
Setelah peristiwa pencurian kecupan bibir itu, Shinta mulai menjauhi Hadi. setiap kali mereka berpapasan, Ia seolah-olah tidak melihat Hadi.
"apa yang terjadi padanya..? Mengapa Ia seolah-olah tak mengenalku? Bukankah disini aku yang menjadi korbannya?" Hadi berguman lirih dalam hatinya, saat Ia baru saja bertemu Shinta di koridor puskesmas.
Kriiing...
Sebuah panggilan telefon dari perusahaan tempatnya bekerja.
"Hallo.. Selamat pagi, Pak Hadi.."
"Hallo, selamat pagi kembali bu.."
"bagaimana keputusan bapak esok pagi pak..? Apakah susah bisa bertatap muka dengan pimpinan perusahaan.?" tanya seorang wanita muda dari seberang telefon.
"oo.. Bisa, bisa.. Hari ini kami perpisahan magang, dan sore ini saya berangkat." jawab Hadi memberiakn kepastian.
"baiklah pak, kami tunggu kedatangan bapak. Selamat siang dan selamat beraktifitas." ucap suara wanita itu dan memutuskan sambungan telefonnya.
Hadi beranjak bangkit dari duduknya. Lalu menemui rekannya yang lain. Dimana mereka akan melakukan acara perpisahan kepada pegawai puskesmas dan lainnya. Tak lupa mereka memberikan cindera mata kepada puskesmas itu, untuk ucapan terimakasih, karena telah diberikan kesempatan magang di tempat itundan diterima dengan sambutan yang sangat baik.
---------♡♡♡♡--------
Hadi mengendarai mobilnya dengan tergesah-gesah. Saat akan mencapai pertengahan jalan, mobilnya tiba-tiba saja mengalami mati mesin. Berulang kali Ia mencoba dan memeriksanya, namun tak jua dapat dihidupkan.
Hadi terpaksa menelefon bengkel untuk membawa mobilnya yang mogok ditengah jalan. Setelah mobilnya berhasil diderek ke bengkel, Hadi pulang dengan berjalan kaki hingga sampai kerumah. Nafasnya tersengal karena lelah.
Setelah itu Ia membereskan segala seuatu yang akan dibawanya sore ini kekota, namun seketika Ia kebingungan, karena mobilnya saat ini sedang berada dibengkel. Dan lebih sialnya lagi, kampung tempat tinggalnya tidak ada angkutan umum. Jikapun ingin pergi kesuatu tempat, maka warga harus memiliki kendaraan pribadi, meskipun hanya sebuah motor butut.
Ditengah kebingungannya, Hadi teringat akan Shinta, bukankah Ia dan Shinta akan menuju tempat yang sama.
"aku hampir saja lupa, aku akan menumpang dengannya. Tetapi apakah Ia mau? Soalnya beberapa hari ini Ia bersikap dingin padaku.." ucap Hadi dengan lirih." Hadi ragu dengan keinginannya. Tetapi keadaan sangat mendesak, dan Ia tak memiliki pilihan lainnya.
Dengan sedikit keberaniannya, Ia mencoba mengirimi pesan kepada gadis yang memiliki kebiasaan mencuri tersebut.
Dimulai mencuri pelukan pertamanya, lalu mencuri kecupan pertamanya juga, dan apakah gadis pencuri itu juga mampu mencuri hatinya yang tak peka. Hanya waktu yang dapat menjawabnya.
Hadi mulai mengetik pesan, dan mengirimkannya kepada Shinta.
🤳"Shin, Aku bisa numpang mobil kamu besok pagi pulang kekota..?" Hadi mengirim pesan Whaatshaap kepada Shinta.
Lama Ia menunggu, namun tak ada balasan. Setelah hampir putus asa, akhirnya Shinta membalasnya juga.
🤳" emang mobil kakak kemana..?" balas Shinta.
🤳"masuk bengkel, tiba-tiba mesinnya mati."
🤳"ooo.." balasnya singkat.
Perasaan Hadi kian resah. Jika Ia tak mendapat ijin tumpangan dari Shinta, maka Ia harus menumpang coldt diesel yang melintasi jalanan utama desa untuk mencapai jalan lintas antar provinsi.
"ya udah, ntar aku jemput, 5 menit lagi." balas Shinta.
Akhirnya Hadi bernafas lega, Ia kini sudah mendapatkan tumpangan.
Hadi mempersiapkan segalanya, lalu membawa barang-barang miliknya keteras, dan mengunci seluruh akses masuk kedalam rumahnya.
