Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Hilang Arah


__ADS_3

Sebulan sudah Satria menghilang, dan lenyap tak berbekas. Apakah Mala harus merelakan dan mengikhlasnya seperti waktu Ia kehilangan saat dalam kandungan. Semuanya begitu teramat berat, dan membuatnya semakin frustasi.


Mala meratapi nasibnya dalam doa, Ia mengadukan segala permasalahan hidupnya yang buruk dan semakin berat. Ia meminta untuk diberikan kekuatan, kesabaran dan keikhlasan dalam menerima semua takdir hidup yang kini sedang dijalaninya.


Mala melirik kepada Roni yang kini sedang berbaring ditepian ranjang. semakin lama semakin memburuk kondisi kesehatannya, rasanya Mala tidak sanggup untuk menghadapi segala beban hidupnya.


Jika saja Ia tidak kuat Iman dan mental, mungkin Ia sudah mengakhiri hidupnya.


Roni sering menghilang dan tiba-tiba kembali kerumah. Mala juga harus berbagi waktu antara mengurus Roni dan pekerjaan rumah.


Namun Hadi meminta Ibunya agar mencari seorang asisten rumah tangga agar membantu pekerjaan Ibunya, sehingga Mala bisa lebih fokus mengurus Roni sang Ayah.


Masalah keuangan, segalanya ditanggung oleh Hadi, termasuk penyelesaian renovasi rumah yang kini sudah rampung 100%.


Akhirnya Mala menerima saran dari Hadi, Ia mencari asisten rumah tangga yang dapat membantunya menyeselasikan pekerjaan rumah. Karena Ia juga merasa kerepotan membagi waktu antara pekerjaan rumah dan merawat Roni.


Maka datanglah seorang wanita paruh baya. Wanita berusia sekitar 50 tahun, namun masih tampak segar dan energik.


Wanita itu memulai pekerjaannya, dan membantu meringankan beban Mala.


Pagi ini Mala berencana memberi makan Roni, Ia mengambil sarapan didapur. Rubi, Asisten rumah tangganya telah membersihkan rumah dengan sangat cepat. Mala merasa puas dengan pekerjaannya..apalagi rumah itu kian bertambah besar setelah perenovasian, dan tentunya menambah repot saat membersihkannya.


Saat Mala sampai dikamar kembali, Ia tak mendapati Roni disana.


Deeeeeegh...


Jantung Mala seakan berhenti berdetak. Debaran didadanya memburu..tak mampu Ia sembunyikan.


Mala segera meletakkan sarapan yang dipegangnya yang menggunakan mangkuk keramik itu keatas meja nakas.


Ia segera berbalik arah, lalu menuju pintu depan.


Mala segera menuju jalanan, Ia memastikan nika Roni mengarah ke jalan.


Benar saja, Mala melihat Roni telah berjalan sejauh 100 meter dari tempat Ia berdiri.


bersamaan dengan itu, Ia melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti diseberang ditepian jalan.


Roni lalu menyeberang, tanpa melihat kanan dan kiri..

__ADS_1


Namun kejadian aneh terlihat, Roni tampak kaku dan berhenti ditengah jalan, tidak dapat bergerak sedikitpun.


Seorang pemilik mobil berpakaian serba hitam, dengan menggunakan kacamata hitam, topi hitam dan juga masker yang menutupi wajahnya, berusaha hendak menolong Roni.


Namun, bersamaan dengan itu, dari arah utara, sebuah sepeda motor melaju sangat kencang, dan semuanya tak mampu lagi dihindarkan..


Lalu...


Ciiiiiiiiitttt...buuuuuuugh...baaaamm..


Tubuh Roni melambung keatas setinggi 2 meter dan terhempas sejauh 5 meter dari tempatnya semula.


Seketika suasana berubah mencekam. Pria berpakaian hitam itu tercengang, begitu juga dengan Mala dan semua orang yang menyaksikannya.


Saat tubuh Roni mendarat dijalanan aspal, seketika terdengar benturan yang sangat keras.


Buuuuuuuggghh....


Tubuh itu terkapar tanpa daya dan upaya.


"Baaang Roniiii..."


Teriakan Mala menggema keseluruh alam. Teriakan penuh kekalutan dan ketakutan. Dunia rasanya berputar saat menyaksikan sang pujaan hatinya tersungkur tak berdaya.


Ia berlari dengan perasaan yang sangat kacau.


Diujung sana, pria berpakaian serba hitam itu berlari menghampiri tubuh Roni yang sekarat.


Sedangkan Pengendara sepeda motor itu telah diamankan oleh sebagian warga yang dengan cepat berkerumun melihat peristiwa itu, karena tampak jelas pengendara itu berniat ingin kabur.


