Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Kecemburuan Roni


__ADS_3

setelah kepergian Reza, Mala memasuki kamarnya, mengmbil handphonenya, lalu menghubungi Roni, suaminya.


"hallo, bang.. jam berapa abang pulang? ucap Mala dengan penuh kecemasan. Ia khawatir dengan keadaan bapak.


"iya diq, biasa jam 10 malam abang bafu balik dik, soalnya permintaan pupuk meningkat." ucap Roni menjelaskan, Ia sedang sibuk dengan buku dan pensilnya, menghitung berapa jumlah puouk yang dipanggul dipundak setiap karyawan.


"tidak bisa cepat sedikitkah bang.."ucap Mala sesenggukan.


mendengar istrinya menangis, Roni menjadi khawatir. "ada apa sebenarnya dik, kenapa adik menangis ?" ucap Roni khawatir bercampur penasaran. sembari terus menulis jumlah pupuk para kuli panggul.


"baaa..bpaak.. bang.." ucap Mala dengan terbata-bata, Ia semakin tergugu dengan tangisnya.


"bapak?..emang bapak kenapa?" ucap Roni semakin penasaran.


Mala semakin terisak. "ba...paak.. di massa warga bang, bapak dituduh sebagai penyebab keguguran mbak Lisa." ucap Mala semakin kian terisak.


Roni terperangah, Ia membulatkan matanya seakan tak percaya mendengar kabar bapak mertuanya. "apa warga punya bukti kalau bapak yang melakukannya?" ucap Roni semakin penasaran, selama ini Ia juga sudah berprasangka buruk terhadap bapaknya, namun karena pekerjaan Ia tidak sempat menyelidikinya.


"warga katanya melihat jin peliharaan bapak memakan janin mbak Lisa yang sudah meninggal, dan bapak berada disekitar rumah mbak Lisa saat kejadian itu" ucap Mala kian tergugu..


"aa....paa..?" ucap Roni semakin terkejut, membuat pekerja kuli panggul juga ikut kaget akan teriakan suara Roni. melihat para pekerja memandanginya, Roni mengangkat tangan kirinya sejajar dada, memberikan kode bahasa Verbal, jika pekerja harus melanjutkan pekerjaannya dan teriakannya barusan tidak ada hubungannya dengan mereka.


para pekerja melanjutkan pekerjaannya.


Roni terdiam sejenak, Ia berfikir bahwa ucapan bu Dewi selama ini benar, jika bapak mertuanyalah yang mengambil janin mereka, untuk dijadikan tumbal jin peliharaan mbah Karso.


namun Ia mengetahui bahwa bapak mertuanya telah bertaubat sejak Ia menikahi puterinya. tapi mengapa warga menemukan bapak mertuanya sedang mengintai rumah mbak Lisa, dan mbak Lisa kebetulan keguguran malam ini. jika bukan bapak siapa pelakunya? jika bener bapak, aku tidak akan memaafkannya. Roni berperang antara hati dan fikirannya.


"bang..abang kenapa diam?" ucap Mala penasaran, Ia tak mendengar suara suaminya.


"emmm...iya dik.. akan abang usahakan segera pulang." ucap Roni dengan perasaan yang masih berkecamuk dari seberang telefonnya.


"tolong telefonkan bidan Sri ya bang, suruh datang kerumah secepatnya" ucap Mala lagi.


"Lho, koq kerumah kita? emangnya bapak dimana? " ucap Roni bingung.


"tadi mas Reza bantuin bawa bapak kerumah Mala, karena rumah kita lebih dekat jaraknya dibanding rumah bapak" ucap Mala jujur.


"Reza..? duda yang pendiam itu ya?" Roni mencoba menyelidiki.


entah mengapa perasaannya tiba-tiba saja merasa cemburu saat mengetahui duda tampan itu menolong Mala membawakan bapak mertuanya. Ia merasa hatinya pedih, saat membayangkan istrinya bersama Reza. Ia takut jika istrinya sampai tergoda pesona si duda tampan dan jutawan.


"ya sudah ya bang, adik mau melihat kondisi bapak dikamar sebelah." ucap Mala mengakhiri telefonnya.


***


Mala berjalan kamar bapak, Ia membawa semangkuk air hangat dan handuk bersih untuk membersihkan luka lebam yang diderita bapaknya.


tak lama Ia mendengar suara ketukan dipintu. "Mala... buka pintunya nduk, ini si mbok.." ucap suara wanita paruh baya dengan nada panik.


