
Rasa kantuk yang amat luar biasa kini menghinggapi Satria, Widuri terus saja memberikan kejutan-kejutan rasa sakit dilututnya, agar Satria terus terjaga.
Hingga tepat pukul 12 siang, saat Satria merafalkan mantra terakhirnya, diikuti suara sambaran petir yang maha dahsyat, dan meruntuhkan langit-langit goa.
Benatuan berhamburan dan hampir saja mengenai Widuri dan Satria, namun pemuda itu sedang menyelesaikan tifakat terakhirnya untjk mencapai kesempurnaan.
Reruntuhan langit-langit Goa itu semakin melebar, dan tanpa diduga, para pasukan demit uang sangat banyak jumlahnya dan tak terhitung, berusaha meringsek masuk dari lubang yang disebabkan oleh sambaran petir tersebut.
Demit dan sekutunya menyerbu masuk kedalam, membuat Chakra Mahkota dan Widuri tampak kewalahan mengahalau serangan yang teramat banyak.
Chakra Mahkota melibaskan sayap dan ekornya kepada para pasukan demit yang kekuatannya bertambah berkali lipat dari malam tadi.
Sepertinya Nini Maru juga mengirimkan pasukan lain yang mencoba memperoka pirandakan pertahanan Chakra Mahkota.
Khadam itu menyemburkan sinar Jingganya keoada para demit, sebagian terdengar suara rintihan dan erangan kesakitan baginyang terkena semburannya.
Namun sebagian lain meringsek dari jalan lain yang berupa lubang diatas langit-langit Goa.
Banyaknya jumlah pasukan demit tak mampu lagi terbendung, mereka mulai menghampiri Satria yang masih memejamkan matanya.
Seketika, Satria membuka matanya, lalu menatap tajam pada para demit dengan berbagai rupa dan bentuk yang berusaha untuk menghancurkan dan mencabiknya.
Satria meniupkan angin dari mulutnya dikedua telapak tangannya, lalu meyapukan keseluruh tubuhnya, sebagai bentuk Ia telah selesai melakukan tirakatnya. Lalu Ia merafalkan mantra ajian segoro geni dengan sangat lantang.
"BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM
Niat ingsun amatek ajiku Segoro Geni, diijabahi marang gusti kang nggadha Geni, amergo ingsun anyakseni siro kang kasebut Ratuning Geni. Siro kang kasebut jagad Geni, siro kang kasebut Segoro ning Geni, Ratuniro, Ratuning Geni, Jagadniro, Jagad Geni, Segoroniro Segoro Geni Yahu Allah Yahu Allah Yahu Allah Hu."
Seketika ruangan menjadi sangat panas, Satria menaikkan tasbih yang dipegangnya, sejajar setinggi kepalanya, lalu mengucapkan kata.."Musnahlah kalian para makhluk laknat...!!" ucapnya semabari merentangkan kedua tangannya.
Seketika hawa panas kian merebak dan tak tertahankan. Widuri yang juga berada disana memilih untuk pwrgi karena tidak kuat menahan hawa panas tersebut.
__ADS_1
Sedangkan para demit dan sebangsanya yang sudah terjebak didalam lingkaran ghaib berupa api dari ajian segoro geni telah memerangkap makhluk-makhluk durjana tersebut.
Seketika teriakan dan lolongan kesakitan membahana diseluruh ruangan tempat Satria dan para demit itu sedang bertarung.
Kobaran api seketika bermunculan dimana-dimana. Tampak para demit yang terbakar saat terkena ajian itu berlarian dan berterbangan kesana kemari. Membentur dinding goa, bahkan saling bertabrakan satu sama lainnya.
Suara riuh dan gemuruh yang diiringi jeritan kesakitan oleh para demit dan berbagai makhluk siluman lainnya begitu sangat terdengar mengerikan dan memekakkan telinga.
Satria menyaksikan betapa dahsyatnya ajian tersebut. Dimana tampak laksana lautan api yang sedang terpampang didepan matanya. Lautan api dari kobaran para demit dan siluman yang terbakar karena terkena ajian yersebut.
Perlahan suara jeritan itu kian meredup bersamaan dengan hangus dan menjadi butiran serpihan cahaya jingga yang menghilang tersapu angin.
Satria menghela nafas lega, menyaksikan musnahnya para demit tersebut. Namun Ia tersentak, saat melihat Widuri tak berada didalam goa.. "Kemana Dia..?" ujarnya lirih. Lalu mengedarkan pandangannya, namun tak menemukan sang peri.