Pria itu adalah Bayu. Ia mengangkat tubuh Roni yang penuh dengan lumur darah ketepian jalan, lalu duduk bersimpuh dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Heei..Teman, bangunlah..jangan bercanda seperti ini." ia mencoba menepuk-nepuk wajah Roni, berharap temannya itu akan sadar.


Roni tak bergeming, hanya sebuah suara orang yang sedang mendengkur, terdengar sangat lemah keluar dari mulutnya.


Bayu merasakan sakit yang luar biasa, entah mengapa Ia tidak mampu menyembunyikan perasaannya yang hancur. Bukankah seharusnya Ia merasa senang..? Karena tidak ada lagi penghalang baginya untuk mendapatkan wanita pujaannya.?


"Heiii..bangunlah..aku sudah membawakan makanan kesukaanmu. tidakkah kau ingin makan bersamaku dipadang rumput itu." ucapnya dengan tersedu..

__ADS_1


Bayu memeriksa denyut nadi Roni yang kian melemah. Ia mendekap tubuh itu dengan erat.


"Bangunlah.. Jangan bercanda denganku, ini tidak sangat lucu, teman.." ucap Roni semakin panik dan bergetar. Lalu Ia bangkit dan membopong tubuh Roni kedalam mobilnya, berniat membawanya ke puskesmas.


Bersamaan dengan itu, Mala juga sudah sampai didekat mobil. Ia tidak lagi mampu bertanya siapa pemilik mobil itu, lalu ikut masuk kedalam mobil dan memeluk tubuh suaminya yamg sedang sekarat.


"Bang.. Bangun bang.. Jangan tinggalkan Mala..Adik ikhlas merawatmu.." ucapanya dengan suara isakan yang tertahan. Air matanya meluncur deras.


Mobil Bayu meluncur membelah kerumunan massa, lalu menuju puskesmas.


Tampak ditengah perjalanan, mobil sirene polisi mendesing dengan sangat kencang dan menuju kearah lokasi kejadian perkara.


Mala tampak seperti orang linglung, Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan dihadapinya.


Air matanya seolah sudah habis untuk meratapi setiap kejadian yang menimpa hidupnya.


Mala nembelai wajah Roni yang berlumuran darah, sepertinya ada retakan ditengkorak kepalanya, sehingga darah dengan begitu deras mengucur dari arah luka itu.


"Bang.. Bangunlah.. Mengapa kau begitu tega meninggalkanku..? Lihatlah aku yang selalu mencintaimu." ucap Mala pada tubuh pria yang kini sudah tidak lagi mampu menjawab segala keluh kesah Mala.


Mobil sampai dipelataran puskesmas. Bayu segera turun daribmobil, dan menuju jok tengah tempat Mala dan Roni didalamnya.


Tanpa menunggu persetujuan Mala, Ia membopong tubuh Roni menuju ruangan UGD puskesmas yang kini sudah lengkap dengan segala peralatan canggihnya.


Bayu tak menghiraukan lagi tubuhnya yang penuh dengan lumuran darah dari luka Roni, namun seketjka langkahnya terhenti, dan melemah. Ia merasakan jika Roni sudah tak mampu tertolong lagi, detak jantungnya sudah tak lagi terdengar.


ranjang troli pasien datang menyambut tubuh Roni, lalu mengambil tubuh Roni yang berada didalam dekapan Bayu.


Bayu hanya menatapnya dengan pandangan hampa. Ia seperti linglung dan bingung, menatap tubuh Roni yang dibawah para petugas medis dan menghilang dibalik pintu UGD.


Tubuhnya seakan lemah, Ia tak menghiraukan lagi Mala yang sedang berlari melintasinya dengan isakan tangis yang menyiratkan betapa hancurnya perasaan wanita itu.


Bayu melangkah pulang, Ia mengendarai mobilnya dengan sangat kencang menuju rumah.


Setelah sampai dihalaman rumahnya, Ia berteriak kepada Danang agar mencuci mobilnya yang berlumuran darah. Lalu menuju kamarnya dengan langkah gontai, Ia mengambil makanan yang telah dipersiapkannya untuk Ia makan bersama Roni dipadang rumput itu. Lalu meletakkannya begitu saja diatas lantai.


Ia menuju kamarnyanya dengan perasaan yang tak mampu Ia sembunyikan. Ia memasuki kamarnya, lalu menutup pintu dan duduk bersandar dipintu itu, Ia menumpahkan segala kesedihannya. baru kali Ini Ia merasakan sebuah arti kehilangan yang begitu sangat dalam..


Bersambung..

__ADS_1


Author mau masak dulu..


.


__ADS_2