
Mala mengambil daun bidara yang dipinta oleh Hamdan, Pria itu lalu melakukan ritual doa.
Setelah doa-doa yang Ia panjatkan kepada Allah, Ia kemudian meremas air bidara itu, lalu memasukkannya kedalam satu ember air yang disediakan oleh Chandra.
Setelah itu, Hamdan mencampurkannya, dan mengaduknya.
Setelah selesai, Hamdan meminta agar Mala segera memandikan Shinta dengan air tersebut.
Chandra membantu memabawakan air tersebut kedalam kamar mandi yang ada dikamar tamu.
Setelah itu, Ia menggendong Shinta dan mendudukkannya di sebuah kursi plastik. Mala mengikutinya. Setelah Chandra keluar dari kamar, Mala mulai melucuti selyruh pakaian Shinta, lalu mulai melakukan penyiraman keseluruh tubih Shinta.
Seketika tubuh Shinta mengejang, seperti sedang mengeluarkan sesuatu yang sangat sakit.Tak selang beberapa menit, Ia kembali normal.
Setelah selesai melakukan proses penyiraman, Mala menuntun Shinta keluar dari kamar mandi. Lalu mendudukkan ditepian ranjang. Dengan cinta kasih seorang Ibu, Ia menyalin pakaian Shinta, dan membaringkan tubuhbanak menantunya ditepian ranjang, serta menyelimutinya.
Sesaat Shinta yang merasakan kantuk luar biasa akhirnya tertidur juga.
Mala keluar dari kamar Hadi dan Shinta. Ia menghampiri Hadi yang masih tampak bingung. Setelah mulai normal, Ia kembali menyebut nama Satria.
Hati Mala kian mendenyut saat nama anak lelakinya disebut kembali oleh Hadi, sang adik Satria.
"Apa kamu benar melihatnya Nak..?" Ucap Mala lirih. Seketika air matanya tak mampu Ia bendung lagi. Bulir-bulir kristal itu meluncur dengan sangat deras melewati pipinya yang putih halus.
Hadi memandang Mala ibunya. "Hadi tidak salah lihat Bu, itu beneran kak Satria, bersama seorang laki-laki tua bersorban putih yang tampak melayang diudara." Jelas Hadi secara terperinci.
Hamdan menarik nafasnya dengan berat, lalu mengehelanya. Dimana lemari itu..?" tanya Hamdan kepada Mala.
Seketika Mala tersentak. Ia tidak menyangka jika Hamdan menanyakan hal tersebut.
Mala membulatkan matanya, Ia masih belum percaya dengan pertanyaan Hamdan.
"A..aada dikamar itu.." ucap Mala dengan lirih, jemari telunjuknya mengarah pada sebuah kamar yang masih tertuptup beberapa hari ini.
Bahkan Chandra yang sedari awal juga merasa penasaran dengan kamar tersebut. Apalagi Mala jelas-jelas melarangnya untuk masuk kedalam sana. "Apa sebenarnya rahasia dari kamar itu..? Dan kemana Satria menghilang sejak sebulan yang lalu..? Apakah Mala membunuhnya, lalu menyimpannya didalam lemari.?" Chandra mulai menerka-nerka
Sementara itu, Hamdan beranjak bangkit dari duduknya. Ia menghampiri pintu itu, lalu meminta Mala untuk membukanya.
Mala beranjak bangkit, lalu pergi kekamarnya, mengambil kunci pintu kamar milik Satria.
__ADS_1
Setelah mendapatkannya, Mala bergegas memberikannya kepada Hamdan. Prianitu membuka pintunya, lalu menerobos masuk. Ia menghampiri sebuah lemari tua, namun masih terlihat sangat kokoh.
Awalnya Mala berniat memverikan lemari itu kepada Paijo atau Bimo, namun karena Satria terperangkapndidalamnya, maka Mala mencegan Niatnya itu. Ia akan memberikan lemari yang lain sebagi bentuk balasan dari nazar yang telah diniatkannya.
Chandra, Mala dan Hadi juga mengekori Hamdan masuk kedalam kamar.
Hamdan memperhatikan Lemari tersebut dengan seksama. Lalu Ia membuka pintu lemari tersebut. Tampak kosong melompong.
Chandra, Hadi dan Mala tidak melihat apapun disana. Hanya ada satu rak dibagian atas, dan gantungan untuk hanger saja.
Hamdan duduk bersila, lalu memejamkan matanya, mencoba berkonsentrasi. Hamdan terus menerus membaca doa, memohon agar dikabulkan segala doa dan harapannya.
Hamdan menggulirkan satu persatu bulir tasbih yang dipegang, Ia komat-kamit membacakan asmaul husna yang teramat agung.
Semua yang ada berada dikamar itu berharap-harap cemas dengan apa yang dilakukan oleh Hamdan.
Sesaat Sukma Hamdan melepas dari raganya. Ia berjalan kealam lain, menjemput sang kemanakan yang telah lama tak kembali.
