
Rey merasa sangat kesal. Bagaimana mungkin Satria dapat berada dihutan yang sama dengannya. Rasa ingin melenyapkan pemuda itu begitu sangat membabi buta.
Rey kembali memberi serangan balasan, namun serangannya ditangkis oleh Satria, dan Ia kembali menggeram kesal.
Tak ingin menunggu lama, Satria memberikan tendangan telak tepat di senjata Rey yang masih berdiri tegak, sehingga membuat pemuda itu membeliakkan matanya menahan nyeri, lalu ambruk tersungkur ditanah bebatuan, sembari memegangi senjatanya yang terasa ngilu.
Satria memungut pakaian Sang Gadis, lalu melemparkannya kearah gadis itu, tanpa menoleh sedikitpun. "Kenakan pakaianmu, dan segeralah kembali pulang.." titah Satria, lalu beranjak pergi meninggalkan sang gadis yang terperangah menatap kepergian pemuda tampan itu.
Mirna segera mengenakan pakaiannya, Ia tampak begitu bahagaia sekali melihat pemuda yang telah menyelamatkannya. Hatinya penuh dengan debaran dan rasa yang tak mampu Ia ungkapkan.
Sementara itu, Rey masih terus memegangi senjatanya yang terasa ngilu dan sangat menyiksanya.
Mirna melangkah pergi, setelah kembali memberikan tendangan tepat dibokong Rey yang sedang bergelung bagaikan udang.
"Aaaaarghh.."
Teriaknya yang kesekian kalinya saat sang gadis mendaratkan tendangan tersebut.
Mirna meninggalkan Rey yang meradang kesakitan, sedangkan Satria telah jauh berjalan meninggalkan keduanya.
Mirna mengmbil jalan yang berbeda dari Satria. Hatinya amat gembira dan penuh suka cita. Bayangan wajah Satria tak lepas dari ingatan dan pandangan matanya.
Sepanjang jalan menuju goa, Ia terus tersenyum dan tertawa penuh kegirangan.
Disisi lain, Satria berjalan dengan perasaan gelisah. Ia memikirkan Rey yang ternyata sedang berada dibutan yang sama dengannya.
"Mengapa manusia itu berada dihutan ini juga..? Apa tujuannya..?" Satria berguman lirih, bergelut dengan fikirannya.
Satria terus menyusuri jalanan hutan menuju utara, mencari goa tempat Nini Maru melakukakan pertapaannya.
Satu hari lagi akan ada gerhana bulan total. Makan Nini Maru akan mencapai kesempurnaan pertapaannya untuk menjadi kuntilanak merah dan merubah dirinya menjadi kuntilanak merah yang terkuat.
Disisi lain, Rey masih memegangi senjatanya yang meletoy akibat tendangan Satria yang trlah membuatnya sulit untuk berjalan, bahkan bangkitpun Ia sangat kesulitan.
__ADS_1
Namun, kecantikan Mirna begitu sangat menggodanya. Hal itu yang mebuatnya untuk yerus dapat berjuang mengatasi rasa sakitnya.
Ia sempat mekirik arah gadis cantik itu pergi, dan mencoba untuk mengukuti jejak sang gadis. Sedangkan Satria dan sang gadis berjalan dari arah yang berbeda. Maka dipastikan mereka tidak menuju tempat yang sama.
"Sialaaan..! Apa yang dilakukan pemuda itu sampai kemari..? Apakah Ia sedang mencoba mendaki bukit? Namun mengapa sendirian..? Bukan bersama rombongan..? Persetan dengannya.. Aku harus mengejar gadis itu.." Rey berguman lirih.
Ia mencoba mengatur nafasnya. Lalu berusaha bangkit meski rasa sakit yang menyerangnya.
Rey duduk diatas bongkahan batu, mencoba berjalan dan memungut celananya yang compang camping yang tergelatak tak jauh dari tempatnya mengintai tadi, sebelum Ia menyelam menghampiri Mirna.
Kecantikan gadis itu membuatnya seakan gila, Ia terus membayangkan bagaimana caranya dapat bersenang-senang dengan sang gadis tanpa gangguan Satria yang bisa saja muncul dengan tiba-tiba.
Hari tampak mendung, awan hitam menggantung langit yang semula tampak cerah. Rey, berusaha menyusul gadis, itu dengan mengikuti jejaknya.
Dengan tertatih, Ia berjalan menahan rasa nyeri. Ia merasakan perjalanannya sangat cukup jauh, namun tak jua juga sampai mendapatkan sang gadis. Sedangkan gadis itu sudah menghilang.
Hujan turun dengan rintik, lalu perlahan bertambah volumenya dan semakin deras. Rey menghentikan langkahnya, dqn bertwduh dibawah sebatang pohon kayu rindang, namun tak jua dapat melindunginya dari kebasahan.
Suasana lembab dan basah membangkitkan hewan kecil berbentuk seperti lidi, dengan tubuh liat dan penghisap darah, yang biasa disebut pacat atau adik lintah yang biasa bersembunyi dibalik rerumputan saat mentari bersinar terik, dan keluar saat tanah basah oleh guyuran hujan.
