Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Mati Atau Berlutut.


__ADS_3

Dekan fakuktas memanggil Satria keruangannya. sesuatu hal yang sangat penting sepertinya sedang terjadi.


[tok...tok..tok]


Satria mengetuk pintu ruangan kerja sang Dekan.


"Masuk.."ucap tegas Dr. dr. Prambudi.Sp.Bs


Satria masuk dengan langkah tenang.


"duduk.." ucap Sang Dekan.


Satria duduk dan masih berusaha tenang.


Dekan fakultas itu memandang Satria dengan tatapan tajam namun penuh kewibawaan.


"apakah kamu tau , mengapa kamu saya panggil kemari..?" ucap Dr. dr. Prambudi dengan nada yang berusaha dibuat tenang.


"Tidak pak.." ucap Satria sopan.


Prambudi menghela nafas berat. ada beban berat didalam hatinya.


"kamu diskorsing.." ucap Prambudi dengan nada berat.


Satria tercengang. "a.aapa..? apa salah saya pak..?" ucap Satria dengan nada bingung.


Prambudi memandang Satria dengan sorot mata tanpa ekspresi. Ia menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi kebesarannya.


matanya menatap lurus kedepan lalu Ia memijat keningnya. ada sesuatu yang menjadi beban didadanya.


"kamu terlibat perkelahian semalam. orang tua dari mahasiswa yang kamu lukai itu adalah pemilik seprtiga saham dari fakultas ini." ucap Prambudi dengan nada berat.


"ta..tapi..dia yang memulai terlebih dahulu pak..!" ucap Satria tudak terima.


Prambudi menghela nafasnya dengan berat. "Tapi ini sudah menjadi keputusan dari pihak Rektor juga."


"gak bisa gitu juga donk pak. yang memulai anak itu terlebih dahulu."


"lalu, karena Ia anak pemilik sepertiga saham kampus ini menjadikannya semena-mena atas semua yang dilakukannya..?" ucap Satria mulai sengit.


"Satria...! " sergah Prambudi. sembari beranjak dari duduknya. Ia juga tidak memiliki pilihan lain. karena kedudukannya akan menjadi taruhannya.


"baik..Pak..!! terimakasih..." ucapnya sembari beranjak pergi.


saat Satria hampir diambang pintu, Prambudi memanggilnya. ""mereka akan memaafkanmu, jika kamu mau berlutut dan memohon ampunan dari mereka." ucap Prambudi penuh penekanan disetiap katanya.


Satria berbalik, lalu menatap dengan sorot mata tajam, sembari tersenyum sinis pada Prambudi. lalu meninggalkan ruangan sang Dekan.


****


Hadi sedang berjalan menuju koridor kampus. Ia ingin pergi keperpustakaan. tiba-tiba saja seseorang menyekapnya dari arah belakang. membawanya kedalam mobil. lalu pergi.


Satria menuruni anak tangga, mIa begitu amat kesal dengan kabar yang baru saja diterimanya.


dari atas tangga, Ia melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di halaman kampus. sepasang suami istri terlihat memasuki mobil tersebut. saat sang pria ingin masuk kedalam mobil, celananya tersingkap, dan memperlihatkan sedikit kulit kakinya yang diperkirakan Satria adalah sebuah kaki palsu.


"siapa mereka..?"


Satria sedikit terperanjat, saat melihat sesosok makhluk yang mendampingi seorang wanita. makhluk itu terus mengikuti kemanapun Wanita pergi.


"haaah.." apa itu..? mengapa ada makhluk astral yang sepertinya berteman dengan wanita itu..?" ucap Satria bingung.


gadgetnya berdering. sebuah pesan masuk ke nomornya. sebuah vedeo memperlihatkan Hadi yang sedang disekap disebuah gudang tua.


vedeo itu disertai sebuah kalimat "Mati atau Berlutut" sebuah pesan penuh ancaman.


Satria menggeram "Brengsek..beraninya mereka menyentuh Hadi." entah mengapa Ia merasa begitu sangat ingin melindungi Hadi.


pesan kedua masuk, sebuah alamat yang dishare oleh si penyekap.


