
"hueeeek..hueeek...."
Shinta mengalami morning sickness. Rasa mual melanda perutnya. Ia sudah hampir satu jam lamanya berada dikamar mandi.
Hadi menghampirinya. Membelai lembut punggung Shinta. Ia merasa tak tega setiap pagi melihat istrinya selalu merasakan mual sehingga menguras habis isi perutnya.
Wajah putih itu tampak pucat. Sembari memegangi perutnya, Shinta kembali merasakan mual yang teramat dahsyat.
Setelah menghabiskan seluruh isi lambungnya, barulah Shinta merasa lega. Rasa pahit ditenggorakannya begitu sangat terasa.
Setelah membersihkan dirinya, Hadi membopong tubuh Shinta dengan lembut keluar dari kamar mandi.
"aku bisa jalan sendiri yank.." ucap Shinta sungkan. Ia merasa jika Hadi begitu sangat lembut padanya. Memperlakukannya bak seorang ratu. Meskipun terkadang hati Shinta merasa miris, karena Ia tidak dapat memberikan kehormatannya yang pertama kali kepada Hadi.
Namun Ia merasakan, jika Hadi benar-benar membuatnya merasa dicinta.
Hadi membaringkannya ditepian ranjang dengan sangat lembut. "kamu mau makan apa sayang?" tanya Hadi dengan lembut, sembari membelai perut Shinta yang masih terlihat rata.
"Apakah ayank mau membuatkan sarapan untukku?" tanya Shinta manja.
Hadi menganggukkan kepalanya. "tentu.." jawab Hadi singkat.
"susu kedelai hangat dan sepotong roti kering" ucap Shinta, sembari tersenyum manja.
Hadi menyambar bibir itu, baginya Shinta adalah candu yang tak dapat Ia tolak. Setalah menikah, Shinta merasa kewalahan berhadapan dengan Hadi, yang menurutnya ternyata lebih nakal dari apa yang Ia bayangkan selama ini.
"emmm.. Ayank.. Katanya mau buatin sarapan.." ucap Shinta manja.
Lalu Hadi menghentikan kecupannya. Ia beranjak pergi keluar dari kamar." tunggu dikamar saja." ucap Hadi dengan nada perintah.
Shinta menjawab dengan memanyunkan bibirnya. Hadi membalasnya dengan memonyongkan bibirnya dengan ungkapan kecupan. Lalu Shinta melemparkan bantal dengan gemas kearah Hadi. Lalu Hadi dengan cepat menghindar dan menutup pintu dari luar.
saat menunggu Hadi, Ia mencoba meluangkan waktunya untuk membuka aplikasi media sosial yang sudah lama tidak Ia buka.
Sesaat Ia mendengar suara desisan seperti ular.
Sssssshhhhtt...
Shinta merasa bergidik. Ia membayangkan jika saja ular itu berada didalam kamar, akan sangat membahayakannya, apalagi Shinta adalah phobia terhadap hewan melata, termasuk ular.
Sesaat Shinta melihat sebuah asap hitam keluar dari bawah ranjangnya. asap hitam itu semakin lama semakin membentuk wujud makhluk yang mengerikan.
"haaah..?! Mengapa Ia berada disini.?! Ucap Shinta memucat.
Ia beringsut dari tempat tidurnya, berjalan mundur menuju pintu. Namun naas, Hadi menguncinya dari luar.
Shinta mencoba membuka handle pintu berulang kali, namun tetap tak dapat dibuka. Shinta semakin panik.Ia terus mencobanya. namun tetap tidak terbuka.
asap hitam itu terus mendekatinya. "aku butuh janinmu.. Tidak akan ada yang selamat dari keturunan ki Karso." ucap Asap itu, lalu merangkak mendekati Shinta.
__ADS_1
Shinta semakin menggigil dan wajahnya memucat bagaikan kapas.
nafasnya tersengal dan memburu, gejolak didadanya tak mampu Ia bendung. Ia ingin berteriak sekuatnya. Namun suaranya tercekat di tenggorokannya.
🐛🐛🐛👻👻👻👻🐛🐛🐛
Hadi baru saja sampai dari membeli susu kedelai dan roti panggang. Ia memarkirkan motornya di dalam garasi. Lalu bersiul riang masuk kerumah, sesaat Ia melupakan yang Ia simpan di dalam kantong depan motor maticnya.
Hadi kembali kebagasi, mengambil phonselnya. Lalu Ia bernyanyi ringan dengan sangat santai.
🐛🐛🐛👻👻🐛🐛
Shinta terus menggerakkan handle dengan sangat cepat, berharap Hadi segera datang.
Asap hitam itu terus merangkak dengan cepat, dan kini berada tepat didepannya.
Shinta merasa semakin panik, tidak kuasa untuk melakukan perlawanan.
🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛
Hadi berjalan sembari mengayunkan kantong kresek yang Ia bawa dari membeli apa yang diminta oleh Shinta. Namun Ia tercengang, saat melihat Handle pintu digerakkan dengan sangat cepat.
