
Kriiiiing...
Sebuah panggilan masuk..
"hallo Ibu, apa kabar..?" ucap Hadi kepada Mala. Suaranya terdengar samgat manja.
"sayang.. Kamu bisa pulang sekarang?" ada hal yang sangat genting sekali disini."ucap Mala dari seberang telefon. Hatinya tampak kalut.
Hadi merasa penasaran dan sedikit khawatir mendengar nada bicara Mala yang tidak biasanya.
"apakah se serius itu bu..?" Hadi mencoba menenangkan hatinya. Ia tidak ingin terlihat panik.
"nanti ibu ceritakan. Tapi kalau bisa kamu segera pulang ya..?!" pinta Mala dengan penuh harapan. Ia ingin Hadi menemaninya dalam kondisi saat ini.
"baik bu, Hadi pulang hari ini. Hadi ingin ajukan cuti ." lalu Hadi menutup telefonnya.
Hadi mengemasi barang-barangnya. "Ia mencoba menghubungi Satria, namun tidak tersambung. Hadi tidak mengetahui jika Satria saat ini sedang berada dijepang.
Setelah beberapa x melakukan panggilan, akhirnya Hadi menutup panggilnannya.
Hadi menyetir seorang diri menuju desanya. Perjalanan yang cukup jauh. Memakan mwaktu jingga 12 jam perjalanan.
Diperjalanan Hadi merasa lelah. Ia menghentikan kendaraannya ditepi jalan, lalu mencoba beristirahat sejenak. saat matanya akan terlelap, seseorang mengetuk kaca mobilnya, lalu tanpa waspada, Hadi membukanya.
"Ada perlu apa bang..?" tanya Hadi, dengan penuh perasaan yang tidak baik. Apalagi ini jalanan tergolong sepi. Namun karena matanya yang teramat mengantuk, Ia terpaksa beristirahat disini.
Pria itu ternyata tidak sendiri. Ia bersama satu rekannya yang menunggu diatas sepeda motor.
Pria itu menodongkan senjata tajam. "berikan harta bendamu, jika tidak ingin kepalamu robek..?" ancam pria itu dengan sedikit sebuah gertakan.
Hadi seketika merasa menciut nyalinya. dengan terpaksa Ia menyodorkan hanphonenya. Setelah mendapatkan sesuatu , kedua pria itu memilih kabur dan meninggalkan Hadi seorang diri.
Hadi melenguh kesal. Bagaimana Ia mengabari Ibunya jika sudah begini.
Rasa kantuknya seketika hilang, karena peristiwa yang mengangetkannya itu. Hadi kembali melanjutkan perjalanannya.
Hari mulai gelap. Hadi memasuki sebuah jalanan sedikit sepi, dengn hutan dikanan kirinya. Dalam keremangan malam. Hadi melihat sesosok makhluk yang sedang melintas di hendak menyeberangi jalan.
"siapa malam-malam sendirian ditengah hutan seperti ini." Hadi berguman lirih dalam hatinya.
Saat lampu sorot itu mengenai sosok yang akan menyebarangi jalan, tiba-tiba saja sosok itu menghilang.
Hadi terkejut. Seketika Ia merasakan bulu kuduknya meremang. "kemana wanita itu..?" Hadi celingukan mencari sosok yang dicarinya. Ia hanya melihat sebatang pohon pisangn yang tumbuh liar diipinggir jalan.
Hadi mencoba fokus menyetir. Setelah beberapa lama menyetir. Hadi merasakan jika mobilnya hanya begerak disitu-situ saja.
"aneh..? Bykannya aku sudah sejak sejam menyetir..?" Ia melirik arloji ditanganya, sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"berarti perkiraanku benar, tetapi mengapa aku masih berada disini juga..?" Hadi merasakan keanehan pada dirinya.
Entah perasaan apa, Ia melihat jok belakang dengan menggunakan spion dashboar. alangkah kagetnya, saat Ia melihat seseosok mengerikan sudah berada di sana. Entah kapan tiba-tiba saja sosok kuntilanak sudah duduk di jok belakang.
"astagfirullah hallaszhim... Allahimma bariklana fima razaktana wa qina azzabannar....!" ucap nya mantab.
Namun si kunti bukannya pergi, malah cekikikan disana.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat Hadi semakin semakin kacau.
