
Satria sampai dirumah sudah menjelang senja. Ia melihat renovasi rumahnya sudah menampakkan hadil. Ia berencana untuk menambah tukang agar cepat selesai.
"Assalammulaikum, Bu.." ucap Satria sembari meyalim Mala.
"Waalaikumsalam sayang.." jawab Mala dengan senyum hangat.
Satria memasuki kamarnya, mengganti pakaiannya dan segera bergegas menjenguk Roni, Ayahnya kekamar.
Ia membuka pintu, lalu masuk dan melangkah menghampiri Roni yang duduk bersandar ditepian ranjang.
"Ayah.. Kita mandi yuk, sudah sore..?" Satria membujuk dengan lembut.
Satria dan Mala berbagi tugas dalam memandikan Roni. Pagi hari dilakukan oleh Mala, dan sore hari dilakukan oleh Satria.
Roni hanya diam termangu, Ia tidak bergeming. Seolah-olah ajakan Satria hanyalah sebuah senandung yang sedang menghiburnya, bukan sebuah ajakan atau perintah.
Satria mencoba menghela nafasnya, lalu mencari cara agar sang Ayah mau diajak mandi.
"kriiiiiiiing"
Suara panggilan masuk dari nomor Hadi.
Satria mengangkatnya, lalu beranjak dari kamar Orang tuanya.
"Iya Di.. Ada apa..?" tanya Satria dengan lembut.
"Kak.. Makhluk itu sudah sangat keterlaluan..! Apakah tidak bisa dibinasakan..?" ucap Hafi dengan suarah bergetar.
Satria terdiam, Ia harus memberikan jawaban yang dapat menjadi penyemangat bagi Hadi, namun juga tidak terlalu mengumbar harapan.
"Kakak akan usahakan, namun kamu juga harus membantu dan jangan lupa terus berdzikir." jawab Satria mencoba memberikan jawaban terbaik.
"Ia terus saja meneror kak.." ucap Hadi dengan nada berdebar.
"apakah kamu sudah memandikan Shinta dengan remasan daun bidara..?" tanya Satria dengan penuh selidik..
"Maaf kak, aku lupa.." jawab Hadi dengan penuh penyesalan.
Satria terdiam sejenak."Hadi, lebih baik mencegah dari pada mengobati." ucap Satria mengingatkan.
"Iya Kak, maaf. Nanti Hadi akan pesan daun bidaranya, dan akan dimandikan langsung kepada Shinta." jawab Hadi.
"Baiklah.. Untuk sementara ini, itu saja mungkin sudah cukup. Jangan lupa senantiasa berdzikir."pesan Satria kepada Hadi.
"ok Kak.." Jawab Hadi .
Satria memutuskan sambungan telefonnya. Ia teringat akan pesan kakeknya yang memintanya untuk bertirakat.
Nin Qorin Mbah Karso sudah mengingatkannya agar bertirakat untuk menghancurkan Nini Maru yang sudah sangat meresahkan dan membuat kekacauan.
__ADS_1
Namun, saat ini Satria masih ada urusan kemanusiaan yang juga harus diselesaikannya bersamaan. Ia harus mengutamakan urusan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadinya.
Setelah ini, Ia akan meminta cuti beberapa saat untuk dapat melakukan tirakat.
Satria kembali ke kamar Ibunya. Ia mendapati Mala sang Ibu sedang membersihkan sang Ayah dengan menggunakan kain basah. Mungkin karena Ayahnya tidak mau mandi, maka Mala memilih untuk mengepelnya dengan kain basah.
Satria menghampiri Ibunya, "Maaf Bu, tadi Satria ada urusan bentar." ucap Satria merasa bersalah.
"tidak apa kok.. Lagi pula ini memang tugas Ibu." jawab Mala dengan lembut.
"Iya.. Tapi seharusnya ini kan giliran Satria yang mandiin Ayah." ucap Satria dengan lirih.
"Sudah.. Jangan difikirin, selagi Ibu masih sehat dan kuat tidak masalah. Karena pada akhirnya nanti juga akan Ibu kerjakan sendiri, Ibu tidak bisa terus bergantung padamu." Ucap Mala lirih tanpa menoleh kepada Satria.
Satria mengerutkan keningnya. "Mengapa Ibu mengatakan itu.." tanya Satria penasaran.
"Karena ada masanya kamu akan menikah, lalu memiliki keluarga sendiri, dan tentunya kamu akan sibuk dengan keluargamu, Layaknya seperti Hadi sekarang.." Jawab Mala dengan gamblang.
Deeeeegh...
