
Hamdan baru saja selesai dari shalat subuh di mushallah. Ia duduk diteras rumah menanti mentari pagi bersinar menghangatkan bumi.
Tampak Bayu keluar dari kamarnya, sedangkan Chandra masih meringkuk dengan selimutnya.
Melihat Hamdan berada diteras rumah,Bayu menghampirinya, lalu duduk disisi kiri Hamdan.
"Baru pulang dari mesjidkah..?" tanya Bayu ramah.
"Ya.." jawab Hamdan singkat, sembari menatap lurus kedepan.
"Terimakasih atas segala bantuanmu, jika bukan karenamu, mungkin aku masih terbelenggu dalam lingkar perjanjian dengan makhluk laknat itu.." Ucap Bayu tulus.
"Berterimakasihlah pada Rabbi-Mu, karena Ia yang telah membuka jalan hidayah untuk-Mu, dan tidak semua orang mendapatkannya." jawab Hamdan dengan tenang.
"Ya.. Namun aku ingin mengucapkan rasa terimakasihku kepadamu, sebagai perantara itu.." ucap Bayu dengan sungguh.
"Sama-sama.. Semua bisa terlaksana karena keinginanmu juga yang ingin terbebas dari perjanjian terkutuk itu." jawab Hamdan tenang.
"Kalau boleh tahu, kamu siapanya Mala..?" tanya Bayu penasaran.
Hamdan menarik nafasnya berat, lalu menoleh kepada Bayu. "Aku Kakak tertua Roni, almarhum suami Mala." jawab Hamdan, dengan senyum ringan. Lalu kembali menatap lurus kedepan.
Deeeeeegh..
Jantung Bayu berdetak kencang, mendengar nama Roni disebut sebagai adik dari pria yang telah menolongnya.
"Roni.. Dengan apa aku harus berterimakasih padamu..? Kau merelakan istrimu menjadi milikku, dan kini Saudaramu membebaskanku dari jerat iblis yang membelenggumu.. Aku berjanji, akan membangunkan sebuah mesjid terbesar dikampung ini atas namamu.. Doakan saja usaha yang sedang kurintis ini berjalan lancar.." Bayu berguman lirih dalam hatinya.
Bayu menghela nafasnya dengan berat, Ia merasa sangat malu berhadapan dengan Hamdan, apalagi beliau adalah kakak dari Roni, almarhum suami Mala.
"Maaf, aku tidak berniat merebut mantan adik iparmu dari Roni, sedangkan ini belum genap 100 harinya.." ucap Bayu lirih, sembari merundukkan kepalanya.
Hamdan tersenyum tipis. "Semua sudah digariskan, dan kita hanya menjalaninya saja.. Namun, tolong jaga Dia.. Selama ini Ia sudah begitu lelah mengurusi adikku yang sakit selama berbulan-bulan, berikan Ia kebahagiaan.." ucap Hamdan dengan helaan nafasnya yang berat.
Sesaat terdengar suara orang memasak dari arah dapur, dan dipastikan itu Mala yang sedang memasak sarapan.
Hadi baru saja keluar dari kamarnya, Ia menuju teras, kardna melihat bayangan Hamdan dan Bayu dari balik kaca jendela.
"Paman, jam berapa kita harus bergerak..?" tanya Hadi masih dengan mata sedikit mengantuk.
Lalu Ia melirik kearah Bayu.."Pagi Pak Bayu.." ucapnya mencoba ramah.
"Pagi Hadi.. Mengapa harus terburu-buru kembali, menginaplah disini barang semalam lagi." Ucap Bayu menawarkan.
"Tidak bisa, Hadi ada beberapa urusan penting di kota yang harus diselesaikannya, dan jika suatu saat Ia membutuhkan bantuanmu, apakah Kau bersedia membantunya.." tanya Hamdan dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Tentu saja, dengan senang hati.." jawab Bayu cepat, meskipun Ia sendiri bantuan apa yang akan dibutuhkan kelak.
Hadi menguap, lalu menutup mulutnya. "Hadi, paman ikut kekota, paman mau ke bandara Internasional, karena Paman akan berangkat lagi ke Mesir." ucap Hamdan.
Hadi mengernyitkan keningnya.."Mau belajar lagi kah, Paman..?" tanya Hadi penasaran.
Hamdan tersenyum misterius, membuat Hadi penasaran. "Paman akan menikah disana, dengan gadis mesir, teman Kuliah Paman sewaktu menimba ilmu dikampus yang sama..". Jawab Hamdan dengan nada malu-malu.
"Apa...?!" mengapa Paman tidak memberitahu sebelumnya, kan aku bisa ambil cuti buat temenin paman.." teriak Hadi, sedikit konyol.
"Waaah.. Keren itu.. Apakah kami tidak mendapatkan undangannya..?" tanya Bayu antusias. Ia berharap bisa menghadiri acara resepsi Hamdan, sekalian membawa Mala berbulan madu, itupun jika wanita itu mau.
"Tentu saya undang, jika berkenan semoga dapat menghadirinya, masih ada waktu 3 minggu lagi.." jawab Hamdan semakin semangat.
Hadi tampak berfikir keras, memikirkan masalah ucapan dari Hamdan, tentang masalah apa yang akan terjadi berikutnya. Ia berharap dapat menyelesaikannya sebelum hari resepsi pernikahan pamannya.
"Sudahlah.. Segera mandi, perjalanan kita masih panjang.." ucap Hamdan mengingatkan.
