
kabar meninggalnya Jayanti sampai ketelinga Bayu. Rasa tak percaya kehilangan orang yang mulai mengisi relung hatinya kini harus terhempas dalam kesakitan.
Penyambutan jenazah Jayanti begitu memilukan bagi Bayu. Ia tak kuasa menahan kesedihan saat tubuh dingin itu di masukkan keliang lahat.
Baru saja Ia menemukan cinta, kini harus terhempas begitu saja.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan penuh derai air mata. Satria orang yang paling terpukul akan hal ini. Bagaimanapun, Jayanti tetaplah orang yang berjasa besar atas hidupnya.
Satria menyeka air matanya, seorang pria juga bisa menangis saat sedang patah hati. Dan kali ini Ia merasakan patah hati saat ditinggal Jayanti untuk selamanya.
Setelah seminggu berlalu, Satria mencoba untuk menata hidupnya. Kekayaan berlimpah uang diwariskan untuknya, tidak membuatnya merasa tenang. Ia ingin mencari jati dirinya.
Satria mencoba menemui pak Bayu. Karena Jayanti berpesan untuk mencari pak bayu jika ingin menemukan siapa ibunya.
Setelah berjanji temu, akhirnya Mereka sepakat untuk bertemu disebuah taman. Disana mereka masih tampak canggung satu sama lain. Dimana sebelumnya mereka juga tidak pernah saling tegur sapa satu dengan yang lainnya.
"apa kabar pak bayu..?" sapa Satria membuka keheningan.
"Baik Mas Satria" jawabnya lirih. Ia masih terlihat sanvat terpukul akan kepergian Jayanti. Ia masih belum rela jika harus menerima kenyataan Jayanti meninggalkannya untuk selamanya.
Keduanya saling pandang. "em.. Pak Bayu. Sebelum Mama pergi, katanya mama ada menitipkan sesuatu kepada pak Bayu..? Apakah saya boleh tau itu apa..? Karena hal itu sangat penting buat saya." ucap Satria mencoba menahan sesak didadanya.
Bayu merundukkan kepalanya. tak mampu menatap tatapan mata Satria.
"maafkan Saya Mas Satria.. Kotak tak sengaja hilang. Setelah keluar dari cafe waktu itu, saya meletakkannya di jok mobil depan bersama handphone saya. Tetapi tiba-tiba saya merasa sesak buang air kecil. "
"Saat saya keluar dari toilet, pintu mobil dibobol pencuri. Mungkin Ia mengira itu adalah barang berharga seperti emas dan yang lainnya. Handphone saya juga raib, bersama kotak itu." ucap pak Bayu jujur.
Deeegh..
Satria melenguh lemah. Harapannya kini pupus. Kemana Ia harus mencari petunjuknya.
"maafkan saya Mas Satria.." ucap Pak Bayu merasa bersalah atas kejadian ini. Ia sangat menyesal tidak dapat menjaga amanah Jayanti.
"dimana rumah dukun itu..?.bukankah pak Nayu juga yang mengantarakan Alm. Mama dan Papa ke rumah dukun itu..?" ucap Satria menyelidiki.
"Iya Mas.. Itu 21 tahun tang lalu. Tetapi apakah yakin jika dukun itu masih hidup..?" tanya pak Bayu dengan kesan penasaran.
"kalau begitu kita kesana untuk memastikannya." pinta Satria.
Pak Bayu tak dapat menolak keinginan Satria. Ia menyetujui jika harus berangkat kerumah dukun tersebut.
"tetapi belum 40 harinya alm. nyonya , apakah kita tidak menunggunya terlebih dahulu..?" Pak Bayu mencoba mengingatkan.
Satria menatap lekat pada pak Bayu. "Baiklah, kita tunggu 40 hari Mama, baru kita mulai pencarian." Satria menyetujui saran pak Bayu.
Satria merasakan kesepian yang teramat sangat. Ia mencoba menghubungi Hafi, namun tak juga aktif nomornya. "kemana Hadi.? Mengapa nomornya tidak juga dapat dihubungi. Satria merasakan kehampaan.
