
Rumi sudah terlelap dari tidurnya. Ia baru saja menyelesaikan setrikaannya, rasa lelah membuatnya cepat merasakan kantuk.
Disatu sisi, Nia ternyata sudah pindah tempat ke kamar Danang. Saat Nini Maru dan Jenglot Ki Kliwon memasuki kamar Rumi, gadis itu sudah tampak terlelap.
Lalu mereka mendengar suara rintihan manja dikamar Danang. kedua Iblis laknat itu segera memutar arah untuk mencari sumber suara itu.
Melalui kekuatannya, mereka menembus dinding kamar belakang tempat Danang dan Nia sedang memadu kasih.
Kedua insan itu tampak bermandikan peluh. Perut nia yang tampak membuncit terguncang-guncang karena hentakan keras dari Danang.
Namun seketika Danang terhenyak, lalu menghentikan hentakannya yang hampir saja mencapai puncak surgawinya. matanya membola menatap apa yang disaksikan didepannya. Dua sosok makhluk mengerikan telah menatap tajam padanya.
Tubuhnya yang polos sekita beringsut dari tubuh Nia. Ia berjalan mundur, lalu merapat kedinding.
Seketika tubuh Danang bergetar, bulu kuduknya meremang. Ia diam terpaku, menatap penuh dengan raut wajah ketakutan, wajahnya pucat bagaikan tak berdarah, putih membias bagaikan kapas.
Nini Maru menghampirinya dengan seringai tajamnya.
Sedangkan Nia yang menyaksikan kedua makhluk itu berteriak kencang. Namun teriakannya terhenti saat jemari Nini maru mendarat dilehernya.
jemari keriput, kuku runcing dan tajam itu mencekik leher Nia. Sorot mata Iblis betina itu sungguh menakutkan.
Nia hampir kehabisan nafas. Wajahnya membiru karena kekurangan asupan oksigen diparu-parunya.
Seketika Nini Maru melepaskan cekikiannya.
" Diamlah.. Aku akan membunuhmu jika kau terlalu berisik." Ancam Nini Maru dengan tatapan sengit.
Nia yang ketakutan seketika terdiam. lidahnya keluh untuk mengucapkan sepata katapun. Ia tak mampu menatap mata mengerikan milik Nini maru.
Belum lagi hilang rasa takutnya, tiba-tiba saja jenglot Ki Kliwon muncul dihadapannya. Nia yang tak mampu menahan keterkejutannya, gadis itu mampu menahan rasa gugup dan ketakutannya, tubuhnya gemetaran.
Danang yang berada disana, mencoba mencari cara untuk menyelamatkan Nia. Ia mengambil sebuah raket nyamuk yang tergantung didinding kamar, dengan sisa keberaniannya, Ia memukulkan raket nyamuk tersebut dikepala Nini Maru, namun belum sempat raket itu mendarat dikepala Iblis betina tersebut, makhluk itu sudah terlebih dahulu menangkapnya.
Aaaaarrggh...
__ADS_1
Nini Maru menatap dengan geram. Matanya berubah menjadi merah, kekejian tampak jelas diraut wajahnya yang tampak begitu sangat jelas.
Nini Maru mencengkram leher Danang, lalu mengangkatnya dan menggesekkan tubuh Danang kedinding hingga menimbulkan suara yang berdesit.
Setelah tubuh Danang setengah meter dari lantai, lalu Nini Maru menghempasnya kelantai dengan sangat kasar.
Buuuuugghhhh...
"Aaaaaarrgh..."
Danang mengerang kesakitan. Rasa dipinggangnya serasa patah, Ia memeganginya dengan rasa yang begitu nyeri. Tubuh Danang memar terkena kaki ranjang yang tak sengaja mengenainya saat terhempas tadi.
Nini Maru menatap tajam padanya, cahaya merah yang keluar dari sorot matanya membuat Danang merasa tak berkutik. Ia lunglai tak dapat berbuat apapun..
Sementara itu, Nini Maru kembali kepada Nia yang masih dalam kondisi gemetaran. Tanpa menunggu aba-aba, Nini Maru segera melesak memasuki rahim Nia. Tampak Janin yang sudah sangat menggiurkan dan tumbuh besar hampir mencapai sempurnah, sebuah kenikmatan yang tak terduga.
Sebuah rasa lapar yang begitu dahaga, dengan segera Ia tuntaskan. Dalam kondisi sadar, Nia merasakan perutnya yang sangat sakit dan memulas.
rasa sakit itu kian memuncak, saat Nia merasakan ingin buang air besar. Lalu dengan cepat janin itu meluncur dengan cepat dari rahimnya.