Ia menunggu dengan gelisah, Ia berfikir jika saja Shinta merubah janjinya, Ia bisa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan posisi terbaik di perusahaan itu.
Dokter kandungan adalah impiannya, namun menjadi seorang CEO disebuah perusahaan adalah hal yang terduga, dan kesempatan itu jarang terulang lagi.
Setelah berharap-harap cemas, akhirnya mobil Shinta tiba dihalaman rumahnya. Gadis cantik itu turun dari mobil, namun wajahnya sedikit pucat.
"sudah siap kak?" tanyanya dengan suara lirih. Ada sesuatu yang berbeda dari suaranya.
Hadi mengangguk, lalu membawa semua barang miliknya. Shinta memberikan kunci mobil kepada Hadi, agar Hadi dapat membuka bagasi mobil dan memasukkan barang-barang miliknya disana.
Saat Hadi telah selesai meletakkan barangnya dibagasi, Ia bergegas menuju depan mobil. Ia melihat Shinta sudah berada dijok depan di samping Sopir.
Hadi sangat mengerti, jika saat ini Shinta memintanya menyetir mobil menuju ke kota. Dan sebagai orang yang menumpang, tentu Hadi memahaminya. Lagi pula sebagai pria, tidak mungkin Ia membiarkan Shinta menyetir.
__ADS_1
Saat Ia memasuki mobil, Ia melihat Shinta menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil. Matanya terpejam dan hanya diam.
Saat Hadi melajukan mobilnyapun Shinta diam tak bergeming. Perjalanan mereka terasa sangat membosankan, karena hanya ada kebisuan.
Tanpa sengaja Hadi melirik nafas Shinta yang seperti sangat berat dan naik turun. Namun sesuatu yang membuatnya gagal fokus, sepertinya Shinta tidak menyadari, jika posisnya yang bersandar seperti itu, mengekspos leher jenjang dan membuat dadanya membusung naik turun mengikuti irama nafasnya.
Sebagai seorang pria normal, tentu hal itu membuat Hadi merasa gerah dan kehilangan konsentrasinya.
-------♡♡♡------
Pov Shinta
Shinta merasakan kepalanya berdenyut hebat, kolestrolnya kambuh saat Ia harus pulang hari ini.
"bagaimana aku bisa menyetir dengan kepalaku sangat sakit seperti ini..?" Shinta memegangi kepala yang terasa berdenyut dan lehernya terasa tegang.
"ini karena ulah si Rere malam tadi, dia maksa aku makan daging kambing guling yang dibuat mereka untuk malam perpisahan magang." gerutu Shinta, sembari mengemasi barang-barangnya.
Saat Ia sedang kacau, tiba- tiba saja Allah memberikannya kemudahan, dengan menghadirkan Hadi untuk meringankan bebannya.
Hadi meminta menumpang pada mobilnya untuk ke kota dengan tujuan yang sama. Meskipun Ia sebenarnya sangat malu atas tingkah konyolnya itu, Namun Ia juga tidak memiliki pilihan, Ia terpaksa menerima Hadi untuk menumpang sampai kerumah Satria.
Meskipun kepalanya terasa berat, Ia memaksakan dirinya untuk menjemput Hadi kerumahnya.
------------♡♡♡----------
"Shin.. Kamu kenapa.? Kamu marah aku aku menumpang mobil kamu? Kenapa kamu diam saja dari tadi.? kalau kamu marah, aku gak apa-apa koq turun dipersimpangan jalan lintas. Karena akan ada bus yang melintas nanti." Hadi membuka obrolannya, karena sudah hampir satu jam perjalanan Shinta masih dengan posisinya dan tak bergeming.
"Shin.." ucap Hadi kembali..
Lalu..
Tubuh Shinta limbung, dan menimpa pundak kiri Hadi, lalu terjatuh merosot dipangkuan Hadi, tepat berada di adik kecilnya yg sedikit mengeras karena sesaat tadi melihat bagian tubuh milik Shinta.
"aaaaw.." Seketika Hadi meringis kesakitan, dan mendadak menghentikan mobil yang dikendarainya. " gila loe Shint.. Kalau agresif gak gini juga kali." celoteh Hadi yang panik karena tiba-tiba kepala Shinta sudah berada dipangkuannya.
"Shin.. Shinta.." panggil Hadi sembari menepuk-nepuk lembut wajah gadis itu.
Namun Shinta tetap diam. Hadi semakin curiga, Ia menempelkan punggung tangannya dikening gadis yang kini masih memejamkan matanya.
"haaah.. Panas banget..? Apa dia sakit? Pantas saja diam dari tadi." Hadi berguman lirih.