__ADS_1
Satria mengendarai mobilnya, menemui Hadi dirumah kost nya. Namun rumah kost itu sudah kosong sejak lama.
Satria sangat terkejut dan merasa panik. "kemana Hafi..? Mengapa tiba-tiba saja Ia menghilang..?" Satria bingung dengan kejanggalan yang terjadi.
"Hadi....dimana sih kamu..?" Satria mengacak rambutnya dengan kasar.
Ia memutuskan untuk kembali kerumah. Selama ini Ia tidak memiliki banyak teman. Ia hanya dekat dengan Hadi saja, sehingga Ia tidak tahu harus berbagi cerita dengan siapa.
Satria menyandarkan kepalanya di sandaran ranjangnya. Matanya menatap nanar kedepan.
Ada banyak pertanyaan yang ingin Ia tanyakan kepada Jayanti. Namun Ia pergi dengan begitu saja, sebelum semuanya jelas.
Sebuah siluet membentuk pria setengah ular mumcul dihadapannya. "bagaimana Tuan..? Apakah Tuan sudah bersedia belajar dengan saya..?" sapa sesosok makhluk dari dimensi yang berbeda.
"haaah.." Satria terkejut. Seketika Ia membenahi duduknya.
"siapa kamu..?" tanya Stria dengan penasaran.
"Saya khadam yang menjaga kamu Tuan." jawab makhluk itu menjelaskan siapa dirinya.
Satria beranjak bangkit, lalu menghampiri makhluk yang mengaku Khadam baginya.
Satria ingin menyentuh sosok itu, namun seperti hanya sebuah bayangan. Namun Ia merasakan seperti nyata.
"apa manfaatnya jika saya mempelajari apa yang kamu ucapkan..?" tanya Satria penasaran.
"Tuan akan dapat membebaskan ke 6 arwah saudara tuan yang ditahan oleh makhluk kuntilanak itu." jawab Khadam tersebut.
"Tuan belajar saja dulu, nanti Tuan akan merasakan jika Tuan akan dituntun secara naluri untuk menemukannya." jawab khadam itu.
Satria menatap makhluk yang mengaku sebagai Khadam penjaganya.
"kamu bukan Jin sesat yang ingin menjebakku kan?" tanya Satria waspada. Ia tidak ingin terjerat dalam kesesatan semata.
"percayalah, aku tidak akan menyesatkanmu Tuan." ucap Khadam itu dengan merundukkan kepalanya.
"kapan kita mulai ritualnya..?" tanya Satria penasaran.
"disepertiga malam, cobalah dirikan shalat sunnah tahajjud. Nanti saya bimbing dzikirnya untuk mencapai kemurnian." setelah mengucapkan kalimat itu, Khadam itu menghilang.
Satria tersentak dari tidurnya. Ternyata Ia teridur saat bersandar ditepian ranjang tadi.
"haah..!!" ternyata aku bermimpi. Namun mengapa seperti nyata..?" ucap Satria dengan lirih.
Didalam kebingungannya, Ia merasakan perutnya keroncongan. Rumah sebesar itu, hanya dihuni oleh dirinya dan beberapa ART yang sudah paruh baya. Mereka hanya membersihkan rumah hingga sore hari saja, malamnya mereka dirumah masing-masing.
Rumah mewah dan sebesar itu terlihat hampa dan penuh dengan kesepian. Ia menyuapkan makanannya dengan tidak berselera. Rasa sepi yang mengusik hatinya tak mampu Ia sembunyikan..
Saat itu, Nini Maru tiba-tiba saja muncul dengan aroma kembang kenanga. Satria mengenali aroma itu. "Ne setan kalau muncul pasti pas aku lagi makan, kurang kerjaan banget." gerutu Satria.
__ADS_1
Benar saja, Nini Maru muncul dengan rambut panjang yang terjuntai, dan menutupi wajahnya.
"tumben nongol gak pamer wajah, tapi pamer rambut.." ucap Satria, saat melihat Nini Maru duduk nyantai diatas lemari kristal milik alm. Jayanti, sembari menyuapkan makanannya.
