Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Draft


__ADS_3

Nini Maru kembali ke rumah Bayu dengan perasaan sangat bahagia..


"lihatlah Karso.. Lihatlah..!! Bagaimana aku memusnahkan anak cucu keturunanmu.! Rasakan semua pembalasanku..!! Kau dulu memujaku sepenuh hati, namun tiba-tiba kau mencampakkanku begitu saja..!! Hanya demi pertaubatanmu kepada Tuhan-Mu itu..!" hihihihi..


Suara tawanya melengking membelah keheningan malam. Sebagian dari irang-orang yang memeliki kemampuan indra ke 6, maka mereka akan dapat mendengar amarah, dendam dan juga puasnya saat ini.


Rasa kesal tidak mendapatkan bayi Rumi tidak sebanding dengan rasa bahagianya saat mendapatkan Bayi Keturunan Mbah Karso.


Ia sangat dendam jika mengingat kisah puluhan tahun yang lalu. Dimna dulunya Mbah Karso begitu memanjakannya. Hampir setiap saat Ia menikmati janin segar, sehingga kekuatan dan tubuhnya begitu amat cantik.


Mbah Karso selalu membanggakannya, sehingga saat itu Ia merasa sangat disanjung. Namun, semua berakhir pilu, saat Mbah Karso bertemu dengan Ayah Roni. Seorang syech yang sangat terkenal.


Pertemuan mereka membuat Mbah Karso bertaubat Nasuha, dan mencampakkannya begitu saja.


Namun.. Kini Anak Syech Maulana itu juga bagaikan mayat hidup. Dimana hidup yapi tidak mampu berbuat apapun.Hal itu juga sudah membuat Nini Maru merasakan hal sangat paling bahagia.


Nini Maru memasuki kamar mandi yang sudah disediakan oleh Bayu untuk mandi darah ayam cemani.


Namun sesampainya dikamar mandi, Ia tak menemukan mandi darah itu lagi.


Sepertinya Bayu telah membuang airnya, dan buthup itu sudah kering dan bersih.


Padahal Ia sudah hampir selesai mencapai puncak ritual tersebut.


Ia keluar dari kamar mandi dengan kasar, lalu menghempas pintu kamr mandi..


brrrraaaaak...


Suara hempasan pintu kamar itu sangat kuat, lalu menimbulkan dentuman yang keras.


Bayu mengerjapkan matanya karena kaget dengan suara dentuman tersebut.


Ia mengusap-ngusap kedua matanya yang masih tampak kantuk.


Dengan sedikit pusing, Ia melirik mencari sumber suara. Ia melihat Nini Maru berdiri diambang pintu kamar mandi dengan tatapan sangat marah.


Darah dikulit wajahnya tampak menghilang "apakah Ia mendapatkan tumbal janin?" sepertinya darah dikulit wajahnya sudah tampak menghilang." Bayu berguman dalam hatinya.


Lalu Ia terperanjat saat melihat pintu kamar mandi ringsek dari engselnya.


Seketika bayu membeliakkan matanya. "mengapa kau merusak pintu kamar mandiku?" ucap Bayu, sembari beranjak dari ranjangnya. Ia berjalan menghampiri Nini Maru yang kelihatannya juga sangat kesal.


Dimana mandi darah ayam cemani yang sudah kau sediakan..?" tanya Nini Matu dengan kasar.


"aku membuangnya, kukira kamu pergi dan tidak akan kembali lagi, jadi yang buang saja air datah itu, karena aromanya sangat amis dan membuatku tidak bisa tidur." jawab Bayu santai. Sehingga menambah amarah Nini Maru kian meledak.

__ADS_1


Nini Maru mencekik Bayu dengan satu tangannya, lalu mengangkatnya ke Udara, dan melemparkan Bayu begitu saja.


Buuuuugghhh...


"aaaaagggghhh..."


Bayu meringis menahan sakit. Sakit yang Ia rasakan saat maghrib tadi dihempasnya, kini harus Ia rasakan kembali dan terulang lagi.


"brengsek kau Kunti Sialan.!" maki Bayu dengan dengan sangat geram.


Ingin rasanya Ia mengahncurkan Nini Maru menjadi serpihan debu dan tidak dapat kembali lagi.


"andai saja aku tidak terjebak dalam jerat benang merah bersama Kunti sialan Ini, mungkin aku akan hidup tenang." ucap Bayu sembari mencoba bangkit, berdiri meski masih sempoyongan.


Bayu berusaha berdiri tegak, menantap Nini Maru yang kini tampak sangat marah.


taring-taring giginya meruncing dan kuku-kuku tangannya juga meruncing tajam.


