Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Serba Salah


__ADS_3

Mala pulang kerumah dengan perasaan yang tak menentu, debaran didadanya seakan tak mampu menutupi kegugupannya.


Ia membuka kunci rumah dengan sangat gugup, dutambah lagi saat berada diwarung pak Joko Ia mendapatkan kata cibiran dan tatapan sinis para tetangga, ditambah lagi pertemuannya dengan Bayu dipertengahan jalan tadi, membuatnya sangat gugup dan juga gemetaran.


Saat Mala memasuki rumahnya, Mbak Ratna mengikutinya dari arah belakang.


"Mala, mbak ingin berbicara dengan kamu.." ucap Mbak Ratna dengan nada serius. Mala menghentikan langkahnya, lalu menatap kepada lawan bicaranya.


"Iya.. Mbak.." jawab Mala, sembari meletakkan kantong kresek belanjanya.


Mala menuju sofa, lalu duduk disana, dan diikuti oleh mabka Ratna, yang kini juga duduk disisinya.


Mala merundukkan kepalanya, Ia tak mampu mengayakan apapun, dan memulainya darimana. Larena Ia tahu, tidak mungkin orang akan mempercayai akan ucapannya.


"Bisa kamu ceritakan tentang semua yang terjadi sebenarnya yang terjadi." Ucap Mbak Ratna dengan nada yang setenang mungkin.


Mala menatap sahabatnya, ada butiran bening dikelopak matanya yang indah, lalu meluncur begitu saja tanpa dapat bisa dicegah.


Mala menghamburkan dirinya kepada Ratnah, memeluk tubih wanita itu, mengharapkan ada tempat baginya berteduh, tentang semua hal.yang kini tengah dihadapinya.


Ratna membiarkan Mala mencurahkan segala tangisnya, yang mungkin sangat dipendamnya, agar terasa lebih lapang didadanya.


Setelah tangisan sahabatnya mereda, Ratna menatap lembut pada Mala, mengangkat dagu wanita itu, agar melihatnya dengan jelas. Ada kejujuran disana, yang belum Ia ungkapkan.


"Aku hampir dinodai mbak..bukan berniat berzinah" ucap Mala terbata dan menggelengkan kepalanya, menyatakan jika semua tuduhan warga itu tidaklah benar.


Mata penuh menghiba itu meluluh lantakkan perasaan Ratna. "Apakah pria itu yang mencoba menodaimu..?" tanya Mbak Ratna penuh selidik.


Mala menggelengkan kepalanya. "Bukan Dia, Ia hanya berniat menolongku, tetapi sosok genderuwo yang menyerupai wajahnya, tiba-tiba datang dengan aroma kabel listrik yang terbakar.." Mala mencoba mengatur nafasnya, agar nada bicaranya dapat terdengar jelas.


Lalu Ia mencoba melanjutkan kembali ucapannya. "Saat aku membuka pintu, untuk memeriksa kabel listrik diluar rumah, aku melihat sosok pria yang mirip dengannya. Tanpa berkata apapun, Ia mendorongku kekamar, dan mencoba menodaiku.." Mala kembali menghentikan ucapannya, karena air matanya mulai kembali mengalir tanpa dapat dicegah.


Ia menyeka air matanya.. "Dan tiba-tiba pria itu datang menolongku, mungkin Ia kebetulan lewat dan mendengar teriakanku meminta tolong, lalu Ia mencoba menolongku, namun naas, genderuwo itu mendorongnya sehingga menimpaku.." Ucap Mala sembari tersedu.


Mungkin akan sulit mempercayai ucapan Mala, namun, Ratna melihat ada kejujuran disana. "Ya sudah.. Mbak percaya dengan apa yang kamu ucapkan. Lalu sekarang dimana suamimu itu..?" tanya Mbak Ratna sembari menatap kesetiap ruangan.


Mala menggelengkan kepalanya. "Dia pulang kerumahnya, dirumah almarhum Reza yang terbengkalai itu.." ucap Mala dengan lirih.


"Mungkin ini sudah takdir jalan hidupmu, semuanya tak dapat terelakkan. Mau tidak mau ya kamu harus menerimanya sebagai suamimu.. Akan berdosa jika kamu mengabaikannya.." ucap Mbak Ratna mencoba memberi nasehat.


Mala hanya diam membisu, Ia belum dapat menerima kehadiran Bayu dihidupnya, apalagi Ia masih menyimpan kenangan indah bersama Roni, dan memiliki kenangan buruk dengan Bayu.

__ADS_1


"Ya sudah.. Mbak pulang dulu ya, semoga masyarakat yang sedang menghibahkanmu, mendapatkan pencerahan atas tuduhan mereka terhadapmu, dan namamu kembali lagi bersih.." ucap Mbak Ratna memberikan semangat.


Mala hanya menganggukkan kepalanya, mentap kepergian Mbak Ratna.


Mala menyeka air matanya, lalu kembali memungut kantong belanjanya, sebenarnya Ia tidak ingin berbelanja siang ini, namun stok pangannya sudah habis total, sehingga mau tidqk mau Ia harus berbelanja, meski harus menerima cibiran dan tatapan sinis dari para tetangga.


Mala menuju dapur, memulai memasak. Ia sepertinya mengacuhkan pernikahannya terhadap Bayu, Ia masih merasakan dirinya hanya seorang janda yang biasa beraktifitas sendiri.


Mala mendengar suara deru mesin mobil berhenti didepan rumahnya. Ia tau jika itu adalah mobil Bayu, karena mobil itu pernah mengantarkannya dan Roni, suaminya saat tersesat dibelakang rumahnya.