"ya iyalah, baru habis creambath.." jawabnya dengan ketus.
"ooo..pantesan kamu wangi ." jawab Satria.
"oh..ya..?" ucap Nini Maru sumringah. Ia tersenyum tersipu dibalik rambut yang menutupi wajahnya.
Satria melirik Nini Maru yang seenak jidatnya nangkring disana. "ngapain nongol..?" tanya Satria.
"mau minta makan.. Aku lapar.." jawab Nini Maru.
"kalau lapar ya cari makan, ngapain minta sama aku..?" jawab Satria mencibir.
"Kan ulahmu yang menghancurkan sumber makananku..?" balas Nini Maru dengan kesal.
"jadi maumu apa sekarang..?" tanya Satria memancing keributan dengan Nini Maru.
" carikan aku tumbal janin.. Aku ini lapar.. Kamu tuli banget sih.." Nini Maru semakin meninggikan suaranya.
Satria diam, kalau benar dia yang menawan ke enam saudaraku, apa sebaiknya yang aku lakukan pada iblis betina ini..? Apa aku menunggu perintah dari Khadam itu terlebih dahulu" Satria berguman dalam hatinya.
"heiii.. Kamu itu kan pria, bawa tu Shinta kemari, ajak bercinta dan kalau dia hamil serahkan janinnya padaku, aku akan memberikan kekayaan berlimpah padamu.." ucap Nini Maru mencoba mencuci otak Satria.
Satria membelalakkan matanya. "a..aapa..? Coba katakan sekali, lagi..?" ucap Satria beranjak bangkit dari kursinya. Lalu menatap tajam nini Maru.
"apakah kni yang kau lakukan pada ibuku..?" tanya Satria dengan perasaan marah.
"kalau iya kenapa..?" tanya Nini Maru menantang.
"sepertinya aku harus menerima tawaran Khadam itu untuk mencapai kemurnian, agar aku dapat melenyapkanmu dalam sekejap saja" ucap Satria dengan nada ancaman.
Nini Maru menatap marah dengan mata merah menyala dari balik rambutnya yang tergerai panjang menutupi wajahnya.
"menyebalkan..!!" ucap Nini Maru dengan kesal. Lalu menghilang.
Nini Maru kelayapan ditengah malam. Ia sedang mencari target untuk sumber tenaganya.
Disebuah semak-semak dekat dengan pinggiran kota. Tampak sepasang remaja usia sekolah sedang melakukan perbuatan terlarang.
Mereka bercinta hanya menggunakan alas dari kertas kardus bekas. Setelah menyalurkan hasratnya, keduanya terlibat percekcokan.
Ternyata gadis remaja itu sedang mengandung janin dari hasil perbuatan terlarangnya. Sicowok yang baru saja menikmati tubuh gratisnya, tidak mau bertanggungjawab dan meninggalkan si gadis begitu saja ditengah semak-semak. Ia menancapkan gas motornya, dan pergi tanpa merasa bersalah.
Nini Maru menyeringai dengan sangat senang. Ia menampakkan wujudnya pada gadis yang sedang dilanda kekalutan. Seketika gadis itu pingsan saat melihat Nini Maru.
Setelah si gadis pingsan, Nini Maru masuk melalui dinding rahim si gadis. Menendang Janin tersebut hingga terlepas dari rahim ibunya.
Setelah janin itu meluncur keluar dari rahim sang gadis, Nini Maru menyambutnya dengan sangat senang. Setelah melahab Janin sanga gadis, Ia terbang melayang membelah kegelapan malam.
__ADS_1
Esok harinya, warga dgemparkan penemuan gadis yang taksadarkan diri dengan tanpa busana . Kabar itu menghebohkan, dimana terlihat dari area rahimnya mengalir darah. Warga menduga jika gadis itu mencoba melakukan aborsi secara ilegal, sehingga Ia banyak keluar darah.
~buat para remaja, jangan sembarangan memberikan kesucian pada seorang pria atas nama cinta. Ketika seorang pria mencintaimu dengan ketulusan, maka Ia juga akan menjaga kesucianmu dan juga kehormatanmu.~