Mala meletakkan mangkuk berisi air dan handuk bersih di meja nakas. bergegas membuka pintu, lalu mendapati si mbok yang sedang panik, menerobos masuk kedalam rumah dan menuju kamar sebelah.


Mala mengunci pintu kembali, lalu telefonnya berdering.. bersamaan dengan itu Mala mendengar teriakan si mbok yang syok dengan kondisi bapak.


"hallo bang Roni.." ucap Mala.


"dik, Bidan Sri tidak bisa datang, katanya dicegah warga" ucap Roni dalam sambungan telefonnya.

__ADS_1


hati Mala begitu sakit, sekejam itukah mereka pada keluarganya. belum tentu juga bapak pelakunya. namun warga sudah menghakimi tanpa terlebih dahulu menyelidikinya.


"ya sudah, gak apa-apa bang.. sudah dulu ya, Mala mau mengobati bapak dan si mbok juga sudah datang" ucap Mala mengakhiri telefonnya.


Mala bergegas menuju kamar tempat bapak berbaring, Ia melihat si mbok telah membersihkan luka memar dan lebam diwajah bapak. ada darah mengalir dibagian kepala bapak, karena merembes disarung bantal yang menjadi pengganjal kepala bapak.


Mala teringat dengan kotak obatnya di dalam kamar, Ia bergegas menuju kamarnya ,mengambil kotak obat tersebut dan membawanya kekamar bapak.


Ia mengeluarkan salep berbentuk kaleng bundar berwarna hijau tua. salep itu bertuliskan 'Zambuk' Ia mengoleskan salep tersebut kepada luka lebam dan luka robek yang ada dibagian wajah, pelipis dan kepala bagian belakang. salep itu berguna untuk menghentikan pendarahan, menghancurkan darah beku, dan menghilangkan rasa nyeri pada luka.



ini author spill salepnya, promosiin produk gratis tanpa endorsan.. author beri tahu, para pembaca wajib memiliki salep ini, terutama yang punya bocil.


banyak kegunaan dari salep ini, untuk lika robek, lecet, lebam, sayatan benda tajam, gigitan serangga ,terkena minyak panas dan air panas serta dan lainnya. semoga saja suatu saat pemilik perusahaannya memberikan endorsan sama author.. aamiin.. aamiin ya Rabbal 'alamin.


setelah Mala mengoleskannya, lalu membalut luka robek dikepala bagian belakang, agar menghentikan pendarahan.


si mbok mengoleskan minyak kayu putih didekat lubang hidung bapak. tak lama bapak terbatuk. lalu membuka mata dan mengerjapkannya. kepalanya terasa pusing, Ia sangat sulit untuk bangkit.


"si mbok menangis, menciumi pipi suaminya dengan penuh kekhawatiran dan cinta yang tulus. si mbok terisak sembari memeluk tubuh bapak yang terbaring lemah.


si mbok mengambil air putih, lalu menyendokkan kedalam mulut Mbah Karso, mata tua itu mengalirkan air mata. Ia tidak mengerti mengapa Ia sampai terjebak dimalam ini, lalu menjadi amukan warga yang termakan emosi, tanpa terlebih dahulu menginterogasinya, lalu main hakim sendiri.


si mbok mengetahui kabar bapak dimassa warga dari Paijo, orang yang sama menjemput Mala. petugas siskamling itu salah satu orang yang tidak ikut dalam aksi massa tersebut. ia berempati kepada keluarga Mala ,karena masih ada hubungan keluarga.


Paijo menjemput Si Mbok dan mengantarkannya kerumah Mala.


***


Roni segera mengemasi barang-barang miliknya. setelah pekerjaannya selesai, ia mengunci gudang dan bergegas pulang. sebenanatnya Ia kesal mendengar bapak mertuanya dirawat dirumah. apalagi kepergok warga melakukan pengintaian dirumah orang.


saat melintasi rumah Lisa, Ia melihat suasana mulai sepi , sebagian warga sudah berpulangan dan hanya beberapa orang saja yang masih berada dirumah duka Lisa.