"koq dia gak hilang sih.." gerutu Hadi dengan kesal.
"heei...setan sialan..!! Keluar kamu dari mobilku..! Iseng banget..!!" Hadi memaki kuntilanak tersebut.
Nini Maru merasa kesal, lalu Ia segera keluar melayang dari kaca mobil yang terbuka. Meski sebelumnya menyempatkan menyentil telinga Hadi, Dan menghilang dikegelapan malam.
"sakit tau..!!"gerutu Hadi sembari mengusap-ngusap telinganya.
"bismmillahirahmanirrahim.." ucap Hadi, lalu memulai kembali perjalanannya.
---------
Mala menunggu dengan gelisah. "kemana kamu nak..? Kenapa nomor kamu tidak bisa dihubungi..?" ucap Mala dengan gelisah. Ia berjalan mondar mandir, sembari sesekali memandang jam dinding rumahnya. Sudah menunjukkan pukul 9 malam. Namun Hadi tak juga kunjung datang.
Dikamar, terdengar suara teriakan Roni yang memilukan hati. Ia seperti orang yang sangat ketakutan. Ia mengatakan, jika arwah Reza selalu menghantuinya.
Reza seolah-olah datang ingin menuntut balas atas kematiannya. Bahkan Reza hadir dalam rioa wujud yang menyeramkan.
Mala sudah berusaha kesana kemari memberikan pengobatan. Namun tak juga mampu meredamkan emosi Roni. Karena takut Roni berbuat diluar nalar, maka Mala mengurungnya didalam kamar.
Kini Mala meminta bantuan Hadi, Mala sudah tidak dapat berbuat apapun lagi, Ia sangat frustasi.
Sesaat tampak sebuah cahaya mobil memasuki halaman rumahnya. Hati Mala seketika merasa lega.
Ia bergegas menuju keluar rumah. Tampak Hadi turun dengan wajah lelah. Mala berlari menghampirinya. "sayaang mama.." Ia memeluk anak lelakinya, menciuminya dengan debaran yang sempat tadi merasakan khawatir.
"Maaf bu, tadi ada sedikit masalah dijalan, makanya Hadi terlambat." ucap Hadi berusaha menenangkan hati Mala.
"ada apa sebenarnya bu..?" Ucap Hadi penasaran. Tampak wajah lelah ibunya dan kini juga semakin terlihat lebih kurus.
"aaaaaagggh.." suara teriakan Roni dari dalam kamar. Membuat Hadi dan Mala saling pandang.
"ayah..?" Hadi merasa heran, namun belum sempat beryanya, Mala sudah berlari kembali masuk kedalam rumah.
Hadi mengekori ibunya. Rasa lelah diperhalanan kini sirna, karena rasa penasaran yang teramat kuat.
Mala membuka pintu kamar. Tampak kamar sangat berantakan. Roni melempari barang-barangbapa saja yang ada didalam. Ia duduk meringkuk disudut dinding kamar.
Ia berteriak, mengatakan jika ada seseorang yang datang dengan wajah menyeramkan ingin menyerangnya.
Mala menangis tersedu-sedu mendengarnya. Makanan yang diberikan Mala untuk makan malam tadi berserakan dilantai.
Hadi sangat terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Ia belum mengerti mengapa Ayahnya sampai mengalami hal tersebut.
Mala tidak berani mendekati Roni. Karena Roni terkadang kehilangan kesadarannya, melemparkan apa saja yang Ia temui.
Hadi ingin bertanya pada Mala, namun suaranya tercekat ditenggorakannya.
"A...ayah..? Apa sebenarnya yang sudah terjadi.? Mengapa harus seperti ini..?" Hadi kebingungan.
Selama ini Ia mengetahui jika Roni adalah sosok pria yang sangat baik. Bahkan Ia tidak memiliki musuh dengan siapapun. Masalah ekonomi juga Ia tidak begitu kekurangan. Namun Ia tidak mengerti mengapa Ayahnya sampai seperti ini.
"apa yang terjadi bu..?" ucap Hadi lirih. Mencoba memgumpulkan sisa keberaniannya.
Ia melihat Mala yang terus terisak. Ada beban berat dipundaknya.
