
"sayang Mama..bangun sayang.." ucap Jayanti dengan lembut dan mengguncang pundak Satria.
karena pembaca setia minta visual Satria, ini author pilihkan yang paling cakep. Satria digambarkan pemilik mata Indah, sama seperti ibu gen-nya.. semoga syuuuka..
Satria mengerjapkan matanya. " ada apa Ma..?" ucap Satria lirih.
"kamu belum shalat subuh.. bangun.. oh, ya kamu sudah bisa kekampus hari ini.." ucap Jayanti dengan tenang.
Satria terperangah. " benarkah..?" ucapnya tertegun.
"Iya sayang.. kamu tenang saja. selama mama masih hidup mama akan lakukan apapun buat kamu.." ucap Jayanti sembari tersenyum.
Satria memandang Jayanti, meskipun perasaannya terhadap Jayanti tidak begitu dalam, namun Ia tau, Jika Jayanti menjadi seorang ibu yang baik. "terima kasih ma.." ucapnya dengan sopan.
Jayanti beranjak dari kamar Satria. dan berlalu.
Satria bangkit dari tidurnya. beranjak kekamar mandi dan melakukan istinja'. setelah itu Ia berwudhu.
Ia melakukan shalat subuh dengan khusu'. diakhir shalatnya, Ia berdoa kepada Rabb-Nya untuk selalu diberikan keberkahan hidup. lalu terlintas dimatanya sosok wanita cantik pemilik mata indah yang pernah Ia tolong.
"wanita itu.. Ia memiliki darah yang sama denganku..? mengapa bisa kebetulan seperti itu..?" ucap Satria lirih dalam doanya.
Ia tak pernah memahami, mengapa wanita yang memiliki mata indah itu, selalu hadir dalam mimpinya. bahkan tanpa sengaja mengalirkan darah didalam tubuhnya.
Ia mengingat akan pernyataan pramusaji tersebut. jika Ia memiliki wajah yang mirip dengan Hadi.
"Hadi..? ya..Hadi..! bahkan Ia juga memiliki darah yang sama denganku, juga wanita itu..? apa hanya kebetulan semata..?" ucap Satria lirih.
sengaja diplih visualnya dari bangsa timur tengah, karena hanya warga sana yang memiliki anugerah pemilik mata indah.
Warning..!! jangan terlalu dipandangi..karena author tidak bertanggung jawab jika nanti ada yang baper..trus klepek-klepek.
kembali pada Satria.....
Satria masih terus dalam munajad doanya. "berikanlah petunjukmu ya ya Rabb.." Ucapnya dengan lirih dan penuh harapan.
Satria bergegas menuruni anak tangga. Ia akan berkuliah hari ini. setelah melewati beberapa hari masa skorsing. Ia akhirnya terbebas.
Satria menemui Jayanti dikamarnya, berpamitan padanya. "Ma..Satria berangkat kuliah ya.." ucapnya dengan sopan, sembari menyalim tangan ibunya.
"Iya..jangan terlibat masalah lagi ya sayang." ucapnya dengan senyum sumringah.
Satria mengangguk. lalu beranjak pergi.
Jayanti saat ini sudah berdandan sangat cantik. sepertinya Ia akan menghadiri suatu acara atau pertemuan.
__ADS_1
Satria mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia telah sampai di kampus.
saat diparkiran, handphone Satria berdering. satu panggilan masuk dari Rektor "hallo..ya pak.." ucapnya sopan.
"temui saya diruangan saya. ada yang ingin saya bicarakan" ucapnya datar.
"baik pak.. saya akan segera kesana" ucapnya dengan sopan.
Satria bergegas menaiki anak tangga. menuju ruangan Rektor tersebut.
[tok..tok..tok..] Ia mengetuk pintu ruangan. "masuk.." ucap pria berkamata itu dengan datar.
Satria melangkah masuk kedalam ruangan tersebut. terlihat Rektor tersebut sedang tidak bersemangat.
Satria melirik kewajah pria itu. Ia tampak seperti lelah. ada luka dibagian pelipis matanya. "apa yang sedang terjadi pada pak Rektor.?" Satria berguman lirih.
"duduk.." ucapnya datar.
Satria duduk dengan perasaan yang masih dengan rasa penasaran.
"kami telah mencabut keputusan masa skorsingmu. maka kamu diijinkan kembali masuk kedalam kampus dan mengikuti mata kuliah." ucapnya dengan tegas.
"oh..terima kasih pak.." jawab Satria sopan.
Satria meninggalkan ruangan.
