
Mala yang merasa jengkel karena masalah toplesnya, membaringkan tubuhnya ditepian ranjang dengan rasa kesal. Ia mencoba memejamkan matanya, membuang rasa dongkolnua pada pria itu.
Namun jika diputar kilas balik, ada banyak hal yang telah dilakukan Bayu padanya.
Ia mencoba mengingat semua yang sudah dilakukan Pria itu padanya.
Ia mengingat saat Bayu membawa Roni yang yang tak sadarkan dari saat tersesat dibelakang rumah Reza. Lalu saat Roni tertabrak sepeda motor, Ia juga yang menggendong Roni ke Puskesmas, dan beberapa kali Mala diganggu makhluk ghaib dan orang yang selalu ditemuinya adalah Bayu.
"Bagaiamana Ia bisa sampai ke Desa ini..? Apa tujuannya..?" Mala berguman lirih.
"Dan... Apakah sipengirim buket bunga lily itu juga adalah orang yang sama..?" Mala tersentak, lalu membenahi posisinya menjadi duduk.
Ia tampak berfikir keras, Ia ingin mengungkap juga siapa dibalik pengirim buket bunga lily tersebut.
"Jika Ia orang yang sama..? Apa tujuannya..? Apakah selama ini Ia telah mengenal bang Roni tanpa sepengetahuanku..?" Mala mulai menerka-nerka.
Kini Ia menjadi serba salah bersikap kepada pria itu. Ia tidak tahu harus marah atau mencoba menerimanya.
Mala semakin bingung dengan sikap apa yang harus diambilnya. Namun sebagai wanita, Ia juga tidak mungkin harus lebih dahulu memulainya, sedangkan Bayu juga bersikap dingin padanya.
Braaaaak..
Terdengan suara benda berdentuman diarah dapur. Mala yang merasa penasaran, mencoba memeriksanya.
Ia beranjak dari kamarnya, mencoba melihat apa yang sedang terjadi.
Mala melintasi Bayu yang tidur meringkuk disofa, ada rasa iba ingin memberinya selimut, namun Ia masih penasaran dengan suara yang berdentum diarah dapur.
Mala menuju dapur, lalu berdiri diambang pintu penghubung. Mala tampak fokus mengedarkan pandangannya kearah semua sudut ruangan. Ia melihat dua buah cahaya berwarna merah disudut meja kompor, sebuah benda kecil sedang berada disana menatapnya dengan tajam.
Mala menyadari, jika benda bercahaya merah menyala itu adalah sesuatu hal yang buruk.
__ADS_1
Ia memundurkan langkahnya, mencoba menghindari bemda tersebut yang kini terbang melayang dihadapannya dengan tatapan tajam. Sebuah jenglot dengan taring tajam dan mata merah bercahaya menatapnya dengan rakus, seolah ingin menghisap habis darahnya.
"Mendekatlah padaku.. Jika Bayu tak bisa mendapatkan madumu, maka aku menginginkan darahmu.. Malam ini seharusnya Pria itu memberiku minum darah, namun sepertinya Ia memilih untuk tertidur pulas. Aku sangat membencinya.." ucap makhluk kecil berambut panjang, dengan taring runcing dan sorot mata bercahaya merah menyala.
Mala bergetar hebat karena ketakutan. Ia mundur dengan langkah gemetar. Ia tidak tahu harus berbuat apa, ingin berteriak, namun suaranya tercekat ditenggorokannya.
"Siapa Kau..?! Mengapa Kau menginginkanku..?" tanya Mala dengan suara gemetar menahan rasa takut.
"Aku adalah musuh bebuyutan Ayahmu.. Namun aku menginginkan darahmu, juga madumu.. Darah yang Kau miliki sangat begitu manis, membuatku tak mampu menahan untuk mencicipinya.." ucap Benda mirip boneka yang berambut panjang tersebut. Tubuhnya kecil yang hanya setinggi 15 centi meter saja.
"Enyahlah Kau hai makhluk jelek.." ucap Mala dengan nada yang terdengar jelas sangat ketakutan.
Mendengar ocehan Mala, Jenglot itu tampak marah, lalu dengan cepat terbang melayang menyerang Mala, yang menyasar pada leher jenjang wanita itu.
Aaaaarrrrrggghh..
Mala terpekik ketakutan saat benda itu melayang menuju padanya, namun saat bersamaan, Bayu datang menariknya dari arah belakang, dan melindunginya dengan memberikan punggungnya yang menjadi salah sasaran makhluk itu.
