Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Masalah Besar


__ADS_3

Rakes dan Ayunda berniat pulang ketanah air untuk menjenguk sang cucu. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu sang cucu, bahkan sang cucu juga tidak pernah menghubungi mereka.


Rakesh dan Ayunda sekaligus ingin berniat berziarah ke makam Brqm dan Jayanti, yaitu anak dan menantunya.


Selain itu, Rakes juga berniat untuk memberikan sisa perusahaannya untuk sang cucu sebagai pewaris tunggal.


"Sayang.. Kita akan berangkat ke Indonesia dengan jadwal pernerbangan siang ini, maka bersiaplah.." ucap Rakes kepada Ayunda, yang tampak begitu tak sabar.


"Iya sayang.. Aku tak sabar ingin melihat cucuku yang tampan itu.." ucap Ayunda sembari tersenyum sahaja. Keduanya pun berangkat dari kediamannya menaiki mobil yang kemudikan oleh sopir mereka.


Sesuai yang dijadwalkan, Kedua insan lanjut usia itu sudah berada dibandara. Setelah mengurus seluruh proses administrasinya, maka mereka melakukan penerbangan.


"Kita jangan mengabari Satria dulu, kita akan memberikan kejutan besar untuknya.." ucap Rakesh sembari menggengam jemari tangan Ayunda.


Cinta keduanya tampak begitu murni, hingga diujung usia, berjanji menua bersama.


******


langit sore tampak cerah, Hadi membawa Shinta kembali kerumah Kakaknya Satria. Sudah lama mereka meninggalkan rumah itu setelah kejadian Nini Maru yang meneror Shinta waktu itu.


Namun rumah tetap terawat karena ada yang setiap saat merawatnya.


Keduanya berbaring disofa, karena baru saja melakukan perjalanan jauh dan melelahkan, ditambah lagi mengantarkan Hamdan sang paman ke bandara Internasional.


Tak berselang lama, keduanya, terlelap disofa, dalam rasa kantuk yang sangat luar biasa.


*******


Pukul 8 malam, Pesawat yang ditumpangi Rakesh dan Ayunda mendarat sempurnah dibandara Internasional. Keduanya begitu tampak bahagia. Rasa kangen terhadap sang cucu begitu sangat kuat, sudah sangat lama sekali mereka ingin bertemu cucu kesayangannya itu.


Keduanya kini sudah berada diarea parkiran, menunggu taksi online yang mereka pesan.


Tak lupa mereka membawa oleh-oleh yang sangat banyak Khas Jepang.


"Kapan kita punya cicit ya Sayang..? Satria harus cepat-capat menikah, agar pewaris kita hanya sampai berhenti di dirinya saja.." ucap Rakes dan Ayunda sembari tersenyum penuh harapan.


Lalu keduanya menaiki taksi online pesanan mereka, menuju kediaman sang cucu.

__ADS_1


Sementara itu, Hadi terbangun karena perutnya merasa sangat keroncongan. Sedangkan Shinta masih terlelap. "Ya ampunn.. Aku ketiduran sampai malam.." Hadi berguman lirih.


Hadi mengusap kedua matanya, berniat mencari makan malam, dan keluar sejenak. Namun sebelumnya Ia melaksanakan shalat Isya terlebih dahulu.


Hadi berpesan kepada security dirumahnya untuk selalu waspada terhadap orang asing yang datang kerumah.


Hadi meninggalkan kerumah, mencari penjual makanan untuk makan malam mereka dan berkeliling kompleks.


Saat mobil Hadi keluar dari gapura kompleks, maka dengan bersamaan, sebuah taksi online memasuki komplek tersebut.


"kita hampir sampai, tak sabar rasanya ingin mencubit pipi sitampan." ucap Ayunda merasa gemas, meskipun Ia sedikit kesal karena sudah sekian bulan Satria tak menghubunginya.


Taksi online yang ditumpangi Rakesh dan Ayunda berhenti didepan pagar rumah nan mewah, dengan arsitektur modern.


"Kita berhenti disini pak.." titah Rakesh kepada sopir taksi tersebut.


"Ok, Pak.." ucap sopir itu, sembari menghentikan taksinya.


Lalu Rakesh dan Ayunda turun dari taksi, dan menatap rumah mewah tersebut dengan mata sendu. Ada rasa bahagia ingin bertemu dengan sang cucu, namun ada juga rasa sedih jika mengenang Bram dan Jayanti yang telah mendahului mereka.


Rakesh menarik nafasnya dengan berat, ada rasa sesak didadanya yang kian menghujam jantungnya.. "Bram.. Mengapa begitu cepat kamu pergi sayang.." guman Rakesh dengan lirih, sembari menyeka air matanya yang jatuh tanpa dapat dicegah.