Roni menggunakan helm dan memacu sepeda motornya dengan cepat, agar tidak terlihat warga.


sesampainya dirumah, Ia mengetuk pintu. lalu terlihat si mbok yang membukakan pintu. Roni segera memberi salam serta memasukkan sepeda motornya kedalam ruang tengah karena tidak adanya ruang parkir.


Roni meninjau kondisi bapak mertuanya ,ada persaan iba disana ,namun juga rasa jengkel menjadi satu. Ia melihat bapak mertuanya terbaring lemah, dengan luka lebam dibagian wajah. Roni beranjak dari kamar bapak mertuanya la,lu menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Roni memasuki kamar, mendapati Mala, istrinya sedang tertidur pulas, Ia mengecup kening istrinya. mengelus perut Mala yang mulai membuncit. kini usia kandungan Mala sudah genap 3 bulan.


tiga bulan berpuasa menahan hasrat membuatnya begitu bergairah melihat Mala yang terlelap dalam tidurnya. dalam kondisi tertidurpun Mala terlihat sangat cantik. namun bukan itu yang membuat Roni tetap mencintainya namun sikap yang menerima keadaan Roni apa adanya yang membuatnya semakin memuja istrinya.


namun, keberadaan Reza membuatnya sedikit merasa terusik, Ia takut jika nanti Mala tergoda dengan duda tampan nan jutawan itu.


ke khawatirannya semakin bertambah, dimana saat ini bapak mertuanya tinggal satu atap dengannya, Ia takut Mala akan keguguran lagi. apalagi peristiwa malam ini bapak mertuanya kepergok sedang mengintai rumah Lisa, dan Lisa keguguran. lalu bagimana jika bapak mertuanya terus tinggal bersama mereka? bukankah hal yang mudah untuk melakukan aksinya.


Roni bagaikan buah simalakama. Ia bingung harus berbuat apa. untuk mengawasi bapak mertuanya selama 24 jam itu hal yang mustahil, karena Ia bekerja hingga malam.


Roni merasa pusing memikirkannya Ia mencoba memejamkan matanya untuk tidur.


**


[ayah....ayaaah]... suara tangisan anak-anak yang begitu menyayat hati, menggema memanggilnya. Roni merasa berada disebuah lorong gua, seperti saat mimpinya waktu itu. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong gua yang pengap dan lembab.. Ia mencari sumber suara yang memanggilnya.


Ia menemukan tiga kerangkeng terbuat dari besi, persis sama seperti yang Ia temukan saat mimpi pertamanya. namun kali ini Ia melihat Mala, istrinya sedang berada juga dalam ruangan gua yang pengap. penerangan cahaya suluh bambu (obor) menerpa tubuhnya. Ia berdiri membelakangi Roni.

__ADS_1


Mala menggunakan kain panjang untuk melilitkan tubuhnya, dari dada hingga dibawah lutut. kain itu membentuk tubuh sintalnya yang seperti alat musik biola. rambutnya digerai begitu saja, menambah aura kecantikannya.


"dik..sedang apa kamu disini?" ucap Toni menegur istrinya. Mala menoleh kearah Roni, namun tatapannya dingin, Ia diam membisu.


dari sebuah lorong gua didepannya, Ia melihat seorang pria berbadan kekar sedang berjalan mendekati Mala. semakin dekat hingga wajah pria itu terlihat jelas.


"Reza..? sedang apa duda tampan itu disini?" ucap Roni lirih, Ia sangat terkejut dengan kehadiran duda tersebut bersama mereka dalam satu ruangan.


Reza meraih tangan Mala, membopongnya keranjang didalam gua yang terbuat dari bebatuan yang terpahat. tak ada perlawanan sedikitpun dari Mala, Ia seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Mala seperti pasrah dengan perlakuan Reza.


Roni berteriak, namun tenggorokannya tercekat, tak mampu mengeluarkan suara sedikitpun. Ia memegang tenggorakannya.


melihat istrinya dibopong pria lain, Roni mencoba mengejarnya, namun langkahnya terhenti, sepasang tangan keriput dan berkuku tajam mencengkramnya, lalu melilitkan rantai besi panjang ketubuhnya.


Nini Maru tertawa menyeramkan.. [hi...hi..hi..]... Dengan cekatan, tangan keriput itu mengikat tubuh Roni hingga ke pinggang. Nini Maru memegang rantai besi tersebut, menyeretnya mendekat kepada Reza yang sedang membaringkan Mala.


