Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pertemuan


__ADS_3

Satria berjalan menyusuri semak belukar yang banyak ditumbuhi rumput berduri. Ia berusaha menyibakkan rerumputan yang menghalangi jalannya.


"Berjalan lebih cepatlah anak Muda.. Jika sampai kita terlambat dan Nini Maru berhasil menyelesaikan pertapaannya hingga malam gerhana bulan total, maka Ia akan berubah wunud menjadi Kunilanak Merah.." Chakra Mahkota mencoba mengingatkan Satria.


"Apa..? Kuntilanak Merah..?" tanya Satria penasaran.


Chakra Mahkota meraih tubuh pemuda itu, lalu meletakkannya diatas punngungnya. "Berpeganganlah.. Aku akan membantumu melewati semak berduri ini hingga jalanan yang lebih mudah." ucap Chakra Mahkota, lalu terbang melayang melewati semak berduri.


Satria menguatkankan cengkramannya karena takut jika terjatuh.


Setelah sampai disebuah lokasi yang sedikit berbatu, hingga terlihat jalanan yang akan dilalui. "Aku hanya bisa membantumu sampai disini saja, selebihnya, berusahalah sendiri.." ucap Chakra Mahkota, lalu mendarat sempurnah dan meminta Satria segera turun.


Pemuda itu turun dari punggung Sang Naga.lalu Naga itu mengepakkan sayapnya, hendak pergi meninggalkannya. "Tunggu.. Kamu belum menjelaskan tentang Kuntilanak Merah tadi.." ucap Satria dengan perasaan penasaran.


Lalu Chakra Mahkota mengatupkan sayapnya." Dengar, Kuntilanak Merah adalah asal dari kuntilanak putih yang berhasil melewati pertapaan. Diantara 500 kuntilanak putih yang bertapa, maka hanya satu saja yang berhasil menjadi merah. " ucap Chakra Mahkota mencoba menjelaskan.


"lalu..." tanya Satria kembali dengan rasa penasaran.


"Jika Ia sampai berhasil, maka Ia akan menjadi yang terkuat diantara kuntilanak putih lainnya dan memiliki kekuasaan yang sangat ditakuti.. Maka jangan sampai terlambat.. Didepanmu banyak godaan yang menunggu.." ucap Chakra Mahkota.. Lalu mengepakkan sayapnya, terbang dan menghilang.


Satria terdiam termangu memikirkan ucapan dari Chakra Mahkota, lalu Ia kembali melanjutkan perjalanannya.


Sementara itu, seorang pemuda berwajah menyeramkan sedang berjuang untuk dapat mencapai suara senandung yang menggetarkan hatinya. Ia berjalan berlawanan arah dari Satria. Rasa penasaran pemuda menyeramkan itu sudah membuatnya sangat banyak melewati berbagai rintangan.


Rasa lapar menghinggapinya, Ia sudah beberapa hari tidak makan, rasa lapar memaksanya harus mencari sumber makanan. Ia berjalan menyusuri hutan, lalu menemukan seekor ular phyton yang sedang mencerna makananya dibawah sebatang pohon yang terdapat lubang dibawahnya.


Rey.. Sipemuda menyeramkan itu, menangkap ular yang sedang tertidur karena baru saja menelan seekor ayam hutan. Lalu dengan sigap, Ia mencengkram kepalanya, menariknya keluar dari lubang tanah yang terdapat dibawah pohon, dan melibaskannya kesebatang pohon hingga tewas.


Setelah ular itu tewas, Ia mengulitinya menggunakan kuku-kuku tangannya yang runcing karena sudah sekian lamanya tak pernah dipotong.


Tanpa rasa jinik, Ia mencabik daging ular tersebut, dan melahabnya denhan sangat rakus.

__ADS_1


Setelah selesai dengan santapannya, Ia merasakan haus yang sangat luar biasa. Ia ingin mencari sumber air untuk memuaskan dahaganya yang teramat sangat.


Setelah cukup jauh berjalan, Ia mendengar suara gemericik air yang tak jauh dari tempat Ia berdiri.


Dengan langkah cepat, Ia menghampiri sumber air tersebut. Tampak sungai membentang dihadapannya. Sebuah sungai berair jernih, dengan bebatuan besar.


Rey dengan tak sabar mencapai pinggir sungai. Bukan hanya untuk minum airnya, namun juga untuk menyeggarkan tubuhnya. Pemuda bertampang menyeramkan itu membenamkan dirinya didalam sungai, seolah-olah bertahun lamanya tidak pernah memversihkan diri. Saat Ia akan menikmati mandinya, samar-samar Ia mendengar suara lantunan senandung cinta yang begitu mengalun syahdu ditelinganya.


Disisi lain, Satria juga mengalami kehausan yang teramat sangat karena sudah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan.


