
Danang menuju halaman belakang dengan menenteng satu kantong plastik berisi arang dan sebotol minyak tanah.
Danang mengambil tempat pemanggangan arang yang disimpan digudang. Ia meletakkan kantong plastik berisi arang begitu saja ditaman belakang.
Ia menuju gudang, dan ingin memgambil panggamgan yang terbuat dari besi dan sengaja ditempa.
suasana gudang tampak gelap, Ia menghidupkan saklar, namun tidak berfungsi. Danang mencoba mencarinya dengan meraba-raba.
Saat Ia menemukannya, Ia merasa punggungnya merinding. Ia merasakan ada sesuatu yang elintas dibelakangnya, saat Ia melihatnya, suasana gelap menghalangi pandangannya, sehingga Ia tidak menemukan apapun disana.
Danang memilih untuk segera mengeluarkan panggangan tersebut.
Saat berada diambang pintu..
Sssssshhhhssss....
Suara seperti desisan yang membuat bulu kuduk meremang.
Danang segera mempercepat langkahnya, Ia segera menuju taman belakang rumah.
Danang membersihkan tempat panggangan yang tampak kotor dari sisa-sisa saat pembakaran sebelumnya.
Setelah merasa cukup bersih, Danang ingin mengambil arang yang tadi Ia letakkan tak jauh dari tempat Ia berdiri.
Danang clingukan kesana kemari mencari bungkus plastik yang berisi arang. Namun Ia tidak melihatnya. Danang merasa yakin jika ingatannya masih kuat.
Danang hanya melihat botol minyak tanah dan pemantik api. "kemana arang tersebut? Aku mengingatnya membawa kemari tadi..?" Danang berguman lirih dan mencoba mengedarkan pandangannya keseluruh taman belakang.
Karena merasa penasaran, Danang mencoba kembali kedapur. "apa aku yang lupa atau gimana sih..?" ucap Danang sembari berjalan menuju dapur.
Sesampainya didapur, Ia tidak menemukan arang tersebut.
"disini juga tidak ada, lalu kemana arang tersebut..?" Danang semakin bingung dan penasaran.
Saat matanya melihat wadah plastik berisi ayam cemani yang sudah dibumbui, Danang sekaligus mengangkutnya ketempat Ia akan melakukan pemanggangan.
Setelah sampai ditaman, Ia masih belum juga menemukan arang tersebut. Karena merasa frustasi, Danang memaki dengan kata-kata kasar.
"Dasar..!! Setan laknat..!! Gak punya kerjaan apa gangguin orang..!!" Danang mengumpat dengan sangat lantang.
Saat Ia menggeser kakinya, Ia menginjak kantong kresek berisi arang tersebut tepat didekat botol minyak tanah, saat pertama kali Ia letakkan.
Danang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"dasar sialan.. benar dugaanku..!" ucap Danang dengan kesal. Lalu Ia membuka bungkusnya, meletakkan potongan-potongan arang pada wadah pembakaran dan menyiramnya dengan minyak tanah, lalu membuat perapian agar menjadi bara api.
Setelah tercipta bara api, Danang mulai melakukan pembakaran ayam panggang. Ia melumuri bumbu dengan merata. Lalu memanggangnya, semabri mengipas-ngipas ayam tersebut agar matang sempurnah.
Aroma harum mulai tercium keseluruh area rumah Bayu, menggugah siapa saja, baik uang kasat mata sampai yang tak kasat mata.
Saat Danang asyik mengipas bara api tersebut, Ia merasakan seperti ada seseorang yang meniupkan telinganya. Danang merasa semakin bergidik.
__ADS_1
Danang mulai membolak balik daging tersebut, agar matang sempurnah.
Setelah selesai, Danang membawa ayam bakar tersebut kepada Sang majikannya.
Sesaat sampai di depan pintu kamar Bayu, Ia mengetuk pintu tersebut.
To..tok..tok..
"Tuan.. Ini ayam bakarnya, sudah siap.." ucap Danang dengan sopan.
Terdengar suara derap langkah kaki dari dalam kamar menuju keambang pintu.
Kreeeekkkkk....
Suara pintu dibuka, lalu tampak kepala Bayu memyembul dari balik pintu, Ia sengaja tidak membukanya lebar.
Bayu mengulurkan tangan kanannya, lalu tangan kirinya menahan pintu agar tidak terbuka lebar.
Danang memberikan ayam bakar tersebut kepada Bayu. Setelah mendapatkan tempayan berukuran sedang tersebut , Bayu masih tetap dengan posisinya yang tak berubah.
"pergilah.." pinta Bayu kepada Danang.
"Iya, Tuan. Apakah masih ada yang harus saya kerjakan? Tanya Danang dengan sunghuh.