Tanpa membuang waktu lagi, Hadi segera membuka kunci pintunya.
Dan...
Pintu dibuka, Shinta terhuyung kebelakang, lalu limbung dan tidak mampu menjaga keseimbangannya.
Hadi menyambutnya, lalu menahan agar tubuh Shinta tidak jatuh. Hadi menarik tubuh Shinta agar berdiri kembali.
Shinta menangis dan memeluk Hadi.
Hadi merasa bingung dengan apa yang terjadi. Ia mencoba menenangkan hati Shinta. Mencoba memberi perlindungan yang nyaman kepada Shinta.
Setelah Shinta mulai tenang, Ia mencoba bertanya apa yang terjadi.
"ada apa sayang? Apa yang membuat kamu begitu takut?" tanya Hadi pelan..
Shinta semakin terisak. "sayang jahat, kenapa dikunciin dari luar.." ucap Shinta sembari tergugu.
"maaf sayang.. Tadi kakak fikir kamu gak kemana-mana, jadi kakak kunci pintunya." jawab Hadi dengan perasan bersalah.
Hadi mengecup ujung kepala Shinta. "maaafin kakak ya yank..?" ucap Hadi sembari memeluk kepala Shinta.
"apa yang membuatmu takut..?" tanya Hadi penasaran.
""a..ada asap hitam yang mirip wanita iblis itu datang masuk kekamar. Ia mengatakan menginginkan janinku.." ucap Shinta dengan tergagap.
Hadi seketika membulatkan matanya, lalu membenahi duduk Shinta, lalu memeriksa kamar dan tidak menemukan apapun disana.
__ADS_1
Shinta perlahan berusaha bangkit. "Shinta gak tinggal dirumah ini yank.. Shinta takut, kita tinggal dirumah papa saja" Rengek Shinta dengan wajah memucat.
Hadi merasa bingung, disisi lain Ia harus menjaga rumah kakaknya, disisi lain, Ia harus menjaga kehamilan Shinta.
"nanti kita fikirkan secara matang ya.. Kita jangan terburu-buru." ucap Hadi mencoba tenang.
"tetapi aku gak mau hidup ketakutan terus tinggal disini yank" ucap Shinta Sembari menarik ujung lengan baju Hadi.
Hadi mencoba menarik nafasnya dengan dalam, dan menghelanya.
"ya sudah.. Ayo kita kerumah papa, tapi janji jangan cerita apapun sama papa, nanti kita coba hubungi kak Satria, agar dapat menetralkan hawa negatif ini." ucap Hadi dengan nada lirih.
Shinta Menganggukkan kepalanya, pertanda setuju.
Hadi menatap Shinta. Ya sudah.. Ayo kita kerumah papa.." ucap Hadi, sembari meraih lengan Shinta dan memimpinnya.
🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛
Shinta dan Hadi telah sampai dirumah Chandra. mereka memasuki rumah milik duda tersebut.
"Shinta.. Ada apa sayang..? Koq wajahnya pucat begitu.?" sambut Chandra kepada anak perempuannya.
"Shinta pengen nginap dirumah papa untuk beberapa hari, Shinta kesepian disana pa.." jawab Shinta dengan lirih.
"emm..emangnya ibu mertua kamu kemana?" tanya Chandra bingung.
Shinta tergagap, karena Ia sengaja merahasiakan kepulangan ibu mertuanya, karena Ia takut papanya akan melakukan hal yang tak terduga..
"ibu sudah pulang hampir sebilan yang lalu pa." jawab Hadi, jujur.
Shinta terdiam saja. Ia berpura-pura tidak mekihat wajah Chandra yang kelihatannya sangat syok.
Karena selama ini papanya pergi keluar kota untuk melakukan peninjauan lokasi proyek pembangun hotel yang akan dikerjakan oleh perusahaan Satria dan papanya.
"a..aapa..?" tanya Chandra tak percaya, raut wajahnya sepertinya kecewa.
Shinta tidak ingin melihat raut wajah Chandra diketehaui oleh Hadi, Ia buru-buru mengalihkan pembicaraannya.
"sayang.. Aku lapar.. Belikan makanan dulu sana.." rengek Shinta, agar Hadi segera keluar mencari makanan.
"oh iya.. Kakak belikan dulu ya yank.." jawab Hadi dengan lembut, lalu beranjak pergi mencari makakanan untuk istri tercintanya.
Setelah hadi pergi, Chandra mendekati Shinta.
"mengapa kamu tidak memberitahu papa jika ibu mertuamu telah pulang kampung?" tanya Chandra penasaran.
"emangnya kenapa pa..? Apa begitu pentingnya..?" cecar Shinta.
"emmm..enggak sih.." jawab Chandra berdusta. Ia berpaling dan meninggalkan Shinta dengan perasaan hampa.
__ADS_1