Tak selang berapa lama, plascenta janin tersebut menyusul keluar, membuat Nini Maru semakin menyeringai, Ia merasa seolah mendapatkan bonus kali ini, yaitu janin dan placenta.
Disisi lain, Jenglot tersebut seketika menyeringai menunjukkan taringnya saat mencium aroma amis darah segar milik Nia. Ia segera menyesap darah tersebut dengan sangat rakusnya melalui pangkal kaki Nia.
Sedangkan Nini Maru menikamati santapannya dengan sangat rakus dan begitu lahabnya. Tampak darah berceceran dimulut dan wajahnya yang berasal dari janin dan placenta tersebut.
Nia tak sanggup menyaksikan semuanya, diamana janinnya dilahab secara rakus tepat dihadapannya. taring tajam dan kuku-kuku runcing Nini Maru mencabik-cabik daging mungil sang janin yang sudah terbentuk dengan sempurnah.
Senburan daeah dari setiap cabikan kuku runcing dan taring tajam Iblis betina tersebut di daging nan lembut itu, menimbulkan kengiluan dan perih dihati Nia.
Jenglot yang masih menyesap darah segar pada rahim Nia tampak begitu tergesah -gesah dan tak sabar. Sepertinya malam ini mereka sedang berpesta pora, menikmati semua yang mereka inginkan tersaji begitu saja didepan mata.
Sedangkan disisi lain, Danang tak mampu berkutik dan berbuat banyak untuk menyelamatkan janinnya. Danang hanya mampu menatapi semua perkakuan keji Nini Maru dan Jenglot tersebut.
Danang merasakan tubuhnya seperti terkunci, dapat melihat, namun tak dapat bersuara dan bergerak. Ia hanya dapat membulatkan kedua bola matanya dan mulut yang ternganga menyaksikan semua perbuatan Nini Maru.
__ADS_1
Setelah selesai dengan pekerjaannya, kedua makhluk laknat itu bergegas pergi, dengan meninggalkan semua kekacauan dan kengerian yang terjadi.
Kepergian kedua makhluk laknat tersebut telah menimbulkan trauma dan rasa syok yang amat mendalam.
Kedua makhluk itu pergi melayang menuju goa peristirahatan mereka. Disana mereka mencerna dan meresapi semua sajian yang baru saja mereka nikmati.
Sementara itu, Danang dan Nia tersentak dari pengaruh lindian mereka. Mereka kini dapat menggerakkan seluruh tubuhnya. keduanya saling pandang dan penuh kebingungan.
Darah masih mengalir deras dari rahim Nia. Danang merasa ketakutan dan akan menjadi bencana jika Nia kehabisan darah dan meninggal karena itu.
Danang segera memakai pakaiannya, dan juga pakaian Nia. Lalu dengan masih menggunakan akalnya, Ia menggendong nia, lalu menyambar kain sarungnya.
Danang menuju garasi tempat Ia menyimpan sepeda motornya. Lalu mencoba meletakkan Nia di lantai garasi, dan Ia membawa sepeda motornya keluar.
Setelah itu, Danang kembali masuk kedalam garasi, lalu menggendong Nia untuk naik keatas motor.
Nia duduk dijok belakang, dan untuk mengantisipasi agar Nia tetap aman dan tidak terjatuh, maka Danang mengikat Nia ketubuhnya dengan menggunakan kain sarung. Lalu Ia menghidupkan mesin sepeda motornya, dan membawa Nia kepuskesmas.
Nia sudah sanngat Lemah, karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Ia terlihat sangat pucat laksana kapas. Andai saja Danang tidak mengikatnya, maka Ia sudah jatuh terkulai dijalanan aspal.
Ditengah perjalanan menuju puskesmas, Danang tampak berfikir keras. Karena jika harus berobat kesana memerlukan identitas diri, sedangkan Nia belum memiliki KTP. Danang merasa bingung untuk membawa Nia kemana.
Seketika Ia teringat akan syafiyah, bidan yang rumahnya tak jauh dari posisinya.
Danang membawanya kesana. Dikediaman rumah Bidan Syafiyah, tampak sudah sunyi karena sudah larut malam. Danang mencoba mengetuk pintu rumah tersebut, berharap Bidan itu memberikan bantuan kepadanya.
Danang menghentikan motornya, memasang pengamannya dan membuka ikatan kain sarungnya.
Lalu dengan perlahan Ia turun dari sepeda motor, dan menggendong Nia dengan tertatih dan menapaki anak tangga rumah bidan Syafiyah.
Tok..tok..tok..
"Buuu.. Bu...Bidan.. Buka pintunya Bu.. Saya butuh bantuan Ibu.." Suara Danang terdengar sangat memelas.
Bersambung...
__ADS_1