Sementara itu, makhluk kecil mengerikan itu yang menancapkan taringnya dipunggung Bayu dengan cepat mencabut kembali taringnya, Ia tidak menginginkan darah keturunannya, namun Ia menginginkan darah Mala, darah yang selama ini menjadi sasarannya.
Melihat Bayu memeluk erat Mala, Makhluk itu melesak masuk ketubuh Bayu, lalu membangkitkan hasrat kelakian sang pria, untuk mencumbu Mala, agar Ia mendapatkan madu dan darah wanita itu.
Bayu yang menyadari kehadiran makhluk itu merasuki tubuhnya, merasakan jika anggota tubuhnnya dibagian tengah telah mengeras. Senjata itu meminta sesuatu yang menjadi tempat bersarungnya.
Namun Ia memahami, jika sampai Ia melakukannya, maka akan membahayakan wanita yqng dicintainya. Lalu Ia mendorong Mala dengan kasar. Membuat wanita itu mudur beberapa langkah kebelakang dengan wajah ketakutan. Ia melihat tatapan Bayu yang tak biasa. " Masuklah kekamar segera.." perintah Bayu dengan menahan segala hasratnya yqng siap meledak.
Mala menatap ketakutakan dan diam terpaku. "Cepat..!!" perintah Bayu dengan nada penuh amarah. Namun desakan hasratnya kian memburu, sepertinya Ki Kliwon mendorongnya untuk segera melakukan pelepasan. Namun Ia tidak ingin jika pria renta itu ikut menikmati permainannya jika sampai menggauli wanitanya.
Bayu mencoba menahan sekuat hati dan tenaganya. Namun tampaknya Ki Kliwon membuat kaki Mala tak mampu bergerak, terasa kaku dan tak bisa beranjak.
Bayu yqng sudah dirasuki oleh Ki Kliwon mendekatinya, meskipun Ia sekuat hati dan tenaganya mencoba menolak semua itu.
__ADS_1
Saat Ia menghampiri Mala, Ia merenggut kepala wanitanya, mencumbu bibir wanitanya dengan hasrat yang kian menggebu tak tertahankan.
Ia membawa Mala menuju kamar sang Wanita, saat mendekati pintu, Ia mendorong tubuh Mala memasuki Kamar, lalu menutup pintu itu dari arah luar dengan keras.
"Kunci pintu ini.. Cepaaatt..!" ucap Bayu yang masih bertahan diluar kamar. Mala mencoba menguasai kesadarannya, dengan cepat Ia mengunci pintu kamar itu. Lalu tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa. Ia mengalami kejang dan tak mampu menahan rasa sakitnya.
Seketika sebilah keris meluncur keluar dari tubuhnya.
Braaaaak..
Keris itu menyasar lemari kristal milik Mala dan memporak porandakan isinya. Ia tampak marah atas tindakan Bayu yang mencoba mengelabuinya.
Aaaaaaaarrgh...
Bayu mengerang kesakitan, saat Keris itu mengangkat tubuhnya, lalu melemparkannya kedinding.
Saat pertempuran tak seimbang itu terjadi, terdengar suara tawa cekikikan diluar rumah yang membuyarkan amukan Ki Kliwon.
Lalu sosok yang bersemayam didalam keris itu meluncur keluar, dan meninggalkan keris yang kembali merasuki tubuh Bayu yang masih mengerang kesakitan.
"Brengsek Kau Bayu..!! Lihat saja nanti.. Aku akan membuatmu mematuhiku.." hardik Ki Kliwon yang kini sudah berubah wujud menjadi jenglot tersebut.
Ia meluncur keluar melalu lubang ventilasi, dan menemui Nini Maru yang sudah menunggunya diluar.
"Ada apa Ni..?" tanya Ki Kliwon dengan nada kesal.
"Kita kerumah Ratnah, anaknya sedang mengandung.. Aku ingin Janinnya, dan kamu bisa menikmati darahnya.." jawab Nini Maru mencoba memberikan tawaran.
Ki Kliwon yang sudah sangat haus akan darah tersebut, menyetujui tawaran dari Nini Maru.." Baiklah.. Aku ikut.. Kemana ki Wowo..?" tanya Ki Kliwon karena tidak melihat kehadiran Genderuwo yang biasa bersama Nini Maru.
"Dia sedang bersama pasukannya ingin menyerang goa tempat anak itu menjalani tirakatnya.. Semoga saja Dia berhasil, dan aku juga berhasil mendapatkan janin ketigaku.." ucap Nini Maru dengan tatapan penuh kecemasan.
__ADS_1