Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Hilangnya Nyawa


__ADS_3

Mira berjalan menuju rumah Reza. Ia merasa bingung dengan kehamilannya. Ia takut jika ketahuan orang tuanya.


sesampainya dirumah Reza, Ia mencari keberadaan tuan majikannya tersebut. "dimana tuan Reza, saya harus bertemu dengannya. saya belum siap untuk mengandung janin ini." Mira merasa frustasi.


Ia melihat Reza sedang menuruni anak tangga dari lantai dua. Ia menghampirinya. "tu..tuan..saya ingin membicarakan sesuatu.." ucap Mira dengan wajah panik dan terbata-bata.


"oh..silahkan..saya juga sedang ingin mencari kamu tadinya. tapi kebetulan kamu juga sedang mencari saya. katakan saja.."


"tuan...saya hamil..."ucap Mira dengan menundukkan wajahnya.


Reza yang sudah mengetahui hal tersebut hanya berpura-pura kaget.."oh..ya..terus saya harus apa..?" ucap Reza dengan santai.


"saya belum bisa menerima kandungan saya tuan..saya belum siap.." ucap Mira mulai terisak..


pucuk dicinta ulampun tiba..Reza tersenyum bahagia mendengar ucapan Mira. Ia tak perlu repot-repot untuk membujuk Mira menggugurkan kandungannya. "kalau begitu mari ikut kekamar saya." ucap Reza, semabari berjalan kembali kekamarnya.


Mira yang sudah kalut menuruti saja perintah Reza. sesampainya dikamar, Ia melihat sebuah perlak beralaskan kain putih sudah terbentang, ada dupa dan aroma kemenyan yang sedang terbakar dalam wadah yang terbuat dari olahan tanah liat. asap mengepul dari pembakaran dupa dan kemenyan.


ternyata Reza telah mempersiapkan segalanya, untuk proses menggugurkan janin Mira. saat Ia ingin mencari Mira untuk membujuk gadis itu, tapi keberuntungan dipihaknya. gadis itu yang datang sendiri kepadanya untuk menggugurkan janinnya.


"minumlah air ini.." ucap Reza menyodorkan segelas air bercampur obat tidur. Ia tidak ingin Mira melihat Nini Maru memakan janinnya. karena itu akan beresiko.


"untuk apa tuan..? " Mira meraih gelas itu.


"untuk menggugurkan janinmu.." ucap Reza dengan mudahnya.


Mira menatap Reza, lalu mengangguk dan meminum habis airnya. tak butuh waktu lama, Mirapun mengantuk dan limbung kekanan.


Reza segera menangkapnya. lalu membaringkan tubuh si gadis diatas perlak. Ia melucuti pakaian sigadis. lalu mencumbu Mira yang sedang tertidur lelap.


setelah menuntaskan hasratnya, Kini gilaran Nini Maru yang masuk kedalam rahim Mira. Ia menendang janin itu, lalu janin itu menyerah pada takdirnya. Ia terpisah dari ibunya. segumpal daging meluncur keluar. lalu Nini Maru menyambarnya, memakannya hingga habis.


Ia menghisap darah yang merembes keluar dari sela-sela paha Mira.


setelah itu Nini Maru merasakan sedikit tambahan energi. Ia tertawa menyeringai, lalu pergi begitu saja.


"dasar setan jelek gak ada akhlak..habis makan gak mau beresin..malah kabur. aku juga yang harus mencuci sprei penuh noda darah ini." Reza menggerutu.


tiba-tiba Nini Maru muncul dari belakang, lalu menendang Reza hingga terjengkang..Reza yang mendapat serangan tiba-tiba meringis kesakitan, menatap kesal pada Nini Maru.

__ADS_1


"awas saja jika ku dengar lagi kau menggerutu.."ucap Nini Maru dengan wajah jeleknya. lalu kembali menghilang.


Reza menggeretakkan gigi-giginya. dengan terpaksa Ia membersihkan noda darah disprei dan perlak. Ia membangungkan Mira, mengguncang dengan keras tubuh gadis itu agar bangun


"hei...bangun..." Reza mengguncang tubuh Mira.. namun gadis itu masih tertidur pulas dilantai keramik kamarnya. Reza mengambil air dari kamar mandi. memercikkannya pada wajah gadis itu. Mira mengerjapkan matanya. sesaat Ia mengdarkan pandangannya kesekeliling ruangan.


menyadari berada dikamar Reza, Ia bangkit dari tidurnya. lalu berusaha untuk duduk. kepalanya masih pusing karena pengaruh obat tidur.


Ia terperanjat, mendapati dirinya tanpa sehelai benangpun. lalu melihat darah mengalir dari sela-sela kedua pahanya. Ia gemetar ketakutan. minimnya akan edukasi dini tentang kehamilan, membuatnya ketakutan.


"hei...jangan bengong..bersihkan darah yang dilantai kamar saya.."hardik Reza.


"ta..tapi darah apa ini tu..an.." Mira terbata-bata dan gugup.


Reza memandangnya dengan sinis.."itu darah keguguranmu..janinmu sudah keluar..!" ucap Reza dengan ketus.


