Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Hilangnya Janin Mala


__ADS_3

waktu kelahiran menurut perkiraan Bidan Sri seminggu lagi, namun jadwal itu dapat maju juga dapat mundur, sesuai kondisi kesehatan si ibu dan si calon jabang bayi.


Roni yang saat ini sedang mempersiapkan segala sesuatunya, untuk menyambut kehadiran calon anak mereka yang sudah belasan tahun dinantikannya. hal itu justru membuat Ia lalai akan kewajibannya untuk beberapa hari belakangan ini. Ia meninggalkan shalatnya. Ia sibuk mencari uang dengan kembali lembur malam, untuk mengumpulkan pundi-pundi uangnya.


Mala adalah orang yang paling bahagia saat ini. Ia akan menjadi seorang ibu dalam waktu yang sangat dekat. Ia mengelus perutnya yang membuncit dengan lembut.


[tok...tok..tok..] suara ketukan pintu diluar rumah.


Roni sedang bekerja, sedangkan Mbok Darmi dan Mbah Karso ayahnya sudah pulang kerumahnya. karena kesehatan Mbah Karso sudah membaik, lalu kedua orangtuanya memilih untuk pulang.


Mala membuka pintunya, tampak Roni berdiri diambang pintu. "sudah pulang bang..?" ucap Mala sembari tersenyum.


Roni menjawab dengan anggukan, lalu memasukkan sepeda motornya. " sudah makan dik..?" ucap Roni dengan nada senang. Ia menghampiri Mala, mencium kening istrinya. Ia sudah mampu menghilangkan rasa traumatiknya terhadap peristiwa pemerkosaan waktu itu.


"sudah bang..abang mau Mala ambilin makanan..?" ucap Mala sembari tersenyum manja.


"Iya..abang laper banget.." jawab Roni sembari mengelus perutnya sendiri.


Mala beranjak kedapur, menyalakan kompor, untuk membuatkan kopi ginseng kesukaan Roni.


Ia menyendokkan nasi kedalam piring, meletakkan sambal teri kacang dan tumis kangkung diatas nasi.


setelah air mendidih, Ia menyeduh kopi ginseng kedalam gelas kaca berukuran sedang. lalu menghidangkannya kepada Roni yang sudah menunggu di ruang keluarga yang merangkap sebagai ruang tamu.


"Ini dimakan Mas.." ucap Mala sembari menyodorkan sepiring nasi dan segelas kopi. Roni menuambutnya dengan senang. lalu memakannya dengan lahab. setelah selesai makan, Ia menyeruput kopi ginseng panasnya. rasa lelahnya sedikit menghilang dari tubuhnya.


"abang mandi dulu ya dik..gerah sekali malam ini. kenapa hawa rumah kita panas banget ya..?" ucap Roni sembari mengipas-ngipaskan tubuhnya dengan menggunakan telapak tangannya.


Roni beranjak kekamar mandi, Ia ingin mandi, karena udara dirumahnya terasa sangat panas.


saat melintasi dapur, Ia merasakan tengkuknya merinding. bulu kuduknya meremang. namun Roni mencoba mengabaikannya. Ia memilih untuk segera mandi. karena meski malam hari, keringat mengucur deras ditubuhnya.


***


Mala membereskan sisa gelas dan piring kotor bekas makan suaminya. Mala mencucinya di washtafel.


[seeeeeesssh..] Mala seperti mendengar suara desisan suara ular. Mala memutar tubuhnya. mencari sumber suara tersebut. seketika tubuhnya meremang. pori-pori dikulit tubuhnya yang putih mulus membesar.


Ia menajamkan penglihatannya, mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan. namun tak sesuatu yang Ia temukan. Ia kembali mencuci piringnya.


Roni keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan sehelai handuk yang melilit dipinggangnya.


melihat Mala sedang mencuci piring, membuatnya sedikit jahil, Ia memeluk Mala dari arah belakang, sembari memgelus perut Istrinya yang membuncit besar.


Malah terkekeh melihat ulah suaminya. lalu buru-buru menyelesaikan pekerjaannya.


Roni melepaskan pelukannya, berjalan menuju kamar yang diikuti oleh Mala dari belakang.