Nini Maru memaksa Roni untuk melihat Istrinya yang sedang dijamah pria lain. Roni mencoba melepaskan diri dengan meronta-rontakan kakinya, namun ikatan rantai besi ditubuhnya begitu kuat.


ingin rasanya Ia memenggal tangan Reza ya sudah berani menyentuh istrinya.


Reza tersenyum menyeringai, mengejek Roni yang malang. Jemarinya sibuk memainkan area terlarang milik Mala. sesaat tubuh Mala mengejang, Ia mencapai puncak surgawi, dengan cepat Reza menyesap cairan tersebut.


setelah selesai dengan aksinya, Ia melakukan penyatuan tubuh, Roni menggeram marah. ingin mencincang tubuh Reza, hatinya begitu sakit melihat istrinya didepan mata disenggama pria lain. namun Ia hanya bisa meronta-rontakan kakinya untuk dapat lepas dari rantai besi yang mengikatnya.


Ia menatap marah kearah Reza, gemuruh dijantungnya menandakan emosinya begitu menggebu-gebu. Ia memalingkan wajahnya, saat Reza menyatukan tubuhnya dengan Mala, namun Nini Maru menarik wajahnya agar tetap memandang percintaan yang menyakitkan hatinya.


"brengsek kau Reza awas kau nanti. tunggu pembalasanku". ucap Roni berguman dalam hatinya.


air matanya mengalir tanpa Ia sadari, seorang lelaki juga dapat menangis ketika patah hati dan terluka. Ia sangat terpuruk.


Ia terpaksa melihat bagaimana Reza melepaskan hasratnya, karena Nini Maru mencengkram rahang Roni agar tetap menghadap Dua insan yang sedang bercinta. tubuh Reza mengejang dan kepalanya menengadah keatas. menandakan Ia mencapai puncak surgawinya.


Reza tersenyum mengejek padanya, lalu mengelus perut Mala yang membuncit. seperti mengisyaratkan kepemilikannya. lalu Reza melangkah pergi meninggalkan Mala yang masih terbaring di ranjang batu.


begitu juga dengan Nini Maru, Ia pergi menghilang dengan lengkingan tawa yang menyeramkan.


Roni segera melepaskan ikatan rantai besinya, lalu menghampiri Mala yang masih terbaring lemah sehabis bercinta dengan duda tampan tersebut.


"dik.. dik Mala.." air Mata Roni mengalir melihat semuanya. Ia tak tahu harus marah atau membenci Mala. namun saat ini hatinya begitu teramat sakit. apalagi terjadi didepan matanya.


namun Mala diam membisu, hanya air matanya yang mengalir melalui sudut matanya. wajahnya begitu datar, pandangannya kosong menatap langit-langit gua.


"dik..diik...Mala.." suara Roni begitu keras, hingga menggema keseluruh ruangan gua.


dan sesaat Ia tersadar ketika ada tangan lembut menepuk-nepuk wajahnya.


"haaaah.." Roni dengan refleks bangun sembari terduduk. Ia mengerjapkan matanya, memandang kesekeliling ruangan. ternyata Ia berada didalam kamarnya. "apakah aku bermimpi? namun mengapa seperti nyata?" ucap Roni dalam hatinya.


Ia memandang Mala, Istrinya yang juga duduk disampingnya. sepertinya Mala terbangun saat mendengar teriakannya.


"abang mimpi buruk ya?" ucap Mala dengan nada parau, karena baru saja bangun tidur.


Roni melirik Mala, Ia memandang sejenak perut Mala yang membuncit. " apa Mala berselingkuh tanpa sepengetahuanku? atau anak itu hasil hubungan zinah Mala dengan Reza?" Roni terus membathin.


Ia melihat Mala tersenyum manis, tidak terlihat wajah yang memiliki dosa disana. lalu Ia bergelayut manja dilengannya, sepertinya ingin melanjutkan mimpinya yang tertunda.


Roni tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Mala, Ia masih terus memikirkan mimpinya barusan.

__ADS_1


namun Ia mencoba menepis dugaannya, Ia mencoba menata hatinya. mungkin saja mimpinya barusan karena kecemburuannya saat mendengar Reza menolong bapak mertuanya, hingga sampai mengantarnya kerumah. lalu kecemburuannya itu sampai terbawa oleh mimpinya. lalu Ia berbaring dan melanjutkan mimpinya.


__ADS_2