Hadi menganggukkan kepalanya, lalu memberitahu Chandra ayah mertuanya dan Shinta, agar segera bersiap-siap untuk kembali pulang kekota.
Mala sudah menyiapkan sarapan untuk semuanya, hanya tinggal menunggu Hadi dan Chandra yang masih membersihkan diri.
Sedangkan Shinta baru saja keluar dari kamarnya. "Mengapa Ibu tak membangunkanku untuk membantu membuat sarapan.." ucapnya lirih, sembari mengecup lembut pipi sang Ibu mertuanya.
"Hanya sarapan, Ibu bisa menyiapkan sendiri."jawab Mala sembari tersenyum.
"Bu.. Kami akan pulang pagi ini.." Jawab Shinta memberitahu.
Mala mengernyitkan keninganya. "Mengapa begitu mendadak..? Bahkan Hadi belum ada memberitahu Ibu.." ucap Mala dengan raut wajah sedih.
"Tidak tahu Bu, mungkin ada urusan pekerjaan.." jawab Shinta, lalu membantu Mala menyiapkan sarapan kedepan ruangan keluarga.
Saat berpapasan dengan Hadi, Mala mempertanyakan apa yang diucapkan oleh Shinta barusan.
"Iya, Bu.. Maaf.. Ada urusan mendadak, dan Hadi tidak dapat membatalkannya.." jawab Hadi berbohong, sedangkan Ia juga tidak tahu masalah apa sebenarnya yang sedang menatinya.
Mala hanya mendengus sedih, kininIa harus berpisah lagi dengan sang buah hatinya. "Mungkin itu sebabnya, Allah memberi Ibu jodoh dengan cepat, agar ada yang menjaga Ibu, disaat aku tak dapat menjaga dengan tanganku.." Ucap Hadi, Lalu memeluk lembut Mala, dan mengecup kening Ibunya.
Malah terkesima dengan ucapan Hadi, kungkin ada benarnya apa yang diucapkan oleh puteranya. Hidup menjanda seorang diri dan jauh dari sanak saudara serta harta melimpah akan menimbulkan resiko yang besar untuk dihadapinya.
Selain resiko mata genit, cibiran, dan juga yang membahayakan adalah perampokan yang bisa datang kapan saja.
Mungkin sudah saatnya Ia membuka hati untuk Bayu secara perlahan.
Hadi melepaskan pekukannya. "Sarapan yuk Bu, Hadi lapar.." Ucap Hadi sembari mengelus perutnya dengan manja.
__ADS_1
"Ya sudah.. Panggil yang lainnya.." ucap Mala dengan lembut.
Lalu mereka sarapan dengan sangat lahabnya.. Setelah selesai sarapan, maka Mereka berpamitan untuk kembali ke kota.
Meski dengan hati beeat, Mala melepaskan kepulangan Hadi untuk mengurus pekerjaannya.
setelah semua berada didalam mobil, dan saling melambaikan tangan, mobil Hadi bergerak meninggalkan rumah Ibunya.
Ditengah perjalanan, ada sesuatu hal yang yang sangat mengganjal hati Hadi, dan ingin diutarakannya.
"Paman.. Ada yang ingin ku tanyakan.." ucap Hadi sembari menyetir.
"Apa itu..?" Jawab Hamdan singkat.
"Mengapa Paman tidak memusnahkan makhluk laknat itu tadi malam..?" ucap Hadi tak sabar.
"Karena itu akan menjadi urusan Satria, Paman sudah mengirimnya ke goa bersama kuntilanak sialan itu.." ucap Hamdan dengan serius.
"A..apa..?" tanya Hadi tak percaya.
"Ya.. Sebentar lagi Satria juga akan kembali.. Dan paman harap, kalian dapat menghadiri pernikahan Paman di Mesir, karena hanya kalian keluarga Paman yang tersisa.." ucap Hamdan lirih.
"Apa..? Kamu ingin menikah di Mesir.?" tanya Chandra penasaran, karena Ia baru mendengarnya.
"Ya.. Ku harap kamu juga datang, bersama pasangan halalmu.." ucap Hamdan menyindir.
Chandra tersenyum miris, Ia masih memikirkan nasibnya yang sangat buruk. Haruskah Ia move on dan keluar dari lingkar bayang-bayang masa lalunya.
Sementara itu, Bayu yang mencari pakaian kerjanya merasa kebingungan, karena Ia tak menemukan tas ranselnya didekat sofa tempat Ia biasa tidur selama ini.
Mala mengetahui apa yang dicari oleh Bayu, lalu Ia menyerahkannya kepada Bayu, satu setelan pakaian kerja pria itu.
"Ini yang kamu cari..?" ucapnya lirih, sembari menyerahkan pakaian itu.
Bayu menoleh kearah suara wanita yang menyapanya, tanpak dikedua tangannya memegang pakaian yang dicarinya.
Bayu tersenyum sumringah.."Terimakasih.." Ucap Bayu, lalu meraihnya.
"Jika mencari pakainmu, carilah dilemari kamar, karena sudah kupindahkan disana.." jawab Mala dengan merundukkan kepalanya, lalu segera beranjak pergi.
Namun Bayu memanggilnya. "Tunggu, apakah itu artinya aku boleh memindahkan semua pakaian yang ada dirumahku kemari.?" tanya Bayu serius.
Seketika Mala menghentikan langkahnya, lalu menoleh denga tatapan membolakan kedua matanya.
Seketika Bayu nyengir meringis, lalu buru-buru memasuki kamar dan menyalin pakaiannya.
__ADS_1