
Rakesh dan Ayunda mengikuti Shinta masuk kedalam rumah.
Namun saat akan memasuki kamar khusus mereka, Rakesh baru sadar jika keberadaan Shinta sangatlah asing baginya.
"Kamu siapa..? Mengapa ada dirumah ini..? Dan kemana Satria..?" cecar Rakesh dengan tak sabar.
Seketika Shinta memucat mendapat cecaran dari Rakesh.
"Emmmm.. Saya.." ucap Shinta tergugup. Namun belum sempat Shinta menjawab pertanyaan pria senja itu, Hadi tiba-tiba saja muncul membawa beberapa bungkus makan malam.
"Sayang.. Kamu sudah bangun rupanya.." ucap Hadi mempercepat langkahnya menghampiri Shinta. Ia belum menyadari kehadiran Rakesh dan Ayunda yang memandanginya dengan bingung.
Ada kemiripin diwajah Hadi dan Satria, namun kedua pasangan senja itu masih dapat mengingat dengan jelas seperti apa wajah cucunya.
Hadi mengecup kening Shinta dengan lembut. "Makan yuuk.." ucapnya dengan ajakan mesra, yang mana Ia mendapat tatapan sorot mata penuh kebingungan dari Rakesh dan Ayunda.
Shinta yang sedari tadi diam mematung dengan wajah memucat membuat Hadi mengernyitkan keningnya.
"Kamu kenapa Sayang..? Mengapa wajahmu sangat pucat..?" tanya Hadi yang tampak khawatir dengan kondisi Shinta sang istri.
Shinta memutar ekor matanya, agar Hadi mengikuti apa yang ingin diperlihatkan kepadanya. Seketika Hadi menoleh kearah yang ditunjuk oleh Shinta melalui ekor matanya.
"Haaah ?! Siapa mereka..?" tanya Hadi tersentak kaget saat melihat sepasang insan lanjut usia dengan bergaya elegan berdiri diambang pintu kamar khusus tamu.
Shinta hanya diam membisu , tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, Ia bingung harus menjelaskan apa kepada Suaminya.
Hadi meletakkn kantong makan malam yang baru dibelinya diatas meja sofa, lalu melangkah menghampiri kedua orang asing tersebut.
"Maaf, Opa , Oma.. Sebenarnya kalian siapa ya.?" tanya Hadi bingung. Ia mengira jika keduanya adalah orang pikun yang salah alamat masuk kerumah orang.
"Rakesh mengernyitkan keningnya, rasa kesal semakin membuncah didalam hatinya. " Seharusnya Saya yang bertanya kepada Kamu.. Jika Kamu itu siapa..?" jawab Rakesh mulai ketus.
Hadi mulai kebingungan dengan pria didepannya. Mengapa Ia masuk kerumah Kakaknya dengan kondisi marah-marah. Seharusnya Ia kesal karena pasangan senja itu masuk begitu saja kerumahnya.
__ADS_1
Shinta menghampiri Hadi, lalu membisikkan sesuatu kepadanya. "Haaah..?" ucap Hadi terperangah mendengar bisikan Shinta.
"Oh.. Opa dan Oma ini mencari Kak Satria..?" tanya Hadi dengan polosnya.
Rakesh dan Ayunda saling bertatapan satu sama lain. "Kakak..? Apa maksudmu Kakak..?" tanya Rakesh sembari memutar bola matanya dengan tatapan penuh selidik.
"Ya, Kak Satria itu Kakak saya.." jawab Hadi polos.
"Bohong..!! Jayanti tidak pernah melahirkan dua orang anak, dan hanya Satria satu-satunya cucu saya, tidak ada cucu yang lain..!!" ucap Ayunda menimpali dengan nada mulai naik satu oktav.
Hadi tersentak kaget mendengar jawaban dari Ayunda. Ia bingung harus dengan apa menjelaskannya kepada kedua pasangan senja itu.
"Mana Satria..?!" tanya Rakesh dengan nada penuh penekanan.
Hadi tergagap dengan pertanyaan dari Rakesh yang terkesan intimidasi.
"Dikampung, bersama Ibu.." Jawab Hadi seadanya, Ia juga bingung harus mengatakan apa kepada keduanya.
"Kampung Mana.? Jayanti tinggal dikota ini, dan Ia hanya seorang anak tunggal, dan kini Ia juga sudah tiada.." jawab Ayunda semakin merasa mencurigai Hadi.
"Jangan-jangan kalian adalah penipu yang sengaja ingin menguasai kekayaan cucu saya.. Esok saya akan mengecek perusahaan, untuk membuktikan kebenarannya." ucap Rakesh dengan nada semakin sengit.
