriksa Mira..?" Reza bertanya. sepertinya ada niat terselubung disana. maka berhati-hati.
"iya juragan.." ucap Sri dengan setenang mungkin.
"apa penyebab meninggalnya Mira..?" Reza berpura-pura tidak tahu.
Sri harus membohongi Reza, agar Ia dapat yerus memanfaatkan si duda brengsek. "kecapekan lalu anemia." Sri berupaya berbohong tidak mengetahui kejadian sesungguhnya. karena jika Ia jujur, bisa saja akan membahayakannya.
Sri harus mencari cara yang lebih rapi untuk membalaskan dendam Mira. lagipula Sri sudah berjanji tidak akan membuka aib Mira kepada siapapun. itu permintaan Mira sebelum akhirnya Ia meninggal dunia.
Sri menoleh kearah Reza "apakah pekerjaan Mira terlalu berat dirumah juragan..? sehingga membuatnya kecapekan dan anemia..? " Sri menyindir sembari menyelidiki.
Reza membalas tatapan Sri "dia bekerja tidak terlalu berat. hanya ringan-ringan saja." ucap Reza dengan senuum memyeringai.
"wooow..pintar sekali dia bersandiwara. ckckck.." Sri menggelengkan kepalanya.
Reza menghentikan mobilnya didepan tempat praktek bidan Sri.."terimakasih atas tumpangannya. ya." lalu Sri turun dari mobil.
"dik Sri..."Reza memanggilnya dengan lembut. Sri memutar tubuhnya. "ada apa juragan?" Sri bertanya.
"nanti malam saya datang ya..? sudah beberapa hari tindak memberikan suntikan, pasti dik Sri sudah merindukannya." Sri melongo mendengar ucapan Reza. baru saja Ia membuat nyawa seorang gadis melayang, dengan mudahnya Ia mengucapkan kata itu.
"untuk tiga malam ini mungkin tidak bisa juragan, soalnya saya mau takziah dirumah pak Danu. maaf ya juragan." ucap Sri sembari tersenyum datar.
Reza merasa kecewa. karena Ia sudah kehilangan satu korbannya, kini harus menahan hasratnya hingga tiga hari. "ah..masih ada Rianti. Ia sudah pulih dari nifasnya. kemarin saja sudah bisa aku garap." Reza berguman dalam hatinya.
__ADS_1
"kalau begitu saya pulang dulu ya dik Sri.." Reza berpamitan, lalu mengendarai mobilnya.
***
Reza berjalan masuk sembari tergesah-gesah. Ia menuju kamarnya dilantai dua. Ia membaringkan tubuhnya diranjang.
"mengapa pula si mira bisa sampai mati..? dasar bocah bodoh..apa dia tidak minum jamu atau minum obat.? kalau sudah begini aku juga yang rugi. berkurang satu mesin cetak janinku. padahal Mira sangat subur..sial.." umpatnya lirih.
[praaank...] gelas diatas meja nakas milik Reza tejatuh dengan tiba-tiba saja. Reza bingung mennapa gelas itu tiba-tiba saja jatuh.
Ia memunguti pecahan gelas itu, tanpa sadar, pecahan gelah menghores jemarinya. "aaaawww. sial.." Reza meringis kesakitan. darah mengucur dar luka tersebut.
Reza membuang pecahan gelas itu memalui jendela kamar samping yang menghadap semak belukar.
Ia membuangnya. sesaat Ia memandang ke arah semak.."Mala..sudah beberapa hari aku tidak menjenguknya. aku merindukannya. aku harus mencari cara agar dapat bertemu dengannya."
Ia tersenyum membayangkan wajah cantik Mala, ditambah perutnya yang membesar saat mengandung, menambah kesan exotis..
"jika saja pohon mangga itu masih ada, aku akan mudah untuk memgintainya. setiap hari aku dapat melihat wajah cantiknya. mungkin aku harus mencari pohon lain untuk tempat pengintaian.
[serrrrr...] desiran angin beserta aroma busuk memasuki kamarnya. muncul sosok Nini Maru. Ia merangkak didinding seperti cicak "turunlah Ni..jangan kebanyakan tingkah. nanti kalau jatuh aku juga yang repot" ucap Reza kesal, karena kehadiran Nini Maru yang tiba-tiba saja, membuat kayalannya terhadap Mala buyar.
Nini maru turun merayap dari dinding dan merangkak mendekati Reza. "malam ini malam jum'at kliwon. sediakan sesaji untukku. aku minta ayam bakar cemani." ucapnya dengan tatapan sangar.
Reza membalas tatapannya. "kalau sudah sore begini kemana harus aku cari ayam cemani Ni..?" ucap Reza kesal. "masih ada waktu, cepat turun dan carikan. kau harus memberiku sesaji sebagai perjaijan hubugan buhul kita." ucap Nini Maru tak ingin ditolak keinginannya.
"tetapi harus kemana kucari Ni..?" ucap Reza kesal.
"jangan menggerutu, jika tak ingin aku musnahkan semua kekayaan yang kau miliki." ancam Nini Maru.
Reza turun dari ranjangnya dengan wajah kesal. Ia bingung harus kemana mencari ayam cemani saat ini. hari sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Sri menghela nafasnya dengan sangat berat.
__ADS_1