Bayu menggelengkan kepalanya. "untuk saat ini tidak, turunlah kebawah, jangan coba-coba kemari jika bukan saya yang minta." ucap Bayu dengan nada dingin.
"Baik , Tuan.." ucap Danang, sembari melangkah pergi.
Setelah tempayan itu masuk, bayu mulai menata semua sesajinya. Hanya tunggal kopi pahit saja yang belum diseduhnya, Ia menunggu habis maghrib baru memulai ritualnya.
🐛🐛🐛🐛👻👻👻👻👻🐛🐛🐛
Safak menggantung dilangit dengan warna jingga yang tampak benderang.
Perlahan senja mulai datang, langit mulai meremang. Lalu sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib. Saat itu dorongan hati Bayu hendak shalat, namun bisikan-bisikan larangan menghalanginya.
Akhirnya Ia mengabaikan seruan tersebut.
Setelah kumandang adzan maghrib berlalu, tampak Bayu mulai gelisah.
Ia menyeduh 3 gelas kopi pahit panas dengan menggunakan air dispenser. Setelah merasa cukup, Ia meletakkannya bersama dengan sesaji yang lainnya.
Lalu Ia mengambil 1 gelas berisi darah hitam ayam cemani, Ia meletakkan diantara sesaji.
Setelah itu Ia mengambil dua gelas darah ayam cemani, lalu masuk kedalam kamar mandi, dan menuangkan dua gelas darah hitam itu kedalam bathup, mengisinya dengan air setengahnya saja.
Lalu Ia mengambil kembang setaman, dan menaburkannya didalam bathup. Setelah itu Ia keluar dari kamar mandi.
Bayu menghadap sesaji, lalu membuat bara api dan membakar dupa.
Setelah bara api membara, maka Bayu membakar kemenyan. Aroma khasnya menyeruak kedalam ruangan kamar.
__ADS_1
Bayu memejamkan matanya, dan merafalkan mantra, lalu menaburkan kemenyan sedikit dwmi sedikit. Setelah itu, Ia memercikkan minyak duyung kedalam kembang setaman, lalu memanggil makhluk Iblis laknat tersebut.
Seketika Nini Maru datang dengan aroma kembang melati dan kantil.
Bayu membuka matanya, lalu melihat Nini Maru sudah berada disisi kanannya. Wajahnya yang berlumuran darah dan penuh cabikan disetiap kulit keriputnya, membuat bergidik siapa saja yang melihatnya.
Nini Maru menyesap semua sari sesaji yang disediakan oleh Bayu. Setelah merasa puas, Ia akhirnya menyeringai.
"mana tumbal janin untukku..?" tanya Nini Maru dengan tatapan mengancam.
Bayu memandang dengan sangat geram. Bagaimana mungkin Ia meminta terang-terangan kepada Rumi, yang ada Ia akan terbongkar kedoknya sebagai pemilik pesugihan.
"Dia dikamarnya, maka ambillah sendiri.." jawab Bayu sesuka hatinya.
Nini Maru membeliakkan matanya, mmemandang penuh amarah.
"mengapa tidak kamu bawa dia kemari..? Agar aku dapat segera mengambil janinnya. " hardik Nini Maru dengan kesal.
Bayu berbalik menatapnya. "sudah kukatakan, aku tidak sanggu melakukannya.." jawab Bayu lirih.
Aaaaaarrrggh...
Nini Maru menggeram.
Lalu menghilang, menuju kamar Rumi.
Saat itu Nia baru saja tertidur. Sedangkan Rumi sedang asyiik bermain phonselnya.
Nini Maru merangkak dari kolong ranjang, lalu jemari tangan kananya menggapai tepian ranjang.
Rumi merasakan seauatu yang tidak. Aroma kembang kenanga dan kembang kantil menyeruak diseluruh ruangan kamar.
Rumi mengenduskan indra penciumannya. Ia mencium aroma itu tepat dibawah ranjang.
Sesaat matanya melihat jemarintangan keriput telah menggapai tepian ranjang, lalu menyusul jemari tangan lainnya dengan kuku runcing yang sanngat menakutkan.
Seketika sesesok kepala menyembul dengan rambut menutupi wajahnya.
Lalu merangkak naik keatas ranjang.
Rumi menjatuhkan phonselnya karena rasa takut yang teramat sangat. Wajahnya pucat laksana kapas.
Ia berusaha membangukan Nia yang sudah tertidur lelap.
Seketika makhluk itu sudah sampai di ujung jemari kakinya. Lalu merangkak diatas kedua kakinya dan jarak wajah mereka hanya tinggal sekian cm saja.
Rumi merasakan pemandangannya menjadi gelap. Lalu Ia tak dapat mengingat apapun.
Seketika pemanadangannya menjadi gelap..
Dan..
__ADS_1