Rakesh lalu membayar uang jasa transportasi tersebut.


Security memandangi kedua Insan lanjut usia tersebut yang tampak berjalan menuju kerumah tuannya.


Kedua insan itu berjalan melenggang begitu saja, lalu menemui security untuk membawakan barang-barang yang mereka bawa.


"Pak.. Tolong bawakan barang-barang kami kedalm rumah.." ucap Rakesh sembari meminta security membuka pintu pagar rumah tersebut.


"Maaf, tetapi Tuan dan Nyonya siapa ya..? Saya tidak mengenal dengan jelas." ucap Security dengan sopan.


"Kamu security baru ya..?" tanya Ayunda dengan ramah.


"Iya.. Saya security baru.." jawab nya jujur.


"Saya Opa dari pemilik rumah ini.." ucap Rakesh memperkenalkan diri.

__ADS_1


Namun security itu mengingat pesan Hadi agar tidak sembarangan terhadap orang Asing.


"Kalau begitu saya panggilkan Nyonya dulu Tuan.. Maaf, untuk sementara tunggulah sejenak disini.." ucap security tersebut.


Perlakuan security itu membuat Rakesh dan Ayunda merasa kesal. Ingin rasanya Ia menendang security itu, Ia tidak tahu siapa Rakesh sebenarnya.


Securuty itu masuk kedalam rumah, mendapati Shinta yang masih terlelap, dengan terpaksa Ia membangunkannya.


"Nyonya.. Nyonya.. Bangunlah.. Ada yang mencari, dan mengaku sebagai Opa dan Oma dari Tuan Hadi.." ucap Security itu sedkit mengeraskan suaranya agar Shinta terbangun.


Shinta tersentak dari tidurnya, lalu mengusap matanya. "Ada apa Pak..?" tanya Shinta dengan nyawa yang masih belum kumpul.


"Ada orang Asing yang mengaku Opanya Tuan, dan memaksa ingjn masuk.." jawab Security itu menjelaskan.


Shinta mengernyitkan keningnya. "Bukan Opa Kak Hadi sudah meninggal dikampung..? Kalau ga salah namanya Ki Karso.." ucap Shinta lirih, sembari membenahi ikat rambutnya yang acak-acakkan.


"Tetapi mereka memaksa masuk.." ucap Security itu menjelaskan.


Shinta akhirnya beranjak dari sofanya, menuju pintu pagar untuk melihat siapa yang dimaksud oleh security tersebut.


Setelah sampai dipintu pagar, Shinta meminta security itu membuka pagarnya, dengan rasa kantuk yang masih menggelayuti matanya, Ia memperhatikan kedua pasangan lanjut usia tersebut, namun masih tetlihat elegant, sepertinya mereka bukan orang sembarangan.


"Maaf, Opa dan Oma, sedang mencari siapa ya..?" tanya Shinta dengan ramah.


"Kami mencari pemilik rumah ini, Kami adalah Opa dan Omanya." ucap Ayunda yang tampak mulai kesal karena terlalu lama berdiri didepan pagar.


Shinta tampak bingung dengan apa yang dimaksud oleh keduanya. Namun bersamaan dengan itu, seorang tetangga komplek sedang membawa motor dan baru saja keluar dari pintu pagar rumahnya.


Melihat Rakesh dan Ayunda berdiri didepan pagar, Ia segera menghampirinya. "Eh.. Opa.. Oma.. Apa kabar..? Sudah lama tidak berkunjung ke Indonesia..? Pasti jngin mengunjungi Satria ya.." ucap tetangga tersebut, sembari menjabat tangan keduanya. Dan berlalu pergi.


Deeeeeeegh..


Seketika ingatan Shinta melayang kepada Ayah Bram dan Ibu Jayanti Satria, orang yang sudah melakukan Pujon kepada Kakak iparnya itu.


"Emmm.. Eh Opa dan Oma.. Mari masuk.." ucap Shinta menawarkan dengan perasaan gugup dan gemetar.


Lalu Shinta memerintahkan kepada Security itu untuk membawa semua barang-barang milik Rakesh dan Ayunda kedalam kamar khusus untuk keduanya.

__ADS_1


"Maaf Opa dan Oma, saya tidak mengenali jika anda adalah Opa dan Oma Kak Satria." Ucap Shinta dengan deguban jantung yang kian berdebar.


Shinta tampak gugup dan gemetar menghadapi kenyataan yang tiba-tiba saja. Bagaimana jika keduanya menanyakan siapa Ia dan Hadi.. Sedanhkan keduanya juga tidak mengenali Hadi dan dirinya.


__ADS_2