Satria mencari sumber air untuk menghindari dehidrasi yang kini sedang dialaminya.


Saat Ia sedang menajamkan indra pendengarannya untuk mencari sumber air, Ia mendengar suara lantunan senandung cinta nan lembut mendayu-dayu, memaksanya untuk mencari sang pemilik senandung.


Langkah kakinya membawa kepada sumber air yang sedang Ia cari.


Sementara itu, Seorang gadis cantik dengan lekuk tubuh aduhai sedang menikmati mandinya ditengah hari sembari bersenandung ria. Hari ini entah mengapa perasaannya begitu teramat bahagia.


Dengan terus bersenandung, ia memejamkan matanya, menikmati kesegaran air sungai yang memanjakannya.


Tanpa Ia sadari, sepasang mata buas tengah mengawasinya sedari tadi dibalik bongkahan batu besar dengan tubuh basah kuyup.


Nafas pengintai itu memburu. Sesuatu yang dicarinya selama ini, kini tersaji didepan matanya. Seorang gadis cantik nan rupawan, yang mana kecantikannya tak mampu Ia lukiskan dengan apapun.


Nafasnya kian memburu, sesuatu yang tersembunyi dibawah perutnya seketika meringsek naik, Ia tak mampu mampu menahan hasratnya yang sudah lama terpendam sejak Ia menjadi kanibalisme didesa waktu itu.


Gadis yang masih asyik dengan senandungnya itu tidak menyadari jika seseorang telah menyelam kedalam sungai dan semakin menghampirinya.


Sementara itu, Satria merasakan suara senandung itu semakin dekat, dan rasa penasaran itu semakin kuat untuk dapat melihat siapa pemilik senandung itu.


Satria menyibakkan semak belukar yang menghalangi pandangannya dari pengintaian terhadap pemilik senandung.

__ADS_1


Dari kejauhan, Ia melihat seirang gadis cantik nan jelita sedang mandi berbenam dan bersenadung.


"Apakah Dia pemilik senandung itu..?? Namun mengapa ditengah hutan belantara..?" Satria berguman lirih dalam hatinya.


Namun seketika Ia tersentak, saat mata bathinnya menerawang siapa gadis cantik nan ayu rupawan tersebut.


"Ternyata Ia anak persilangan antara manusia dan jin.. Pantas saja tinggal ditengah hutan belantara." Satria mengguman lirih.


Rasa haus yang teramat sangat, memaksanya untuk meminum air tersebut.


Satria menuruni tebing setinggi dua meter untuk mencapai sungai tersebut.


Ada perasaan bergetar dihatinya saat menyaksikan kecantikan gadis bunian tersebut. Namun Ia berusaha mengontrol dirinya, untuk tidak perduli. Ia hanya ingin minum air untuk melepaskan dahaganya.


Namun, gadis itu terus bersenandung, menggetarkan setiap dinding hatinya, yang berusaha sekuat tenaga Ia menahannya.


Satria mengambil jarak beberapa meter dari tempat sang gadis yang sedang berbenam diri. Satria menyadari jika sang gadis telah terbuai dengan senandungnya sendiri, sehingga tak menyadari kehadiran siapapun.


Sesaat Satria mencurigai pergerakan air yang menghampiri sang gadis. Belum hilang rasa curiganya, sesosok pemuda bertampang seram memunculkan dirinya, lalu mencengkram sang gadis yang tersentak kaget mendapati kenyataan jika seseirang telah mengangkatnya kepermukaan.


Gadis ayu itu meronta ingin melepaskan diri dari cengkraman pemuda menyeramkan itu. Tubuh polosnya terekspos dengan jelas, membuat Rey semakin menggila dan bersemangat.


Ia membawa sang gadis keatas bongkahan batu besar dan menidurkannya disana. Senjatanya yang sedari tadi tegak berdiri sudah tak sabar mencari pelampiasan.


Sang gadis semakin meronta ketakutan melihat wajah asli sang penyekap yang tampak sangat menyeramkan.


Namun belum sempat Rey melakukan aksinya, sebuah pukulan tepat dipelipisnya mendarat dengan sempurnah.


Rey terhuyung kesisi kiri, sang gadis berusaha bangkit, mencoba menutupi bagian auratnya dengan kedua tangannya meski tetap juga terlihat.


Rey yang menyadari ada orang lain ikut campur dalam urursannya dengan geram menyerangnya. Namun Keduanya sama terkejutnya, karena mereka saling mengenal dan saling bermusuhan.

__ADS_1


"Kau.. Dasar sialan.. Kau selalu mencampuri urusanku dimanapun..!" ucap Rey dengan geram, lalu melayangkan pukulannya kepada Satria, dan pemuda itu mencoba menghindarinya.


__ADS_2