Deguban dijantungnya kian menderu, haruskah Ia membenci pria itu, atau mencoba menerima kehadirannya, Ia tidak tau harus bersikap apa.


Bayu mengucapkan salam, dan beranjak masuk, lalu menuju dapur. Ia berdiri diambang pintu penghubung dapur dan ruangan tengah, lalu memperhatikan Mala yang masih memasak.


Diperhatikan seperti itu, tentu membuat Mala semakin gugup tak menentu.


"Bisa kita bicara sebentar..?" ucap Bayu lembut, mencoba mencairkan suasana.


Namun Mala tak juga menoleh kepadanya, pria itu tau nika Mala masih merasa belum bisa menerima kehadirannya, dan terus melanjutkan memasaknya.


Bayu menghela nafasnya. "Baiklah.. Jika kamu tidak ingin berbicara kepadaku tak mengapa, namun tolong dengarkan ucapanku.." ucap Bayu mencoba mengeluarkan apa yang menjadi unek-uneknya selama ini.


Mala sudah menyelesaikan masakannya, namun tak juga melihatnya. Wanita itu memilih duduk dikursi makan, dan membuang wajahnya dari tatapan Bayu.


"Sebagai suamimu, aku akan memberikan nafkah lahir dan juga nafkah..." Bayu menghentikan ucapannya, dan mencoba mengatur nafasnya.


Ia menatap wanitanya, yang tampak dingin bersikap padanya. "Aku tidak akan menyentuhmu, sebelum kamu dapat menerimaku dengan ikhlas.." ucapnya mencoba tegas.


Siang hari aku akan pergi bekerja, untuk menanggung biaya hidupmu, dan malam hari aku kembali, untuk menjagamu.." ucap Bayu dengan sangat tenang.


Mala beranjak bangkit dari duduknya, lalu berjalan melintasi Bayu.."Tidak perlu, anakku masih sanggup membiayai kebutuhanku.." ucap Mala, sembari melintasi Bayu, dan menuju kamarnya.


Lalau terdengar suara hempasan pintu kamar yang ditutup secara kasar oleh Mala.


Braaaaaak..


Bayu tersentak dengan suara hempasan keras dari pintu kamar tersebut. Ia hanya memandang nanar dan mencoba berdamai dengan hatinya.


Bayu menjadi serba salah, dengan semua yang dilakukannya. Ia memilih untuk keluar rumah, dan melakukan pertemuan dengan kantor pelayanan menkumham untuk mendaftarkan CV-nya dan memulai kehidupan barunya.


Sementara itu, Mala membaringkan dirinya ditepian ranjang, merenungi nasibnya yang terbilang berubah dengan cepat tanpa dapat dicegah.

__ADS_1


Saat Ia dalam kegalauannya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari Hadi yang membuatnya sangat gugup.


Ia menatap layar phonsel itu dengan deguban jantungnya yang sangat menderu kencang.


Dengan mencoba sisa keberaniannya, Mala mengangkat panggilan Vedeo dari Hadi.


"Assalammualaikum Bu..?" ucap Hadi dengan keteduhan wajahnya.


"Waalaikumsalam.. " jawab Mala dengan suara yang tampak gugup.


Tampak Hadi ingin mengatakan sesuatu, namun ragu.. "Bagaimana kabar Ibu..?" tanya Hadi dengan mencoba setenang mungkin.


"Alhandulillah ba..baiik.." ucap Mala gugup, lalu bulir bening itu kembali meluncur. "Tetapi.." Mala mencoba jujur kepada anak lelakinya, namun tak memiliki keberanian apapun.


Hadi menghela nafasnya. mencoba mencari kata yang tepat kepada ibunya. "Hadi sudah tahu semua Bu.. Tada Bu Ratna mengabari Hadi.." ucap Hadi mencoba mengatur nada bicaranya.


"A..apa..?" ucap Mala terbata, dan tak percaya jika Hadi mengetahui apa yang terjadi padanya.


"Hadi percaya dengan Ibu.. Insya Allah Hadi akan segera pulang dalam waktu dekat, jika proyek Hadi selesai sesuai target.." ucap Hadi mencoba menguatkan ibunya.


"Apakah kamu tidak marah kepada Ibu..?" jawab Mala dengan tatapan nanarnya.


"Apakah aku harus marah atas dosa yang tidak ibu perbuat..?" ucap Hadi lembut.


"Lalu.. Bagaimana dengan Dia..?" tanya Mala dengan maksud Bayu sang ayah barunya.


"Apakah Ia Bayu yang waktu itu..?" tanya Hadi mencoba meyakinkan dugaannya.


"I..iya.." jawab Mala terbata.


Hadi menarik nafasnya dengan berat. "Entahlah.. Tetapi setidaknya Ia telah menebus kesalahannya, dengan menyelamatkan marwah Ibu dari makhluk sialan itu.." ucap Hadi dengan nada setenang mungkin.


Mala terdiam terpaku, Ia mengira jika anak lelakinya akan menghujatnya, namun semua diluar dugaannya.


"Maafkan Hadi Bu, tidak bisa menjaga dan menemani Ibu dikampung.. Mungkin benar yang diucapkan papa Chandra, Ibu butuh pendamping untuk menemani Ibu.. Agar ada yang senantiasa selalu menjaga Ibu, ketika kami tak mampu menjaga Ibu dikejauhan.." ucap Hadi,


Mala kembali terdiam dengan ucapan Hadi, anak lelakinya itu seolah memberikan dukungan atas pernikahannya.


"sudah dulu ya Bu, Insya Allah hadi secepatnya kembali menjenguk Ibu.." ucap Hadi, lalu mengakhiri panggilan vedeonya.


Kini tinggal Mala yang terdiam terpaku..

__ADS_1


__ADS_2