********
[kriiiiiing..] suara telefon berdering. satu panggilan masuk dari Hadi.
"ya ..Hallo, ada apa di.?" ucap Satria lembut.
"kakak dimana.?" ucap Hadi dengan nada tergesah-gesah.
"di koridor kampus. ada apa..?" jawab Satria penasaran.
"tunggu disitu ya, Hadi akan samperin kakak." ucapnya dengan permohonan.
"oke.." jawab Satria singkat.
Satria duduk dikursi panjang yang terdapat dikoridor kampus. Ia menanti kedatangan Hadi yang ingin menemuinya.
Dari kejauhan, tampak Hadi berlari-lari kecil mengjampirinya. Satria memandang lekat mata itu, bibir tipis merah muda. "ada kemiripan dengan wanita yang pernah mendonorkan darahnya padaku." Satria berguman lirih.
Hadi kian mendekat, dan kini berada disisinya, nafasnya tersengal. Ia mengatur nafasnya agar normal. lalu duduk disisi kanan Satria.
setiap para mahasiswi yang melintasi mereka selalu memandang meteka dengan tatapan terpana. dua pemuda tampan yang duduk bersamaan itu membuat hati para gadis tak berdaya.
__ADS_1
mereka selalu melemparkan senyum nakal saat melintasi keduanya.
"wiiih..kalian koq mirip banget sih.." ucap Rindi saat melintasi kedua pemuda itu.
Satria dan Hadi saling tatap. karena sudah beberapa kali mereka mendengarnya.
Keduanya menanggapi dengan senyum sopan, hingga membuat baper para gadis.
Satria menatap Hadi. "ada apa Di..?" ucap Satria lembut.
"kakak dah dengar kabar kehebohan dikampus belum?" ucap Hadi yang masih mengatur nafasnya.
Satria mengernyitkan keningnya. " kabar apa..?" ucapnya penasaran.
Hadi menarik nafasnya, dengan berat, mengehelanya dengan kasar.
"Shinta menghilang semenjak beberap minggu yang lalu." ucap Hadi menjelaskan.
"Shinta..?" Satria terperangah. Ia baru mengingat gadis itu Ia tinggalkan saat menjaga Hadi dirumah sakit.
Satria meminta tolong kepada Shinta untuk menitipkan Hadi, sembari menunggu keluarga Hadi datang dari kampung, karena Satria menjemput Jayanti di Bandara.
"iya kak. Ia menghilang secara misterius." ucap Hadi dengan gamblang.
"apakah keluarganya tidak mencarinya..?" Satria bertanya dengan penasaran.
Hadi menatap Satria. " kabar yang saya dengar, keluarganya telah mengupayakan pencarian tetapi masih gagal." jawab Hadi.
Satria mencoba menyusuri jejak terakhir Shinta. "ya..aku tau harus memulainya dari mana..!" ucap Satria lirih.
"aku harus mencarinya, bagaimanapun Ia telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku. dan sudah saatnya aku juga membantunya." Satria berguman lirih dalam hatinya.
Satria menatap Hadi. "apakah kamu ada melihat Rey akhir-akhir ini..?" ucap Satria kepada Hadi.
"sepertinya tidak ada kak. Dia juga menghilang sepertinya." ucap Hadi dengan menjelaskan.
Satria mencoba berfikir sejenak. Ia akan mencari cara bagaimana menemukan Shinta. tiba-tiba saja, Satria menangkap samar-samar Siluet wajah Shinta yang sepertinya terkurung dalam sebuah ruangan. Shinta terlihat penuh kesakitan dan membutuhkan pertolongan. wajah gadis itu terlihat sangat pucat.
"hah..mengapa aku mampu menembus dimensi lain..?" Satria berguman lirih dala hatinya. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. Ia mencoba membayangkan wajah gadis itu, Ia melihat samar-samar, seorang pria berbadan kekar dan berwajah seram sedang menyiksanya.
Satria beranjak dari duduknya. "Mau kemana kak..?" ucap Hadi penasaran.
Satria menoleh kepada Hadi "ada yang harus kakak lakukan. Shinta dalam bahaya." ucap Satria.
"Kakak mau menolongnya..?" ucap Hadi penasaran.
Satria mengangguk. lalu beranjak pergi.
"kak...tunggu..aku ikut.." ucap Hadi sembari berlari mengejar Satria.
Ia mengekori Satria dari belakang. tanpa persetujuan Satria Ia ikut masuk kedalam mobil dan duduk disisi kemudi. Satria juga membiarkannya. karena Ia pasti akan memerlukan Hadi nantinya.
__ADS_1