Ia membenahi posisi Shinta, agar menyandar disandaran jok mobil. Tanpa sengaja, saat akan mengangkat tubuh Shinta, Ia menyentuh dua bukit milik gadis itu. "Ne bukit buat masalah terus dari tadi." gerutu Hadi dengan kesal.
"Ia menepikan mobilnya, lalu turun dari mobil, dan menuju bagasi mobil, mengambil sebuah tas kecil untuk menyimpan alat-alat kedokterannya.
Setelah mendapatkannya, Ia kembali ke dalam mobil. Lalu mengeluarkan alat medisnya, sebuah stetoskop, tes darah, serta alat pengukur tekanan darah.
Ia dengan tenang membalutkan alat pengukur tekanan darah ke lengan kiri Shinta. Lalu menghidupkan alat otomatis tersebut. Beberapa menit kemudian, alat itu menunjukkan sebuah angka sebagai hasilnya.
"120/80 mmhg..? Tekanan darahnya normal? Coba ku cek detak jantungnya." Hadi mengambil stetoskop yang kini sudah terpasang ke telinganya.
Alat pengechek detak jantung itu kini siap meluncur ke pasien dadakannya. Namun Ia merasa ragu, Ia bingung apakah akan mengecheknya atau tidak. "kalau di chek, aku terpaksa harus berurusan dengan bukit sialan itu, tetapi kalau tidak, aku tidak tau harus melakukan tindakan apa untuk menolongnya." Hadi bagaikan dilema.
Dengan terpaksa Ia meletkkan alat berbentuk bulat itu di area dada kiri Shinta. Dengan gemetar Ia memeriksanya. "maaf ya Shin, kalau kesenggol, gak sengaja." guman Hadi lirih. Ia merasakan jika detak jantungnya juga normal." kamu ini sakit apaan aih Shin.." gerutu Hadi.
Lalu Ia mengambil sebuah alat berbentuk telur namun pipih, yang biasa disebut Easy touch GCU beserta 3 buah tabung kecil sebagai alat tes darah, untuk mengetahui kadar gula darah, kolestrol, dan asam urat.
Hadi mengambil sebuah jarum suntik, lalu menusukkan di ujung jemari milik Shinta, sebua darah kental keluar dari ujung jari yang ditusuknya. Hadi mengambil alat tes gula darah, lalu mengambil sample darah Shinta, dan melakukan tes dengan alat canggih tersebut.
"140 mg/dl..? Juga normal"
Lalu bergantian dengan alat tes darah kolestrol.
"haaah..! 245 mg/dl..? Gila..tinggi banget! Berarti dia kena kolestrol..?" Hadi terpekik tertahan.
Apa karena makan daging kambing guling dan udang bakar tadi malam?. Kalau diturunkan segera, bisa stroke ne anak..?" Hadi mencoba berfikir mencari solusinya.
Hadi mengemasi peralatan medisnya, lalu meletakkannya dinakas mobil. Ia membenahi posisi tidur Shinta dengan menyandarkan kepala gadis itu di pundaknya, Ia mencari apotik terdekat untuk membeli obat berbahan Statin sebagai penurun kolestrolnya.
__ADS_1
Lama Ia mengemudi sembari clingukan kesana kemari namun tak menemukan juga apotik.
Akhirnya Ia melihat seorang penjual buah dan rujak keliling yang mangkal dipinggir jalan. Hadi menepikan mobilnya, lalu turun untuk membeli beberapa potong buah nenas dan kembali ke dalam mobil.
Hadi mengambil pakaian ganti Shinta yang terdapat didalam tas pakaian Shinta tang berada di jok tengah, Ia menemukan sebuah lingere milik Shinta yang berwarna pink, karena bahannya berenda, Hadi membayangkan jika itu mirip sebuah saringan. Lalu Ia menggunakan lingire itu untuk memeras potongan nenas dan mengambil sarinya dengan menampung didalam cup minuman mineral. Setelah itu mendapatkan sari airnya, Hadi membuka mulut Shinta, lalu meminumkan sedikit demi sedikit sari nenas tersebut. Setelah habis, Ia kembali melanjutkan perjalanan.
Lama kelamaan, pundaknya merasa kebas menahan kepala Shinta. Lalu kepala itu merosot dipangkuannya kembali.
Kini Hadi sudah tidak perduli lagi, mungkin posisi itu lebih baik dari pada harus menahan kebas dan pegal, serta menghambatnya menyetir.
Setelah 5 jam perjalanan, dan sari nenas itu bereaksi, Shinta mulai sadar dari pingsannya.