Menikah..kata itu yang sampai sekarang belum sempat difikirkannya. Bahkan cinta itu juga belum datang kedalam hatinya. Lalu bagaimana Ia akan mengetahui siapa yang akan menjadi Istrinya kelak.
Satria terdiam. Ia juga memikirkan kondisi sang Ibu jika sampai Ia juga berumah tangga dan jauh dari Ibunya. Ia berharap kelak jika menemukan pendamping hidup, maka wanita itu dapat mengerti kondisinya saat ini.
Satria berharap jika Istrinya mau menerima kondisi keluarganya dengan apa adanya.
Yah.. Sebuah angan yang masih dalam khayalannya.
Satria memandangi Roni dengan penuh sejuta makna. Seketika Ia melihat siluet wajah itu lagi.
Satria memlihat sebuah pembunuhan didalam kamar, dimana samar-samar Ia melihat seorang pria dewasa sedang memukulkan sebuah tongkat bisball kepada seseorang tapat dibagian kepala belakangnya.
Satria terhenyak, lalu menatap pada Ayahnya, ada debaran yang tak menentu merambat dikalbunya.
"Tidak..ini tidak mungkin..." ucap Satria terbata.
Lalu Mala datang kembali kekamar, Ia menatap wajah Ibunya dengan penuh tanda tanya.
Mala yang ditatapnya seketika menjadi bingung.
Sorot mata Satria berbeda dari biasanya. Sorot mata itu seolah-olah meminta sebuah kejujuran.
Mala sedikit kikuk dengan tatapan Satria yang menurutnya sangat berbeda.
"Bu..."
"Iya.."
"Ada yang ingin Satria tanyakan tentang sesuatu hal.." ucap Satria setenang mungkin..
__ADS_1
"Ya.. Apa itu..?"
"Emmmm.." ucapan Satria terhenti saat sayup-sayup terdengar suara lantunan adzan maghrib.
Satria terdiam, lalu mendengarkan lantunan adzan tersebut.
Setelah selesai adzan, Satria menatap Ibunya dengan tatapanmeminta sebuah jawaban.
"Satria mau shalat dulu bu.. Nanti ada yang ingin Satria tanyakan." ucapnya dengan lirih.
Satria beranjak dari kamar Ibunya menuju dapur dan bersuci untuk melaksanakan ibadah shalat maghrib.
sementara itu, Mala masih termangu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apa sebenarnya yang ingin ditanyakan Satria..? Mengapa Ia begitu tampak sekali serius..?" Mala bertanya-tanya dalam hatinya.
Mala beranjak dari kamarnya, lalu menuju dapur untuk pergi kekamar mandi dan bersuci.
🐛🐛🐛👻👻👻👻🐛🐛🐛
"Bu.. Ada yang ingin Satria tanyakan.." ucap Satria saat melihat Mala sudah bersantai diruang tamu sembari menonton televisi.
Mala menoleh kearah Satria, anak lelakinya itu datang menghampirinya dan duduk di sisinya.
"Ya.. Tanyakanlah.." ucap Mala yang juga penasaran sejak tadi.
"Sebelumnya Satria minta maaf jika pertanyaan Satria menyinggung perasaan Ibu." ucap Satria dengan setenang mungkin.
Mala menganggukan kepalanya.
Satria menarik nafasnya dengan sangat berat. Lalu menghelanya dengan lembut.
"Satria melihat sebuah bayangan ditelah terjadi pembunuhan dirumah berlantai dua didekat puskesmas.." Ucap Satria setenang mungkin.
Deeeeeegggh...
Jantung Mala seakan terhenti. Debaran didadanya semakin menderu tak beraturan.
"Ma..maksud kamu a..apa..?" tanya Mala dengan terbata.
Ia tak mampu menyembunyikan perasaannya yang kalut.
"Apakah sebelumbya ada sebuah tragedi uang sangat mengerikan didesa ini sebelum Satria datang kemari untuk pertama kalinya..?" ucap Satria dengan sangat tenang.
Mala tampak gelisah, Ia begitu amat takut untuk berkata jujur pada anak lelakinya. Ia takut jika sampai Satria merasa hilang simpatinya.
Satria yang mencoba nembaca isi hati dan fikiran Mala, merasa sangat kaget dan terperangah. Namun Ia ingin pengakuan langsung dari mulut Ibunya.
"Sebenarnya.. Ayahmu..." suara Mala seakan tercekat di tenggorokannya, lidahnya keluh seakan tak mampu berbicara, Ia begitu sangat tertekan.
__ADS_1
"