Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Mirna


__ADS_3

seorang gadis cantik nan rupawan, sedang berada didalam sebuah Goa. suasana pengap tanpa pentilasi udara, tak mampu mempengaruhi kehidupannya.


gadis itu berbaring di ranjang yang terbuat dari pahatan batu alam berwarna hitam legam. matanya menatap nanar langit-langit goa.


sesaat sosok makhluk mengerikan muncul dari dinding goa. tangan keriput dengan wajah yang mengerikan. Ia merayap didinding goa layaknya seeokor cicak yang sedang mengintai serangga.


Ia menyeringai dengan tatapan yang sangat mengerikan. namun hal itu tak membuat si gadis cantik merasa takut.


Nini Maru sosok itu merangkak mendekati Mirna. dengan raut wajah yang sangat mengerikan mendekati Mirna.


Gadis itu membenahi posisinya, Ia beranjak bangkit lalau duduk ditepian ranjang batu. "aarrgh..." suara geraman keluar dari bibirnya. aroma busuk telah menyeruak keseluruh ruangan.


"ada Ni..? tidak biasanya Nini menemuiku seperti ini.." ucap Mirna lembut.


"bersiapalah..Dia akan segera datang. waktunya akan tiba, dimana, kau akan bertemu dengannya." ucap Nini Maru menjelaskan.


"benarkah..? seperti apa sosoknya..? " ucap Mirna penasaran.


Nini Maru melihatnya dengan tatapan tajam."apa yang sudah kutetapkan padamu, maka kau tidak dapat membantahnya." ucap Nini Maru dengan parau.


mata gadis itu menatap penuh arti. "apakah aku tak bisa memilih siapa jodohku..?" ucap Mirna lirih dan penuh harapan.


Nini Maru menyeringai dengan tatapan geram."jangan pernah membantahku. seluruh hidupmu ada dalam kendaliku. maka patuhilah aku.." ucap Nini Maru menyeringai penuh amarah.


"ta..pi.." ucap Mirna dengan lirih.


"tidak ada tapi-tapian..dan jangan pernah mencoba untuk membantahku." ucap Nini parau dengan penuh penekanan.


setelah itu Ia merangkak meninggalkan Mirna yang masih dalam kegelisahan. dengan hanya kerlingan mata saja, Nini Maru telah memghilang.


Mirna masih diam terpaku. "benarkah dia akan datang..? seperti apa kamu..?" ucap Mirna lirih.


Ia berjalan keluar goa. berteduh dibawah pohon beringin nan rindang. Ia merasa sangat bosan. Ia beranjak bangkit, menarik sulur-sulur pojon beringan, lalu menautkan dua sulur yang berseberangan menjadi sebuah simpul.


Ia duduk disimpulannya, lalu berayun-ayun dengan penuh keceriaan dengan bersenandung indah.


"kutunggu dirimu"


"dipenantian panjangku"

__ADS_1


"hadirlah membawa cinta"


"hingga akhinya kita bersatu"


"mengikat janji yang tertunda"


Ia terus berayun dengan senandung cinta. suaranya yang merdu, mengundang para burung, dan hewan-hewan lainnya berkumpul. mereka ikut menikmati senandung cinta yang dilantunkan oleh Mirna.


hingga waktu menjelang Fajar, Mirna kembali masuk kedalam goa, lalu berbaring ditepian ranjang batu berwarna hitam kelam itu.


Ia menghabiskan waktunya untuk menunggu dan menunggu.


****


Rey berjalan dengan langkah angkuhnya. Ia menuju ruangan rahasia. dimana para gadis dan wanita disekap. Nini Maru muncul dengan tiba-tiba dikoridor ruangan rahasia. Ia menghampiri Rey sedang berjalan menuju pitu kamar penyekapan para gadis.


[aaarrrgh...] Ia telah berada dihadapan Rey dengan wajah menakutkan.


namun bagi Rey, Nini Maru bukanlah makhluk asing yang menyeramkan baginya. Ia sudah terbiasa dengan kehadirannya. Nini Maru membisikkan sesuatu kepada Rey.


Rey terlihat tersenyum dengan apa yang menjadi bisikan untuknya.


Rey membuka pintu kamar yang dimana Shinta di sekap. Nini Maru mengikutinya.


Nini Maru mendekati gadis malang itu. Ia begitu sangat senang. dengan sekejap Ia memasuki dinding rahim gadis itu. Nini Maru melihat janin yang sangat segar uang sedang bermimpi.


dengan satu tendangan yang kuat, membuat janin itu terbangun dari mimpi indahnya. tubuhnya terasa sakit. lalu menggeliat untuk mencoba bertahan.