"kau telah merusak semuanya..segala yang kau sajikan tidak ada satupun yang berguna dan sempurnah. Kini ritualku yang terakhirpun kau buat gagal seluruhnya. Kau sungguh terlalu dan sangat membuatku marah. " ucap Nini Maru dengan suara paraunya.


Nini Maru kembali ingin menyerang Bayu, namun entah mengapa Ia tiba-tiba saja mengucapkan sebuah kalimat..


"a'uzubillahiminassyaithannirrajim.."..


Seketika Nini Maru merasa panas, lalu menghamnur pergi. Ia melayang membelah langit malam nan kelam.. Ia menuju Goa dan mencari Mirna.


Gadis cantik itu datang menghampiri. Ia datang dari sebuah lorong goa.


"ada apa Nini? Mengapa kau membangunkanku dimalam buta seperti ini?" tanya Nini Maru dengan sangat penasaran.


"sediakan aku mandi darah auam cemani.. Segera, jangan sampai memasuki subuh..!!" perintah Nini Maru dengan suara paraunya.


Mirna menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju pintu goa.


Baginya malam bukanlah hal yang menakutkan. Ia berjalan mengikuti perjntah Nimi Maru, mencari aham cemani yang berkeliaran dihutan. Karena sudah menjadi pekerjaan rutinnya, Ia menyusuri hutan tersebut dengan perasaan yang biasa saja.


Mirna mengusir jenuhnya dengan mendendangkan senandung rindunya dikeheningan malam kelam.


"kutunggu dirimu"


"dipenantian panjangku"


"hadirlah membawa cinta"


"hingga akhinya kita bersatu"

__ADS_1


"mengikat janji yang tertunda"


"duhai pemuda sang pujaan hati..


"hadirlah padaku.. Ku menunggumu dalam gegap rinduku.."


"dipenghujung waktu kita kan bertemu.."


"kunantikan itu.."


Sembari terus berjalan menyusuri gelapnya malam, Mirna terus bersenandung dengan nada kerinduan.


Mirna berhenti di bawah pepohonan yang sangat rindang. Ia memperhatikan satu persatu dahan yang dimana Ia memastikan tempat ayam tidur bertengger.


Ia mengetahaui kebiasaan hewan unggas ini jika malam hari akan tidur bertengger dipepohonan.


Dengan cekatan, Ia memanjat pohon tersebut, dan mendapatkan 3 ekor ayam cemani. Menangkap ayam dimalam hari lebih mudah dibandingkan siang hari.


Pekikan ke 3 ekor ayam itu membuat ayam-ayam yang lainnya kabur berterbangan.


Namun Mirna sudah mendapatkan ketiganya, Ia segera turun dan pulang ke goa.


Ia juga mengambil kembang setaman yang dimana Ia sudah menghafal tempatnya.


Mirna membawa ketiga ayam cemani tersebut kedalam goa. Ia memasukkan kembang setaman kedalam ceruk.


Ia melihat Nini Maru duduk bersandar sembari memejamkan matanya.


Mirna mengambil 3 buah cangkir yang terbuat dari batang bambu, lalu menyembelih ketiga ayam tersebut satu persatu dan menampung darahnya dalam setiap satu gelas yang terbuat dari batang bambu.


Ia membawa 3 gelas darah hitam tersebut kepada Nini Maru.


"Nini.. Sudah siap Ni.. Masukklah kedalam ceruk." ucap Mirna kepada Nini Maru.


Nini Maru mengerjapkan matanya, lalu melayang masuk dalam ceruk.


Mirna memberikan segelas darah ayam cemani, yang langsung disesap oleh Nini Maru. Lalu Miran menuangkan satu gelas darah keatas kepala Nini maru, dan satu gelasnya Ia tuangkan kedalam ceruk.


Mirna membantu proses memandikan Nini Maru.


Nini Maru duduk bersila, kedua telapak tangannya dirapatkan setinggi dada, dan sedang berkonsentrasi membaca mantra untuk penyembuhan luka diwajah dan tubuhnya.


Setelah bebrapa jam lamanya, Ia menyelesaikan. Ritualnya, membuka matanya dan meraba kulit wajahnya . Tidak ada lagi kulitnya yang berkelupas dan kembali cerah.


Namun Ia merasa, taring digiginya memanjang dan kuku-kuku tangannya meruncing.

__ADS_1


"mengapa aku tidak dapat cantik seperti waktu itu? Bukankah aku sudah melakukan ritual seluruhnya?" Nimi Maru merasa bingun dan ingin mencari tau penyebabnya.


__ADS_2