Ia merasakan sesuatu benda kenyal berada tepat dibawah kepalanya. Shinta merasa seperti terguncang-guncang karena Jalanan yang terkadang tidak merata. Ia memaksa untuk mengerjapkan matannya. Meski masih terasa berat Ia terus berusaha. Hingga Ia membuka lebar matanya..
"aaaaaaaa.." teriak Shinta, saat mendapati dirinya sudah berada dipangkuan Hadi.
Hadi yang mendengar teriakan Shinta juga ikut kaget mencoba menepikan mobil yang dikendarainya. karena memaksa hendak bangkit, akhir kening mereka saling terbentur dan menimbulkan rasa nyeri.
"heeei..sabarlah sedikit." ucap Hadi kesal.
"kamu ya.. Sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan.." Shinta mengomel kepada Hadi. Lalu membenahi letak pakaiannya yang sedikit berantakan dan menyibakkan rambutnya yang terjuntai kedepan.
Seketika Ia melihat lingirenya terdampar di lantai mobil, dengan noda berwarna kuning dari jenis buah nenas. Ia memungutnya, lalu menentengnya tepat diwajahnya, dan melirik kearah Hadi.?
"haaa? apa yang kau perbuat dengan pakaian dalamku..?!!" mata Shinta membulat dengan tatapan sengit.
"pakaian dalam..? Aku mengiranya tadi sebuah saringan" jawab Hadi santai.
"saringan apaan..? Lalu untuk apa kau memeras sari buah ini.?!!" cecar Shinta dengan geram.
"aku meminumkannya padamu.." jawab Hadi geli sekaligus berusaha fokus untuk menyetir.
Ia tidak membayangkan jika Shinta meminum sesuatu dari bekas pakaian dalamnya.
"a..apaa.? Huuuek." Shinta seketika seperti orang yang ingin muntah, meskipun tak ada sesuatu yang dimuntahkannya. Bagaimana tidak kngin muntah, itu lingerenya yang dipakainya tadi malam dan belum sempat dicucinya.
"dasar..kau jahat..!!" Shinta memukuli lengan Hadi.
Lalu Hadi, menepikan mobilnya.
"Heeeei..tenanglah..! Aku hanya mencoba menyelamatkanmu dari Stroke. Kolestrolmu tinggi, dan aku tidak menemukan apotik. maka aku menemukan penjual rujak dipinggir jalan. "
" jika aku memaksamu untuk menelan nenas itu dalam potongan kecil, kau bisa saja tersedak. Makanya aku mengambil sarinya saja." ucap Hadi mencoba menjelaskan kepada Shinta.
Kemarahan Shinta sedikit mereda." Lalu mengapa kau menidurkanku dipangkuanmu..?" cecar Shinta.
"kepalamu sangat berat, kau menyandar dipundakku, dan membuat pundakku merasa kebas, lalu menghalangi ku menyetir." jawab Hadi jujur.
"ku kira kau mencuri kesempatan dalam pingsanku..?" sergah Shinta.
"apa.?! Aku mencuri kesempatan.?! Bukankah pencurinya itu kau sendiri.?" Hadi berbalik menuduh Shinta.
"apa maksudmu.?" tanya Shinta sengit
"heeei nona.. Apa kau lupa atau sudah amnesia.? Kau mencuri pelukan pertamaku saat malam pembebasan itu, dan yang kedua kau mencuri ciuman pertamaku saat malam kemarin, hingga kau melupakan sendalmu." ungkit Hadi.
Seketika wajah Shinta bersemu merah. Ia menggeretakkan giginya menahan kesal, karena Hadi ternyata mengungkit semuanya.
Hadi menghela nafasnya, Ia merasa bersalah dengan ucapannya yang konyol, mungkin hal itu membuat Shinta sungkan dan akan membuat perjalananan ini semakin tidak nyaman.
"Sorry.. Atas semua ucapanku.." ucap Hadi lirih, tanpa menoleh wajah Shinta.
Shinta terdiam karena menahan malu.
Hadi menenangkan detak jantungnya, lalu menoleh kearah shinta yang membuang wajahnya keluar pintu kaca mobil.
Dengan sisa keberaniannya, Ia meraih jemari tangan Shinta, menggenggamnya erat. Membuat Shinta kaget dan membulatkan matanya.
Tanpa sepertujuan dari Shinta, Ia membawa kepala gadis ayu itu kepundaknya. "maafkan aku.. Aku tidak akan mencuri apapun darimu, kecuali Hatimu.." ucap Hadi lirih, penuh ketulusan, sembari mengecup lembut ujung kepala Shinta, yang membuat gadis seakan terbang melayang ke awan biru.
__ADS_1