Hadi tak berkutik, Ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia memandangi Shinta yang kian memucat.
"Katakan dimana Satria..?!!" Rakesh mengulangi pertanyaannya.
"Sudah saya katakan dikampung halaman bersama Ibu..!" jawab Hadi sedikit kesal. Ia juga tidak ingin disudutkan dalam kondisi seperti ini.
"Sungguh benar-benar penipu..!! Keluar dari rumah cucu saya..!!" ucap Rakesh dengan kesal.
Shinta memeluk Hadi, Ia semakin ketakutan dan gemetaran. "Kita pulang kerumah Papa saja, esok kita hibungi Ibu.." bisik Shinta dengan lirih.
Hadi memandang Shinta dengan tatapan sendu. Lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah.. Kami akan meninggalkan rumah ini, namun saya akan membawa bukti kebenaran, jika saya bukanlah seorang penipu.." ucap Hadi dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ayo sayang, kita kembali kerumah Papa duku, kita akan buktikan kepada Opa dan Oma jika kita bukanlah seorang penipu..!" ucap Hadi dengan sedikit ketus, lalu menggandeng tangan Shinta menuju keluar rumah.
Bahkan niatnya untuk makan malam menguap begitu saja. Ia sudah tidak lagi berminat untuk menyantabnya.
Shinta menuruti ajakan suaminya, mereka menuju halaman rumah dan mengemudikan mobilnya menuju rumah Chandra.
Sementara itu, Rakesh dan Ayunda masuk kekamarnya dengan perasaan yang menentu.
Rakesh menghempaskan bokongnya ditepian ranjang.
"Sayang.. Apa arti semua ini..? Mengapa anak muda itu bersikukuh mengaku sebagai adik Satria..? Sedangkan jelas tertulis jika Satria adalah satu-satunya cucu kita.." Ucap Rakesh sembari memijat keningnya yang terasa berdenyut.
Ayunda menghampiri Suaminya, dan ikut duduk ditepian ranjang. "Apakah Bram dan Jayanti melakukan penipuan kepada kita..? Bisa saja Satria itu adalah anak angkat mereka, dan pria muda itu adalah benar adik Satria." Ayunda menimpali ucapan Suaminya.
"Lalu bagaimana tentang vedeo persalinan Jayanti.? Bukankah itu bukti jika Jayanti benar-benar melahirkan Satria..?" Rakesh mulai merasakan kepalanya sangat sakit memikirkan hal yang sangat rumit tersebut.
"Bisa saja anak dan menantu kita berupaya mengelabui kita dengan Vedeo tersebut. Semua itu tak lain hanya untuk mendapatkan warisan dari kamu.." Ayunda terus menerka-nerka.
Rakesh mencoba mencerna segala ucapan Istrinya. "Lalu apa gunanya semua itu, jika pada akhirnya hanya orang lain yang menikmatinya.." jawab Rakesh dengan raut wajah kesal.
Wajah Ayunda berubah mendung, Ia mengenang anak lelakinya, Bram. Bagaimana mungkin usaha yang selama ini dirintisnya dengan susah payah, namun kini orang lain yang menikmatinya. Ia begitu amat kesal.
"Namun, dimana keberadaan Satria..? Mengapa Ia tak tampak dirumah ini..? Apakah benar jika Ia berada dikampung Ibunya seperti yang diucapkan oleh Pria muda itu.." ucap Ayunda dengan nada kesal.
"Sebaiknyabkita beristirahat saja dahulu, esok kita cari kebenarannya. " titah Rakesh kepada istrinya.
Ayunda hanya menganggukkan kepalanya, lalu mengukuti sang suami untuk tidur dengan segera.
Dilain tempat, hadi dan Shinta masuk kerumah dengan tergesah-gesah.
Keduanya manapaki anak tangga dengan perasaan yang tak menentu. Setelah memasuki kamar, Hadi tampak bingung harus berbuat apa. Seketika Ia mengingat akan pesan Hamdan, untuk menghubngungi Bayu, sang Ayah barunya.
"Apakah ini yang dimaksud dengan ucapan Paman waktu itu..? Jika hanya Pak Bayu yang dapat menyelesaikannya.." Hadi berguman dalam hatinya.
__ADS_1
Namun Ia tidak mengerti, mengapa Hamdan mengatakan hal itu kepadanya. Apakah Pak Bayu memiliki bukti dari semuanya..?" Hadi mencoba menerka apa yang diucapkan oleh Hamdan.