Sebuah cahaya menyerapnya masuk alam ghaib. Hamdan berjalan sepwrti seakan melayang. Ia menyusuri alam tersebut, lalu memanggil nama Satria.
Sesaat Hamdan melihat sebuah lorong menuju istana. Disana tampak sebuah pjntu masuk.
Lalu terdengar suara jawaban salam dari dalam istnana. Siara seirang pria sepuh.
"Apakah saya boleh masuk..?" ucap Hamdan sopan.
"Silahkan.. Masuklah.." jawaban penuh Kharisma didalam sana.
Lalu Hamdan memasuki lorong istana setelah mendapat ijin dari yang empunya bangunan itu.
Sesaat Hamdan merasakan sebuah kilauan cahaya mengarahkannya kepada sebuah ruangan yang berbentuk seperti sebuah aula.
Permadani terbentang luas didalam aula tersebut. Pernak pernik istana yang terbuat dari berbagai permata untuk menambah keindahan aula tersebut.
Disana Hamdan melihat seirang pemuda tampan yang belum pernah Ia lihat sebelumnya sedang dududk diatas permadani berwarna hijau.
Didepannya duduk seorang pria berjubah, dengan perkiaraan usia ratusan tahun.
Lalu Hamdan menghampiri keduanya. "Maaf, Khadam Maulana, saya mengetuk kediaman anda secara tiba-tiba.." ucap Hamdan sesopan mungkin.
__ADS_1
Pria berjubah itu memandang Hamdan dengan tatapan sahaja. Begitu juga dengan Satria, Ia merasa bingung dengan kedatangan Hamdan yang begitu tiba-tiba, dan Ia juga tidak mengenali siapa Hamdan tersebut.
"Apakah Khadam mengenali siapa saya..?" tanya Hamdan dengan penuh selidik.
Khadam itu tersenyum kesahajaan."Bagaimana mungkin aku tidak mengenali setiap keturunan Syech Maulana.." jawab Khadam itu dengan tenang.
"Saya merasa tersanjung mendengarnya.." jawab Hamdan mencoba mencairkan kekakuan suasana.
Satria mengernyitkan keningnya. Ia mencoba mencerna apa yang menjadi percakapan keduanya.
"Keturunan syech Maulana..? Berarti itu saudara dari ayahnya.
Seketika Satria memandang wajah Keluarga ayahnua tersebut.
Khadam itu memandang kepada Hamdan "Apakah tujuan dan maksudmu kemari untuk menjemput Satria..?" tanyanya tanpa diduga sama sekali.
Satria tersentak mendengar ucapan Sang Khadam, bagaimana mungkin seseorang datang ketempat ini dan hamya untuk menjemputnya. Sudah berapa lamakah Ia berada disini..? Ia sendiri tidak tahu.
"Benar sekali Khadam. Saya berniat membawanya pulang, karena sudah terlalu lama Ia berada disini, Ibunya menangisinya terus menerus tanpa henti, sungguh amat tidak bijak jika kita menahan sesuatu hingga sampai lama.. Dan pemuda ini masih banyak tanggung jawabnya dialam dunia yang harus diselesaikannya. Maka darinitu Ia harus segera kembali." pinta Hamdan dengan sopan. Ia berusaha bernegosiasi dengan sang Khadam.
Satria terperangah mendengar kata 'Ibu' yang meluncur dari mulut Hamdan.
"Ibu.. Astaghfirullah.. Aku hampir saja melupakannya. Aku akan pulang bu.." janji Satria dalam hatinya.
"Baiklah.. Aku mengijinkannya pulang. Namaun Ia harus menyelesaikan misi tirakatnya, agar aku dapat terus berada disisinya, aku akan menjadi abdinya yang setia." ucap.san Khadam dengan tenang.
"Baiklah Khadam, saya berjanji akan membantunya untuk menyelesaikan tirakatnya. Apakah boleh saya bawah Ia sekarang..?" tanya Hamdan dengan sangat lembut.
"Silahkan.. Bawalah Ia kembali, aku mengijinkanmu. Namun sebelumnya, bawalah ini. Gembleng Ia dengan baik san menjadi sempurnah." ucap Khadam itu memberikan perintah, sembari memberikan sebuah kitab yang berisikan tentang cara melakukan tirakatnya.
Hamdan mengamggukkan kepalanya, pertanda mengerti "Percayakan itu kepada saya, dan Insya Allah akan saya penuhi." jawab Hamdan sembari mengambil kitab tersebut.
Lalu Hamdan mengulurkan tangannya kepada Satria, meminta Satria menggenggam jemarinya.
Satria menurutinya, lalu beranjak bangkit. "Mari kita pulang, semua orang menantikannmu.." ucap Hamdan dengan ramah.
"Kami permisi Khadam.. Assallammualaikum.." ucap Hamdan, berpamitan pada sang Khadam.
Kahadam menjawab salam keduanya. Lalu Hamdan dan Satria menghilang..
__ADS_1
Bersambung...