__ADS_1


Roni menyalin pakaian, menggunakan kaos oblong dan celana boxer. udara panas memenuhi seluruh ruangan. Ia menghidupkan kipas angin untuk menyejukkan ruangan kamarnya, namun tak berhasil.


"mengapa malam ini udara terlalu panas ya dik.." ucap Roni dengan gelisah, sembari berbaring di tepi ranjang.


"mungkin memasuki musim kemarau bang.." jawab Mala menjelaskan.


rasa tak nyaman memaksanya melepaskan kaosnya. lalu duduk menyandar disandaran ranjangnya. keringat mengalir deras dari tubuhnya.


Mala juga mengalami hal yang sama. bagi seorang wanita yang memasuki kandungan tua, rasa gerah kerap kali terjadi. Mala juga melepaskan pakaiannya, menggantinya dengan daster diatas lutut tanpa lengan.


Mala berbaring mendekati Roni. bergelayut manja. entah mengapa Ia begitubsangat mengantuk. lalu tertidur pulas dengan kepala yang menyandar dipundak suaminya.


Roni, begitu amat tersiksa dengan rasa gerahnya. sepertinya suhu diruangan kamarnya meningkat drastis. Ia membenahi letak tidur Mala, membaringkannya dengan benar, lalu memberi bantal untuk penyanggah kepalanya.


Roni beranjak dari ranjangnya, mengambil kipas angin yang berada diruang tengah, lalu membawanya kekamar. dua kipas angin hidup sekaligus.


"Kenapa aneh banget sih malam ini..? gak biasanya udara sepanas ini. ?" Roni berguman lirih.


karena tidak merasa puas dengan dua buah kipas angin, Ia berniat membuka jendela kamar. Ia beranjak mendekati jendela, lalu membukanya. membiarkan angin malam menembus masuk kedalam rumahnya.


Roni beranjak keranjang, Ia mereasakan sedikit hawa panas itu berkurang. hawa yang sangat dingin masuk menembus melalui jendela kamar yang terbuka. hembusan angin itu membuat mata Roni mengantuk sangat berat. Ia pun tertidur sangat pulas.


sekelebat bayangan hitam yang menyerupai asap masuk melalui jendela yang terbuka, Ia mendekati Mala yang tertidur dengan dasternya yang tersingkap. Ia masuk kedalam rahim Mala, dengan sangat lembut, sehingga Mala sendiri tidak menyadarinya.


****


Mala ingin beranjak dari ranjangnya. karena merasa ingin buang air kecil. namun Ia merasakan sesuatu seperti ada yang salah. namun apa itu Ia belum memahaminya.


saat Ia akan menggangsurkan kakinya, Ia merasakan tubuhnya sangat ringan. Ia merasa mencurigai sesuatu. ya...Ia melihat kearah perutnya..dan.."aaaaaaagggghhhh.." teriak Mala sangat kencang. teriakannya bukan hanya mengagetkan Roni yang sedang tertidur lelap, namun hingga terdengar orang yang sedang melintas. seketika pagi ini membuat kegaduhan yang amat menegangkan.


Roni yang masih terlelap dengan tidurnya, tiba-tiba saja tersentak, lalu terlonjak bangkit. Ia mendapati Mala yang menangis tersedu-sedu.


"Ada apa dik..? kenapa kamu tiba-tiba menangis..?" ucap Roni kebingungan. ditambah lagi nyawanya yang belum kumpul karena tiba-tiba terbangun.


Mala semakin memperkencang tangisannya. lalu memelik Roni dengan isakan yang memilikuan hati "Anak kita bang...anak kita hilang.." ucap Mala terbata-bata.


"haaah..!!" ucap Roni sembari membulatkan matanya karena kaget.


"maksud kamu apa dik..? kamu keguguran lagi..?" ucap Roni, melepasakn pelukan Mala, lalu meraba perut Mala yang kini mengempis seperti tidak terjadi kehamilan.


Mala keguguran, ada darah nifas yang mengalir dan sisa lendir hasil dari ketuban yang pecah, namun janin itu tidak ada diranjang.


Roni menatap nanar ruangan kamar. matanya berkaca-kaca..tak mampu menyembunyikan kesedihannya.