Satria merasa Hadi dalam ancaman dan dan bahaya. Ia segera menuju lokasi yang disebutkan oleh si pemyekap.


****


Satria memarkirkan mobilnya, sedikit menjauh dari lokasi penyekapan. Ia berjalan mengendap-ngendap mencari gudang tua yang berada diantara bangunan kosong terbengkalai.


Ia mendengar suara rintihan orang meminta ampun. Ia mengenali suara tersebut. "itu suara Hadi"

__ADS_1


Satria menajamkan Indra pendengarannya. Ia mengikuti suara rintihan tersebut. Setelah menemukan lokasi penyekapan, Satria berjalan dengan sangat ringan, agar tidak terdengar oleh para penyekap tersebut.


Satria mengintip melalui lubang kecil dipintu dinding gudang yang sudah keropos. dinding itu terbuat dati bahan plat besi.


ada sekitar sepuluh orang berbadan kekar. sedang berada didalam gudang. mereka mengikat Hadi pada sebuah kursi kayu.


salah seseorang dari mereka menyulutkan rokok yang masih menyala, kepunggung telapak tangan Hadi. "aaaggghh.." teriak Hadi menahan sakit.


Satria begitu sangat perih hatinya melihat mereka menyiksa Hadi.


satria melihat sebuah rantai katrol sepanjang dua meter, tergeletak didekatnya. Katrol besi itu sudah berkarat dan sudah tidak terpakai lagi.


"Aku tidak mungkin melawan mereka sendiri dengan tangan kosong." Satria berguman lirih.lalu memungut katrol tersebut.


Ia melilitkan sebagian katrol itu ketelapak tangannya, diantara ibu jari dan telunjuknya.l alu membiarkan sisanya menjulur kebawah.


Ia berjalan mendekati pintu gerbang, lalu mendobrak pintu tersebut dengan satu tendangan, sehingga pintu itu terbuka.


dua orang penyekap yang berada didepan pintu tersungkur dengan seiringnya dobrakan pintu.


dengan sigap Satria menyerang seorang yang berbadan kekar, mengayunkan katrol tersebut kearah wajahnya. orang tersebut tersungkur dang mengerang kesakitan sembari memegangi matanya yang pecah karena terkena hantaman katrol dari Satria.


seorang lagi membantu menyerang dari arah belakang, Satria memutar tubuhnya dan sedikit melayang satu jengkal dari lantai, lalu menghadiahinya dengan tendangan kaki kirinya.


sipenyerang terjerembab dilantai.


seseorang sedang menonton perkelahian itu dengan santai, duduk disebuah kursi, memandang dengan sorot mata tajam.


Hadi memandangi Satria dengan penuh kecemasan dan berdoa falam hatinya untuk keselamatan pahlawannya tersebut.


5 orang telah lumpuh, lalu orang ke 6 dan ke 7 datang bersamaan, menyerang dari sisi kanan dan kiri, Satri mengayunkan katrolnya dan mengenai kepala orang disisi kirinya, lalu orang tersebut ambruk.


orang ketujuh menyerang, dan dibantu yang lainnya. mereka melakukan penyerangan tidak seimbang.dan..[buuugh..]


sebuah hantaman benda tumpul tepat dibelakang Satria. pandangannya berkunang dan Gelap.


[brrruuuk..] Satria tersungkur dilantai berdebu.


****


Ia berada diruangan yang berbeda dengan Hadi. Ia berada diruangan pengap dan lembab.


Satria melihat dirinya sedang duduk dilantai, tubuhnya diikat dengan katrol besi yang dipungutnya dari luar tadi.


Ia mencoba melepaskan katrol tersebut, namun sia-sia.


Seseorang datang dengan langkah tegap, dengan diikuti beberapa langkah lainnya.


tampak Rey berdiri dengan angkuh dihadapannya.diikuti oleh beberapa orang lainnya.


lalu terdengar suara seorang gadis yang juga ikut disekap. gadis itu Shinta. gadis cantik yang menjadi primadona kampus.