Pacat yang datang bergerombol merambat naik ketubuh Rey tanpa Ia sadari. Hewan imut itu berbondong-bondong berpesta pora ditubuh Rey, bahkan bagiandua buah salak dan senjatanya tak luput dari serangan pacat tersebut.
Setelah cukup lama, hujanpun mereda, Rey mencoba beranjak bangkit dari duduknya. Namun Ia seperti merasakan gatal diarea buah salaknya, Ia menccoba memeriksanya.
Alangkah tersentaknya Ia saat melihat ada banyak hewan aneh yang tak pernah Ia lihat sebelumnya sedang menempel ditubuhnya.
Dengan rasa ketakutan, Ia membuka celananya, lalu tampak ada puluhan hewan penghisap darah itu yang menempel erat ditubuhnya, dengan perut menggembung penuh dengan darah.
Seketika Rey melompat ketakutan, namun hewan itu tak mau juga lepas dari tubuhnya.
Ia mencoba mencabutnya satu persatu, namun hewan itu semakin kuat hisapannya. Rey tak perduli, Ia menarik paksa semua hewan itu agar terlepas.
Dengan sangat kasar Ia berhasil melepaskan seluruh hewan penghisap darah tersebut, namun akibatnya, darah terus mengucur dari bekas gigitan para hewan penghisap darah tersebut.
__ADS_1
Rey tak lagi perduli dengan darah yang terus mengucur diseluruh tubuhnya, Ia harus segera menemukan sang gadis.
Pemuda menyeramkan itu mencoba memeriksa seluruh bagian celananya, memastikan tak ada satupun hewan itu yang menempel disana. Ia menegenakannya kembali, meski rasa gatal menggerogotinya.
Sementara itu, Ki Wowo yang telah berada digoa larangan untuk menemui Nini Maru, tak berhasil melaporkan apa yang terjadi, dikarenakan Nini Maru sedang fokus dalam pertapaannya.
Genderuwo yang merasa kecewa, mencium aroma tanda-tanda kedatangan sang putera yang juga menuju goa larangan, namun dengan tujuan untuk mendapatkan anak dari Nini Maru.
Genderuwo juga mengakui akan kecantikan gadis itu. Genderuwo adalah salah satu jin dengan sifat mesum yang sangat kuar biasa. Membaca isi hati anaknya, Ia memilih menemui Rey yang kini sedang berada dihutan untuk mencapai goa.
Genderuwo memiliki niat terselubung atas Mirna, sebab Ia belum mendapatkan imbalan apapun dari Nini Maru atas kerjasama mereka.
Rey masih berada dihutan, sedangkan hari semakin gelap, dan merangkak malam.
Tubuhnya yang kini sudah tak berbulu lagi karena hangus terkena ajian segoro geni, membuatnya sedikit minder untuk bertemu para demit lainnya, ini akan membuat pamornya merasa terinjak sebagi makhluk demit berbulu lebat dan menyeramkan.
Genderuwo melihat Rey yang tengah tampak kebingunan mencari arah jalan menuju Goa.
"Rey.. Kemarilah.. Ini aku Ayahmu.." suara serak dan parau itu begitu mengagetkan Rey. Dalam kegelapan Ia melihat jika makhluk bertubuh besar dan hitam sedang berada didepannya.
"Haaah.. ! Kemana semua bulumu..? Mengapa Kau terlihat gundul..?" tanya Rey tak sopan kepada Ayahnya.
"Diamlah Kau..!! sopanlah sedikit kepadaku, aku ini Ayahmu.." ucap Genderuwo sedikit kesal, karena Rey telah memanggilnya dengan tidak sopan dan mempertanyakan bulunya yang hialng.
"Sudahlah.. Ada perlu apa mencariku..?" tanya Rey dengan ketus.
"Kita akan bekerjasama mendapatkan gadis itu, tetapi kita harus melakukan penyatuan tubuh terlebih dahulu.. Aku ingin bersemayam didalam tubuhmu, karrna aku tidak ingin dilihat para demit lain dalam kondisi gundul seperti ini.." ujar genderuwo menjelaskan.
"Baiklah.. Dimana kita akan melakukan penyatuannya..?" jawab Rey menyetujui usul ayahnya itu.
"Dirumpun bambu dekat hutan sini.. Ayo ikutin aku..!" ajak Genderuwo dengan semangat.
"Baiklah..!" jawab Rey, mengikuti langkah sang ayah menuju rumpun bambu yang dimaksud.
__ADS_1
~Perbedaan pacat dan lintah ialah, pacat hidup didarat, sedangkan lintah diair. Tubuh pacat kecil bagaikan lidi, sedangkan pacat berbentuk pipih. Persamaannya ialah, sama-sama penghisap darah, jika lintah sampai masuk melalui lubang anu*s atau organ sensitif, maka korban akan kehilangan darah dan bisa menyebabkan kematian~