Sesaat Ia melihat sebuah bulu halus tergelatak dilantai goa, tampak hangus sebagian.. "Widuri.. Dimana kamu..?" ucap Satria dengan penasaran.
Pemuda itu memejamkan matanya, mencari keberadaan Sang Peri yang sudah membantunya menyelesaikan tirakatnya.
Satria beranjak bangkit, lalu memungut tas ranselnya, menuju kolam pemandian. Sesampainya disana, melihat peri itu sedang berendam disana dengan memunggunginya.
Satria dapat melihat, jika salah satu sayapnya terkuka akibat tidak sengaja terkena ajian segoro geni.
Satria merasa bersalah akan hal itu, meskipun tanpa sengaja dilakukannya.
Menyadari kehadiran sang Pemuda, Widuri segera menyudahi ritual mandinya, lalu mengenakan pakaiannya, dan naik keatas tepian kolam.
Rasa nyeri sedikit membuatnya tertatih, sehingga membuat sanga pemuda untuk membantunya, dan membawa gadis itu berada disebuah bongkahan batu, dan duduk diatasnya.
"Maafkan aku, tidak sengaja melukaimu.." ucap Satria dengan tulus, sembari menatap luka dipunggung sayap tersebut.
"Tak mengapa, aku hanya tidak menyadari jika aku juga ternyata makhluk ghaib.." ucap Widuri dengan lirih.
__ADS_1
"Tetapi kamu bukan bagian dari yang terlaknat.." jawab Satria cepat, mencoba membesarkan hati Peri tersebut.
Seketika seulas senyum tipis menghiasi wajah peri itu. "Aku akan memulihkan kesembuhanku, setelah aku sembuh, aku akan menyusulmu." ucap Widuri, sembari memegangi luka bakar yang yang tampak melukainya.
"Aku akan menunggumu sampai sembuh.." jawab Satria menawarkan diri.
"Pergilah.. Tidak ada waktu untuk itu, aku dapat menjaga diriku sendiri.. Pergilah ke arah utara.. Disana kamu akan menemukan sebuah goa yang dihuni oleh seorang...." Widuri tak melanjutkan ucapannya.. Ia ingin menyebutkan kata 'gadis cantik', namun tercekat ditenggorakannya.
"Kamu akan bertemu Nini Maru, saat ini Ia sedang menyempurnakan ajian pancasonanya.. Segeralah bergegas untuk menghalanginya, sebelum semuanya terlambat.." titah Widuri dengan tegas.
"Tetapi..." ucap Satria ingin menyela..
"Tidak ada tapi-tapian..segeralah pergi.. Sebelum bulan purnama bulat sempurnah.." desak Widuri.
Satria merasa tak tega meninggalkan peri itu yang tampak sendiri kesakitan. Namun Ia juga harus segera pergi keutara untuk mencari Goa tempat Nini Maru menyekap ke enam jiwa saudaranya.
"Jaga dirimu, dan berjanjilah untuk menemuiku.." pinta Satria dengan penuh harap.
Widuri menganggukkan kepalanya, menatap pemuda itu, dan meyakinkan jika Ia baik-baik saja.
Satria melangkah dengan langkah berat, meninggalkan goa dan Widuri seorang diri.
Diluar sana, Satria melihat Khadam Chakra Mahkota yang tampak duduk menyambutnya. "Mari kita lanjutkan perjalanan.." ucapnya dengan semangat.
Satria menganggukkan kepalanya, lalu melangkah meninggalkan goa. Ia memandangi alam sekitaran goa yang tampak hangus karena terbakar oleh ajian segoro geni dan juga petir malam tadi.
Pemuda itu melangkahkan kakinya menyusuri jalanan hutan yang dan semakan. Ia merasa tak sabar untuk sampai goa tersebut.
Sementara itu, Genderuwo yang menjadi pimpinan panglima perang berhasil melarikan diri untuk menemui Nini Maru yang sedang menyempurnakan ilmunya.
Sang Genderuwo tampak terluka parah. Bulu-bulu ditubuhnya tampak hangus, dan tak menyisakan sehelai bulupun. Beberapa luka bakar telah membuatnya ketar ketir untuk melanjutkan perlawanan kepada Satria, Ia memilih untuk melarikan diri, dan melaporkan apa yang sedang terjadi dan tengang kedahsyatan ajian Segoro Geni.
__ADS_1