"mengapa mereka menyekap Shinta juga? apa kesalahan gadis itu..?" Satria berguman dalam hatinya.


dua orang yang menjadi bodyguard Rey datang membawa sebuah meja kayu. meletakkan didinding yang menghadap kerarah Satria di ikat.


lalu Rey memerintahkan kepada para anak buahnya untuk membawa Shinta kedekat meja. Shinta meronta-ronta meminta untuk dilepaskan.


tatapannya pada Satria seolah memohon untuk menolongnya.


Satria sebenarnya tidak menaruh hati pada Shinta, namun Ia tidak suka, jika melihat wanita diperlakukan tidak baik didepan matanya.


Rey mendekati Shinta, kedua anak buahnya memegangi tangan Shinta, lalu Rey melucuti pakaian Shinta sehingga tanpa sehelai benangpun.


Satria menundukkan pandangannya. Ia begitu marah dengan perlakuan Rey terhadap gadis itu.


Rey menaikkan kedua tangan Shinta keatas. lalu mengikatnya kedidinding, menampilkan auratnya yang membuat para pengawalnya menelan salivanya.


dua orang anak buah Rey mendekati Satria, mengangkat tubuh Satria yang terduduk dilantai. meteka memegangi tubuh Satria yang yerikat dengan rantai katrol.


Rey mulai menjamah tubuh gadis itu. Shinta meronta-ronta memohon agar Rey melepaskannya. namun Rey semakin rakus.


Ia melahab tubuh mulus gadis itu, menyesap daerah terlarang dengan sangat rakus. hingga membuat Shinta mengejangkan tubuhnya, meski dalam kondisi paksaan, namun Ia hanyalah manusia normal yang memiliki naluri hasrat.


Rey tertawa melihat Shinta yang ternyata mencapai puncak surgawinya. lalu Ia menampar wajah Shinta "Dasar..kau murahan..!!" ucap Rey, dengan menekan kedua pipi Shinta dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya.


Rey meludahi wajah Shinta, lalu dengan bejadnya Ia menyenggamahi gadis itu dihadapan Satria.

__ADS_1


Setelah selesai dengan aksinya, Ia menyerahkan Shinta kepada para anak buahnya. lalu mereka beramai-ramai mengerubuni Shinta.


"Ciiih..munafik.."Satria meludah dan merasa jijik melihat Shinta yang sepertinya menikmati pemerkosaannya.


setelah para anak buah Rey merasa puas, mereka melepaskan Shinta dan Rey melemparkan sejumlah uang kepada Shinta. lalu memerintahkan gadis itu untuk pergi, setelah mereka membuka ikatannya.


setelah Shinta pergi, Dua orang anak buahnya membawa Hadi yang masih tak sadarkan diri, meletakkannya dilantai berdebu. sepertinya Ia banyak mengalami penyiksaan.


Rey mendekati Hadi yang masih tak sadarkan diri. Ia memerintahkan para anak buahnya, untuk menyiram wajah Hadi menggunakan seember air.


setelah air membasih wajahnya, Hadi tersadar dari pingsannya. Ia mengerjapkan matanya yang sayu. lalu Rey memerintahkan kepada anak buahnya agar memegangi Hadi, Lalu Ia mengambil sebilah pisau sangkur dari sarungnya yang diletakkan pinggangnya.


Rey meletakkan sebilah sangkur tersebut keleher Hadi. "berlutulah, dan bersujudlah, lalu memohon maaf padaku, maka akan aku lepaskan si culun ini.." Hardik Rey dengan penuh amarah.



pisau sangkur itu seperti ini ya pemirsa.


Satria menatap dengan tajam. Rey mengalihkan sangkur itu kewajah Hadi, menggores sedikit wajah itu dengan ujung sangkur yang runcing. darah mengalir dari kulit wajah yang terkena goresan.