"mengapa Allah menguji kita dengan cobaan uang begini berat dik.." ucap Roni dengan harapan yang hampa, karena penantiannya yang panjang, dan sebentar lagi akan mendapatkannya, pupus sudah dengan takdir yang diterimanya.


suara teriakan Mala barusan, mengundang perhatian warga yang melintas. lalu salah seorang mengetuk pintu, untuk memastikan pasangan suami istri itu baik-baik saja.

__ADS_1


Roni beranjak dari kamarnya, membukakan pintu karena ada warga yang mengetuknya. dengan mata sembab dan wajah kusut, Roni memyambut beberapa warga yang sudah berada didepan rumahnya.


"Asslammualikum, Roni. kami tidak sengaja mendengar suara teriakan Mala, mungkin ada hal yang bisa kami bantu. berhuhung Mala juga sudah memasuki jadwal akan bersalin. jika membutuhkan mobil untuk membawanya ke klinik bidan Sri biar kami sediakan mobil" ucap pak Danu menawarkan bantuan.


sebenarnya pak Danu juga masih berduka atas meninggal anaknya Mira, namun Ia tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.


"Mala...pak..Mala pak Danu.." Ucap Roni terisak dengan terbata-bata.


"coba tenangkan diri dik Roni dulu, baru ceritakan kejadian apa yang sedang menimpa Mala..?" ucap Pak Danu mencoba menenangkan Roni.


warga mulai penasaran dan berkerumun mendekati rumah Mala.


"Ba..bayi kami hilang.." Ucap Roni yang tak lagi mampu membendung air matanya. Pak Danu memeluknya, menepuk-nepuk lembut pundaknya.


"bersabarlah..setiap ujian yang diberikan Allah akan ada hikmah yang tersembunyi. semoga Allah menggantinya dengan yang lainnya." ucap Pak Danu membesarkan hati Roni. meski Ia sendiri mengalaminya, kehilangan anak satu-satunya.


Warga uang mendengar penuturan Roni saling pandang, mereka bekasak-kusuk dengan pandangan dan pemikiran mereka.


dari kejauhan tampak motor Bimo melaju dengan sangat lambat. Ia tengah membonceng Mbah Karso. ternyata kegaduhan yang timbulkan karena teriakan Mala, sampai ketelinganya.


Meskipun Ia baru saja dapat berjalan dari stroke yang menimpanya, Ia bersikeras ingin menemui Mala. dengan dibantu Bimo, Ia berjalan tertatih-tatih menerobos kerumunan warga.


Ia memasuki rumah, dan menuju kekamar Mala. Mala masih terisak dengan mata sembab. Ia menutupi tubuhnya dengan kain selimut, karena Ia hanya mengenakan daster tanpa lengan.


langkah Mbah Karso diikuti oleh Roni, dan beberapa wanita, termasuk mbak Ratna dan bu Dewi yang sangat penasaran.


Mbah Karso melihat jendela kamar yang terbuka. "sejak kapan jendela ini terbuka..?" ucap Mbah Karso kepada Mala.


Mala menjawab dengan gelengan kepala, karena memang Ia tidak mengetahuinya.


"sejak tadi Malam, saya yang membukanya, karena udara sangat panas." jawab Roni.


Mbah Karso memejamkan matanya mencoba menembus pandangan mata ghaibnya. "ada yang melakukan 'Pujon' kepada Mala." ucap Mbah Karso. Ia melihat kesekeliling ruangan.


"sepertinya kandungan Mala sudah sangat lama diincarnya." Mbah Karso melanjutkan ucapannya.


"apa itu 'Pujon' mbah.." ucap Bu Dewi penasaran.


"Suatu Ilmu kanuragan yang mampu mentransfer janin wanita hamil kepada Wanita yang tidak hamil.." Mbah Karso menjelaskan.


"Siapa Mbah pelakunya..?" ucap Mbak Ratna penasaran.


"entahlah.." yang pastinya Ia memiliki niat tertentu." ucap Mbah Karso menjelaskan.


Mala masih meratapi nasibnya yang Malang.


Mbak Ratna mendekati Mala, membelai rambutnya dengan lembut.."bersabarlah..Allah akan menggantinya dengan yang lain.." ucap Mbak Ratna menenangkan hati Mala yang sedang pilu.

__ADS_1


__ADS_2