Mira si gadis belia merasa bingung, karena Ia tak memahami kapan Ia mengalami keguguran. karena yang Ia tau, setelah meminum air pemberian Reza Ia tertidur pulas


"buruan...bersihkan..setelah itu pergi keluar dari kamar saya.!" perintah Reza, yang membuat Mira ketakutan.


Mira segera bangkit dari duduknya, memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu mengenakannya. Ia terpaksa membersihkan sisa darah yang mengotori lantai kamar milik Reza. Setelah selesai Ia ingin keluar dari kamar. "tunggu dulu.." Reza menghentikan langkah Mira.


"ada apa tuan..?" ucap Mira dengan wajah pucat karena banyaknya darah yang keluar.


Mira melangkah mengambil pembalut instan tersebut. karena Reza tau jika gadis seperti Mira akan menggunakan pembalut buatan pabrik.


"dan ini buat kamu.." ucap Reza sembari menyerahkan uang tunai 3 juta rupiah.


Mira meraih pembalut dan uang tersebut. lalu Ia berjalan ingin pulang. Ia mengenakan pembalut itu setelah keluar dari kamar Reza. melangkah pergi keluar dari rumah Reza.


****


dua hari Mira tak bekerja, Ia merasakan pusing dikepalanya, saat ditanya ibunya, Ia hanya sedang tidak enak badan.


tidak seperti Rianti, yang memahami akan obat peluntur dan penambah darah setelah keguguran, Mira sebaliknya.


Ia yang tak faham hanya mengabaikannya saja. pusing dikepalanya kian menjadi. wajahnya pucat dan keringat dingin. Ia beranjak dari kamarnya, ingin mengambil air putih didapur. lalu....[buuuggghhhh...]


Mira limbung dan tak sadarkan diri. ibunya yang melihat kejadian itu terpekik. "aaaaahhhh...." lalu mendekati anaknya.

__ADS_1


pak Danu yang berada dibelakang rumah, penasaran dengan teriakan istrinya.


"ada apa bun..?" tanya pak Danu kepada istrinya.


Mida yang masih menangis menunjuk kearah tubuh Mira yang berada dipangkuannya. "Miraa.." ucapnya terisak.


Pak Danu bergegas mengangkat tubuh anak gadisnya yang tak sadarkan diri. darah merembes dari sela-sela pahanya. Midah mengira itu adalah darah menstruasi.


"panggil bidan Sri pak....cepat" ucap Mida dengan panik.


Danu segera bergegas menaiki Sepeda motor untuk menjemput bidan Sri.


"bun...bunda..."suara lirih Mira tanpa membuka matanya.


Mida yang berada disisi Mira mendekati dan menggenggam tangan putrinya. "iya sayang...ini bunda.." ucap Mida sembari membelai rambut anak gadis semata wayangnya.


"maafin Mira ya bun..." ucap Mira lirih dan melemah. Midah gelisah dan hati sedih mencium kening puterinya. "kamu tidak memiliki salah sayang..apapun kesalahanmu bunda maafin.." ucap Mida dengan derai air mata.


"makasih bun.." lalu suara itu lemah..dan terhenti.


Mida merasakan sesuatu yang aneh."Mir...mira...sadar nak.." Mida mengguncang tubuh anaknya.


tubuh itu diam tak dan tak ada jawaban. Mida semakin panik. "Mir..Mira...bangun sayang...Miraa.." tangis Mida semakin kencang.


Danu tiba dirumah bersama bidan Sri. mereka mendengar suara teriakan dan tangisan Mida. lalu mereka bergegas menuju kamar Mira.


Sri melakukan pemeriksaan, Ia mengecek detak jantung dan nadi Mira. tidak ada denyut disana. Ia memastikan Mira telah meninggal dunia.


Namun Ia masih merahasiakannya. Ia melihat darah yang merembes di sela-sela paha Mira.


"pak Danu bisa keluar sebentar, saya ingin memeriksa Mira." dan pak Danu menganngguk setelah itu Ia memeriksa jasad Mira. Ia menyimpulkan Mira infeksi rahim dan pendarahan, sehingga anemia dan meninggal dunia.


Ia menarik nafasnya. "apakah Mira keguguran..? jika aku membuka aibnya, maka aku akan melanggar janjiku padanya. awas kau Reza..aku akan membalaskan perbuatanmu." Sri berjanji dalam hatinya.


Ia memandang kepada Mida yang masih terisak, Ia Harus mencari kata yang tepat untuk mengabarkan kepada kedua orang tua itu, bahwa anaknya sudah tiada.


"maaf buk. pak..Mira anak bapak sudah meninggal dunia, Ia anemia. mungkin kelelahan." ucap Sri dengan tegas.


Mida dan Danu saling pandang, mereka tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. "tidaaak...Miraa....mira..jangan tinggalkan bunda sayaaang.." Mida meraung dengan keras. dan raungannya membuat warga menghampiri rumah mereka.

__ADS_1


lalu mereka mengetahui kalau anak pak Danu dan Mida telah meninggal dunia karena Anemia.


kabar itupun menyebar keseluruh desa. lalu warga datang melayat dan menunaikkan fardhu kifayah.


__ADS_2