__ADS_1
Mala masih bungkam. Ia mendekati Roni, mencoba untuk merayu suaminya, agar berusaha tenang. Tatapan mata pria yang dicintainya itu begitu sangat nanar.
Mala berjongkok, mendekati Roni, lalu meraih kepala Roni, dan membawa pada pelukannya. "jangan takut sayang, adik disini selalu bersama abang." bisik Mala ditelinga Roni, dengan isakan yang ditahannya.
Mala mengecup ujung kepala suaminya dengan lembut, sembari membacakan doa-doa yang Ia panjatkan kepada Rabb-Nya.
Sesaat Roni mengantuk, lalu perlahan tertidur dalam dekapan Mala.
Mala membisikkan ayat-ayat suci ditelinga suaminya dengan lembut. Lalu Roni tertidur pulas.
Mala meminta Hadi untuk membantu membopong ayahnya keatas ranjang. Dengan sigap Hadi membantu Ibunya.
Lalu meteka membaringkan tubuh kekar Roni diatas kasur. Mala menutupkan selimut ketubuh suaminya, dan mengecup lembut kening Roni.
Mala membersihkan barang-barang yang terlempar dan berserakan dilantai. Setelah selesai , Ia mengajak Hadi untuk keluar kamar.
"bentar bu, sebaiknya barang-barang yang berbahaya disingkarkan dari kamar ink. Karena akan beresiko buat keselamatan ayah. Takutnya nanti digunakan untuk melukai dirinya." ucap Hadi, sembari mengumpulkan semua barang-barang yang dianggap berbahaya dan membawanya keluar kamar.
--------
"Ada apa dengan ayah bu..? Mengapa sampai terjadi seperti ini?" ucap Hadi penasaran.
Mala yang masih menyiapkan makan malam untuk Hadi dan membuatkan minuman hangat.
"makanlah dahulu, nanti inu ceritakan.." ucap Mala dengan raut wajah yang masih sedih.
Hadi menurutinya. Ia menyantap makan malamnya. Lalu menghabiskannya.
Mala memandangi wajah Hadi dengan seksama. Ia masih memikirkan tentang harus bagaimana memulai kata-katanya.
"Ayahmu membunuh seseorang" ucap Mala lirih.
"a..aapaa..?!" Hadi sangat terkejut. Ekspresi wajahnya sangat tertekan. Bagaimana mungkin, seirang Roni yang terlihat sangat baik dapat membunuh seseorang.
"ibu bohongkan bu..? Atau ibu hanya pengen nge-prank Hadi..?" tanya Hadi dengan debaran didadanya yang tampak bergemuruh. Ia berharap, apa yang Ia dengar hanyalah sebuah mimpi saja.
Mala menggelengkan kepalanya. "ini benar. Kejadiannya kurang lebih 7 bulan yang lalu." Mala menjeda ucapannya.
"lalu apa alasan Ayah membunuh orang itu..?" tanya Hadi penasaran.
"karena orang itu ingin merampas kehormatan Ibu sebagai istrinya. Ayahmu tidak sengaja membunuhnya, hanya refleks saja." jawab Mala dengan air mata yang mengalir dipipinya.
"lalu mengapa Ayah bisa melenggang bebas.?" tanya Hadi penasaran.
"karena ayahmu menguburkan jasasdnya, namun naas, katena lubangnya tidak dalam, maka mengundang binatang karnivora untuk menelannya."Mala mencoba menjelasnyannya.
Mengapa bisa disimpulkan binatang itu yang menelannya?" Hadi semakin penasaran.
"karena mereka menemukan cincin miliknya yang terukir namanya didalam perut ular yang menelan seekor anak sapi, dan bersemayam didalam rumahnya yang sudah lama ditinggalkannya." Mala menarik nafasnya.
Hadi mencoba mengamati setiap penjelasan dari ibunya.
Lalu mengapa ayah sampai seperti sekarang?" ucap Hadi.
"Ia mengatakan jika arwah korban yangndibuhnya itu selalu mengikutinya kemanapun Ia pergi." jawab Mala.
"Mungkin ayah berhaluainasi. besok Hadi akan mencari obat penenang syaraf, mudah-mudahan aya segera pulih kembali seperti semula." ucap Hadi mencoba menenangkan hati Mala.
__ADS_1