Hadi mencoba menahan rasa sakit itu. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Satria.


seorang anak buah berbadan kekar menyeret tubuh Satria yang terikat Katrol. membawanya kehadapan Rey. memaksa Satria untuk berlutut.


pengawal itu itu menendang Satria hingga jatuh telungkup dilantai. Lalu menekan kepala satria dengan sepatunya.


Rey tertawa dengan lantang. lalu memukul tubuh Hadi dibagian perutnya. "aaagggh.." suara erangan Hadi yang menyayat hatinya.


dengan posisi terpojok Satria berusaha mengeluarkan segala tenaganya untuk dapat melepaskan dirinya. sebuah energi datang merasuk kedalam tubuhnya, rantai katrol itu putus dan terlepas dengan tiba-tiba. membuat semua mata terperangah.


sekuat apapun tenaga manusia tidak mengkin dapat melepaskan rantai katrol tersebut. lalu Satria mencengkram kaki anak buah Rey yang menginjak kepalanya. Ia menarik pergelangan kaki tersebut, lalu menghentaknya.


orang tersebut jatuh terlentang, Satria bangkit dengan menapakkan kedua telapak tangannya dilantai, dan mengayunkan kedua kakinya kedepan, lalu berdiri tegak.


Ia menyerang semua anak buah Rey. Hadi mengambil kesempatan, Ia menggigit lengan Rey sedang lengah. lalu mencoba melarikan diri dari Rey, namun naas, Rey melemparkan sangkurnya, dan mengenai punggung Hadi.


Hadi ambruk dilantai berdebu.


melihat Hadi terkapar dilantai Satria menyerang Rey menerjangnya dengan sebuah tendangan. Ia menghajar Rey dengan membabi buta.


Rey tak berdaya, lalu terdengar suara sirene polisi. ternyata Shinta yang berhasil kabur dari cengkraman Rey, mengambil kesempatan untuk menelefon polisi.


Shinta menatap Nanar pada Satria. Ia mengorbankan kehormatannya, demi keselamatan Satria, orang yang begitu dicintainya.


Satria yang sedang kalut, Membopong tubuh Hadi. hatinya begitu cemas. Ia tak mampu membayangkan Hal buruk terjadi Hadi.


polisi menangkap semua para pelaku kejahatan, dan juga menyeret tubuh kekar Rey kedalam mobil polisi.


****


Satria membawa Hadi kerumah sakit, Hadi banyak kehilangan darah. Satria tidak mencabut sangkur itu karena sangat membutuhkan tekhink dalam mencabutnya. jika sampai salah maka nyawa Hadi taruhannya.


Shinta membantu menyetir mobil Satria.


sesampainya dirumah sakit, Satria membopong tubuh Hadi sembari berlari. Ia membawa tubuh Hadi kedalam rumah sakit, para perawat datang membawa stretcher. Satria meletakkan tubuh Hadi dengan posisi telungkup, karena sangkur yang masih menancap di punggungnya.


Perawat membawa stretcher dengan berjalan cepat menuju ruangan UGD. Satria ikut berlari "kamu harus hidup Hadi..harus..!" bisik Satria dengan linangan air mata.


Langkah Satria terhenti, karena hanya petugas medis yang dapat memasuki ruangan itu.


Satria menunggu dengan cemas, Ia terus berdoa untuk keselamatan Hadi. entah mengapa Ia begitu sangat cemas dengan kondisi Hadi.


seorang dokter keluar dari ruangan UGD. "kalau boleh tau, Anda siapanya pasien..?" ucap perawat itu kepada Satria.


"saya keluarganya Dok.." ucap Satria cepat.


"kami membutuhkan tanda tangan untuk melakukan operasi. pasien mengalami banyak kekurangan darah. dan golongan darah pasien adalah golongan darah langka, yaitu AB-."


"kami tidak memiliki stok darah tersebut." ucap Dokter itu menjelaskan.


"coba chek golongan darah saya, Dok.."


bersambung ya.....


jari author lagi lagi pegel..


beri hadiah bunga n vote biar semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2