Nini maru tak merasa putus asa. Ia mennedangkan kembali kakinya yang berkuku tajam kepada janin tak berdosa itu. tendangan kedua membuat sang janin menyerah pada takdirnya.


Ia meluncur dengan hati yang pilu. setelah itu Nini Maru keluar dari rahim Shinta. Ia menghisab darah yang mengalir keluar dari rahim tersebut dengan rakus.


setelah itu Ia menguyag seoonggok daging merah yang masih sangat lembut.


matanya menunjukkan rasa senang yang tak terkira. Ia memberikan imbalan sekoper uang yang berjumlah milyaran rupiah.


Nini Maru menyeringai dengan puas. "kerja bagus .." ucapnya sembari berbisik. lalu pergi menghilang.


Rey menyeret tubuh Shinta yang berlumuran darah. darah nifas mengalir dari celah-celah kedua pahanya.Rey menatap nanar pada darah segar tersebut.

__ADS_1


entah mengapa Ia melihat Nini Maru yang menyeruput darah tersebut seperti merasakan sebuah kenikmata.


Ia ingin mencobanya. Rey meletakkan kembali tubuh Shinta dilantai. Ia mengambil darah tersebut dengan menggunakan jari telunjuknya. Ia mencobanya. Rey merasakan sensasi yang berbeda. Ia sepertinya tidak merasa puas. lalu Ia menyeruput darah segar yang mengalir dari **** ********** Shinta.


Rey memejamkan matanya. untuk pertama kalinya Rey menikmati darah segar. sepertinya Ia mulai menyukai menu barunya. Ia dengan rakus menjikurkan lidahnya di lantai, Ia begitu bersemangat. dalam sekejap lantai itu bersih tanpa sisa.


matanya menatap pada sumber darah tersebut. Ia menyibak pakaian Shinta, melihat darah yang mengalir tersebut, Ia seperti tak tahan untuk menahan keiinginannya. jiwa iblisnya bangkit. Ia menyeruputnya langsung dari sumbernya.


setelah puas, Ia pergi meninggalkan Shinta yang masih tak sadarkan diri.


--------------


setelah sekian lama tak sadarkan diri, Shinta yang sedang pingsan merasakan perutnya seperti berdenyut hebat. Ia melihat perutnya rata kembali. "hah..apa yang terjadi..?" Shinta berguman bingung.


seketika Ia bergidik teringat akan penampakan sosok makhluk yang mengerikan itu.


Shinta menggigil. tubuhnya terasa lemah karena kehabisan darah. Ia mencoba bangkit dengan tertatih. tetapi rasa nyeri dirahimnya semakin terasa. Ia merintih menahan sakit. tanpa terasa Ia kembali jatuh tak sadarkan diri.


---------------


Rey berjalan angkuh. meminum darah segar sepertinya menjadikannya candu. tampang seramya, dipadu tubuhnya yang kekar dan sedikit berbulu, serta rambutnya yang panjang sebahu, menambah kesan menakutkan baginsiapa saja yang memandangnya.


Ia mendatangi kamar paling ujung, disana Reni yang tubuhnya semakin lama semakin mengembang. proses keguguran yang berulang kali tanpa jeda, membuatnya kehilangan aura kecantikannya. ditambah dengan sikap frustasi yang hampir membuatnya gila.


setelah berada di depan pintu, Rey sepertinya sedang tak berminat pada wanita itu. Ia masih terbayang akan darah segar yang baru saja dinikmatinya.


Ia pergi mengurungkan niatnya. ia mencari Rianti yang sedang berada dikamarnya.


Ia memasuki kamar dengan senyum menyeringai.


melihat Rey masuk dengan langkah tegapnya. Rianti menyunggingkan senyumnya. "kemarilah sayang mama." ucapnya sembari merentangkan tangannya.


Rey datang mendekatinya. lalu mengecup pipi Rianti. "jangan sekarang ya sayang..?" mama lagi menstruasi. ucap Rianti genit.


mendengar kata itu, Rey tersenyum menyeringai. " aku menginginkannya.." ucap Rey dengan tak sabar.


"tapi Mama sedang menstruasi sayang.." ucap Rianti menjelaskan.


"aku menginginkan darah itu.." ucap Rey dengan suara parau.

__ADS_1


Rianti terbelalak mendengarnya. "a..apa..?" ucap Rianti dengan terbata.


belum sempat Rianti mengucapkan kalimat berikutnya. Rey sudah terlebih dahulu menyergapnya.


__ADS_2